You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-1 : Sifat Yang Bertentangan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-1 : Sifat Yang Bertentangan

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa

“Dua sifat yang bertentangan hanyalah predikat belaka.”

Terkadang kemiskinan dan kekayaan datang bergiliran pada satu waktu.

➤ Engkau bisa saja dianggap kaya oleh seseorang dan dianggap miskin oleh orang yang lain.

➤ Engkau bisa saja dianggap mendapat hidayah oleh seseorang dan dianggap sesat oleh orang yang lainnya.

Beragam asma Allah dan sifat-Nya mengakomodir beragam ketentuan hukum diatas, yang mengharuskan saling bergiliran satu sama lainnya, ketentuan hukum ini terjadi pada seorang hamba setiap saat, sebanyak tarikan nafas dan kedipan mata.

Beragam ketentuan asma ‘dan sifat Allah datang saling bergiliran kepada seorang manusia. Manusia pun berubah bersamaan dengan ragam ketentuan itu. Sedangkan ruh manusia sejatinya rindu pada sebuah kemapanan dan ketetapan serta kesatuan, sehingga Allahpun memerintahkan manusia untuk keluar dari gemerlapnya dunia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَفِرُّوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ اِنِّيْ لَـكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ 
fa firruuu ilalloh, innii lakum min-hu naziirum mubiin

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 50)

Manusia pun beranjak dari keberagaman warna (gemerlapnya dunia) menuju keesaan Tuhan yang sifatnya tetap, sehingga ruh manusia pun bisa tenang dan kalbunya menjadi kokoh.

Sebab, Aku (Allah) memberi kesembuhan dengan jenis yang Aku cobakan padanya, Aku memberi kelapangan dengan jenis yang Aku sempitkan padanya, Aku memberi dengan jenis yang tidak Aku tunaikan.

Tidaklah Aku menahan sesuatu kecuali dengan apa yang Aku lapangkan, tidaklah Aku melapangkan sesuatu kecuali dengan apa yang Aku tahan, tidak pula Aku halangi kecuali dengan jenis yang dengannya ia bisa wushul dan tidaklah Aku wushulkan kecuali dengan apa yang dengannya dia ter-hijab (terhalang dengan tabir dari menyaksikan Allah).

Penyaksian Dzat Allah hanya bisa dilakukan dengan cara menghilangkan asma dan sifat yang ada, maksudnya adalah menghilangkan sisi yang bertentangan dan sisi yang serupa (sebagai sebuah sisi yang sama).

“Jika engkau belum bisa melihat-Ku dibalik dua perkara yang bertentangan sebagai satu kesatuan, maka engkau belum ma’rifat pada-Ku.”

Wushul adalah interaksi seorang hamba dengan Allah sesuai kadar keterputusan hamba tersebut dari makhluk. Yang terendah adalah ber-musyahadah dengan mata hati. Saat hijab terbuka, dan Allah bertajalli baginya, pada saat ini seorang salik dapat disebut washil (orang yang sudah sampai pada Allah Swt). Lih. Syaikh Abdul Qadir Al Jīlāni, Sirr Asrår, (Damaskus, Dår As-Sanabil, 1993 M), hal. 42.

Abu Al Hasan An-Nuri Ra mengatakan, “Wushul adalah ketersambungan, mukasyafah kalbu dan musyahadah seorang hamba akan beragam asrar.”

Abu Yazid Al Busthami pernah mengatakan, “Orang yang telah wushul dapat dicirikan dengan tiga hal: Pertama, Yang mereka pentingkan hanyalah Allah; kedua, kesibukan mereka hanya pada Allah; dan ketiga, mereka senantiasa mengembalikan segalanya pada Allah. Ada pula yang mengatakan bahwa wushul adalah kondisi ketika seorang hamba hanya menyaksikan Tuhannya dan kalbunya hanya terdetik pada sang Pencipta saja. (Lihat, Rafiq Al ‘Ajam, Mausu’ah Mushthalahat At-Tasawwuf Al Islami, (Beirut, Maktabah Libanon), cet. 1, hal. 1045.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY