You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-3 : Perantara

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-3 : Perantara

Barangsiapa menafikan perantara, maka ia akan terperosok pada kehimpitan. Sebab, dia menafikan perantara yang mulia nan bersinar dan menetapkan syahwat nan tersembunyi.

Barangsiapa yang menyatakan bahwa tidaklah ada perantara antara makhluk dengan sang Khalik, maka pernyataan ini telah jatuh pada paham hulul dan ittihad, sebab memang sudah seharusnya ada perantara antara sang Khalik dan makhluk.

Terkait bahwa Rasulullah Saw adalah perantara, maka perkara itu telah dikemukakan pada setiap kata, “قُلْ,” yang ada didalam Al Qur’an, sebagaimana firman Allah Swt,

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ 
qul huwallohu ahad

“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1)

Bahkan ketika Allah tidak berfirman dengan menggunakan kata, “قُلْ,” seperti dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ ۙ  فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
wa izaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qoriib, ujiibu da’watad-daa’i izaa da’aani falyastajiibuu lii walyu-minuu bii la’allahum yarsyuduun

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)

Jawaban redaksi, ” وَإِذَا ,” itu terhapus, yang perkiraannya adalah “قُلْ,” sementara redaksi ” فَإِنِّي قَرِيبٌ ” itu bukanlah jawaban redaksi diatas.

Suatu perkara yang dihapus, keberadaanya tidak akan dihapus kecuali karena perkara itu merupakan perkara yang sudah banyak diketahui dan juga perkara yang lumrah. Ia pun tidak akan dihapus kecuali lantaran kerasnya bentuk penampakannya dan cahayanya yang tersebar kemana-mana.

Ahli bahasa mengemukakan bahwa kata-kata yang dihapus lafazhnya, hukumnya tetap ada, sehingga membutuhkan perantara redaksi, “٫فَقُلْ” Lantas apakah ada yang memiliki makna ini selain Rasulullah? Sementara beliau bersabda, “أنَا لَهَا أَنَا لَهَا” “Akulah yang miliki itu (syafa’at), akulah yang miliki (syafa’at) itu,” (Ini merupakan bagian dari hadits mengenai syafa’at, yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.)

Dalam riwayat lain disebutkan

أَنَا لَهَا، وَأَنَا صَاحِبُهَا

“Akulah yang memiliki itu dan akulah pemegangnya.”

Juga sebagaimana yang akan dipaparkan terkait Nabi Muhammad Saw pada hari kiamat, yang mana beliau mengatakan ini pada setiap waktu, jika bukan karena Nabi Muhammad Saw, maka Allah Swt tidak akan menerima do’a sejak masa Nabi Adam As.

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمُ الْخَطِيئَةَ قَالَ : لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمُ الْخَطِيئَةَ قَالَ : يَا رَبِّ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لَمَا غَفَرْتَ لِي، فَقَالَ اللهُ: يَا آدَمُ، وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أَخْلُقْهُ ؟ قَالَ : يَا رَبِّ، لأَنَّكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيَدِكَ وَنَفَخْتَ ي مِنْ رُوحِكَ رَفَعْتُ رَأْسِي فَرَأَيْتُ عَلَى قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوبًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَعَلِمْتُ أَنَّكَ لَمْ تُضِفْ إِلَى اسْمِكَ إِلَّا أَحَبَّ الْخَلْقِ إِلَيْكَ، فَقَالَ اللهُ: صَدَقْتَ يَا آدَمُ، إِنَّهُ لَأُحِبُّ الْخَلْقِ إِلَيَّ ادْعُنِي بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ.

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Al Khaththab Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Disaat Nabi Adam As mengakui kesalahan, ia berkata, ‘Wahai Rabb, aku memohon pada-Mu dengan kebenaran Muhammad agar Engkau mengampuniku’, Allah berfirman, ‘Wahai Adam, lantas bagaimana engkau tahu Muhammad sementara Aku belum menciptakannya?’ Nabi Adam As berkata, ‘Wahai Rabb, karena disaat Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu, Engkau tiupkan bagian ruh-Mu padaku, aku angkat kepalaku, maka kulihat diatas ‘Arasy tertuliskan, La Ilaha Illallah Muhammadurrasulullah [Tiada Ilah yang patut disembah kecuali Allah, dan muhammad adalah utusan Allah)’, maka aku telah tahu bahwa Engkau tidak akan menyandingkan kepada nama-Mu kecuali ia merupakan makhluk yang paling Engkau cinta, Allah Swt berfirman, Engkau benar wahai Adam, sungguh dia merupakan makhluk yang paling kucinta dan Engkau berdo’a pada-Ku dengan kebenarannya, maka Aku telah berikan ampunan padamu. Jikalau bukan lantaran Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.” (HR. Ath-Thabrani; Al Hakim, ia menilainya shahih, Abu Nu’aim; Al Baihaqi dalam Ad-Dala `il, Ibnu ‘Asakir; Al Ajiri dalam Asy-Syari’ah.)

Al Imam ‘Ali Kw pernah berkata,

كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوبٌ عَنِ السَّمَاءِ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Setiap do’a itu terhalang dari langit hingga dishalawatkan pada Muhammad dan keluarga Muhammad Saw.” (HR. Ath-Thabrani (Al Haitsami berkata dalam Majma Az-Zawa ‘id. Para periwayatnya tsiqat); Ibnu Makhlad Al Baghdadi; Abu Al Husain bin Ghana ‘im dalam Sama’ât, Ad-Dailami dalam Musnad Al Firdaus.)

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، قَالَ: إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Diriwayatkan dari Al Faruq; ‘Umar bin Al Khaththab Ra, “Sungguh do’a itu terhenti diantara langit dan bumi, tidak ada yang naik, sampai engkau bershalawat atas nabimu Saw.” (HR. At-Tirmidzi; Al Baghawi dalam Syarh As-Sunnah secara mauquf.)


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَجْعَلُوْنِي كَفَدَحِ الرَّاكِبِ، إِنَّ الرَّاكِبَ إِذَا عَلَّقَ مَعَالِيْقَهُ، أَخَذَ قَدَحَهُ فَمَلَأَهُ مِنَ الْمَاءِ، فَإِنْ كَانَ لَهُ حَاجَةٌ فِي الْوُضُوءِ تَوَضَّاً، وَإِنْ كَانَ لَهُ حَاجَةٌ فِي الشَّرْبِ شَرِبَ، وَإِلا أَهْرَاقَ مَا فِيْهِ، اجْعَلُوْنِي فِي أَوَّلِ الدُّعَاءِ، وَفِي وَسَطِ الدُّعَاءِ، وَفِي آخِرِ الدُّعَاءِ.

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Jangan jadikan aku layaknya cawan seorang penunggang hewan tunggangan (jangan engkau akhirkan aku dalam berdzikir), sungguh penunggang hewan itu apabila ia telah menggantung sendoknya, ia pun mengambil cawan dan mengisinya dengan air. Andai ia perlu air itu untuk berwudhu, maka iapun berwudhu; andai ia butuh minum, maka iapun minum, jika pun tidak, dia pun bisa menumpahkannya; jadikanlah aku pada permulaan do’a, pada pertengahan do’a dan pada akhir do’a.” (HR. Abd bin Humaid; Al Khallal dalam As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim.)

عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي، إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدِ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادْعُهُ. قَالَ : ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُحَبْ.

Diriwayatkan dari Fadhâlah bin ‘Ubaid Ra, dia berkata: “Disaat Rasulullah Saw duduk, ketika itu masuklah seseorang dan melakukan shalat, ia berkata, ‘Ya Allah ampuni dan rahmati aku, Maka Rasulullah Saw bersabda, ‘Engkau terburu-buru wahai orang yang shalat; jika engkau melakukan shalat dan duduk, maka pujilah Allah dengan apa yang sesuai untuk-Nya, bershalawatlah atasku, kemudian berdo’alah. Periwayat berkata: ‘kemudian lelaki itu shalat diakhir, maka iapun memuji Allah dan bershalawat pada Nabi Saw, Nabi Saw bersabda padanya, “Wahai orang yang shalat, berdo’alah niscaya akan diijabah, mintalah niscaya akan diberi.” (HR. At-Tirmidzi, la menilainya hasan, An-Nasa ‘i; Ath-Thabrani.)

