
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 27. Al Adab
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas tentang tafsir firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu quuu angfusakum wa ahliikum naarow wa quuduhan-naasu wal-hijaarotu ‘alaihaa malaaa-ikatun ghilaazhung syidaadul laa ya’shuunalloha maaa amarohum wa yaf’aluuna maa yu-maruun
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6); maksudnya adalah kuatkan mereka dan ajari mereka adab.
Hakekat adab adalah berkumpulnya ragam perkara yang baik dalam diri seseorang.
Maka orang yang beradab adalah orang yang didalam dirinya terkumpul beragam kebaikan.
Ad-Daqqaq pernah mengatakan, “Seorang hamba dapat sampai ke surga dengan ketaatannya dan sampai kepada Allah dengan adab pada ketaatannya kepada Allah Swt.”
Ibnu ‘Atha pernah mengatakan, “Adab adalah bersikap dengan ragam perkara yang baik.”
Ada juga yang mengatakan, yang maknanya adalah bergaul dengan Allah Swt dengan adab; baik secara tersembunyi maupun terang-terangan. Jika engkau mampu seperti itu maka engkau adalah orang yang beradab sekalipun engkau adalah orang asing. Lalu dia bersenandung:
إِذَا نَطَقَتْ جَاءَتْ بِكُلِّ مَلِيْحَةٍ # وَإِنْ سَكَتَتْ جَاءَتْ بِكُلِّ مَلِيحٍ
“Jika dia berbicara, dia pun berbicara dengan manis # andai dia diam, maka diamnya pun manis.”
Abu Ali pernah mengatakan, “Kami melihat bahwa adab itu wajib ada; Orang yang buruk adabnya di emperan nan luas, maka ia akan disuruh kembali ke pintu; Orang yang buruk adabnya di pintu akan disuruh kembali ke tempat ia mengikat hewan tunggangannya.”
Ada yang bertanya kepada Hasan Al Bashri, “Sudah banyak yang mengetahui ilmu adab, tetapi ia tidak memberikan manfaat di dunia maupun di akhirat,’ Beliau lalu mengatakan, “Memperdalam agama, zuhud di dunia dan mengenal apa yang telah Allah Swt berikan padamu.”
Ibnu Al Mubarak pernah mengatakan, “Adab sedikit lebih kita butuhkan daripada banyaknya ilmu.”
Ada yang mengatakan, “Ada tiga perkara yang jika seseorang memiliknya, maka tidak akan diasingkan; yaitu: Menghindar dari orang yang ragu, memperbaiki adab dan mencegah diri untuk tidak menyakiti orang lain.”
Terkait dengan adab; maka manusia itu ada tiga tingkatannya: Orang yang cinta dunia; paling banyak-nya adab mereka ada pada kefashihan dan kemampuan menyampaikan dengan baik, mampu menghafal ragam ilmu dan nama-nama raja serta syair arab. Sedangkan orang yang beragama, maka adab mereka kebanyakan terletak pada mereka melakukan latihan jiwa, mem-biasakan akhlak baik dalam diri, menjaga batasan agama dan meninggalkan nafsu syahwat. Sementara orang khusus, maka adab mereka kebanyakan terletak pada kemampuan mereka mensuci kan jiwa, senantiasa menjaga ragam rahasia, mampu memenuhi janji, kemampuan menjaga waktu, tidak banyak menoleh pada detikan jiwa, adab yang baik sesuai dengan permintaan dan adab pada waktu-waktu dibutuhkannya kehadiran jiwa serta ragam tingkatan kedekatan diri dengan Allah.”
