
Elsubha.com – Serangan Mereka Melalui Tasawuf
Apabila dasar-dasar spiritual telah menguasai suatu masa, maka mereka akan menisbatkannya kepada tokoh-tokoh sufi, kemudian mereka mengira, bahwa itu adalah hakikat yang menafikan syari’at dan sisi batin yang menyelisihi zhahir-nya. Jika engkau mengetahui hakikat mereka saat menyeru manusia kepada pemikiran mereka, maka engkau akan dapati mereka dalam kondisi kufur pada tingkatan yang paling rendah, hal itu lantaran mereka memperbolehkan hal-hal yang telah diharamkan dan mencampurkan antara Khaliq dengan makhluk dari sebuah pemahaman yang menyatakan, bahwa Khaliq adalah materi dari alam semesta. Pemahaman ini adalah bagian dari pemahaman para penyembah berhala yang materialistis.
Diantara mereka ada yang mengklaim muksyafah atau melihat Al Mushthafa Saw atau Jibril atau ilham ilahiyah, kemudian dia akan menarik para pengikutnya untuk menyelisihi syari’at dan meninggalkan beragam kewajibannya. Mereka adalah orang-orang yang pantas menjadi bagian dari agama Hindu atau Yahudi atau juga Majusi.
Tidak ada seorang sufi pun kecuali dia berlepas diri dari mereka. Dia tidak melihat mereka kecuali sebagai kelompok yang paling memusuhi sufi dan kaum muslimin lainnya. Barangsiapa yang menganggap mereka sebagai sufi, maka dia telah melakukan kekeliruan yang nyata. Dasar sebuah thariqah adalah memperbaiki akidah sesuai dengan akidah Rasulullah Saw dan para sahabat beliau.
Barangsiapa yang akidahnya rusak, maka tidak ada agama dan thariqah baginya. Barangsiapa yang awal perjalanan dan usahanya adalah untuk mendekatkan diri kepada Al Haq sementara dia meyakini, bahwa hakikat itu tidak sejalan dengan syari’at, kemudian jika dia telah mencapainya, dia pun meyakini selain apa yang diyakini oleh kaum muslimin, maka dia telah kufur kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia sejatinya sudah tidak memeluk agama Islam namun dia tidak mengetahui itu. Jika memang permulaannya demikian, maka tujuannya adalah istidraj dan lalu neraka.
Sesungguhnya wushul itu adalah bentuk pengaplikasian beragam permasalahan iman dan perpaduan antara ilmul yaqin dengan ainul yaqin, seperti halnya orang yang beriman kepada malaikat, kemudian dia melihat malaikat. Hal ini pernah terjadi pada para sahabat Rasulullah Saw, sehingga mereka semakin berpegang teguh dan meyakini agama Islam.
Rasulullah Saw bersabda,
لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ
“Khabar itu tidak seperti melihat dengan mata telanjang.” (HR. Imam Ahmad dari riwayat Ibnu Abbas Ra; Ibnu Majah dan Al Hakim, dia menilainya shahih).
Jadi, hakikat itu adalah bentuk pengaplikasian sempurna terhadap syari’at yang suci. Barangsiapa yang mengira gugurnya kewajiban bagi orang berakal yang telah diberikan beban syari’at kepadanya, maka dia telah keluar dari Islam. Timbangan atau standar (dalam hal ini) adalah syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Barangsiapa yang berpegang teguh terhadapnya, maka dia berada di atas petunjuk Nabi Saw dan barangsiapa yang menyimpang darinya, maka dia berada dalam kesesatan yang nyata.
