You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 1. Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra ditanya tentang hukum Syar’i

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra ditanya tentang hukum syar’i.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Hakekat hukum syar’i adalah khithab Allah yang berkaitan dengan hukum-hukum mukallaf…

Sedangkan ragam nash yang ada dalam kitab-kitab Ilahiyyah, maka sudah jelas bahwa itu adalah hakekat firman Allah Swt, seperti Taurat, Injil, Zabur dan Al Furqan (Al Qur`an)…

Apa yang diperintah oleh para rasul yang diluar kitab-kitab tersebut, maka perkara ini masih musykil. Untuk menghilangkan ke-musykil-annya, Allah Swt berfirman dalam Kitab-Nya,

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا
wa maaa arsalnaa mir rosuulin illaa liyuthoo’a bi-iznillaah, walau annahum iz zholamuuu angfusahum jaaa-uuka fastaghfarulloha wastaghfaro lahumur-rosuulu lawajadulloha tawwaabar rohiimaa

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 64)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَا عَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا 
may yuthi’ir-rosuula fa qod athoo’alloh, wa mang tawallaa fa maaa arsalnaaka ‘alaihim hafiizhoo

“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 80)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْعُوا الرَّسُوْلَ ۚ فَاِ نْ تَوَلَّوْا فَاِ نَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَّا حُمِّلْتُمْ ۗ وَاِ نْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوْا ۗ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ
qul athii’ulloha wa athii’ur-rosuul, fa ing tawallau fa innamaa ‘alaihi maa hummila wa ‘alaikum maa hummiltum, wa ing tuthii’uuhu tahtaduu, wa maa ‘alar-rosuuli illal-balaaghul-mubiin

“Katakanlah, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Kewajiban rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.””
(QS. An-Nur 24: Ayat 54)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُّشَا قِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَـهُ الْهُدٰى وَ يَـتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَـنَّمَ ۗ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا
wa may yusyaaqiqir-rosuula mim ba’di maa tabayyana lahul-hudaa wa yattabi’ ghoiro sabiilil-mu-miniina nuwallihii maa tawallaa wa nushlihii jahannam, wa saaa-at mashiiroo

“Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 115)

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa perintah Rasul adalah hakekat dari firman Allah Swt. Allah Swt memerintah untuk menaati Rasul dalam setiap perintah dan larangannya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam ayat yang lain,

مَاۤ اَفَآءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْ اَهْلِ الْقُرٰى فَلِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَا لْمَسٰكِيْنِ وَا بْنِ السَّبِيْلِ ۙ كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَ غْنِيَآءِ مِنْكُمْ ۗ وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰٮكُمْ عَنْهُ فَا نْتَهُوْا ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَا بِ 
maaa afaaa-allohu ‘alaa rosuulihii min ahlil-quroo fa lillaahi wa lir-rosuuli wa lizil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiini wabnis-sabiili kai laa yakuuna duulatam bainal-aghniyaaa-i mingkum, wa maaa aataakumur-rosuulu fa khuzuuhu wa maa nahaakum ‘an-hu fangtahuu, wattaqulloh, innalloha syadiidul-‘iqoob

“Harta rampasan fai’ yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 7)

Kemudian hukum yang dikeluarkan oleh Rasul yang tidak ada dalam Kitab yang diturunkan, maka itu adalah perintah ilahi yang tidak diragukan lagi, bahwa itu datang dari sisi Allah Swt. Pengambilan hukum dari sisi Allah Swt itu menggunakan salah satu cara dari beberapa cara.

Adakalanya melalui jalan nisbat, ini adalah perkara yang sudah dapat dipastikan kebenarannya. Adakalanya melalui jalan asrar, ini adalah perkara yang juga sudah dapat dipastikan kebenarannya. Adakalanya melalui jalan ilham, ini adalah perkara yang perkara yang juga sudah dapat dipastikan kebenarannya. Dan adakalanya melalui jalan wahyu dengan datangnya seorang malaikat yang membawa perintah Allah Swt, yang tidak menyerupai perintah Allah Swt yang lain dan ini juga merupakan perkara yang juga sudah dapat dipastikan kebenarannya.

Jalan nisbat adalah perkara yang sudah diketahui oleh para rasul dalam hadhrah Ilahiyyah. Karena hadhrah Ilahiyyah seluruhnya berkaitan erat dengan qanun (undang-undang) yang penuh dengan hikmah. Maka, tidak mungkin di antara manusia -jika ditinjau dari sisi hikmah- akan melahirkan keledai atau unta, tidak pula sebaliknya, karena tidak sesuai. Ketentuan Ilahiyyah tidak hanya berkutat dengan masalah ada dan tidak adanya sesuatu, karena ini adalah ketentuan berdasarkan hukum masyi’ah (kehendak Ilahiyyah). Akan tetapi, di alam hikmah Allah menjadikan keserasian yang penuh hikmah, sehingga ketentuan Ilahiyyah tidak akan terjadi kecuali sesuai dengan tabiat dan bukan yang lainnya.