Lantaran Nabi Muhammad Saw lah, Allah memberikan ijabah do’a bagi umatnya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَا دَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَا خِرِيْنَ
wa qoola robbukumud’uuniii astajib lakum, innallaziina yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatii sayadkhuluuna jahannama daakhiriin

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”
(QS. Ghafir 40: Ayat 60)

Ka’ab bin Al Ahbar pernah berkata, “Tiga perkara yang diberikan kepada umat ini, namun tidak diberikan kepada umat lain sebelum mereka kecuali kepada nabi: Apabila Allah mengutus seorang nabi, dikatakan kepadanya, “Engkau adalah saksi atas umatmu,” dan menjadikan kalian,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَکُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّا سِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَاۤ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِ ۗ وَاِ نْ كَا نَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗ وَمَا كَا نَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَا نَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِا لنَّا سِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
wa kazaalika ja’alnaakum ummataw wasathol litakuunuu syuhadaaa-a ‘alan-naasi wa yakuunar-rosuulu ‘alaikum syahiidaa, wa maa ja’alnal-qiblatallatii kungta ‘alaihaaa illaa lina’lama may yattabi’ur-rosuula mim may yangqolibu ‘alaa ‘aqibaiih, wa ing kaanat lakabiirotan illaa ‘alallaziina hadalloh, wa maa kaanallohu liyudhii’a iimaanakum, innalloha bin-naasi laro-uufur rohiim

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)

Dikatakan pula kepadanya, “Tidak ada kesulitan bagimu dalam agama ini.” Allah pun berfirman untuk umat ini,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَا دِهٖ ۗ هُوَ اجْتَبٰٮكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ ۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَ ۗ هُوَ سَمّٰٮكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّا سِ ۖ فَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تُوا الزَّكٰوةَ وَا عْتَصِمُوْا بِا للّٰهِ ۗ هُوَ مَوْلٰٮكُمْ ۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
wa jaahiduu fillaahi haqqo jihaadih, huwajtabaakum wa maa ja’ala ‘alaikum fid-diini min haroj, millata abiikum ibroohiim, huwa sammaakumul-muslimiina ming qoblu wa fii haazaa liyakuunar-rosuulu syahiidan ‘alaikum wa takuunuu syuhadaaa-a ‘alan-naasi fa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata wa’tashimuu billaah, huwa maulaakum, fa ni’mal-maulaa wa ni’man-nashiir

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 78)

(Abu Hatim dan As-Sam’äni menyebutkannya dari riwayat Ka’b Al Ahbår; Ibnu Jarir pun menyebutkannya dari riwayat Qatâdah.)

Umat yang ada pada nabi terdahulu, mencurahkan beragam kebutuhan mereka kepada nabi mereka agar Allah mengijabah mereka, hal ini sebagaimana yang diceritakan berkaitan dengan mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَا مٍ وَّا حِدٍ فَا دْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِۢتُ الْاَ رْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّـآئِهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَ بَصَلِهَا ۗ قَا لَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِا لَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ ۗ اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِ نَّ لَـکُمْ مَّا سَاَ لْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَا لْمَسْکَنَةُ وَبَآءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَا نُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَا نُوْا يَعْتَدُوْنَ
wa iz qultum yaa muusaa lan nashbiro ‘alaa tho’aamiw waahiding fad’u lanaa robbaka yukhrij lanaa mimmaa tumbitul-ardhu mim baqlihaa wa qissaaa-ihaa wa fuumihaa wa ‘adasihaa wa basholihaa, qoola a tastabdiluunallazii huwa adnaa billazii huwa khoiir, ihbithuu mishrong fa inna lakum maa sa-altum, wa dhuribat ‘alaihimuz-zillatu wal-maskanatu wa baaa-uu bighodhobim minalloh, zaalika bi-annahum kaanuu yakfuruuna bi-aayaatillaahi wa yaqtuluunan-nabiyyiina bighoiril-haqq, zaalika bimaa ‘ashow wa kaanuu ya’taduun

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 61)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَا لُوْا يٰمُوْسَى ادْعُ لَـنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ ۚ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَـنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَـنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ 
wa lammaa waqo’a ‘alaihimur-rijzu qooluu yaa muusad’u lanaa robbaka bimaa ‘ahida ‘ingdak, la-ing kasyafta ‘annar-rijza lanu-minanna laka wa lanursilanna ma’aka baniii isrooo-iil

“Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, “Wahai Musa! Mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau dapat menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan pasti akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 134)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لُوْا يٰۤاَ يُّهَ السَّا حِرُ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ ۚ اِنَّنَا لَمُهْتَدُوْنَ
wa qooluu yaaa ayyuhas-saahirud’u lanaa robbaka bimaa ‘ahida ‘ingdak, innanaa lamuhtaduun

“Dan mereka berkata, “Wahai ahli sihir! Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami (jika doamu dikabulkan) akan menjadi orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 49)

Mengenai umat Rasulullah Saw, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَا دَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَا خِرِيْنَ
wa qoola robbukumud’uuniii astajib lakum, innallaziina yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatii sayadkhuluuna jahannama daakhiriin

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.””
(QS. Ghafir 40: Ayat 60)

Allah Swt memerintahkan mereka untuk berdo’a dan menjanjikan mereka dengan diijabahnya do’a tersebut, dimana antara dua perkara ini tidak ada syarat.

Sementara jika jiwalah yang menjadi perantara (menuju Allah), maka Rasulullah Saw telah menguasai jiwa orang mukmin, sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِا لْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ وَاَ زْوَا جُهٗۤ اُمَّهٰتُهُمْ ۗ وَاُ ولُوا الْاَ رْحَا مِ بَعْضُهُمْ اَوْلٰى بِبَعْضٍ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُهٰجِرِيْنَ اِلَّاۤ اَنْ تَفْعَلُوْۤا اِلٰۤى اَوْلِيٰٓئِكُمْ مَّعْرُوْفًا ۗ كَا نَ ذٰ لِكَ فِى الْكِتٰبِ مَسْطُوْرًا
an-nabiyyu aulaa bil-mu-miniina min angfusihim wa azwaajuhuuu ummahaatuhum, wa ulul-ar-haami ba’dhuhum aulaa biba’dhing fii kitaabillaahi minal-mu-miniina wal-muhaajiriina illaaa ang taf’aluuu ilaaa auliyaaa-ikum ma’ruufaa, kaana zaalika fil-kitaabi masthuuroo

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Demikianlah telah tertulis dalam Kitab (Allah).”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 6)

Oleh karena itu, jadikanlah beliau (Nabi Muhammad Saw) sebagai perantara yang suci nan mulia di dunia dan akhirat, sehingga beliau bisa memberikan syafa’at kepada umatnya di akhirat, dimana perantara ketika itu sudah tidak berlaku lagi.

Maka Rasulullah Saw adalah pondasi keimanan dan tauhid, serta beliaulah satu-satunya angan-angan.

Inilah makna dari sebuah hadits yang didalamnya disebutkan,

أَمَا تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالْأَمْوَالِ وَتَذْهَبُونَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رِحَالِكُمْ، فَوَاللَّهِ لَمَا تَنْقَلِبُوْنَ بِهِ خَيْرٌ بِمَا يَنْقَلِبُوْنَ بِهِ

“Ridhakah kalian jika orang-orang pergi dengan membawa harta, sementara kalian kembali pulang dengan Nabi Saw? Demi Allah, sekembalinya mereka dengan membawa Nabi Saw lebih baik daripada kembalinya mereka dengan membawa harta.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.)

Nah, kembalinya mereka dengan Rasulullah Saw inilah yang merupakan inti perbendaharaan Allah Swt.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY