You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Ragam Kaedah dan Ilmu Ahli Kasyaf : Jalan Menuju Fokus Pada Allah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Ragam Kaedah dan Ilmu Ahli Kasyaf : Jalan Menuju Fokus Pada Allah

Ketahuilah bahwa wushul kepada Allah Swt itu melalui pintunya Nabi Saw. Tidak ada seorangpun yang mampu wushul kepada Allah tanpa perkara tersebut, akan tetapi makna perkara itu adalah dengan cara mengikuti syari’at, mengikuti jalan beliau Saw, berakhlak dengan akhlak beliau Saw, beradab dengan adab beliau Saw yang disertai keikhlasan dalam seluruh perkara pada Allah Swt.

Sementara mengenai seorang “Syaikh” dalam sebuah thariqah, maka beliau menempati posisi petunjuk; sosoknya mengetahui seluk beluk sebuah jalan (menuju Allah); mengetahui beragam perkara yang menakutkan pada jalan tersebut; sosok yang juga mampu menghitung berapa jam yang dibutuhkan untuk waktu istirahat dan mempersiapkan bekalnya menuju akhirat. Seorang syaikh bagi roh dan kalbu kita menempati posisi seorang dokter ahli dalam yang mengetahui beragam penyakit yang nampak; dari mana asal usulnya, iapun mengetahui pula bagaimana cara mengobatinya dan berapa jumlah dosis yang tepat, serta mengetahui obat apa yang dibutuhkan untuk mengatasi beragam penyakit tersebut sampai kalbu dan juga roh kembali pada kesehatan yang sempurna, inilah puncaknya seorang syaikh.

Sementara selain perkara diatas, dari beragam kucuran ilahiyyah, sisi tajalli dan juga anwar, maka itu merupakan keutamaan yang Allah Swt berikan pada siapa yang Dia kehendaki, maka penciptaan makhluk dan juga ragam perbuatannya, itu hak prerogatif Allah, sementara mengenai petunjuk, maka itu haknya seorang syaikh.

Sayyidi Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra pernah berkata “Tidaklah sampai segala sesuatu dalam kehidupan ini dari ilmu yang mutlak kecuali itu berasal dari reservoir ataupun tangkinya Ali Ra. Karena beliau adalah pintu kotanya ilmu yaitu Nabi Saw (Ana madinah al ilm wa ‘Aliyyun bâbuha).

Al Junaidi Al Baghdadi Ra pernah ditanya, Bagaimanakah jalan menuju fokus pada Allah Swt?” ia menjawab, “Yaitu dengan tobat yang mampu menghilangkan kebiasaan; dengan takut yang mampu menghilangkan sikap penundaan; dengan roja (pengharapan) yang mampu membangkitkan semangat untuk meniti jalan amal; dan dengan menghinakan jiwa yang mampu mendekatkan dia dengan ajal dan menjauhkannya dari angan-angan.”

Ragam tahapan menuju Allah Swt dimulai dengan mengisi kalbu dengan dzikir pada Allah Swt, sehingga kalbupun tenang, dari ketenangan kalbu berpindah kepada muraqabah, yaitu sebuah kondisi jiwa yang yang dimiliki oleh wali afrad, maksudnya adalah orang-orang yang melakukan suluk secara individu.

Ketika kondisi ini konsisten dan terus ada pada diri seorang hamba dan menetap perkaranya di dalam kalbu, maka dengan kondisi itu ia akan mulai linglung dengan alam ini, kemudian ia pun akan menuju kondisi sakar; yaitu kondisi diatas kondisi linglung tersebut, lalu ia menuju kondisi fana dari alam dengan kondisinya yang masih sadar akan ke-fana-an dirinya, selanjutnya menuju kondisi fana dari ke-fana-annya, sehingga tidak tersisa kecuali Allah, dengan Allah, dari Allah. Inilah pintu masuk kepada mahabbah Dzatullah yang merupakan puncak dari segala puncak kecintaan.

Sedangkan para wali dari kalangan jin, maka mereka berkutat seputar perbuatan, rahasia dari perbuatan Allah, dan cahaya dari perbuatan Allah, lain halnya dengan para Rohaniyyun; mereka berkutat seputar isim, rahasia dari isim dan cahaya dari isim tersebut.

Begitu pula para malaikat; mereka berkutat seputar sifat dan rahasia dari sifat Allah Swt.

Lain halnya dengan para wali Allah dari kalangan manusia, maka mereka berkutat seputar Dzat Allah, rahasia Dzat dan nur Dzat-Nya Allah Swt.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذِا سْتَسْقٰى مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِّعَصَا كَ الْحَجَرَ ۗ فَا نْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۗ قَدْ عَلِمَ کُلُّ اُنَا سٍ مَّشْرَبَهُمْ ۗ کُلُوْا وَا شْرَبُوْا مِنْ رِّزْقِ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَ رْضِ مُفْسِدِيْنَ
wa izistasqoo muusaa liqoumihii fa qulnadhrib bi’ashookal-hajar, fangfajarot min-husnataa ‘asyrota ‘ainaa, qod ‘alima kullu unaasim masyrobahum, kuluu wasyrobuu mir rizqillaahi wa laa ta’sau fil-ardhi mufsidiin

“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah darinya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 60)

Martabat pertama pada manusia adalah muncul dalam bentuk kasyaf, yang mana ini merupakan martabat kalangan jin, kemudian ia pun ber-tarqiyah hingga menuju tingkatan yang keempat.

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY