
Elsubha.com – Shalawat Jauharatul Kamal
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّــانِــيَّــةِ وَالْيَـاقُوْتَـةِ الْـمُتَحَقِّقَةِ اْلحَائِطَةِ بِمَرْكَــزِ الْفُهُوْمِ وَالْـمَعَانِى وَنُوْرِ اْلأَكْــوَانِ الْـمُتَــكَــوِّنَةِ اْلأٰدَمِـــيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ الرَّبَّـــانِـــي
اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزَوْنِ اْلأَرْيَاحِ الْـمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ الْبُحُوْرِ وَالْأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللَّامِعِ الَّذِى مَلَأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِــنَةِ الْـمَكَانِى
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى عَيْنِ الْحَقِّ الَّــتِى تَــتَــجَلّٰى مِنْـهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْـمَعَارِفِ الْأَقْوَامِ صِرَاطِكَ التَّامِ اْلأَسْقَمِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْكَنْــزِ اْلأَعْظَمِ إفَاضَتِكَ مِنْكَ إلَيْــكَ إحَاطَةِ النُّوْرِ الْـمُطَلْسَمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ صَلَاةً تُعَرِّفُنَا بِـهَا إيَّاهُ.
Alloohumma Sholli wa sallim ‘alaa ‘aynir rohmatir robbaaniyyati wal- mutahaqqiqotil haa-ithoti, bi-markazil fuhuumi wal ma’aani, wa nuuril akwaanil mutakawwanatil adamiyy shoohibil haqqir robbaanii, al-barqil astho’i bi-muzuwnil arbaahil maali-ati likulli muta’arridlin minal buhuuri wal awaani wa nuurikal laami’illadzii mala’ta bihii kawnakal haaitho bi-amkinatil makaanii.
Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa ‘aynil haqqiillatii tatajallaa min-haa ‘uruusyul haqoo-iqi ‘aynil ma’aarifil aqwam shiroothikat taammil asqom.
Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa thol’atil haqqi bil-haqqil kanzil a’dhom, ifaadlotika minka ilaika ihaathotin nuuril mutholsam. Shollallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihii sholaatan tu’arrifunaa bihaa iyyaahu.
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan perwujudan rahmat sifat-sifat Tuhan, mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, sang pengemban kebenaran sisi ketuhanan, yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang yang menghadap-Nya. Yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat.”
“Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang menjadi Ain Al Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran), telah tampak dari padanya seluruh hakikat keadilan yang seperti ‘Arsy sebagai sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus.”
“Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli, yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, tempat datangnya kasih-Mu, yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui hakikat.”
Perlu diketahui, bahwa shalawat jauharatul kamal ini merupakan shalawat yang di-imla-kan Rasulullah Saw kepada guru kita; Al Quthb Ar-Rabbani, Maulana Abil ‘Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra secara terjaga dan tidak dalam kondisi bermimpi.
Tugas Rasulullah Saw adalah menyampaikan apa yang diperintahkan untuk disampaikan. Sementara ilmu dan anwar Rasulullah Saw, sungguh tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui batasannya, bahkan tidak ada yang sangup untuk mengetahui hal itu. Rasulullah Saw pun telah menyatakan hal ini dalam sabdanya,
وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
“Demi Allah, seandainya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. ” (HR. Asy-Syaikhani; Mâlik dalam Al Muwaththa; An-Nasa’i; Ahmad; Al Baihaqi, Abdurrazzaq dari riwayat Ummul Mukminin ‘Aisyah; At-Tirmidzi; Ibnu Majah; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi dan Al Hakim dari riwayat Abu Dzarr; dimana Al Hakim menilai hadits ini shahih, Al Bukhari; At-Tirmidzi; Ahmad; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi semuanya dari riwayat Abu Hurairah; Asy-Syaikhani; Ibnu Majah; Ahmad; Ibnu Abi Syaibah; semuanya meriwayatkan dari hadits Anas; Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dari hadits Abu Ad-Darda’.)
Beliau Saw juga pernah bersabda,
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي التَّهْجِيْرِ لَاَسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْحُبْوا.
“Seandainya manusia mengetahui apa yang ada didalam seruan (shalat) dan apa yang ada di shaff pertama, dimana kemudian mereka tidak menemukan sesuatu kecuali memilih hal itu, maka mereka pun akan memilihnya. Seandainya manusia tahu yang ada pada bersegera (memenuhi perintah Allah), maka mereka akan berlomba-lomba untuk besegera datang. Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada waktu Maghrib dan mendatangi masjid untuk shalat Shubuh, maka mereka akan berusaha mendatanginya sekalipun sambil merangkak. ” (HR. Malik; Asy-Syaikhani; Ahmad dalam Al Musnad, An-Nasa’i; Al Baihaqi dari riwayat Abu Hurairah.)
Pada masa hidup Nabi Saw, beliau menyampaikan hal umum seperti ini untuk orang yang umum pula, dimana sepeninggalan beliau, beliau hanya menyampaikan hal khusus bagi orang yang khusus pula. Sepeninggalan Nabi Saw, beliau Saw masih tetap menjalin hubungan ruhani dengan para sahabat dan orang-orang yang beliau cintai, Nabi Saw menampakkan sebagian ilmu dan asrar beliau kepada mereka. Tidak ada sikap fanatisme atas keutamaan Allah dan Rasul-Nya ini.
Rasulullah Saw telah mengatakan beragam kekhususan shalawat ini kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra secara sadar dan tidak dalam kondisi bermimpi. Diantaranya kekhususan shalawat jauharatul kamal ini adalah:
1. Satu kali bacaan shalawat jauharatul kamal ini melebihi 3 kali bacaan tasbih semua yang ada di alam ini.
2. Orang yang membaca 7 kali shalawat jauharatul kamal atau bahkan lebih, maka ruh Nabi Saw dan para khalifah yang empat akan mendatanginya, selama dirinya membaca shalawat ini.
3. Orang yang membiasakan diri untuk membaca shalawat jauharatul kamal ini lebih dari 7 kali pada setiap harinya, maka Rasulullah Saw akan mencintainya dengan kecintaan khusus, seolah-olah dia menziarahi Nabi Saw -di Raudhah dan juga seluruh nabi dan para wali, mulai dari awal penciptaan hingga saat dia membaca shalawat itu.
4. Orang yang selalu istiqamah membacanya sebanyak 7 kali sebelum tidur, yaitu pada kasur yang suci dan dalam keadaan berwudhu, maka dia akan dapat melihat Nabi Saw.
5. Pembacaan shalawat jauharatul kamal sebanyak 3 kali setelah melakukan aktifitas ibadah apapun, dengan niatan melengkapi kekhusyu’an diri dalam beribadah, maka pahala bacaan shalawat ini dapat menutupi kekurangan ibadah tersebut.
A. Kandungan dan Makna dalam Shalawat Jauharatul Kamal
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّــانِــيَّــةِ وَالْيَـاقُوْتَـةِ الْـمُتَحَقِّقَةِ اْلحَائِطَةِ بِمَرْكَــزِ الْفُهُوْمِ وَالْـمَعَانِى وَنُوْرِ اْلأَكْــوَانِ الْـمُتَــكَــوِّنَةِ اْلأٰدَمِـــيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ الرَّبَّـــانِـــي
اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزَوْنِ اْلأَرْيَاحِ الْـمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ الْبُحُوْرِ وَالْأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللَّامِعِ الَّذِى مَلَأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِــنَةِ الْـمَكَانِى
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى عَيْنِ الْحَقِّ الَّــتِى تَــتَــجَلّٰى مِنْـهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْـمَعَارِفِ الْأَقْوَامِ صِرَاطِكَ التَّامِ اْلأَسْقَمِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْكَنْــزِ اْلأَعْظَمِ إفَاضَتِكَ مِنْكَ إلَيْــكَ إحَاطَةِ النُّوْرِ الْـمُطَلْسَمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ صَلَاةً تُعَرِّفُنَا بِـهَا إيَّاهُ.
