You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Sifat Murid Tijany 34. Tidak Menilai Dirinya Lebih Tinggi dari Syaikh

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 34. Tidak Menilai Dirinya Lebih Tinggi dari Syaikh

Seorang murid seyogyanya tidak berbicara bahwa dirinya memiliki maqam lebih tinggi diatas syaikhnya, akan tetapi seharusnya sang murid menyanjung bahwa syaikhnya lah yang pantas memiliki kedudukan yang tinggi tersebut. Hendaknya dia menisbatkan ragam pemberian Allah Swt yang mulia kepada beliau, sehingga dengan inilah akan nampak bahwa inti dari diri sang murid adalah kehendak yang baik bagi syaikhnya. Inilah yang seharusnya ada pada diri setiap murid.

Kehendak diri yang baik dari sang murid untuk syaikhnya mampu memberikan perkara diatas ekspetasi diri sang murid, dimana sang murid akan senantiasa mengenakan adab kehendak diri ini. Oleh karena itu, seyogyanya seorang murid tidaklah menonjolkan keluwesan diri dengan bersuara tinggi, banyak tertawa dan banyak berbicara kecuali jika Syaikhnyalah yang menonjolkan keluwesan diri tersebut sebagai simbol dari ketenangan jiwa, dimana ketika ketenangan jiwa sudah menguasai kalbu, maka lisan pun mampu menakar apa yang diucapkan.

Terkadang Syaikh mampu menyelami bathin murid dengan bentuk penghormatan dan ketenangan jiwa, kondisi jiwa ini tidak bisa terjadi hanya dengan melihat wajah Syaikhnya saja.

As-Suhruwardi pernah mengatakan, “Badanku pernah panas, lalu datanglah pamanku dan juga syaikhku; Abu Najib As-Suhruwardi, mereka meng-upayakan agar badanku bisa berkeringat, akupun berangan-angan andai badanku bisa mengeluarkan keringat, maka panas badanku bisa hilang. Akupun merasakan hal itu terwujud ketika syaikh datang kepadaku, dimana kedatangan beliau membawa keberkahan dan kesembuhan.”

Suatu hari aku sendirian di rumah dan ada pula sapu tangan yang diberikan syaikh kepadaku; sapu tangan yang biasa beliau gunakan untuk mengusap wajah, tak disengaja kakiku menginjak sapu tangan tersebut dan batinku merasa luka, lalu timbullah dalam batinku rasa penghormatanku kepada beliau yang aku mohonkan keberkahan dari perhormatan tersebut.”

Imam Qusyairi pernah mengatakan, “Pada permulaan perjalananku, aku tidak datang kepada Syaikhku; Abu Ali Ad-Darqaq kecuali dalam kondisi berpuasa dan telah mandi, sering kali aku sambangi pintu sekolahan beliau dan aku pulang lagi sebagai simbol penghormatanku dan rasa maluku untuk datang kepada beliau. Ketika aku sudah memberanikan diri untuk masuk ke dalam madrasah dan berada di tengahnya, akupun sudah berhati-hati di sana, tiba-tiba aku pun tertusuk jarum namun aku tidak merasakan itu, akupun tidak menyebutkan bahwa sekian lama aku berada di majelis beliau dan turut ber-mudzakarah bersama beliau terdetik di kalbuku semacam peng-ingkaran terhadap pembelajaran beliau hingga akupun sembuh dari rasa sakit tersebut.

Syaikh Muhyiddin menyebutkan dalam Risalah beliau yang isinya demikian: Syarat seorang murid adalah jika Syaikhnya berbicara tentang suatu masalah, jangan sampai ada penolakan walau dengan kalbunya, seyogyanya sang murid menerima perkataan Syaikhnya secara zhahir dan bathin, baik sang murid memahami perkataan tersebut atau tidak memahaminya. Sang murid menyerahkan perkara tersebut kepada Allah Swt dengan meyakini bahwa apa yang dikatakan Syaikhnya adalah perkataan yang benar dan beliau tidak pernah bertujuan kecuali perkara yang benar. Sebab orang yang mengabarkan apa yang dia saksikan dengan kedua matanya, maka dia tidak boleh menentang perkataan tersebut, tetapi yang diharuskan bagi murid dalam thariqah ini adalah benar-benar mempercayai ucapan tersebut dan bagi orang lain hendaknya taslim dengan perkataan tersebut.

Jika seorang murid tidak meyakini kebenaran yang diucapkan syaikhnya, maka murid tersebut tidak akan beruntung. Kemudian jika engkau melihat seorang murid yang tidak mengindahkan ragam permasalahan syari’at dan ragam permasalahan yang sumbernya pemikiran, maka janjinya kepada Allah telah berkurang dan dia telah mengkhianati amanah-Nya. Sebab berpikir bagi kondisi sang murid tersebut tidaklah diperboleh-kan, bersikap diam itu lebih utama baginya, sementara melihat kembali ragam dalil yang digunakan Syaikhnya tidaklah dibutuhkan. Jika masih ada murid yang melakukan hal tersebut, maka Syaikh boleh menolak nya, sebab dia bisa merusak yang lainnya dimana dia pun tidak beruntung nantinya.

Sumber : BUKU 40 SIFAT MURID TIJANY (AL QAUL AS-SADID FI SHIFAT AL MURID) SYAIKH MUHAMMAD BIN MUHAMMAD AL HAJUJI AT-TIJANY