
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 24. Al Wilayah
Al Wilayah (Kewalian) memiliki dua makna: Pertama, dengan wazan “fu’îlun yang bermakna maf’ûlun; dia adalah orang yang perkaranya ditangan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ وَلِيِّ يَ اللّٰهُ الَّذِيْ نَزَّلَ الْـكِتٰبَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصّٰلِحِيْنَ
inna waliyyiyallohullazii nazzalal-kitaaba wa huwa yatawallash-shoolihiin
“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an). Dia melindungi orang-orang saleh.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 196). Allah Swt tidak menyerahkan perkaranya kepada dirinya.
Kedua, dengan wazan fa’ïlun yang merupakan isim mubalaghah (kata hiperbola) dari fa il dia adalah yang beribadah dan taat pada Allah Swt. Ibadahnya dilakukan dengan konsisten tanpa adanya kemaksiatan.
Dua sifat ini wajib ada pada diri seorang wali Allah.
Diantara syarat wali Allah adalah dirinya mahfuzh (dijaga), sebagaimana syarat seorang nabi, dirinya ma ‘shum (terjaga dari dosa besar).
Ibrahim bin Adham pernah mengatakan kepada seorang laki-laki, “Apakah engkau suka jika Allah punya wali?” Lelaki itu berkata, “Janganlah engkau suka sesuatupun dari dunia dan akhirat ini, kosongkan jiwamu untuk Allah, menghadaplah engkau pada-Nya dengan wajahmu, niscaya Dia akan terima engkau dan jadikan engkau wali-Nya.”
Yahya bin Mu’adz pernah mengatakan tentang sifat para wali Allah, “Hamba-hamba Allah yang mengenakan (baju) kedamaian setelah menanggung derita. Mereka merangkul ruh setelah mujahadah (berjuang) menggapai maqam kewalian.”
Sahl bin ‘Abdullah At-Tustari pernah mengatakan, “Seorang wali adalah orang yang ragam perbuatannya senantiasa cocok (dengan kehendak Allah).”
Yahya bin Mu’adz pernah mengatakan, “Seorang wali tidaklah pamer amal, tidak pula berbuat kemunafikan. Paling sedikitnya teman adalah orang yang akhlaknya demikian.”
Sebagian ulama ada yang mengatakan, “Seorang wali adalah sosok yang fana dalam ahwal nya, yang jiwanya tetap dalam penyaksian Allah. Dia menyerahkan pengaturan dirinya pada Allah Swt, sehingga Allah Swt berikan padanya cahaya yang ber kesinambungan; yang mana jiwanya pun tidak tahu berita tersebut dan diapun tidak memiliki ketetapan pada selain Allah Swt.”
Yahya bin Mu’adz pun pernah mengatakan, “Seorang wali adalah wewangiannya Allah di bumi, Ash-Shiddiqin (orang-orang yang jujur jiwanya) lah yang mampu mencium bau wewangian tersebut sampai baunya masuk ke dalam kalbu mereka, inilah yang membuat mereka rindu pada Tuhan mereka, sehingga mereka menambahkan ragam ibadah sesuai dengan tingkatan akhlak mereka (kepada Allah) Swt.”
Ciri-ciri seorang wali Allah adalah kesibukan jiwanya selalu untuk Allah Swt, dia senantiasa berlari pada Allah, tujuan dirinya pun hanya kepada Allah Swt semata.
Al Hazzáz pernah mengatakan, “Apabila Allah Swt ingin menjadikan seorang hamba menjadi wali-Nya, Dia akan bukakan pintu dzikir-Nya, jika dia sudah masuk total dalam dzikiran, Allah Swt pun bukakan baginya pintu kedekatan jiwa dengan-Nya, kemudian Allah Swt angkat ia ke majelis kedamaian dengan kondisi itu, lalu Allah Swt dudukkan ia diatas kursi tauhid, kemudian Allah Swt angkat hijab baginya, Allah Swt masukkan ia kedalam Dâr Fardâniyyah, Allah Swt singkapkan baginya sisi Keperkasaan dan Keagungan-Nya. Apabila dia mengangkat pandangannya, maka ia temui dirinya ada tanpa hawa (kecondongan negatif jiwa), ketika inilah ia menjadi hamba Allah yang fana` dalam satu waktu, diapun berada pada penjagaan Allah Swt dan terlepas dari pengakuan diri (akan kondisi kewaliannya).”
