You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

93 Adab Murid Thariqah At-Tijaniyah Terhadap Hak Sayyidi Syekh Ahmad Tijani radhiyallahu ‘anhu

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Adab Murid Tijany Terhadap Syaikh.

Perlu diketahui, bahwa maqâm dakwah yang menyeru kepada Allah Swt terletak pada maqâm nubuwwah, dimana warisan yang dihasilkan dari maqam dakwah ini juga disebut sebagai seorang nabi pada masa kenabian, atau dapat juga disebut dengan seorang syaikh, seorang pewaris ataupun seorang ustadz pada kalangan ulama Allah, sekalipun mereka bukanlah seorang nabi.

Seorang pemeluk thariqah pernah berkata, “Orang yang tidak memiliki syaikh, maka syeithan adalah syaikhnya.”

Allahlah yang sejatinya mendidik Rasulullah Saw, seperti yang telah disabdakan oleh baginda Rasulullah Saw sendiri,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَدَّبَنِي فَأَحْسَنَ أَدَبِي.

“Sungguh Allah Azza wa Jalla lah yang telah mengajariku adab, sehingga adabku baik. ” (HR. Ibnu ‘Asakir dalam Al Amtsal dari jalur periwayatan As-Suddiy; dari Abu ‘Imârah dari ‘Ali Ra; dia berkata; “Suatu saat Bani Nahd bin Zaid datang kepada Nabi Saw seraya berkata; “Kami mendatangimu dari dua gua Tihamah; lalu mereka menyebutkan apa yang ingin mereka sampaikan; Nabi Saw tidak menjawab apa yang mereka inginkan; salah satu dari mereka berkata: Maka katakanlah sesuatu wahai Nabi Allah? Kami ini satu berasal dari satu bapak; kami pun tumbuh pada satu negara; dan engkau bahkan mampu berbicara kepada orang Arab yang bahkan banyak di antara kami tidak memahaminya; maka Nabi Saw bersabda; “Sungguh Allah Swt telah mengajariku adab; dan memperbagus adabku; dan aku tumbuh di Bani Sa’ad yang terletak di Bakr.”

Ibnu ‘Asakir menyebutkan dalam Tarikh-nya, bahwa ada seseorang dari Bani Salûl; berkata; “Wahai Rasulallah, Apakah seorang lelaki boleh mengulurkan mahar istrinya?” Beliau menjawab; “Ya, jika dia seorang yang bangkrut.” Maka Abu bakar berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulallah, Apa yang dia katakan dan apa yang baginda jawab untuknya?” Rasulullah Saw bersabda; “Dia berkata, ‘Apakah seorang lelaki itu dapat mengulur mahar sang istri?’, maka aku menjawabnya; “Ya apabila dia bangkrut.” Abu Bakar kemudian berkata; “Wahai Rasulullah, perkataan ini telah tersebar di semenanjung arab; para orang yang fasih pun telah mendengarnya; dimana tiada yang sefasih engkau; lantas siapakah yang mangajarimu?; Rasulullah Saw bersabda; “Tuhanku lah yang telah mengajarkanku; dimana aku juga tumbuh di Bani Sa’ad.”)

Malaikat Jibril adalah guru pengajar Rasulullah Saw, sekalipun ada keistimewaan yang diberikan kepada Jibril untuk menjadi guru pengajar beliau, hal ini tidak menunjukkan bahwa Jibril lebih utama dari Rasulullah Saw.

Disebutkan dalam sebuah hadits,

انَّ اللهَ أَرْسَلَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَلَكًا مِنَ الْمَلَائِكَةِ، وَعِنْدَهُ جِبْرِيلَ، فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ : يَا مُحَمَّدُ ، إِنَّ اللهَ عَزَّ جَلَّ يُخَيَّرُكَ بَيْنَ أَنْ تَكُوْنَ نَبِيًّا عَبْدًا، أَوْ نَبِيًّا مَلِكًا، فَالْتَفَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِبْرِيلَ كَالْمُسْتَشِيرِ، فَأَوْمَا إِلَيْهِ أَنْ تَوَاضَعْ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ نَبِيًّا عَبْدًا.

“Sungguh Allah Swt telah mengutus malaikat kepada Nabi Saw, saat itu beliau sedang bersama malaikat Jibril, Jibril pun berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Swt memberikan pilihan kepadamu antara engkau menjadi seorang nabi dalam wujud hamba Allah (manusia) atau seorang nabi dalam wujud malaikat,” Rasulullah pun menoleh kepada Jibril, layaknya seorang yang meminta pendapat, maka Jibril pun memberikan isyarat untuk ber-tawadhu’, maka Rasulullah bersabda, “yaitu seorang nabi dalam wujud hamba Allah. ” (HR. Ahmad; Abu Ya’la; Ibnu Hibbân dari riwayat Abu Hurairah; Al Baihaqi dari riwayat Thâwus; Al Baihaqi; An-Nasa’i dalam Sunan Al Kubra, Ath-Thabrâni; dan Ibnu ‘Asâkir dari riwayat Ibnu ‘Abbas; Ath-Thabrâni dari riwayat Ibnu ‘Umar.)

Lihatlah bagaimana pengajaran Jibril untuk Nabi Muhammad Saw dan bagaimana Jibril memilihkan untuk beliau. Dalam hadits ini Jibril berada pada posisi pengajar dan Nabi Muhammad Saw sebagai murid.

Berikut ini kami paparkan sebagian adab murid Tijany terhadap hak Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra:

1. Meyakini bahwa Sayyidi Syaikh Ra merupakan sosok wali yang paling kamil, sehingga murid Tijany tidak menoleh kepada yang lainnya, tidak ada sekutu dalam kecintaan diri seorang murid kepada syaikhnya, sebagaimana Allah Swt juga tidak mengampuni orang yang berbuat musyrik kepada-Nya, seperti yang tertera dalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدِ افْتَـرٰۤى اِثْمًا عَظِيْمًا
innalloha laa yaghfiru ay yusyroka bihii wa yaghfiru maa duuna zaalika limay yasyaaa, wa may yusyrik billaahi fa qodiftarooo isman ‘azhiimaa

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 48)

Begitu pula halnya dengan Syaikh pembesar thariqah manapun, mereka selalu berakhlak dengan akhlak Allah Swt, sehingga mereka juga tidak mengampuni murid yang didalam hatinya ada orang lain selain syaikhnya.

2. Selalu memperhatikan kemuliaan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; baik saat beliau masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Sebab, kemuliaan beliau merupakan bagian dari kemuliaan Allah Swt, dimana keridhaan dan kemurkaan Allah Swt terletak pada beliau.

3. Tidak mempersoalkan martabat yang dimiliki Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

4. Mencium tangan Syaikh (guru ruhani; muqaddam sebagai wakil dari Syaikh Ahmad At-Tijany Ra) dengan penuh penghormatan.

5. Duduk di sisinya dengan siap siaga jika Syaikh (Guru ruhani) mengizinkan. Jika tidak, maka hendaknya dia tetap berdiri.

6. Selalu diam saat bersama guru ruhani, tidak berbicara kecuali atas izinnya dan menanti apa yang Allah Swt bukakan pada lisan guru ruhani tersebut.

7. Tidak membuka pembicaraan dengan guru ruhani.

8. Tidak bersuara dengan suara yang mengalahi suaranya guru ruhani.

9. Duduk di sisi guru ruhani dengan penuh rasa malu, karena dia tahu bahwa guru ruhani itu bisa jadi tahu dosa-dosanya.

10. Tidak memanggil guru ruhani dan tetap menunggu sampai beliau keluar dari ruangan khalwat.

11. Menghormati apapun yang dimiliki guru ruhani; baik sanak keluarga, harta, anak beliau, bahkan sapu tangan, kursi dan pena sekalipun.

12. Tidak berjalan di hadapan guru ruhani kecuali dalam keadaan yang gelap.

13. Tidak duduk sementara guru ruhanimu berdiri.

14. Jangan engkau merasa dikucilkan dengan bentakan guru ruhani di hadapan banyak orang, akan tetapi hendaknya engkau bersyukur sebab itu merupakan bentuk perhatian beliau kepadamu.

15. Jangan mengaku-ngaku telah bersahabat dengan guru ruhani, sebab persahabatan itu adalah bagi orang-orang yang selevel dengan beliau, akan tetapi katakanlah “Aku telah berkhidmah untuk beliau.” Persahabatan itu untuk sesama ikhwan, sementara berkhidmah itu untuk syaikh (guru ruhani).

16. Saat ada hal yang ganjil dengan ahwal guru, maka ingatkanlah dirimu tentang kisah Nabi Musa. Setiap Syaikh (guru ruhani) itu memiliki alasan tersendiri atas apa yang dia lakukan; baik berupa penjelasan ilmiah ataupun suatu hikmah yang terbesit dalam tindakannya. Hendaknya dia mentakwilkan tindakan guru ruhani yang tampaknya melenceng dari syari’at. Jangan membatasi tindakan beliau dalam kekangan batas yang ada secara umum saja. Seorang guru itu mengetahui seluk beluk dirimu, sementara dirimu tidak mengetahui seluk beluk diri beliau.

17. Jika engkau duduk bersama guru ruhani, maka singkirkanlah kepintaranmu dan jadikan dirimu seolah-olah merupakan orang yang paling bodoh. Jadi, dirimu duduk di samping beliau, layaknya orang yang paling bodoh di dunia ini dan beliaulah orang yang paling pintar.

18. Jadikanlah do’a untuk guru ruhani itu sebagai wiridan yang lazim kau baca.

19. Menghormati sang guru dan mentolerir segala kesalahan yang beliau lakukan, hendaknya dia berperilaku seperti mayyit yang berada di tangan orang yang memandikannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu athii’ulloha wa athii’ur-rosuula wa ulil-amri mingkum, fa ing tanaaza’tum fii syai-ing fa rudduuhu ilallohi war-rosuuli ing kungtum tu-minuuna billaahi wal-yaumil-aakhir, zaalika khoiruw wa ahsanu ta-wiilaa

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 59)

Ibnu ‘Abbas Ra pernah berkata terkait ayat ini, “Maksudnya adalah orang yang ahli dalam bidang fikih dan agama, orang yang selalu taat kepada Allah Swt; yang mengajarkan manusia akan keagungan agama mereka, dia memerintahkan mereka kepada hal yang baik dan melarang mereka dari kemungkaran, maka Allah Swt telah mewajibkan untuk menaati mereka. ” (Redaksi ini diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak, Ibnu Jarîr juga meriwayatkannya secara ringkas; Ibnu Katsir; Al Baghawi; Ibnu Abi Hâtim dalam Tafsir-nya dari riwayat Ibnu ‘Abbas; Jabir; Mujahid; ‘Atha’; Hasan Al Bashri dan Abu Al ‘Aliyah.)

20. Jangan sampai guru ruhani mendapati punggungmu, bahkan saat engkau pergi menjauh dari beliau atau juga pada saat shalat.

21. Janganlah engkau makan bersama guru ruhanimu kecuali atas izinnya.

22. Janganlah memandang guru ruhanimu dengan pandangan yang tajam.

23. Yang termasuk adab yang buruk kepada guru ruhanimu adalah, dirimu membawa tamu baru tanpa izin terlebih dahulu kepada beliau.

24. Jika guru ruhani memerintahkan untuk mengerjakan suatu perintah, maka pastikanlah kembali perintah itu, kemudian lakukan apa yang diperintahkannya itu. Seandainya secara zhahir perintah itu melanggar syari’at menurutmu, janganlah sekali-kali engkau bertanya tentang mengapa beliau memerintahkanmu melakukan hal itu.

25. Janganlah engkau bersahabat dengan Syaikh (guru ruhani) lantaran ingin menggapai suatu maqam, atau agar mendapatkan suatu karamah dan jangan pula dirimu memperlambat futuh yang datang kepadamu. Yakinlah, bahwa sampainya dirimu kepada guru ruhani yang mentarbiyah, itu adalah karamah yang agung.

26. Janganlah engkau berteman dengan orang yang memusuhi guru ruhani, jangan pula memusuhi sahabat beliau, cintalah orang yang dicintai guru ruhanimu dan bencilah orang yang dibenci oleh beliau. Sebab dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى نَبِيِّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ أَنْ قُلَ لِفُلَانٍ الْعَابِدِ: أَمَّا زُهْدُكَ في الدُّنْيَا، فَتَعَجَّلْتَ رَاحَةَ نَفْسِكَ، وَأَمَّا انْقِطَاعُكَ إِلَيَّ فَتَعَزَّزْتَ بِيَ فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا لِي عَلَيْكَ؟ قَالَ: يَا رَبِّ، وَمَا لَكَ عَلَيَّ؟ قَالَ : هَلْ وَالَيْتَ لِي وَلِيًّا أَوْ عَادَيْتَ لِي عَدُوًّا ؟ .

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Suatu saat Allah pernah mewahyukan kepada salah seorang nabi, untuk mengatakan kepada seseorang yang gemar beribadah, Tentang zuhudmu di dunia, engkau percepat istirahatnya jiwamu, sementara tentang keterputusanmu kepada-Ku, engkau telah memohon kekuatan dengan-Ku, maka apa yang engkau ketahui tentang yang Aku lakukan terhadap dirimu? Dia berkata, “Wahai Rabb, tentang apa yang Engkau miliki dariku?” Allah berfirman, “Apakah engkau telah menolong wali-Ku atau memusuhi musuh-Ku?,” (HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, Al Khathib dalam Tarikh Baghdad dari riwayat Ibnu Mas’ûd; Ahmad dalam Musnad-nya; Al Hakim; At-Tirmidzi dalam Nawadir Al Ushûl, Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Al Auliya; dari ‘Amr bin Al Jamûh; bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda :

لا يَحِقُّ الْعَبْدُ حَقَّ صَرِيحِ الْإِيمَانِ حَتَّى يُحِبُّ اللَّهِ، وَيُبْغِضَ اللَّهِ  فَإِذَا أَحَبَّ اللَّهِ، وَأَبْغَضَ اللَّهِ، فَقَدِ اسْتَحَقَّ الْوَلاءَ مِنَ اللَّهِ، وَإِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْ عِبَادِي، وَأَحِبَّانِي مِنْ خَلْقِي الَّذِينَ يُذْكُرُونَ بِذِكْرِي، وَأُذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ

“Seorang hamba tidaklah benar-benar memiliki keimanan yang nampak jelas hingga dirinya mencintai dan membenci karena Allah. Apabila dia mencintai karena Allah; membenci juga karena Allah; maka dia telah mendapatkan wala -nya Allah. Sungguh para wali-Ku itu termasuk dari hamba-Ku dan orang yang Aku cintai dari para makhluk-Ku yang berdzikir menyebut-Ku, dan Aku berdzikir dengan menyebutkan mereka.)

27. Seorang murid hendaknya sangat rindu kepada gurunya. Jika satu jam saja sang murid tidak melihat guru ruhani dan tidak merasakan rindu, maka kecintaan dirinya itu dusta.

28. Janganlah mencoba cari tahu tentang kehidupan pribadi guru ruhani, misalnya: berapa lama beliau tidur, makan dan beragam kebiasaan guru lainnya.

29. Apabila guru ruhani mentalak istri beliau, maka sang murid tidak boleh menikahi mantan istri beliau lantaran adab kepada beliau dan bukan karena larangan syari’at.

30. Hendaknya sang murid berkeyakinan, bahwa sekecil apapun perbuatan guru ruhani, maka itu lebih utama dari ibadah diri murid tersebut sepanjang hidupnya dan juga bahwa tidurnya guru ruhani itu lebih baik daripada berdirinya murid untuk melakukan ibadah sunah.

31. Menghormati orang yang berlindung dengan guru ruhanimu; baik itu seorang tamu maupun ibnu sabil.

32. Mengagungkan sekecil apapun pemberian sang guru kepadamu, janganlah engkau jual barang itu atau dikelola dengan pengelolaan lainnya.

33. Apabila guru ruhanimu berlaku ramah kepadamu, maka jangan engkau turut bersikap demikian; yaitu bersikap dengan sikap yang dapat menghilangkan kewibawaan dan ketawadhuan dirimu.

34. Apabila guru ruhani memusyawarahkan suatu perkara denganmu, sebenarnya ini bertujuan untuk memberikan ketenangan pada dirimu, ini merupakan siasat beliau terhadap dirimu dan bukan berarti beliau tidak mengetahui apa yang sedang dimusyawarahkan itu.

35. Jangan menolak apa yang beliau perintahkan.

36. Jangan engkau meminta untuk diperintah oleh beliau kecuali itu datang dari hatimu, sebab bisa jadi beliau tahu apa yang ada di kalbumu.

37. Janganlah engkau berkata kepada guru ruhanimu, “Mengapa guru melakukan itu kepada si fulan sementara hal itu tidak dilakukan padaku.”

38. Hendaknya engkau berkeyakinan, bahwa guru ruhanimu itu tidak pernah berpisah denganmu; baik engkau sedang bepergian, sedang ada di hadapannya, engkau sedang sehat atau dalam kondisi sakit.

