
Elsubha.com – Pondasi Ke-15 : Keluar Dari Kehendak Diri
“Lepaskanlah kehendak dirimu niscaya engkau menjadi inti yang diinginkan-Nya.”
Rahasia kebahagiaan adalah keluar dari kehendak diri.
Lepaskanlah kehendak dirimu niscaya engkau menjadi inti yang diinginkan-Nya.
Andai engkau hidup di dunia ini sesuai dengan kehendak Allah, maka engkaupun telah benar sekalipun engkau hanya bergurau.
Namun andai engkau hidup di dunia ini sesuai dengan kehendakmu, maka engkaupun telah lalai sekalipun engkau sudah benar-benar istiqomah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا سْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ وَمَنْ تَا بَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
fastaqim kamaaa umirta wa mang taaba ma’aka wa laa tathghou, innahuu bimaa ta’maluuna bashiir
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Hud 11: Ayat 112)
maksudnya adalah konsistensi yang sesuai dengan kehendak Allah Swt.
Seluruhnya tidak akan keluar dari kehendak Allah, sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَعَّا لٌ لِّمَا يُرِيْدُ
fa”aalul limaa yuriid
“Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Buruj 85: Ayat 16)
Tidak ada sesuatu pun yang terlepas dari kehendak Allah Swt, meskipun hanya sebesar biji atom.
Lantas apakah setelah kita menjadi inti yang dinginkan Allah, ini merupakan sebuah kemuliaan tersendiri?
“Keluarlah engkau dari kehendakmu, niscaya engkau dimuliakan dengan kehendak-Nya.”
Seluruh kehendak Allah untukmu adalah perkara yang baik. Bahkan bisa jadi banyak dari kehendakmu yang sebenarnya buruk untukmu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِ نْسَا نُ ضَعِيْفًا
yuriidullohu ay yukhoffifa ‘angkum, wa khuliqol-ingsaanu dho’iifaa
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 28)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ
syahru romadhoonallaziii ungzila fiihil-qur-aanu hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqoon, fa mang syahida mingkumusy-syahro falyashum-h, wa mang kaana mariidhon au ‘alaa safaring fa ‘iddatum min ayyaamin ukhor, yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-‘usro wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirulloha ‘alaa maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا للّٰهُ يُرِيْدُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَيُرِيْدُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الشَّهَوٰتِ اَنْ تَمِيْلُوْا مَيْلًا عَظِيْمًا
wallohu yuriidu ay yatuuba ‘alaikum, wa yuriidullaziina yattabi’uunasy-syahawaati ang tamiiluu mailan ‘azhiimaa
“Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 27)
Keberadaan manusia pada posisi yang diinginkan oleh Allah Swt, itu lebih utama daripada berjihad.
Allah lah yang menggenggam hamba-Nya dengan perantara nama-Nya; “Al Qabidh, (Yang Maha Menyempitkan [makhluk-Nya])” Dia menggenggam hamba dari kehendak diri mereka menuju kehendak-Nya, sehingga mereka merasakan genggaman tersebut pada diri mereka, meski demikian, genggaman Allah itu lebih baik bagi mereka daripada “Al Basthu (Yang Maha Melapangkan [makhluk-Nya]).”
Bandingkanlah setiap genggaman yang datang dari Allah dengan setiap kelapangan yang datang dari dirimu, sehingga genggaman itu berubah seketika menjadi kelapangan, kewibawaan menjadi ketenangan dan adzab menjadi ridha.
Sesungguhnya itulah kehendak Allah dan engkau sejatinya juga menginginkannya.
Dialah Allah yang berkehendak dan engkau adalah yang dikehendaki oleh-Nya.
Tiada yang Allah inginkan dari semesta ini kecuali engkau.
Maka dari sisi adab, kecintaan dan juga pengetahuanmu, jangan sampai engkau mendahulukan kehendakmu daripada kehendak-Nya.
Jadilah engkau sebagaimana yang Allah Swt kehendaki dan bukanlah seperti yang engkau kehendaki untuk dirimu.
Kehendak-Nya untukmu itu berdasarkan ilmu-Nya yang luas, rahmat-Nya yang mutlak, kelembutan-Nya yang pasti, kebaikan-Nya yang banyak dan kecintaan-Nya yang besar padamu.
Maka ketika itu pula kondisi jiwamu yang bukan lisanmu akan spontan mengucapkan
“لا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلا بِالله“
“Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah,”
Maka selamat bagimu. Itu adalah satu perbendaharaan dari bawah ‘Arasy. Rasulullah Saw bersabda,
أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ فَإِنَّهَا مِنْ كَنْزِ الْعَرْشِ وَمَنْ أَكْثَرَ مِنْهَا نَظَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِ وَمَنْ نَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ فَقَدْ أَصَابَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Perbanyaklah mengucapkan, Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah’, sebab ia merupakan bagian dari perbendaharaan ‘Arasy. Barangsiapa yang memperbanyak mengucapkan itu, niscaya Allah akan memandangnya, dan orang yang Allah pandang, maka ia telah mendapat kebaikan dunia dan akhirat.” (HR. Ahmad; Ath-Thayalisi; Ibn Al Ja’d; Ibnu Rahawalh; Ath-Thabrani; Al Baihaqi; Al Hakim, yang mana la menilainya shahih dan Imam Adz-Dzahabi pun mengakulnya).
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