Contohnya adalah tanaman, maka tanaman tidak boleh ditanam di atas batu cadas yang licin, kemudian tanaman itu tumbuh dengan sempurna sebagaimana ia ditanam di tanah yang bagus. Hal ini tidak akan terjadi, karena tidak sesuai dengan tabiat tanaman. Hal ini pun tidak mungkin terjadi, bahwa tanaman akan tumbuh begitu saja setelah kita menaburkannya di tanah, menyiramkan air atau menyerbukannya, kemudian terkena angin dan matahari sampai ia menjadi tanaman yang sempurna. Tanpa semua proses tersebut, maka tanaman tidak akan tumbuh sempurna, karena tidak sesuai dengan tabiat sebenarnya.

Jalan asrar adalah ilmu yang diberikan kepada para rasul. Ketika Allah Swt memerintah mereka dengan sebuah perintah atau melarang mereka dengan sebuah larangan, maka Allah Swt akan memperlihatkan kepada mereka rahasia dibalik perintah atau larangan tersebut; baik dampak positif atau dampak negatif. Hal ini sudah dapat dipahami oleh mereka dan dapat diketahui dari perkara Ilahiyyah. Apabila Rasul telah mengetahui sebuah perkara, yaitu perkara yang tidak datang dari firman Allah Swt, namun beliau mendapati rahasianya dalam perintah Allah yang lain, maka beliau akan memerintahkannya atau akan melarangnya karena rahasia yang telah diketahuinya. Demikianlah keputusan hukum dari jalan asrar.

Jalan ilham, adakalanya dengan cara talaqqi, ilqa atau liqa. Cara talaqqi adalah batin Rasul Saw menghadap kepada Hadhrah Al Haq dalam menuntut ilmu kasyf, lalu beliau mendapatkan jawabannya seketika itu, bahwa hukum dalam masalah ini demikian dan demikian, sebagai perintah dan larangan. Ini adalah perkara yang pasti kebenarannya.

Cara ilqa adalah perkara yang datang dari Al Haq kepada sirr Rasul Saw tanpa diduga-duga dan tanpa persiapan, karena menuntut pertanyaan tentang sebuah hukum, demikianlah cara ilqa’.

Sedangkan cara liga tidak dapat disebutkan dan tidak ada yang mengetahuinya selain para pemiliknya.

Jalan wahyu adalah datangnya seorang malaikat yang membawa perkara Allah Swt kepada Rasulullah Saw, untuk mengabarkan bahwa perkara itu sebagai perintah atau larangan. Akan tetapi datangnya malaikat dengan membawa perkara itu hanya berupa firman Allah Swt yang didengar langsung dari Dzat-Nya. Perkara itu hakekatnya tidak akan muncul selain dari firman Allah Swt.

Khithab Allah Swt terbagi menjadi dua macam: Khithab dalam alam hikmah dan khithab dalam alam masyi’ah. Kedua khithab ini shahih lagi tsabit, kita wajib meyakini dan mengimaninya. Khithab-Nya dalam alam hikmah adalah firman Allah Swt,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya’buduun

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Maksudnya, Aku (Allah) mewajibkan mereka beribadah kepada-Ku. Jika mereka melaksanakannya, Aku akan memberi mereka pahala. Namun, jika mereka menyelisihi, maka mereka berhak mendapatkan siksaan dari-Ku.

Sedangkan khithab dalam alam masyi ‘ah adalah firman Allah Swt,

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَـعَلَ النَّا سَ اُمَّةً وَّا حِدَةً وَّلَا يَزَا لُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ 
walau syaaa-a robbuka laja’alan-naasa ummataw waahidataw wa laa yazaaluuna mukhtalifiin

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat),”
(QS. Hud 11: Ayat 118)

اِلَّا مَنْ رَّحِمَ رَبُّكَ ۗ وَلِذٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَاَ مْلَـئَنَّ جَهَـنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ اَجْمَعِيْنَ
illaa mar rohima robbuk, wa lizaalika kholaqohum, wa tammat kalimatu robbika la-amla-anna jahannama minal-jinnati wan-naasi ajma’iin

“kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.””
(QS. Hud 11: Ayat 119)

Diantara khithab dalam alam hikmah adalah firman Allah Swt,

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا
wa maaa arsalnaa mir rosuulin illaa liyuthoo’a bi-iznillaah, walau annahum iz zholamuuu angfusahum jaaa-uuka fastaghfarulloha wastaghfaro lahumur-rosuulu lawajadulloha tawwaabar rohiimaa

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 64)

Diantara khithab dalam alam masyi’ah lainnya adalah firman Allah Swt,

وَلَوْ اَنَّـنَا نَزَّلْنَاۤ اِلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتٰى وَ حَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَّا كَا نُوْا لِيُؤْمِنُوْۤا اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُوْنَ
walau annanaa nazzalnaaa ilaihimul-malaaa-ikata wa kallamahumul-mautaa wa hasyarnaa ‘alaihim kulla syai-ing qubulam maa kaanuu liyu-minuuu illaaa ay yasyaaa-allohu wa laakinna aksarohum yaj-haluun

“Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran).”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 111)

Dalam ayat yang pertama, yaitu firman Allah Swt, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul…..” menetapkan keimanan bagi para hamba. Sedangkan dalam ayat yang kedua menjauhkan mereka dari iman. Iman tidak akan ada kecuali sesuai dengan kehendak Allah Swt. Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 3 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY