
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 29. Al Ma’rifah
Al Ma’rifah adalah gambaran sifat yang mengenalkanmu dengan Allah Swt melalui ragam nama dan sifat-Nya; gambaran kebenaran diri dalam ber-mu’amalah dengan-Nya sehingga ragam akhlak yang buruk pun sirna. Jiwanya pun lama berdiri di pintu Allah Swt dengan kalbu yang senantiasa beri’tikaf, sehingga dengan demikian Allah pun menerimanya dengan bentuk penerimaan yang baik. Allah Swt membenarkan semua kondisi jiwanya dan Dia memotong ragam bisikan jiwa. Allah tidak menaruh di kalbunya detikan jiwa yang mengajak pada yang selain-Nya, sehingga dia menjadi orang asing bagi yang lain, terhindar dari cacatnya jiwa, terbersihkan dari ragam perkara yang membuatnya tenang, terbersihkan dari ragam perkara yang mengundang perhatian, ragam do’anya konsisten pada Allah Swt dan bersama dengan pertolongan Allah, dia senantiasa merujuk pada Allah Swt disetiap saat, sehingga dia menjadi sosok yang berbicara mewakili Allah dengan kemampuan mengendalikan ragam rahasia Allah (namun bukan pada perkara yang berkaitan dengan ketetapan-Nya), ketika itulah dia dijuluki dengan orang yang Arifbillah dan kondisi jiwanya disebut dengan ma’rifat.
Dengan kata lain, dengan kadar kemampuan dirinya, ia menjauh dari rongrongan jiwa, maka sedemikian pulalah ma’rifat dirinya terhadap Rabbnya.
Ada ulama yang mengatakan, “Diantara ciri ma’rifat diri seseorang kepada Allah adalah mendapatkan rasa takut dari Allah Swt. Orang yang rasa takut dirinya kepada Allah bertambah, maka kadar ke-ma’rifat-an dirinya pun kepada Allah Swt semakin bertambah.”
Tidaklah seorang yang ‘Arifbillah itu benar-benar memiliki ma’rifat yang benar kecuali jika dia diberikan seperti apa yang pernah diberikan kepada nabi Sulaiman As, dimana semua itu tidak menyibukkan dia dari Allah Swt sekejap matapun.”
Asy-Syibli pernah mengatakan, “Seorang yang Arifbillah itu tidak pernah memperhatikan selain Allah, tidak pernah berbicara selain tentang Allah Swt, tidak pernah menganggap ada selain Allah Swt yang menjaganya.”
Abu Sulaiman Ad-Dârani pernah mengatakan, “Sungguh Allah Swt bisa saja memberikan futuh kepada Arifbillah meski dia ada diatas kasurnya (sedang tidur) dengan futuh yang tidak Allah Swt berikan kepada orang lain yang ketika itu sedang melakukan shalat.”