Alloohumma Sholli wa sallim ‘alaa ‘aynir rohmatir robbaaniyyati wal- mutahaqqiqotil haa-ithoti, bi-markazil fuhuumi wal ma’aani, wa nuuril akwaanil mutakawwanatil adamiyy shoohibil haqqir robbaanii, al-barqil astho’i bi-muzuwnil arbaahil maali-ati likulli muta’arridlin minal buhuuri wal awaani wa nuurikal laami’illadzii mala’ta bihii kawnakal haaitho bi-amkinatil makaanii.
Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa ‘aynil haqqiillatii tatajallaa min-haa ‘uruusyul haqoo-iqi ‘aynil ma’aarifil aqwam shiroothikat taammil asqom.
Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa thol’atil haqqi bil-haqqil kanzil a’dhom, ifaadlotika minka ilaika ihaathotin nuuril mutholsam. Shollallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihii sholaatan tu’arrifunaa bihaa iyyaahu.
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan perwujudan rahmat sifat-sifat Tuhan, mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, sang pengemban kebenaran sisi ketuhanan, yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang yang menghadap-Nya. Yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat.”
“Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang menjadi Ain Al Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran), telah tampak dari padanya seluruh hakikat keadilan yang seperti ‘Arsy sebagai sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus.”
“Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli, yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, tempat datangnya kasih-Mu, yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui hakikat.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra juga pernah menjelaskan kandungan maknanya sebagai berikut:
1. Redaksi “اَللّٰهُمَّ وَسَلِّمْ صَلِّ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ”
“Ya Alloh, Limpahkan Sholawat dan Salam atas Hakikat Rohmat Robbaniyyah”
Perlu diketahui bahwa Allah Swt mengambil salah satu cahaya milik-Nya dan meletakkan apa saja yang Dia ingin bagikan untuk semua makhluk-Nya di dalam cahaya itu, baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah; baik itu juga berupa anwar, asrar maupun rezeki. Kemudian Allah Swt memberikan limpahan karunia kepada makhluk-Nya sesuai dengan pengakuan-Nya terhadap hakikat Al Muhammadiyyah yang berupa ilmu pengetahuan, rahmat maupun anwar, sehingga setiap makhluk akan mendapatkan beragam karunia ini sesuai dengan kemampuan ruhani dan persiapan jiwan yang suci.
Posisi Rasulullah Saw pada limpahan karunia ini adalah, bahwa beliau adalah inti rahmat itu sendiri, sosok beliau layaknya sumber air, banyak orang yang akan mendatanginya. Air itu kemudian berpencar menuju saluran-saluran yang dapat dimanfaatkan orang lain. Oleh karena itu, Rasulullah Saw pernah bersabda,
إِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي
“Sungguh akulah yang membagi, dimana Allah lah yang memberi. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka dengan lafazh ini; Ath-Thabrâni; Al Baihaqi dari riwayat Mu’awiyah. Hadits ini memiliki banyak lafazh dan juga shahih pada berbagai buku-buku hadits; kami tidak perlu menyebutkan semuanya di sini.)
Rahmat itu disandarkan kepada Allah Swt, lantaran rahmat dari Allah lah semua yang ada itu berasal dan rahmat itu juga merupakan hadrah, tempat dimana Allah Swt memandang makhluk dan mentarbiyah mereka dengan segenap karunia-Nya.
2. Redaksi “وَالْيَاقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ” dan “بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى”
“Yaitu Ilmu (yang indah bagaikan) Permata yang meliputi Keseluruhan Hakikat, Yang menjadi Pusat segala Kefahaman dan Ma’na”
Maksudnya adalah, ini merupakan kiasan apik tentang kejernihan dan kemuliaan. Seluruh yang Allah Swt letakkan dalam hakikat ini, baik itu berupa pemahaman, pengetahuan, persiapan jiwa dan anwar, apabila semuanya ini dikumpulkan menjadi satu, maka Rasulullah Saw lah yang menjadi pusat dan pemberi madad Nya, bahkan beliaulah inti dan sumber itu semua.
3. Redaksi “وَنُوْر ِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأٰدَمِيِّ“
“Dan Cahaya ciptaan segala kejadian yang tercipta (yang dibangsakan kepada anak Adam/Humanity)”
Maksudnya adalah, bahwa sosok Rasulullah Saw adalah cahaya semua alam yang telah dibuat, yang mampu merangkaikan sesuatu dengan yang lainnya.
4. Redaksi “صَاحِبِ اْلحَقِّ الرَّبَّانِي“
Dia adalah Tuan Empunya bagi Haq (Kerja-kerja) Robbani (divinity)
Maksudnya adalah pemegang sebuah kebenaran, yang berupa perintah dan larangan Allah Swt, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan,
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَا عَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا
may yuthi’ir-rosuula fa qod athoo’alloh, wa mang tawallaa fa maaa arsalnaaka ‘alaihim hafiizhoo
“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 80)
5. Redaksi “اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوْنِ اْلأَرْيَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ” dan “مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى“
“Dia Bagaikan Kilat yang terpancar seperti turunnya hujan yang mengalir memenuhi setiap ruang yang menghadapnya, Sehingga memenuhi segala lautan ruang dan masa”
Maksudnya adalah, bahwa hal tersebut lantaran petir itu selalu menyertai turunnya hujan. Petir adalah hakikat Al Muhammadiyyah, yang mana “muznil arbah” itu merupakan limpahan rahmat dari hadrah Allah Swt, yang Allah berikan kepada makhluk-Nya dengan perantara Rasulullah Saw. Ruh mereka ini menerima limpahan rahmat sesuai dengan kemampuan, petunjuk dan kesiapan diri mereka dari Rasulullah Saw. Yang diantaranya adalah “buhur” yaitu lautan; maksudnya adalah, bahwa lautan itu adalah perumpamaan kalbunya orang-orang yang ‘Arif billah. Sementara “awani” di sini maksudnya adalah kalbunya para wali.
6. Redaksi “وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِى“
“Nur Engkau yang bersinar terang terpancar meliputi seluruh makhluq dan memenuhi segenap tempat”
Maksudnya adalah, bahwa an-nûr di sini adalah hakikat sisi Al Muhammadiyyah yang cahayanya memenuhi setiap jagad.
7. Redaksi “اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ“
“Ya Alloh, Limpahkan Sholawat dan Salam ke atas sumber bagi hakikat dan haq”
Maksudnya adalah bahwa Rasulullah Saw merupakan tempat pertimbangan keadilannya Allah Swt, yang juga merupakan sumber kebenaran dan keadilan.
8. Redaksi “الَّتِى تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ“
“yang mana terpancar daripadanya puncak hakikat-hakikat ‘Arasy”
Maksudnya adalah bahwa segala pengetahuan dan juga hakikat yang ada di alam ini, sejatinya berasal dari perbendaharaan hakikat Al Muhammadiyyah dan sumber-sumbernya.
9. Redaksi “عَيْنِ اْلمَعَارِفِ اْلأَقْوَمِ” dan “صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ“
“Yaitu dzat makrifat yang paling kukuh, Yaitu Shirot/Jalan Engkau yang paling sempurna dan paling lurus”
Maksudnya adalah, bahwa hakikat yang bersumber dari sisi Al Muhammadi, semuanya itu berjalan sesuai dengan keadilan Allah Swt, tidak dibengkokkan untuk suatu yang lainnya, juga tidak keluar dari jalan yang lurus.
Kata “asqam” berasal dari kata kerja “saqama-yasqimu,” sama seperti pola kata “adala-ya’dilu,” yang artinya juga adalah keadilan. Kata tersebut bukan berasal dari kata kerja “saqima-yasqamu” yang sama seperti pola kata “maridha-yamradhu,” yang memiliki arti sakit. Hal tersebut karena kata, “saqima-yasqamu” ini tidak memiliki kata yang menunjukkan hal yang diunggulkan, itu sama halnya dengan seseorang yang tidak dapat sampai di surga kecuali melalui jalan yang lurus, yaitu melalui Rasulullah Saw.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰ نَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًا
inna haazal-qur-aana yahdii lillatii hiya aqwamu wa yubasysyirul-mu-miniinallaziina ya’maluunash-shoolihaati anna lahum ajrong kabiiroo
“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar,”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 9)
10. Redaksi “اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ“
“Ya Alloh, Limpahkan Sholawat dan Salam atas Nabi Muhammad ﷺ yang merupakan Madhar (tempat dhohir) haq dengan haq yang merupakan sumber gedung haqiqot yang Agung”
maksudnya adalah, bahwa Allah Swt telah ber-tajalli (Tajalli adalah tersingkapnya kalbu dengan cahaya keghaiban. Lih. Syaikh ‘Abdul Qadir Al Jilani, Sirr Asrâr, (Damaskus, Dâr As-Sanabil, 1993), hal. 37.) pada Nabi Saw dengan tajalli pada dzat beliau, bukan pada sisi yang lainnya. Yaitu proses tajalli-nya suatu Dzat kepada dzat lain, yang mana dalam proses ini tidak ada lagi hijab.
Redaksi “الكنز الأعظم” , maksudnya adalah bahwa Rasulullah Saw tempat berkumpulnya semua asrar, ma’rifat, futuh, limpahan ilham dan tajalli dalam bentuk yang sempurna serta kedudukan yang agung, dimana semua makhluk mengambil faedah ini dari sosok beliau Saw dengan kondisi yang sejatinya beliau tidak membutuhkan mereka.
11. Redaksi “إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ” dan “إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ“
“Tempat datangnya limpahan nur kasih yang meliputi gudang (tempat penyimpanan) rahasia dari Engkau (Allah Swt) kepada Engkau (Rasulullah Saw)”
Redaksi “إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ“maksudnya adalah, bahwa di saat Allah Swt ber-tajalli pada diri Rasulullah Saw dengan sifat yang teramat agung, yang mana Rasulullah Saw selalu memohon dari sumber kelembutan; Allah. Kemudian dzat Rasulullah pun menerima hal ini dari Allah Swt dengan bentuk penerimaan dan pertolongan, dengan demikian Allah Swt dapat mewujudkan hakikat Al Muhammadiyyah hadrah keilmuan-Nya, sehingga sosok beliau Saw layaknya sebagai sumber mata air dan juga sungai. Sedangkan Redaksi “إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ” ,maksudnya adalah, bahwa Rasulullah Saw merupakan sirr-nya sisi ketuhanan yang tersembunyi, perkara ini dibagi menjadi dua:
Pertama adalah, dimensi dimana sosok beliau Saw menguasai ilmu Allah, ini tidak pernah ditampakkan kepada siapapun.
Kedua adalah, bahwa sosok beliau Saw bisa memilih untuk menampakkan ilmu Allah Swt ini kepada orang khusus dari makhluknya. Rasulullah Saw dalam dua dimensi di atas berada pada bagian yang terakhir, baik sisi keilmuan maupun dzauq. Rahasia inilah yang berkumpul didalam sosok Rasulullah Saw, yang kemudian beliau Saw limpahkan kepada orang yang dikehendaki mendapatkan sirr ini; baik dilimpahkan kepada orang-orang yang Allah Swt cintai atau orang-orang yang telah Allah Swt pilih.
12. Redaksi “صَلَّى اللّٰه عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَةً تُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ“
“Sholawat dan Salam atas Nabi dan Keluarganya yang mana dengan Sholawat itu kami dapat mengetahui martabat tersembunyi Nabi Muhammadﷺ”
Maksudnya adalah, bahwa orang yang bershalawat kepada beliau Saw memohon kepada Allah Swt yang mengetahui kadar keagungan Nabi-Nya, agar Allah Swt berkenan untuk bershalawat (curahkanlah rahmat dan keselamatan) kepada Nabi Saw dan Keluarganya sesuai dengan kadar pengetahuan Allah akan keagungan Nabi Saw serta dengan bershalawat kepada beliau Saw, berilah kami pengetahuan akan martabat tersembunyi Nabi Muhammad Saw, dengan cara wushul kepada beliau; baik itu dalam kondisi jadzab maupun bersuluk, Amîn.
B. Keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal
Diantara Keutamaan membaca Sholawat Jauharotul Kamal yang disebutkan langsung oleh Rosulullah ﷺ kepada Sayyidi Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijaniy Ra adalah Sebagai Berikut :
ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻤَﺮَّﺓَ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪَﺓَ ﺗَﻌْﺪِﻝُ ﺗَﺴْﺒِﻴْﺢَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ ﺛَﻼَﺙَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ
”Membaca Sholawat Jauharotul Kamal sekali, Pahalanya menyamai 3 (tiga) kali lipat Tasbihnya seluruh alam”.
ﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ ﻗَﺮَﺃَﻫَﺎ ﺳَﺒْﻊَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ ﻓَﺄَﻛْﺜَﺮَ ﻳَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺭُﻭْﺡُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍْﻷَﺭْﺑَﻌَﺔِ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻡَ ﻳَﺬْﻛُﺮُﻫَﺎ
”Siapa yang membacanya 7 (tujuh) kali atau lebih, Maka akan didatangi Ruh Nabi Muhammad dan 4 (empat) Khulafaur Rosyidin selama ia dalam keadaan membaca Sholawat itu”.
ﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ ﻻَﺯَﻣَﻬَﺎ ﺃَﺯْﻳَﺪَ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻊِ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ ﻳُﺤِﺒُّﻪُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣَﺤَﺒَّﺔً ﺧَﺎﺻَّﺔً ﻭَﻻَ ﻳَﻤُﻮْﺕُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﻭْﻟِﻴَﺎﺀِ
“Siapa saja yang melazimi membacanya lebih dari 7 (tujuh) kali, Maka ia akan sangat dicintai oleh Rosululloh dengan sebenar-benar cinta khusus dan ia tidak akan meninggal dunia sehingga menjadi salah satu dari para kekasih Alloh”.
Sumber : Kitab Jawahirul Ma’ani Wa Bulughul Amani
Adapun Keutamaan Sholawat Jauharotul Kamal yang disebutkan oleh Sayyidi Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijaniy ra adalah :
ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻭَﻡَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺳَﺒْﻌًﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡِ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﻬَﺎﺭَﺓٍ ﻛَﺎﻣِﻠَﺔٍ ﻭَﻓِﺮَﺍﺵٍ ﻃَﺎﻫِﺮٍ ﻳَﺮَﻯ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
”Siapa saja yang konsisten membacanya 7 (tujuh) kali menjelang tidurnya dalam keadaan bersuci yang sempurna dan di tempat tidur yang suci (tidak ada najis), Maka ia akan melihat Nabi Muhammad ﷺ”.
Sumber : Kitab Jawahirul Ma’ani wa Bulughul Amani
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦُ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺍﻟﺘِّﺠَﺎﻧِﻲ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻋْﻄَﺎﻧِﻲ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺻَﻼَﺓً ﺗُﺴَﻤَّﻰ ﺑِﺠَﻮْﻫَﺮَﺓِ ﺍﻟْﻜَﻤَﺎﻝِ , ﻣَﻦْ ﺫَﻛَﺮَﻫَﺎ ﺍﺛْﻨَﺘَﻲْ ﻋَﺸْﺮَﺓَ ﻣَﺮَّﺓً ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﻫٰﺬِﻩِ ﻫَﺪِﻳَّﺔٌ ﻣِﻨِّﻲ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ , ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﺯَﺍﺭَﻩُ ﻓِﻲ ﺭَﻭْﺿَﺘِﻪِ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻔَﺔِ , ﻭَﻛَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﺯَﺍﺭَ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﻭَّﻝِ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮْﺩِ ﺍِﻟَﻰ ﻭَﻗْﺘِﻪِ , ﻭَﻓِﻲ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ : ﺍِﻟَﻰ ﺍْﻷَﺑَـﺪِ
”Syekh Ahmad At-Tijaniy ra berkata : Rosululloh SAW memberikan kepadaku redaksi Sholawat yang dinamai Jauharotul Kamal, Siapa saja yang telah membacanya sebanyak 12 (dua belas) kali dan berkata : ‘Sholawat ini aku hadiahkan kepada engkau Ya Rosululloh. Maka seakan-akan ia menziarohi Rosululloh di Roudhohnya yang Mulia dan seolah-olah ia telah menziarohi Para Wali Alloh beserta menziarohi orang-orang sholih dari sejak zaman Nabi Adam as sampai waktu ia membacanya. Bahkan dalam riwayat lain menyebutkan, yaitu sampai dunia musnah (selama-lamanya)”.
Syekh Muhammad Fathan bin Abdul wahid As-Susiy An-Nadhifiy ra mengumpulkan Keutamaan Sholawat Jauharotul Kamal dalam Nadhom Ad-Durrotul Khoridah :
ﺑِﺴَﺎﺑِﻌَﺔٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺣُﻀُﻮْﺭُ ﻧَﺒِﻴِّﻨَﺎ
ﻣَﻊَ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ ﻭَﻗُﺪْﻭَﺗِﻲ
“Dengan membaca 7 (tujuh) kali Jauharotul Kamal, Maka akan hadir Nabi Muhammad ﷺ beserta para Khulafaur Rosyidin dan Syekh Ahmad At-Tijaniy ra”
ﻭَﻟَﻮْ ﺩُﻣْﺖَ ﺫِﻛْﺮَﻫَﺎ ﺩُﻫُﻮْﺭًﺍ ﻃَﻮِﻳْﻠَﺔً
ﻟَﻤَﺎ ﻓَﺎﺭَﻗُﻮْﻙَ ﺑِﺎﻟﺬَّﻭَﺍﺕِ ﺍﻟْﻜَﺮِﻳْﻤَﺔِ
“Seandainya kamu konsisten membacanya sampai masa yang lama, Maka mereka semua tidak akan meninggalkan kamu dengan dzat mereka yang mulia”
ﻭَﺗَﻐْﻴِﻴْﺮُ ﺟِﻠْﺴَﺔٍ ﺑِﻬَﺎ ﻟِﻠﺘَّﺄَﺩُّﺏِ
ﺟَﺮَﻯ ﻋَﻤَﻞٌ ﺑِﻪِ ﻟَﺪَﺍ ﺟُﻞِّ ﺍِﺧْﻮَﺗِﻲ
“Mengubah posisi duduk kepada duduk yang lebih bagus lantaran menjalankan adab (atas kehadiran Nabi beserta para Kholifah dan Syekh Ahmad At-Tijaniy). Adab seperti itu menjadi kebiasaan di sisi pembesar saudaraku (pengikut Tijaniyyah)”
ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﺍﻡَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡِ ﺳَﺒْﻌًﺎ ﻳَﺮَﻯ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ
ﺑِﺸَﺮْﻁِ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮْﺀِ ﻣَﻊْ ﻃَﻬَﺎﺭَﺓِ ﺑُﻘْﻌَﺔِ
“Siapa saja yang selalu membacanya ketika hendak tidur sebanyak 7 (tujuh) kali, Maka ia akan melihat Nabi Muhammad, dengan syarat ia memiliki wudhu dan tempat tidurnya suci (tidak ada najis)”
ﻭَﺗَﺎﻝٍ ﻟَﻬَﺎ ﺍﺛْﻨَﺘَﻴْﻦِ ﻣَﻊْ ﻋَﺸْﺮَﺓٍ ﻛَﺄَﻥَّ
ﻣَﺎ ﺯَﺍﺭَ ﺃَﺣْﻤَﺪَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺑِﺮَﻭْﺿَﺔِ
“Yang membacanya sebanyak 12 (dua belas) kali, seakan-akan ia telah Menziarohi Nabi Muhammad ﷺ di Roudhoh”
ﻭَﻛُﻞِّ ﻧَﺒِﻲٍّ ﻣَﻊْ ﻭَﻟِﻲٍّ ﻣِﻦْ ﺃَﺩَﻣَﺎ
ﺍِﻟَﻰ ﻭَﻗْﺖِ ﺫِﻛْﺮِﻫَﺎ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺍﻟْﻮَﺳِﻴْﻠَﺔِ
“Seolah-olah ia juga telah Menziarohi seluruh Nabi dan Para Wali sejak Zaman Nabi Adam sampai ketika ia membaca Sholawat tersebut dengan catatan bahwa ia telah mendapat izin dari Syekh Ahmad At-Tijaniy dan pengikutnya”
ﻭَﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻔَﺮَﺍﻍِ ﻗُﻞْ ﺑِﻘَﻠْﺐِ ﻣَﺬَﻟَّﺔٍ
ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻫٰﺬِﻯ ﻫَﺪِﻳَّﺘِﻲ
“Setelah selesai membaca Jauharotul Kamal, Maka katakanlah olehmu dengan hati yang penuh Ketundukkan dan Khusyu’ : “Aku hadiahkan Sholawat ini kepada Engkau Ya Rosululloh”
ﻭَﺧَﻤْﺴًﺎ ﻭَﺳِﺘِّﻴْﻦَ ﺍﺗْﻠُﻬَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺷِﺪَّﺓِ
ﻭَﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻣَﺮَّﺓً ﺑُﻌَﻴْﺪَ ﺍﻟْﻔَﺮِﻳْﻀَﺔِ
“Bacalah Jauharotul Kamal sebanyak 65 (Enam Puluh Lima) kali ketika terjadi kesulitan dan kepelikan dan Bacalah satu kali setiap selesai mengerjakan Sholat Fardhu untuk mendapatkan segala kebaikan”
Sumber : Al Yaqutatul Faridah dan Ad-Durrotul Khoridah
Di Kutip dari Risalah :
ﻣَﻮْﻫَﺒَﺔُ ﺫِﻱْ ﺍﻟْﺠَــﻼَﻝ
ﻟِﻤَﻦْ ﻗَﺮَﺃَ ﺟَﻮْﻫَـﺮَﺓَ ﺍﻟْﻜَﻤَﺎﻝِ
PERHATIAN !
Persyaratan Membaca Sholawat Jauharotul Kamal :
1. Mendapat Izin Dari Muqaddam atau Orang Yang Telah Mendapat Ijazah Dari Para Masyayikh Thariqah At-Tijaniyah yang memiliki Sanad Sampai kepada Sayyidi Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani Ra.
2. Wajib Bersuci atau Berwudhu dengan Sempurna (Dengan Air).
Jika Bertayammum, Maka tidak mencukupi Syarat dan Tidak Di Perkenankan Membaca Sholawat ini.
3. Wajib Suci Tempat, Pakaian, Badan dari Najis dan Hadats
4. Wajib Di Baca Pada Tempat Yang Agak Luas Sekiranya Mampu Memuat untuk 7 (Tujuh) Orang
5. Jangan Di Baca Saat Di Atas Kendaraan, Baik Darat, Laut maupun Udara.
6. Orang Yang Beristinja’ (Cebok) Pake Tisu atau Sejenisnya Yang Bukan Menggunakan Air, Maka ia Tidak Di Perbolehkan Membaca Sholawat ini, Walaupun ia Ketika Berwudhu Pakai Air. Lantaran Bersuci yang ia lakukan Tidak Tahaqquq (Sempurna).
Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