39. Sang murid wajib mengikuti madzhab fikih yang dianut oleh guru ruhaninya.

40. Janganlah engkau tampakkan rasa cinta kepada guru ruhani melebihi rasa cinta yang ada dalam kalbumu. Sebab, bermu’amalah dengan kejujuran itu wajib hukumnya terhadap guru ruhani.

41. Hendaknya engkau berkeyakinan, bahwa prihal baik yang sampai kepada dirimu itu merupakan barokah keridhaan guru ruhanimu dan diangkatnya musibah dari dirimu itu pun lantaran barokah do’a beliau.

42. Jangan engkau duduk di tempat duduk beliau, jangan pula engkau mengenakan baju beliau. Jangan pula engkau memakai pulpen milik beliau dan hal-hal lainnya.

43. Apabila engkau menanyakan guru ruhani mengenai mimpimu, maka jangan engkau tunggu beliau mentakwilkannya untukmu.

44. Apabila engkau sedang dirundung suatu permasalahan dan engkau menanyakan permasalahan tersebut kepada beliau, maka janganlah engkau menunggu jawaban atas masalahmu itu.

45. Janganlah engkau memasuki tempat khalwat guru ruhani, jangan pula engkau mendiami tempat yang beliau diami.

46. Janganlah engkau memutuskan hajat seseorang sampai engkau bermusyawarah dengan guru ruhani, sekalipun itu hajat orang tuamu.

47. Gugurnya kehormatan guru ruhani dari kalbu seorang murid, inilah yang menyebabkan sang murid tertolak dari hadrah guru tersebut.

48. Apabila guru ruhani membuat janji denganmu di suatu tempat, maka engkaulah yang harus datang terlebih dahulu, jangan sampai membuat beliau menunggumu.

49. Apabila engkau datang kepada guru ruhani dan tidak mendapati beliau, maka ucapkanlah salam pada tempat dimana gurumu itu sering duduk di sana. Begitu juga jika sang guru sedang bepergian, maka hendaknya dirimu datang ke tempat yang engkau pernah datangi bersama beliau. Sebab, pada hari yang sama beliau pun akan hadir di sana.

50. Janganlah engkau takwilkan perkataan beliau, cukuplah engkau dengan perkataan yang telah kau dengar dari beliau sebelumnya.

51. Seluruh pembicaraan yang terjadi antara dirimu dan guru ruhani, itu adalah sebuah rahasia yang tidak boleh disebarluaskan.

52. Apabila engkau berbicara dengan guru ruhani di telepon, maka jangan engkau menaruh gagang telepon itu sampai beliau benar-benar menutup gagang telepon tersebut.

53. Hendaknya engkau yakin, bahwa guru ruhani itu tahu apa yang ada dalam kalbumu. Oleh karena itu, hendaknya seorang murid menampakkan permasalahan dirinya, baik yang kecil maupun yang besar kepada sang guru. Sang murid dimata guru ruhani layaknya buku yang terbuka, beliau dapat mengetahui apa yang ada disetiap lembarannya. Apabila beliau menemukan hal yang baik, beliau akan mendoakan agar diberi tambahan kebaikan tersebut. Namun jika beliau menemukan hal yang buruk, maka beliau akan beristighfar memohonkan ampunan atas hal itu.

54. Janganlah dongkol terhadap guru ruhani, sekalipun beliau memberimu beban suatu perkara yang sulit.

55. Seorang murid yang jujur harus dapat mengendalikan emosinya saat berada di dalam majelis dzikir sekalipun sang guru tidak hadir saat itu. Terlebih lagi jika guru itu hadir di majelis dzikir tersebut. Sebab, guru ruhani sejatinya selalu ada bersama muridnya.

56. Hendaknya seorang murid selalu merasa butuh akan ilmu gurunya. Perumpamaan ilmu sang murid dengan ilmu sang guru layaknya setetes air laut di hamparan samudera nan luas.

57. Apabila guru ruhani mendiamkan seorang murid lantaran adab buruk yang pernah dilakukannya, dimana hal tersebut tidak juga membekaskan sesuatu pada diri murid tersebut, bahkan sang murid juga tidak rindu kepada guru ruhani, tidak pula segera memperbaiki kondisi tersebut, maka hal tersebut itu merupakan bentuk kebencian dan makar Allah. Maka apabila ada seorang murid yang tidak menganggap, bahwa kemarahan gurunya itu lebih dahsyat dari pada dirinya dimasukkan ke dalam neraka, maka tidak ada kejujuran didalam dirinya. Jika amal perbuatan anak yang durhaka kepada orang tuanya saja tidak akan pernah bisa diangkat ke langit, maka bagaimana prihalnya anak yang durhaka kepada orang tua ruhaninya?!

58. Jangan menilai bahwa dirinyalah yang selalu mencukupi kebutuhan guru ruhani, sekalipun dirinya telah berkhidmah sepanjang hidup dan menginfakkan semua harta kepada gurunya, hendaknya ia memperbanyak bersyukur kepada Allah Swt yang telah menyatukan dirinya dengan guru ruhani yang mampu membuat dirinya wushu/kepada Allah Swt.

59. Berkhidmah kepada setiap orang yang didahulukan oleh guru ruhani dan memandang orang tersebut lebih baik dari pada dirinya. Sebab, jika bukan karena hal itu, maka tidak mungkin guru ruhani itu mendahulukan orang tersebut.

60. Janganlah engkau menguji guru ruhani, jangan pula engkau meminta karamah dari beliau atau yang semacamnya dan jangan pula menimbang perkataan beliau dengan menggunakan nalarmu.

61. Hendaknya sang murid berlapang dada jika guru ruhani tersebut melarang sesuatu yang engkau sukai atau yang engkau inginkan, hendaknya dia berpandangan, bahwa kebaikan itu terletak pada larangan tersebut.

62. Hendaknya sang murid selalu ada bersama guru ruhani, baik saat berada di rumah atau sedang bepergian, sedang sakit atau dalam kondisi sehat. Melakukan shalat bersama beliau di zawiyah jika memungkinkan. Terkadang kebersamaan sang murid dengan guru ruhani itu lebih utama daripada dirinya pergi ke Makkah dan tinggal di sekitar Masjidil Haram.

63. Jangan engkau datang kepada guru ruhani, kecuali dalam kondisi bersuci secara sempurna; baik secara zhahir maupun bathin.

64. Jangan engkau datang kepada guru ruhani, kecuali hatimu selalu dalam kondisi berdzikir.

65. Hendaknya sang murid menanggung derita dari setiap orang yang memiliki hubungan dengan guru ruhani, hal ini dilakukan lantaran memperhatikan maqam beliau, bukan karena sebab lainnya. Sang murid harus menolong dan bertoleransi terhadap mereka. Jangan sampai membebankan mereka, sekalipun terkait dengan permohonan maaf mereka kepadamu.

66. Hendaknya sang murid tidak mengaku-ngaku sebagai guru ruhani (muqaddam) dan memberikan bimbingan kecuali atas izin guru ruhaninya tersebut.

67. Jangan sampai seorang murid minta dibedakan dari ikhwan lainnya saat bersama guru ruhani.

68. Hendaknya sebagai murid harus selalu menunduk, tidak banyak menolah-noleh dan bergerak saat berada di hadapan guru ruhani.

69. Hendaknya mendahulukan setiap orang yang memiliki hubungan dengan guru ruhani dari pada dirinya sendiri.

70. Hendaknya sang murid tidak menghiraukan penampilan dirinya di hadapan guru ruhani, namun dirinya harus selalu tawadhu’ dan merasa hina di hadapan beliau.

71. Hendaknya sang murid tidak memandang yang lain selain guru ruhani dan tidak mempedulikan orang lain yang berada di sisi sang guru.

72. Hendaknya sang murid bersabar dengan beragam ujian dari guru ruhani.

73. Hendaknya sang murid datang kepada guru ruhani dengan sepenuh hati dan jiwanya, bukan dengan nalar serta dalil yang dia miliki.

74. Hendaknya sang murid tidak menikah atau tidak mentalak istrinya kecuali atas izin guru ruhaninya.

75. Hendaknya diri sang murid bersikap sama pada cacian dan pujian dari orang lain, dirinya tidak mempedulikan pernyataan mereka, kecuali pernyataan guru ruhani dan bukan pernyataan orang lain.

76. Hafalkanlah setiap perkataan yang pernah engkau dengar dari guru ruhani sekalipun engkau tidak paham maknanya. Sebab, engkau akan memahami pernyataan tersebut dikemudian hari. Jangan sampai engkau melupakan pernyataan beliau, sebab bisa jadi hal itu akan bermanfaat selepas beliau meninggal dunia.

77. Seorang murid yang jujur kalbunya tidak takut kepada seseorang selagi dirinya ada bersama guru ruhani. Dimana dia juga tidak bersedih atas apa yang hilang dari dirinya selama guru ruhani itu dalam kondisi selamat.

78. Seorang murid yang jujur tidaklah meminta guru ruhani, agar selalu dapat menyambut dan juga tersenyum kepadanya setiap datang kepada beliau. Sebab, guru ruhani selalu sibuk dengan Allah dan juga selalu sibuk meminta keringanan pada orang-orang yang sedang Allah Swt uji dengan suatu cobaan. Bahkan, pada suatu waktu bisa jadi beliau pun tidak mengenal anaknya sendiri, apalagi orang lain.

79. Melihat guru ruhani itu sudah cukup bagi seorang murid yang jujur kalbunya, daripada dirinya makan dan minum.

80. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya akan mampu mengambil pelajaran dari kondisi jiwa guru ruhani, sebelum dia mengambil pelajaran dari perkataan beliau.

81. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya tetap akan mendapatkan manfaat setelah guru ruhani meninggal dunia, bahkan bisa jadi dirinya dapat mengambil manfaat lebih banyak daripada ketika beliau masih hidup.

82. Tidak akan terbesit pada diri murid yang jujur kondisi jiwanya untuk berpisah dengan guru ruhani ketika dirinya telah mencapai suatu martabat keilmuan, hendaknya dia berniat ingin berkhidmah kepada beliau sepanjang hidup. Terkadang ada sebagian murid yang tertipu dengan ilmu guru ruhani yang nampak, dia melihat bahwa dirinya telah sampai atau bahkan melebihi guru ruhani pada suatu bidang keilmuan, namun berhati-hatilah, karena ilmu bathin beliau layaknya lautan tak bertepi.

83. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya tahu, bahwa paling sedikitnya derajat guru ruhani itu adalah beliau mampu membuat diri murid itu merasakan ketenangan, mampu membuat dirinya terhindar dari hal yang sulit, bahkan bisa menutupi aib dan kekurangan. Guru ruhani memperlakukanmu dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang melebihi perlakuan kedua orang tuamu, lantas bagaimana dengan derajat guru ruhanimu yang paling tinggi?

84. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya tidak memandang sisi-sisi kemanusiaan guru ruhani, namun memandang ruh dan anwar yang beliau miliki. Diri Rasulullah Saw contohnya; pada awal perjalanan hidup beliau, orang-orang melihat beliau sebagai manusia biasa, Rasulullah Saw pernah menyampaikan sebuah sabda kepada mereka,

لا تُخَيَّرُونِي عَلَى مُوسَى

“Jangalah engkau membandingkan aku dengan Musa. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; Abu Daud; Ahmad; An-Nasa’i dalam Sunan Al Kubra, Al Baihaqi; Ath-Thabrâni dari riwayat Abu Hurairah.)

Lantas setelah hijab penghalang sisi kemanusiaan Rasulullah Saw tersingkap pada orang-orang khusus dari kalangan sahabatnya, beliau bersabda,

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ

“Akulah penghulu anak Adam dan aku tidak bangga dengan itu, ” (HR. Ibnu Majah dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri; Al Hakim; dimana dia menilai hadits ini shahih, Ath-Thabrâni dari riwayat Jabir bin ‘Abdillah; Al Baihaqi dan Abu Ya’la dari riwayat Ibnu Abbas; Abu Ya’la dari riwayat Anas; Ibnu Hibban dari riwayat Wätsilah bin Al Asqa’; Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dari riwayat ‘Abdullah bin Salâm.)

Beliau juga bersabda lainnya,

لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ، مَا حَلَّ لَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Seandainya Musa kini masih hidup diantara kalian, maka dia tidak mempunyai pilihan kecuali mengikutiku. ” (HR. Ahmad; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi; Abu Ya’lå; At-Tabrizi dalam Misykât Al Mashâbih dari riwayat Jâbir bin ‘Abdillah.)

85. Seorang murid yang jujur tahu bahwa guru ruhaninya itu adalah tempat dimana Allah Swt memandang dengan penuh kelembutan dan rahmat, sehingga keridhaan beliau adalah keridhaan Allah dan kemarahan beliau juga merupakan kemarahan Allah Swt.

86. Apabila guru ruhani bersikap ramah kepadamu, maka hal ini harus dapat menambah wibawa beliau dan sikap tawaddhu’ bagi beliau. Jangan sampai engkau tertipu dengan manisnya perkataan beliau, sehingga membuatmu mengira, bahwa engkau memiliki kedudukan yang tinggi di sisi beliau.

Sungguh beliau itu bermanis kata dan tidak banyak menyuruh adalah untuk menguatkan hati orang yang masih lemah dalam thariqah. Ketika mereka telah kuat dalam thariqah ini, mungkin guru ruhani malah akan keras kepada mereka, bahkan terkadang beliau akan selalu menyalahkan mereka. Bisa jadi para murid ini kelak tidak suka dengan perkataan beliau yang pahit, bahkan mungkin dia tidak lagi mendatangi majelis beliau.

87. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya, tidaklah akan mengucilkan kedudukan guru ruhani saat mereka melihat orang-orang yang menentang beliau. Sebab, seorang wali pada setiap masa tidak diterima oleh kebanyakan orang, namun saat wali tersebut meninggal dunia, barulah mereka menyesal lantaran tidak mempercayai sosoknya, yaitu ketika kala itu tidak ada lagi orang berakhlak seperti akhlak sang wali yang mulia dan tersingkapnya tirai hasud yang menutupi mata terhadap wali tersebut kala ia masih hidup.

88. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya, dengan kecintaan yang besar kepada guru ruhaninya, maka dia akan membela guru tersebut mati-matian dan dari sinilah beragam pengetahuan dan anwar itu akan terus mengalir.

Syaikh Abul ‘Abbas Al Mursi pernah berkata, “Pada suatu hari, Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili Ra pernah berkata kepadaku, ‘Wahai Abul ‘Abbas, tidaklah sikap bergurumu itu padaku, kecuali hal itu menjadikanmu adalah aku dan aku adalah kamu’.”

89. Setiap orang yang mendatangi zawiyah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra untuk suatu tujuan, maka dia akan mendapatkan apa yang menjadi tujuannya itu. Maka, apabila ada ikhwan yang mendatangi zawiyah lantaran tujuan duniawi atau tujuan lainnya, maka tiada yang dia dapatkan kecuali apa yang menjadi tujuannya itu.

90. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya; apabila guru ruhani sedang sakit, maka bisa jadi dirinya pun tidak akan makan atau minum, tidak tertawa atau bahkan menjadikan dirinya tidak bisa tertidur sampai guru ruhani itu sembuh kembali dan dapat kembali ke masyarakat. Sebab kembalinya guru ke masyarakat itu lebih baik daripada datangnya hari raya.

91. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya tidak akan mengadukan kepada guru ruhani kecuali berupa detikan jiwa yang tetap dalam kalbunya, bukan detikan jiwa yang kerap berubah, sebab hal itu di-ma’fu. Selain itu, membahas detikan jiwa yang tidak tetap bisa menghabiskan semua umur untuk membahasnya.

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟. قَالُوا : نَعَمْ، قَالَ : ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ.

Suatu saat sekelompok orang mendatangi Nabi Saw, seraya bertanya kepada beliau, “Kami menemukan sesuatu hal yang besar didalam diri kami dan salah satu diantara kami sulit untuk mengutarakannya?” Nabi bersabda, “Kalian telah temukan itu? Mereka berkata, “Iya.” Rasulullah Saw kemudian menimpali dengan sabdanya, “Itulah keimanan yang paling nyata. ” (HR. Muslim dalam Shahih-nya; Abu Daud; Ahmad dalam Musnadnya; An-Nasa ‘i; Al Baihaqi; Abu Ya’lâ dari riwayat Abu Hurairah.)

Yang mereka temui didalam diri adalah, ma’arif ilahi, tajalliyât rabbani dan ini semua merupakan rahasia yang tidak boleh diutarakan.

92. Hari dimana murid yang jujur kondisi jiwanya dapat melihat sang guru ruhani, maka itu adalah malan lailatul qadar baginya. Begitu pula hari sang murid dapat tertidur dalam keadaan gurunya itu ridha, maka itu lebih utama baginya daripada shalat qiyam di malam lailatul qadar.

93. Bagi seorang murid yang jujur kondisi jiwanya, sosok Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah segalanya, sosok beliau selalu memenuhi kesehariannya sehingga segala perkara terasa lapang baginya.

Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY