
Elsubha.com – Pondasi Ke-12 : Tidak Ada Yang Kebetulan Terjadi
Setiap yang dapat disaksikan di alam semesta ini memiliki maksud tertentu. Sedangkan perkara yang kebetulan terjadi itu merupakan dugaan yang tak nyata.
Maka di semesta ini tidak ada yang kebetulan terjadi, tetapi semua itu merupakan kehendak Sang Pencipta.
Nah, kehendak itu juga punya masa dan ruang dan hal itu berkaitan dengan manusia.
Setiap alam semesta pun dikaitkan dengan manusia.
Semua yang ada di alam ini adalah makhluk (ciptaan Allah), bahkan semuanya pun ditundukkan untuk kepentingan manusia, sehingga manusia dapat menyaksikan sifat Jamal Allah Swt di semesta ini.
Sehingga manusia pun dapat melihat Allah pada setiap perkara yang nampak, perkara yang memang sengaja ditampakkan dengan perantara manusia, untuk manusia atau kemaslahatannya kembali kepada manusia atau memang tampak pada diri manusia.
Dzat Allah akan nampak pada setiap makanan, minuman, hal yang bisa dicium, yang bisa dilihat, yang bisa didengar, diraba dan dipegang, yang bisa dikhayal dan yang bisa digambarkan, baik perkara itu ada pada manusia, hewan, burung atau juga benda mati atau juga pepohonan, lumpur atau juga buah-buahan. Setiap perkara meskipun sebesar biji sawi di alam semesta ini akan menunjukkanmu pada Pencipta alam semesta.
Perkara ini terjadi karena Allah itu pencemburu. Dia tidak ingin engkau melihat pada yang lainnya.
Andai engkau tidak bisa melihat-Nya disini, niscaya engkau melihat-Nya disana.
Di semesta ini tidak ada benda mati.
Sebab segala sesuatu menginisialkan kehidupan, gerakan dan juga untaian pujian.
Tetapi cacatnya sebuah kenikmatan adalah kebiasaan yang mengarah pada kelalaian.
Seluruh semesta ini senantiasa terbaharui bersamaan dengan nafas. Semesta akan tetap baru selamanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَفَعَيِيْنَا بِا لْخَـلْقِ الْاَ وَّلِ ۗ بَلْ هُمْ فِيْ لَبْسٍ مِّنْ خَلْقٍ جَدِيْدٍ
a fa ‘ayiinaa bil-kholqil-awwal, bal hum fii labsim min kholqing jadiid
“Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? (Sama sekali tidak), bahkan mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.“
(QS. Qaf 50: Ayat 15)
Maka apabila ada semut yang kebetulan lewat di depanmu, janganlah engkau menyangka bahwa itu adalah suatu kebetulan, tetapi itu mengandung sebuah maksud, maka lihat dan perhatikanlah.
Jika engkau melihat pohon dalam perjalananmu, maka lihat dan perhatikanlah.
Jika engkau memegang apel, maka lihat dan perhatikanlah.
Jika lalat perhatikanlah. mengganggumu, maka lihat dan
Berdirilah di depan cermin, lihatlah dan perhatikan pada keindahan yang sudah Allah titipkan padamu.
Itu adalah bentuk ibadah yang agung, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
wa fiii angfusikum, a fa laa tubshiruun
“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 21)
Maka kalian lihatlah, perhatikanlah, dengarkanlah dan ambillah pelajaran, semuanya itu adalah suratan dimana engkaulah yang dimaksud.
“Barangsiapa mampu melihat Allah Swt dalam setiap perbuatan, gerakan dan dalam kondisi diamnya, maka ia telah menyaksikan satu Dzat yang melakukannya, yaitu Allah.”
Tidak ada satupun yang dapat menggantikan fungsi “pandangan.”
Sesuatu yang paling mulia dari perbuatan ibadah adalah memandang atau melihat.
Memandang Allah Swt merupakan inti surga.
Orang-orang yang sudah memandang Allah, maka ia akan menemui segala sesuatu menjadi miliknya dan mereka tidak menemukan diri mereka pada sesuatupun.
Orang yang menyaksikan satu Dzat yang berbuat, maka Dzat yang satu itu akan memberinya rahasia, “Kun (Jadilah).”
Apabila ia mengatakan, “Kun (Jadilah),” pada sesuatu, maka yang ia maksudkan itu terjadi (dengan izin Allah melalui rahasia “kun” tersebut).
Dikatakan kepadanya, “Turunlah,” maka yang dia maksudkan itu adalah turun (dengan izin Allah melalui rahasia “kun” tersebut).
Akan tetapi hamba ini tahu bahwa Allah mencintai ibadah kita, sehingga hamba ini menerima rahasia “kun” ini sebatas sikap penghormatan dan bukan untuk bertindak sesuatu.
Sikap ini diambil dengan melebur pada sisi ubudiyyah, yang dicintai untuk Allah.
Para salik akan bernaung pada jalan ini hingga ia sampai pada maqam ubudiyyah yang khusus.
Inilah maqam (kedudukan) Rasulullah Saw pada permulaan kenabian beliau.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولاً ؟ قَالَ جِبْرِيلُ : تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ، قَالَ : بَلْ عَبْدًا رَسُوْلاً .
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Ketika malaikat Jibril duduk bersama Nabi Saw, dimana Jibril ketika itu melihat ke arah langit, tiba-tiba ada malaikat yang turun, Jibril berkata, “Sungguh malaikat ini belum pernah turun ke bumi sejak diciptakan sampai sebelum satu jam tadi. Ketika ia turun (ke bumi), ia berkata, “Wahai Muhammad, Rabbmu lah yang mengutusku kepadamu, apakah engkau ingin dijadikan raja yang juga nabi atau hamba yang juga utusan (Allah)?” Jibril lalu berkata, “Bertawadhu’ (rendah hatilah) di hadapan Rabbmu wahai Muhammad,” Nabi Saw bersabda, “Yaitu hamba yang juga utusan (Allah). ” (HR. Ahmad Al Bazzar; An-Nasa ‘i; Ibnu Hibban; Ath-Thabrani; dan Al Baihaqi.)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَ قْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
sub-haanallaziii asroo bi’abdihii lailam minal-masjidil-haroomi ilal-masjidil-aqshollazii baaroknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas-samii’ul-bashiir
“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَّاَنَّهٗ لَمَّا قَا مَ عَبْدُ اللّٰهِ يَدْعُوْهُ كَا دُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًا
wa annahuu lammaa qooma ‘abdullohi yad’uuhu kaaduu yakuunuuna ‘alaihi libadaa
“Dan sesungguhnya ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan sholat), mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya.”
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 19)
Kemudian Nabi Saw ber-tarqiyah naik sampai Rabbnya memanggil, “Seluruh makhluk adalah hambaku selain engkau, sebab engkau adalah Aku.”, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِ نَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
innallaziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’uunalloh, yadullohi fauqo aidiihim, fa man nakasa fa innamaa yangkusu ‘alaa nafsih, wa man aufaa bimaa ‘aahada ‘alaihulloha fa sayu-tiihi ajron ‘azhiimaa
“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 10)
Tidak ada seukuran biji pun pada diri Rasulullah Saw, kecuali fana pada sisi keindahan Allah Swt. (Fana adalah sirnanya bentuk jiwa secara keseluruhan dihadapan sisi Ahadiyyah Allah Swt. Lih. Abdurrazzaq Al Kāsyāni, Mu’jam Isthilahat Ash-Shufiyyah, (Kairo, Dar Al Manar, 1992, hal.365); Ada pula yang mengartikan fana sebagai runtuhnya ragam sifat tercela. Lih. Rafiq Al ‘Ajam, Mausü’ah Musthalahât At-Tasawwuf Al Islamy, (Beirut, Maktabah Libanon, 1999), hal. 731.)
Pada kondisi fana inilah Allah menempatkan hamba-Nya pada kedudukan isim a’zham.
Yang jika diminta (dengan perantaranya), maka akan diberi, apabila berdo’a dengannya, maka akan dikabulkan,”:
Rasulullah Saw bersabda,
رُبَّ أَشْعَثَ، مَدْفُوعِ بِالْأَبْوَابِ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ.
“Tubuhnya dekil, sering ditolak orang, (tetapi) jika ia meminta pada Alah, niscaya Allah akan penuhi. ” (HR. Muslim.)
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
