You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Adab Murid Thariqah At-Tijaniyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Adab Murid Tijany

A. Adab Murid Tijany Terhadap Syaikh.

Perlu diketahui, bahwa maqâm dakwah yang menyeru kepada Allah Swt terletak pada maqâm nubuwwah, dimana warisan yang dihasilkan dari maqam dakwah ini juga disebut sebagai seorang nabi pada masa kenabian, atau dapat juga disebut dengan seorang syaikh, seorang pewaris ataupun seorang ustadz pada kalangan ulama Allah, sekalipun mereka bukanlah seorang nabi.

Seorang pemeluk thariqah pernah berkata, “Orang yang tidak memiliki syaikh, maka syeithan adalah syaikhnya.”

Allahlah yang sejatinya mendidik Rasulullah Saw, seperti yang telah disabdakan oleh baginda Rasulullah Saw sendiri,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَدَّبَنِي فَأَحْسَنَ أَدَبِي.

“Sungguh Allah Azza wa Jalla lah yang telah mengajariku adab, sehingga adabku baik. ” (HR. Ibnu ‘Asakir dalam Al Amtsal dari jalur periwayatan As-Suddiy; dari Abu ‘Imârah dari ‘Ali Ra; dia berkata; “Suatu saat Bani Nahd bin Zaid datang kepada Nabi Saw seraya berkata; “Kami mendatangimu dari dua gua Tihamah; lalu mereka menyebutkan apa yang ingin mereka sampaikan; Nabi Saw tidak menjawab apa yang mereka inginkan; salah satu dari mereka berkata: Maka katakanlah sesuatu wahai Nabi Allah? Kami ini satu berasal dari satu bapak; kami pun tumbuh pada satu negara; dan engkau bahkan mampu berbicara kepada orang Arab yang bahkan banyak di antara kami tidak memahaminya; maka Nabi Saw bersabda; “Sungguh Allah Swt telah mengajariku adab; dan memperbagus adabku; dan aku tumbuh di Bani Sa’ad yang terletak di Bakr.”

Ibnu ‘Asakir menyebutkan dalam Tarikh-nya, bahwa ada seseorang dari Bani Salûl; berkata; “Wahai Rasulallah, Apakah seorang lelaki boleh mengulurkan mahar istrinya?” Beliau menjawab; “Ya, jika dia seorang yang bangkrut.” Maka Abu bakar berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulallah, Apa yang dia katakan dan apa yang baginda jawab untuknya?” Rasulullah Saw bersabda; “Dia berkata, ‘Apakah seorang lelaki itu dapat mengulur mahar sang istri?’, maka aku menjawabnya; “Ya apabila dia bangkrut.” Abu Bakar kemudian berkata; “Wahai Rasulullah, perkataan ini telah tersebar di semenanjung arab; para orang yang fasih pun telah mendengarnya; dimana tiada yang sefasih engkau; lantas siapakah yang mangajarimu?; Rasulullah Saw bersabda; “Tuhanku lah yang telah mengajarkanku; dimana aku juga tumbuh di Bani Sa’ad.”)

Malaikat Jibril adalah guru pengajar Rasulullah Saw, sekalipun ada keistimewaan yang diberikan kepada Jibril untuk menjadi guru pengajar beliau, hal ini tidak menunjukkan bahwa Jibril lebih utama dari Rasulullah Saw.

Disebutkan dalam sebuah hadits,

انَّ اللهَ أَرْسَلَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَلَكًا مِنَ الْمَلَائِكَةِ، وَعِنْدَهُ جِبْرِيلَ، فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ : يَا مُحَمَّدُ ، إِنَّ اللهَ عَزَّ جَلَّ يُخَيَّرُكَ بَيْنَ أَنْ تَكُوْنَ نَبِيًّا عَبْدًا، أَوْ نَبِيًّا مَلِكًا، فَالْتَفَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِبْرِيلَ كَالْمُسْتَشِيرِ، فَأَوْمَا إِلَيْهِ أَنْ تَوَاضَعْ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ نَبِيًّا عَبْدًا.

“Sungguh Allah Swt telah mengutus malaikat kepada Nabi Saw, saat itu beliau sedang bersama malaikat Jibril, Jibril pun berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Swt memberikan pilihan kepadamu antara engkau menjadi seorang nabi dalam wujud hamba Allah (manusia) atau seorang nabi dalam wujud malaikat,” Rasulullah pun menoleh kepada Jibril, layaknya seorang yang meminta pendapat, maka Jibril pun memberikan isyarat untuk ber-tawadhu’, maka Rasulullah bersabda, “yaitu seorang nabi dalam wujud hamba Allah. ” (HR. Ahmad; Abu Ya’la; Ibnu Hibbân dari riwayat Abu Hurairah; Al Baihaqi dari riwayat Thâwus; Al Baihaqi; An-Nasa’i dalam Sunan Al Kubra, Ath-Thabrâni; dan Ibnu ‘Asâkir dari riwayat Ibnu ‘Abbas; Ath-Thabrâni dari riwayat Ibnu ‘Umar.)

Lihatlah bagaimana pengajaran Jibril untuk Nabi Muhammad Saw dan bagaimana Jibril memilihkan untuk beliau. Dalam hadits ini Jibril berada pada posisi pengajar dan Nabi Muhammad Saw sebagai murid.

Berikut ini kami paparkan sebagian adab murid Tijany terhadap hak Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra:

1. Meyakini bahwa Sayyidi Syaikh Ra merupakan sosok wali yang paling kamil, sehingga murid Tijany tidak menoleh kepada yang lainnya, tidak ada sekutu dalam kecintaan diri seorang murid kepada syaikhnya, sebagaimana Allah Swt juga tidak mengampuni orang yang berbuat musyrik kepada-Nya, seperti yang tertera dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,” (Qs. An-Nisâ` [4]: 48).

Begitu pula halnya dengan Syaikh pembesar thariqah manapun, mereka selalu berakhlak dengan akhlak Allah Swt, sehingga mereka juga tidak mengampuni murid yang didalam hatinya ada orang lain selain syaikhnya.

2. Selalu memperhatikan kemuliaan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; baik saat beliau masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Sebab, kemuliaan beliau merupakan bagian dari kemuliaan Allah Swt, dimana keridhaan dan kemurkaan Allah Swt terletak pada beliau.

3. Tidak mempersoalkan martabat yang dimiliki Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

4. Mencium tangan Syaikh (guru ruhani; muqaddam sebagai wakil dari Syaikh Ahmad At-Tijany Ra) dengan penuh penghormatan.

5. Duduk di sisinya dengan siap siaga jika Syaikh (Guru ruhani) mengizinkan. Jika tidak, maka hendaknya dia tetap berdiri.

6. Selalu diam saat bersama guru ruhani, tidak berbicara kecuali atas izinnya dan menanti apa yang Allah Swt bukakan pada lisan guru ruhani tersebut.

7. Tidak membuka pembicaraan dengan guru ruhani.

8. Tidak bersuara dengan suara yang mengalahi suaranya guru ruhani.

9. Duduk di sisi guru ruhani dengan penuh rasa malu, karena dia tahu bahwa guru ruhani itu bisa jadi tahu dosa-dosanya.

10. Tidak memanggil guru ruhani dan tetap menunggu sampai beliau keluar dari ruangan khalwat.

11. Menghormati apapun yang dimiliki guru ruhani; baik sanak keluarga, harta, anak beliau, bahkan sapu tangan, kursi dan pena sekalipun.

12. Tidak berjalan di hadapan guru ruhani kecuali dalam keadaan yang gelap.

13. Tidak duduk sementara guru ruhanimu berdiri.

14. Jangan engkau merasa dikucilkan dengan bentakan guru ruhani di hadapan banyak orang, akan tetapi hendaknya engkau bersyukur sebab itu merupakan bentuk perhatian beliau kepadamu.

15. Jangan mengaku-ngaku telah bersahabat dengan guru ruhani, sebab persahabatan itu adalah bagi orang-orang yang selevel dengan beliau, akan tetapi katakanlah “Aku telah berkhidmah untuk beliau.” Persahabatan itu untuk sesama ikhwan, sementara berkhidmah itu untuk syaikh (guru ruhani).

16. Saat ada hal yang ganjil dengan ahwal guru, maka ingatkanlah dirimu tentang kisah Nabi Musa. Setiap Syaikh (guru ruhani) itu memiliki alasan tersendiri atas apa yang dia lakukan; baik berupa penjelasan ilmiah ataupun suatu hikmah yang terbesit dalam tindakannya. Hendaknya dia mentakwilkan tindakan guru ruhani yang tampaknya melenceng dari syari’at. Jangan membatasi tindakan beliau dalam kekangan batas yang ada secara umum saja. Seorang guru itu mengetahui seluk beluk dirimu, sementara dirimu tidak mengetahui seluk beluk diri beliau.

17. Jika engkau duduk bersama guru ruhani, maka singkirkanlah kepintaranmu dan jadikan dirimu seolah-olah merupakan orang yang paling bodoh. Jadi, dirimu duduk di samping beliau, layaknya orang yang paling bodoh di dunia ini dan beliaulah orang yang paling pintar.

18. Jadikanlah do’a untuk guru ruhani itu sebagai wiridan yang lazim kau baca.

19. Menghormati sang guru dan mentolerir segala kesalahan yang beliau lakukan, hendaknya dia berperilaku seperti mayyit yang berada di tangan orang yang memandikannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu athii’ulloha wa athii’ur-rosuula wa ulil-amri mingkum, fa ing tanaaza’tum fii syai-ing fa rudduuhu ilallohi war-rosuuli ing kungtum tu-minuuna billaahi wal-yaumil-aakhir, zaalika khoiruw wa ahsanu ta-wiilaa

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 59)

Ibnu ‘Abbas Ra pernah berkata terkait ayat ini, “Maksudnya adalah orang yang ahli dalam bidang fikih dan agama, orang yang selalu taat kepada Allah Swt; yang mengajarkan manusia akan keagungan agama mereka, dia memerintahkan mereka kepada hal yang baik dan melarang mereka dari kemungkaran, maka Allah Swt telah mewajibkan untuk menaati mereka. ” (Redaksi ini diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak, Ibnu Jarîr juga meriwayatkannya secara ringkas; Ibnu Katsir; Al Baghawi; Ibnu Abi Hâtim dalam Tafsir-nya dari riwayat Ibnu ‘Abbas; Jabir; Mujahid; ‘Atha’; Hasan Al Bashri dan Abu Al ‘Aliyah.)

20. Jangan sampai guru ruhani mendapati punggungmu, bahkan saat engkau pergi menjauh dari beliau atau juga pada saat shalat.

21. Janganlah engkau makan bersama guru ruhanimu kecuali atas izinnya.

22. Janganlah memandang guru ruhanimu dengan pandangan yang tajam.

23. Yang termasuk adab yang buruk kepada guru ruhanimu adalah, dirimu membawa tamu baru tanpa izin terlebih dahulu kepada beliau.

24. Jika guru ruhani memerintahkan untuk mengerjakan suatu perintah, maka pastikanlah kembali perintah itu, kemudian lakukan apa yang diperintahkannya itu. Seandainya secara zhahir perintah itu melanggar syari’at menurutmu, janganlah sekali-kali engkau bertanya tentang mengapa beliau memerintahkanmu melakukan hal itu.

25. Janganlah engkau bersahabat dengan Syaikh (guru ruhani) lantaran ingin menggapai suatu maqam, atau agar mendapatkan suatu karamah dan jangan pula dirimu memperlambat futuh yang datang kepadamu. Yakinlah, bahwa sampainya dirimu kepada guru ruhani yang mentarbiyah, itu adalah karamah yang agung.

26. Janganlah engkau berteman dengan orang yang memusuhi guru ruhani, jangan pula memusuhi sahabat beliau, cintalah orang yang dicintai guru ruhanimu dan bencilah orang yang dibenci oleh beliau. Sebab dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى نَبِيِّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ أَنْ قُلَ لِفُلَانٍ الْعَابِدِ: أَمَّا زُهْدُكَ في الدُّنْيَا، فَتَعَجَّلْتَ رَاحَةَ نَفْسِكَ، وَأَمَّا انْقِطَاعُكَ إِلَيَّ فَتَعَزَّزْتَ بِيَ فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا لِي عَلَيْكَ؟ قَالَ: يَا رَبِّ، وَمَا لَكَ عَلَيَّ؟ قَالَ : هَلْ وَالَيْتَ لِي وَلِيًّا أَوْ عَادَيْتَ لِي عَدُوًّا ؟ .

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Suatu saat Allah pernah mewahyukan kepada salah seorang nabi, untuk mengatakan kepada seseorang yang gemar beribadah, Tentang zuhudmu di dunia, engkau percepat istirahatnya jiwamu, sementara tentang keterputusanmu kepada-Ku, engkau telah memohon kekuatan dengan-Ku, maka apa yang engkau ketahui tentang yang Aku lakukan terhadap dirimu? Dia berkata, “Wahai Rabb, tentang apa yang Engkau miliki dariku?” Allah berfirman, “Apakah engkau telah menolong wali-Ku atau memusuhi musuh-Ku?,” (HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, Al Khathib dalam Tarikh Baghdad dari riwayat Ibnu Mas’ûd; Ahmad dalam Musnad-nya; Al Hakim; At-Tirmidzi dalam Nawadir Al Ushûl, Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Al Auliya; dari ‘Amr bin Al Jamûh; bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda :

لا يَحِقُّ الْعَبْدُ حَقَّ صَرِيحِ الْإِيمَانِ حَتَّى يُحِبُّ اللَّهِ، وَيُبْغِضَ اللَّهِ  فَإِذَا أَحَبَّ اللَّهِ، وَأَبْغَضَ اللَّهِ، فَقَدِ اسْتَحَقَّ الْوَلاءَ مِنَ اللَّهِ، وَإِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْ عِبَادِي، وَأَحِبَّانِي مِنْ خَلْقِي الَّذِينَ يُذْكُرُونَ بِذِكْرِي، وَأُذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ

“Seorang hamba tidaklah benar-benar memiliki keimanan yang nampak jelas hingga dirinya mencintai dan membenci karena Allah. Apabila dia mencintai karena Allah; membenci juga karena Allah; maka dia telah mendapatkan wala -nya Allah. Sungguh para wali-Ku itu termasuk dari hamba-Ku dan orang yang Aku cintai dari para makhluk-Ku yang berdzikir menyebut-Ku, dan Aku berdzikir dengan menyebutkan mereka.)

27. Seorang murid hendaknya sangat rindu kepada gurunya. Jika satu jam saja sang murid tidak melihat guru ruhani dan tidak merasakan rindu, maka kecintaan dirinya itu dusta.

28. Janganlah mencoba cari tahu tentang kehidupan pribadi guru ruhani, misalnya: berapa lama beliau tidur, makan dan beragam kebiasaan guru lainnya.

29. Apabila guru ruhani mentalak istri beliau, maka sang murid tidak boleh menikahi mantan istri beliau lantaran adab kepada beliau dan bukan karena larangan syari’at.

30. Hendaknya sang murid berkeyakinan, bahwa sekecil apapun perbuatan guru ruhani, maka itu lebih utama dari ibadah diri murid tersebut sepanjang hidupnya dan juga bahwa tidurnya guru ruhani itu lebih baik daripada berdirinya murid untuk melakukan ibadah sunah.

31. Menghormati orang yang berlindung dengan guru ruhanimu; baik itu seorang tamu maupun ibnu sabil.

32. Mengagungkan sekecil apapun pemberian sang guru kepadamu, janganlah engkau jual barang itu atau dikelola dengan pengelolaan lainnya.

33. Apabila guru ruhanimu berlaku ramah kepadamu, maka jangan engkau turut bersikap demikian; yaitu bersikap dengan sikap yang dapat menghilangkan kewibawaan dan ketawadhuan dirimu.

34. Apabila guru ruhani memusyawarahkan suatu perkara denganmu, sebenarnya ini bertujuan untuk memberikan ketenangan pada dirimu, ini merupakan siasat beliau terhadap dirimu dan bukan berarti beliau tidak mengetahui apa yang sedang dimusyawarahkan itu.

35. Jangan menolak apa yang beliau perintahkan.

36. Jangan engkau meminta untuk diperintah oleh beliau kecuali itu datang dari hatimu, sebab bisa jadi beliau tahu apa yang ada di kalbumu.

37. Janganlah engkau berkata kepada guru ruhanimu, “Mengapa guru melakukan itu kepada si fulan sementara hal itu tidak dilakukan padaku.”

38. Hendaknya engkau berkeyakinan, bahwa guru ruhanimu itu tidak pernah berpisah denganmu; baik engkau sedang bepergian, sedang ada di hadapannya, engkau sedang sehat atau dalam kondisi sakit.

39. Sang murid wajib mengikuti madzhab fikih yang dianut oleh guru ruhaninya.

40. Janganlah engkau tampakkan rasa cinta kepada guru ruhani melebihi rasa cinta yang ada dalam kalbumu. Sebab, bermu’amalah dengan kejujuran itu wajib hukumnya terhadap guru ruhani.

41. Hendaknya engkau berkeyakinan, bahwa prihal baik yang sampai kepada dirimu itu merupakan barokah keridhaan guru ruhanimu dan diangkatnya musibah dari dirimu itu pun lantaran barokah do’a beliau.

42. Jangan engkau duduk di tempat duduk beliau, jangan pula engkau mengenakan baju beliau. Jangan pula engkau memakai pulpen milik beliau dan hal-hal lainnya.

43. Apabila engkau menanyakan guru ruhani mengenai mimpimu, maka jangan engkau tunggu beliau mentakwilkannya untukmu.

44. Apabila engkau sedang dirundung suatu permasalahan dan engkau menanyakan permasalahan tersebut kepada beliau, maka janganlah engkau menunggu jawaban atas masalahmu itu.

45. Janganlah engkau memasuki tempat khalwat guru ruhani, jangan pula engkau mendiami tempat yang beliau diami.

46. Janganlah engkau memutuskan hajat seseorang sampai engkau bermusyawarah dengan guru ruhani, sekalipun itu hajat orang tuamu.

47. Gugurnya kehormatan guru ruhani dari kalbu seorang murid, inilah yang menyebabkan sang murid tertolak dari hadrah guru tersebut.

48. Apabila guru ruhani membuat janji denganmu di suatu tempat, maka engkaulah yang harus datang terlebih dahulu, jangan sampai membuat beliau menunggumu.

49. Apabila engkau datang kepada guru ruhani dan tidak mendapati beliau, maka ucapkanlah salam pada tempat dimana gurumu itu sering duduk di sana. Begitu juga jika sang guru sedang bepergian, maka hendaknya dirimu datang ke tempat yang engkau pernah datangi bersama beliau. Sebab, pada hari yang sama beliau pun akan hadir di sana.

50. Janganlah engkau takwilkan perkataan beliau, cukuplah engkau dengan perkataan yang telah kau dengar dari beliau sebelumnya.

51. Seluruh pembicaraan yang terjadi antara dirimu dan guru ruhani, itu adalah sebuah rahasia yang tidak boleh disebarluaskan.

52. Apabila engkau berbicara dengan guru ruhani di telepon, maka jangan engkau menaruh gagang telepon itu sampai beliau benar-benar menutup gagang telepon tersebut.

53. Hendaknya engkau yakin, bahwa guru ruhani itu tahu apa yang ada dalam kalbumu. Oleh karena itu, hendaknya seorang murid menampakkan permasalahan dirinya, baik yang kecil maupun yang besar kepada sang guru. Sang murid dimata guru ruhani layaknya buku yang terbuka, beliau dapat mengetahui apa yang ada disetiap lembarannya. Apabila beliau menemukan hal yang baik, beliau akan mendoakan agar diberi tambahan kebaikan tersebut. Namun jika beliau menemukan hal yang buruk, maka beliau akan beristighfar memohonkan ampunan atas hal itu.

54. Janganlah dongkol terhadap guru ruhani, sekalipun beliau memberimu beban suatu perkara yang sulit.

55. Seorang murid yang jujur harus dapat mengendalikan emosinya saat berada di dalam majelis dzikir sekalipun sang guru tidak hadir saat itu. Terlebih lagi jika guru itu hadir di majelis dzikir tersebut. Sebab, guru ruhani sejatinya selalu ada bersama muridnya.

56. Hendaknya seorang murid selalu merasa butuh akan ilmu gurunya. Perumpamaan ilmu sang murid dengan ilmu sang guru layaknya setetes air laut di hamparan samudera nan luas.

57. Apabila guru ruhani mendiamkan seorang murid lantaran adab buruk yang pernah dilakukannya, dimana hal tersebut tidak juga membekaskan sesuatu pada diri murid tersebut, bahkan sang murid juga tidak rindu kepada guru ruhani, tidak pula segera memperbaiki kondisi tersebut, maka hal tersebut itu merupakan bentuk kebencian dan makar Allah. Maka apabila ada seorang murid yang tidak menganggap, bahwa kemarahan gurunya itu lebih dahsyat dari pada dirinya dimasukkan ke dalam neraka, maka tidak ada kejujuran didalam dirinya. Jika amal perbuatan anak yang durhaka kepada orang tuanya saja tidak akan pernah bisa diangkat ke langit, maka bagaimana prihalnya anak yang durhaka kepada orang tua ruhaninya?!

58. Jangan menilai bahwa dirinyalah yang selalu mencukupi kebutuhan guru ruhani, sekalipun dirinya telah berkhidmah sepanjang hidup dan menginfakkan semua harta kepada gurunya, hendaknya ia memperbanyak bersyukur kepada Allah Swt yang telah menyatukan dirinya dengan guru ruhani yang mampu membuat dirinya wushu/kepada Allah Swt.

59. Berkhidmah kepada setiap orang yang didahulukan oleh guru ruhani dan memandang orang tersebut lebih baik dari pada dirinya. Sebab, jika bukan karena hal itu, maka tidak mungkin guru ruhani itu mendahulukan orang tersebut.

60. Janganlah engkau menguji guru ruhani, jangan pula engkau meminta karamah dari beliau atau yang semacamnya dan jangan pula menimbang perkataan beliau dengan menggunakan nalarmu.

61. Hendaknya sang murid berlapang dada jika guru ruhani tersebut melarang sesuatu yang engkau sukai atau yang engkau inginkan, hendaknya dia berpandangan, bahwa kebaikan itu terletak pada larangan tersebut.

62. Hendaknya sang murid selalu ada bersama guru ruhani, baik saat berada di rumah atau sedang bepergian, sedang sakit atau dalam kondisi sehat. Melakukan shalat bersama beliau di zawiyah jika memungkinkan. Terkadang kebersamaan sang murid dengan guru ruhani itu lebih utama daripada dirinya pergi ke Makkah dan tinggal di sekitar Masjidil Haram.

63. Jangan engkau datang kepada guru ruhani, kecuali dalam kondisi bersuci secara sempurna; baik secara zhahir maupun bathin.

64. Jangan engkau datang kepada guru ruhani, kecuali hatimu selalu dalam kondisi berdzikir.

65. Hendaknya sang murid menanggung derita dari setiap orang yang memiliki hubungan dengan guru ruhani, hal ini dilakukan lantaran memperhatikan maqam beliau, bukan karena sebab lainnya. Sang murid harus menolong dan bertoleransi terhadap mereka. Jangan sampai membebankan mereka, sekalipun terkait dengan permohonan maaf mereka kepadamu.

66. Hendaknya sang murid tidak mengaku-ngaku sebagai guru ruhani (muqaddam) dan memberikan bimbingan kecuali atas izin guru ruhaninya tersebut.

67. Jangan sampai seorang murid minta dibedakan dari ikhwan lainnya saat bersama guru ruhani.

68. Hendaknya sebagai murid harus selalu menunduk, tidak banyak menolah-noleh dan bergerak saat berada di hadapan guru ruhani.

69. Hendaknya mendahulukan setiap orang yang memiliki hubungan dengan guru ruhani dari pada dirinya sendiri.

70. Hendaknya sang murid tidak menghiraukan penampilan dirinya di hadapan guru ruhani, namun dirinya harus selalu tawadhu’ dan merasa hina di hadapan beliau.

71. Hendaknya sang murid tidak memandang yang lain selain guru ruhani dan tidak mempedulikan orang lain yang berada di sisi sang guru.

72. Hendaknya sang murid bersabar dengan beragam ujian dari guru ruhani.

73. Hendaknya sang murid datang kepada guru ruhani dengan sepenuh hati dan jiwanya, bukan dengan nalar serta dalil yang dia miliki.

74. Hendaknya sang murid tidak menikah atau tidak mentalak istrinya kecuali atas izin guru ruhaninya.

75. Hendaknya diri sang murid bersikap sama pada cacian dan pujian dari orang lain, dirinya tidak mempedulikan pernyataan mereka, kecuali pernyataan guru ruhani dan bukan pernyataan orang lain.

76. Hafalkanlah setiap perkataan yang pernah engkau dengar dari guru ruhani sekalipun engkau tidak paham maknanya. Sebab, engkau akan memahami pernyataan tersebut dikemudian hari. Jangan sampai engkau melupakan pernyataan beliau, sebab bisa jadi hal itu akan bermanfaat selepas beliau meninggal dunia.

77. Seorang murid yang jujur kalbunya tidak takut kepada seseorang selagi dirinya ada bersama guru ruhani. Dimana dia juga tidak bersedih atas apa yang hilang dari dirinya selama guru ruhani itu dalam kondisi selamat.

78. Seorang murid yang jujur tidaklah meminta guru ruhani, agar selalu dapat menyambut dan juga tersenyum kepadanya setiap datang kepada beliau. Sebab, guru ruhani selalu sibuk dengan Allah dan juga selalu sibuk meminta keringanan pada orang-orang yang sedang Allah Swt uji dengan suatu cobaan. Bahkan, pada suatu waktu bisa jadi beliau pun tidak mengenal anaknya sendiri, apalagi orang lain.

79. Melihat guru ruhani itu sudah cukup bagi seorang murid yang jujur kalbunya, daripada dirinya makan dan minum.

80. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya akan mampu mengambil pelajaran dari kondisi jiwa guru ruhani, sebelum dia mengambil pelajaran dari perkataan beliau.

81. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya tetap akan mendapatkan manfaat setelah guru ruhani meninggal dunia, bahkan bisa jadi dirinya dapat mengambil manfaat lebih banyak daripada ketika beliau masih hidup.

82. Tidak akan terbesit pada diri murid yang jujur kondisi jiwanya untuk berpisah dengan guru ruhani ketika dirinya telah mencapai suatu martabat keilmuan, hendaknya dia berniat ingin berkhidmah kepada beliau sepanjang hidup. Terkadang ada sebagian murid yang tertipu dengan ilmu guru ruhani yang nampak, dia melihat bahwa dirinya telah sampai atau bahkan melebihi guru ruhani pada suatu bidang keilmuan, namun berhati-hatilah, karena ilmu bathin beliau layaknya lautan tak bertepi.

83. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya tahu, bahwa paling sedikitnya derajat guru ruhani itu adalah beliau mampu membuat diri murid itu merasakan ketenangan, mampu membuat dirinya terhindar dari hal yang sulit, bahkan bisa menutupi aib dan kekurangan. Guru ruhani memperlakukanmu dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang melebihi perlakuan kedua orang tuamu, lantas bagaimana dengan derajat guru ruhanimu yang paling tinggi?

84. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya tidak memandang sisi-sisi kemanusiaan guru ruhani, namun memandang ruh dan anwar yang beliau miliki. Diri Rasulullah Saw contohnya; pada awal perjalanan hidup beliau, orang-orang melihat beliau sebagai manusia biasa, Rasulullah Saw pernah menyampaikan sebuah sabda kepada mereka,

لا تُخَيَّرُونِي عَلَى مُوسَى

“Jangalah engkau membandingkan aku dengan Musa. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; Abu Daud; Ahmad; An-Nasa’i dalam Sunan Al Kubra, Al Baihaqi; Ath-Thabrâni dari riwayat Abu Hurairah.)

Lantas setelah hijab penghalang sisi kemanusiaan Rasulullah Saw tersingkap pada orang-orang khusus dari kalangan sahabatnya, beliau bersabda,

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ

“Akulah penghulu anak Adam dan aku tidak bangga dengan itu, ” (HR. Ibnu Majah dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri; Al Hakim; dimana dia menilai hadits ini shahih, Ath-Thabrâni dari riwayat Jabir bin ‘Abdillah; Al Baihaqi dan Abu Ya’la dari riwayat Ibnu Abbas; Abu Ya’la dari riwayat Anas; Ibnu Hibban dari riwayat Wätsilah bin Al Asqa’; Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dari riwayat ‘Abdullah bin Salâm.)

Beliau juga bersabda lainnya,

لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ، مَا حَلَّ لَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Seandainya Musa kini masih hidup diantara kalian, maka dia tidak mempunyai pilihan kecuali mengikutiku. ” (HR. Ahmad; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi; Abu Ya’lå; At-Tabrizi dalam Misykât Al Mashâbih dari riwayat Jâbir bin ‘Abdillah.)

85. Seorang murid yang jujur tahu bahwa guru ruhaninya itu adalah tempat dimana Allah Swt memandang dengan penuh kelembutan dan rahmat, sehingga keridhaan beliau adalah keridhaan Allah dan kemarahan beliau juga merupakan kemarahan Allah Swt.

86. Apabila guru ruhani bersikap ramah kepadamu, maka hal ini harus dapat menambah wibawa beliau dan sikap tawaddhu’ bagi beliau. Jangan sampai engkau tertipu dengan manisnya perkataan beliau, sehingga membuatmu mengira, bahwa engkau memiliki kedudukan yang tinggi di sisi beliau.

Sungguh beliau itu bermanis kata dan tidak banyak menyuruh adalah untuk menguatkan hati orang yang masih lemah dalam thariqah. Ketika mereka telah kuat dalam thariqah ini, mungkin guru ruhani malah akan keras kepada mereka, bahkan terkadang beliau akan selalu menyalahkan mereka. Bisa jadi para murid ini kelak tidak suka dengan perkataan beliau yang pahit, bahkan mungkin dia tidak lagi mendatangi majelis beliau.

87. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya, tidaklah akan mengucilkan kedudukan guru ruhani saat mereka melihat orang-orang yang menentang beliau. Sebab, seorang wali pada setiap masa tidak diterima oleh kebanyakan orang, namun saat wali tersebut meninggal dunia, barulah mereka menyesal lantaran tidak mempercayai sosoknya, yaitu ketika kala itu tidak ada lagi orang berakhlak seperti akhlak sang wali yang mulia dan tersingkapnya tirai hasud yang menutupi mata terhadap wali tersebut kala ia masih hidup.

88. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya, dengan kecintaan yang besar kepada guru ruhaninya, maka dia akan membela guru tersebut mati-matian dan dari sinilah beragam pengetahuan dan anwar itu akan terus mengalir.

Syaikh Abul ‘Abbas Al Mursi pernah berkata, “Pada suatu hari, Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili Ra pernah berkata kepadaku, ‘Wahai Abul ‘Abbas, tidaklah sikap bergurumu itu padaku, kecuali hal itu menjadikanmu adalah aku dan aku adalah kamu’.”

89. Setiap orang yang mendatangi zawiyah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra untuk suatu tujuan, maka dia akan mendapatkan apa yang menjadi tujuannya itu. Maka, apabila ada ikhwan yang mendatangi zawiyah lantaran tujuan duniawi atau tujuan lainnya, maka tiada yang dia dapatkan kecuali apa yang menjadi tujuannya itu.

90. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya; apabila guru ruhani sedang sakit, maka bisa jadi dirinya pun tidak akan makan atau minum, tidak tertawa atau bahkan menjadikan dirinya tidak bisa tertidur sampai guru ruhani itu sembuh kembali dan dapat kembali ke masyarakat. Sebab kembalinya guru ke masyarakat itu lebih baik daripada datangnya hari raya.

91. Seorang murid yang jujur kondisi jiwanya tidak akan mengadukan kepada guru ruhani kecuali berupa detikan jiwa yang tetap dalam kalbunya, bukan detikan jiwa yang kerap berubah, sebab hal itu di-ma’fu. Selain itu, membahas detikan jiwa yang tidak tetap bisa menghabiskan semua umur untuk membahasnya.

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟. قَالُوا : نَعَمْ، قَالَ : ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ.

Suatu saat sekelompok orang mendatangi Nabi Saw, seraya bertanya kepada beliau, “Kami menemukan sesuatu hal yang besar didalam diri kami dan salah satu diantara kami sulit untuk mengutarakannya?” Nabi bersabda, “Kalian telah temukan itu? Mereka berkata, “Iya.” Rasulullah Saw kemudian menimpali dengan sabdanya, “Itulah keimanan yang paling nyata. ” (HR. Muslim dalam Shahih-nya; Abu Daud; Ahmad dalam Musnadnya; An-Nasa ‘i; Al Baihaqi; Abu Ya’lâ dari riwayat Abu Hurairah.)

Yang mereka temui didalam diri adalah, ma’arif ilahi, tajalliyât rabbani dan ini semua merupakan rahasia yang tidak boleh diutarakan.

92. Hari dimana murid yang jujur kondisi jiwanya dapat melihat sang guru ruhani, maka itu adalah malan lailatul qadar baginya. Begitu pula hari sang murid dapat tertidur dalam keadaan gurunya itu ridha, maka itu lebih utama baginya daripada shalat qiyam di malam lailatul qadar.

93. Bagi seorang murid yang jujur kondisi jiwanya, sosok Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah segalanya, sosok beliau selalu memenuhi kesehariannya sehingga segala perkara terasa lapang baginya.

B. Adab Murid Tijany Terkait Dirinya.

1. Sikap dominan yang harus ada pada dirimu adalah sedikit berbicara dengan penuh rasa malu kepada Allah Swt, maka jangan engkau berbuat maksiat kepada Allah Swt kecuali pada tempat yang Dia tidak melihatnya. Jika engkau meminta kekuatan kepada selain-Nya, maka engkau telah berbuat maksiat kepada-Nya.

2. Jangan sampai urusan rezeki menyibukkanmu dari beribadah untuk Rabb-mu.

3. Amalklanlah ilmu yang engkau miliki. Sebab ilmu yang sedikit dibarengi keikhlasan dalam pengamalan, kelak menjadi perkara yang dapat menyelamatkan.

4. Jangan sampai yang terlihat dalam semua ahwal-mu kecuali bentuk keridhaan diri kepada Allah, yaitu dengan bertawakkal kepada Allah Swt, takut dan mengharapkan rahmat-Nya.

5. Janganlah engkau memotong dzikiran setelah membukanya, sampai engkau pada kondisi “ghaibah” dari orang yang ada di sekitarmu dan semua penghalang lainnya, dimana kala itu jiwamu hadir bersama Allah Swt. Sementara orang yang belum mencapai derajat ini dalam berdzikir, maka dzikirannya itu adalah simbol pengakuan diri akan beragam kebaikan Allah dan bukan bertujuan untuk menggapai suatu derajat atau menaiki suatu tingkatan ruhani.

6. Janganlah engkau makan, minum, mengenakan pakaian, menggunakan alat transportasi, menikah dan tidur kecuali dalam kondisi darurat dan membutuhkan. Mengerjakan beragam perkara yang mubah bukanlah ciri murid Tijany, kecuali jika guru ruhanimu memerintahkan perkara lainnya.

7. Jangan sampai engkau mengaku-ngaku, sebab orang yang mengaku-ngaku itu biasanya tidak akan beruntung selamanya.

8. Hendaklah dirimu mengistiqomahkan dzikiran sampai jiwamu condong kepada alam ghaib nan suci (alam akhirat) daripada condong kepada alam yang nampak nan bisa diindera (alam dunia). Juga sampai dirimu dapat merindukan pertemuan dengan Allah Swt yang lebih banyak daripada kerinduanmu kepada ibu dan ayah.

9. Jangan sampai engkau bertentangan dengan suatu adat yang berlaku, ikutilah ijma’ para ulama. Karena pengambilan suatu manfaat terbatas pada ittiba’ (mengikuti apa yang sudah ada), sementara lenyapnya seorang murid itu terletak pada ibtida (membuat hal yang baru).

10. Jadikanlah takwa menjadi pondasi dirimu, selalu awasi detikan jiwa dan helaan nafasmu.

11. Saat engkau meminta sesuatu, posisikan dirimu dengan beragam adab yang baik, sandarkan dirimu pada sifat wara’ dan jauhkanlah sifat tamak. Bagian dari dunia yang halal itu akan dihisab dan yang haram akan diberi hukuman. Zuhud wajib dilakukan pada perkara yang haram dan juga sunah dilakukan pada perkara yang mubah, bahkan sebenarnya zuhud itu wajib pada segala perkara.

Saat engkau berada didalam suatu kelompok, buatlah dirimu senantiasa dipenuhi sifat qana’ah (rendah hati).

12. Percayalah kepada Dzat pemberi rezeki dan Pencipta semua makhluk, bertemanlah dengan orang-orang fakir. Jangan engkau tawadhu’ kepada orang kaya lantaran kekayaannya, sikap demikian untuk orang kaya yang shaleh, lantas bagaimana yang harus dilakukan kepada orang kaya yang durjana?! Jika engkau nyatanya tawadhu’ kepada orang kaya lantaran kekayaan dan ia durjana, maka hilanglah dua pertiga agamamu, hal ini sudah dijabarkan dalam hadits.

C. Adab Murid Tijany Kepada Sesama Ikhwan

1. Yang paling penting adalah, engkau duduk bersama mereka dengan penuh kecintaan pada mereka dan dengan kecintaan Allah Swt. Hendaknya mencintai mereka dan mengerahkan semua harta yang dimiliki kepada mereka, melebihi kecintaan terhadap diri sendiri.

Sebagian orang shaleh pernah berkata, “Apabila saudara se-thariqah meminta harta kepadamu,” lantas engkau berkata, “Berapa yang engkau inginkan?” Maka dirinya ini tidak pantas untuk dijadikan sebagai ikhwan dan menjadi sahabat. Sikap yang benar adalah, menyerahkan segala apa yang dimiliki dan engkau mengambil hakmu sesuai yang engkau butuhkan.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِينَ فِي وَالْمُتَجَالِسِينَ فِي وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِي وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِي.

“Allah Tabâraka wa Ta’ala berfirman, ‘Kecintaan-Ku itu wajib bagi orang-orang yang saling mencintai-Ku, orang-orang yang saling duduk bersimpuh untuk-Ku, orang-orang yang saling mengunjungi untuk-Ku dan orang-orang yang membelanjakan hartanya untuk-Ku.” (HR. Mâlik; Ahmad; Al Hakim, dimana Al Hakim menilai shahih hadits ini; Ath-Thabrâni; Al Baihaqi; Ibnu Hibbân dalam Shahih nya; ‘Abd bin Humaid; Asy-Syihab Al Qadhdha’i; Ath-Thayalisi; Al Bazzar; Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya.)

2. Engkau menziarahi dan mencari keberadaan mereka (para ikhwan), sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتِّ، قِيلَ : مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلَّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتُهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam. Ada yang mengatakan: ‘Apa itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Apabila engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya; apabila dia mengundangmu, maka penuhilah undangannya; apabila dia meminta nasehat kepadamu, maka nasehatilah ia; apabila dia bersin, maka pujilah Allah dan ber-tasymit-lah, apabila dia sakit, maka jenguklah dan apabila dia meninggal dunia, maka iringilah jenazahnya,” (HR. Muslim dalam Shahih-nya; Abu Ya’la; Ibnu Hibbân; Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad, dan Tammâm dalam Fawa ‘idnya.)

3. Memaafkan orang yang menzhalimi dan memberi sesuatu kepada orang yang tidak memberi pada dirinya, sikap ini seperti yang tertera dalam sebuah hadits:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: لَقِيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَدَرْتُهُ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَبَدَرَنِي فَأَخَذَ بِيَدِي فَقَالَ: يَا عُقْبَةُ، أَلا أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ أَخْلاقِ أَهْلِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ؟ قَالَ: تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ.

Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir Ra, dia berkata: Suatu hari aku menemui Rasulallah Saw dengan mengejutkan beliau dan aku raih tangan beliau; atau datang kepadaku dengan tiba-tiba dan meraih tanganku, maka Rasulullah Saw bersabda, “Wahai ‘Uqbah, tidakkah engkau ingin aku beritahukan akhlak penduduk bumi dan langit yang paling mulia? Beliau melanjutkan, “Sambunglah orang yang memutuskan hubungan denganmu, berilah orang yang pernah tidak memberimu dan maafkanlah orang yang menzhalimimu. ” (HR. Ahmad -dimana Al Haitsami menilai para periwayatnya merupakan periwayat yang tsigah; Al Hakim; Ath-Thabrani; Al Baihaqi; Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah, Ibnu Wahb; Ar-Rūyāni; dan Ibnu Abi Ad-Dunya.)

4. Mengutamakan kebutuhan mereka daripada kebutuhan diri sendiri, mengutamakan keridhaan mereka daripada keridhaan diri sendiri. Apabila ada yang mencemarkan nama baik guru ruhani, maka ikhwanlah yang harus memperbaikinya dan tidak demikian jika ada orang yang mencemarkan nama baik ikhwan, maka guru ruhani tidak dapat merestorasi hal itu. Hendaknya murid Tijany dapat menjawab tuduhan mereka di saat para ikhwan tidak ada dan terus menjaga kehormatan mereka.

5. Hendaknya engkau seolah-olah menjadi pelayan bagi mereka, dengan keyakinan bahwa mereka itu memiliki keutamaan tersendiri daripada dirimu. Jangan sampai dirimu melihat bahwa engkau memiliki hak dari mereka. Yang benar adalah hendaknya dirimu melihat, bahwa merekalah yang memiliki hak atas dirimu, sehingga dirimu harus meminta maaf dan meminta keridhaan mereka.

6. Hendaknya dirimu memandang, bahwa para ikhwan lain selalu lebih baik dari dirimu dalam semua kondisi, bahkan sampai menilai bahwa tidur mereka itu lebih baik dari pada ibadahmu.

7. Hendaknya engkau memusuhi orang yang memusuhi mereka dan hendaknya mencintai orang yang mencintai mereka, yaitu dengan cara menjadikan keputusannya layaknya keputusan seorang raja yang terletak pada keridhaan rakyatnya.

8. Janganlah engkau sebarluaskan rahasia mereka, bersikap tawaddhu’ lah kepada yang lebih tua dan cintai yang lebih muda, niscaya dengan ini engkau kelak mendapatkan keridhaan Allah Swt.

D. Adab Dalam Talqin.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِ نَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
innallaziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’uunalloh, yadullohi fauqo aidiihim, fa man nakasa fa innamaa yangkusu ‘alaa nafsih, wa man aufaa bimaa ‘aahada ‘alaihulloha fa sayu-tiihi ajron ‘azhiimaa

“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 10)

Talqin terbagi menjadi dua macam: Talqin umum dan talqin khusus. Talqin umum adalah untuk orang banyak secara umum, sementara talqin khusus adalah untuk orang yang juga khusus.

Talqin umum itu seperti talqin yang tertera dalam sebuah hadits:

عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عِبَادِ الدِّيْلِيُّ ، فَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسُوقِ ذِي الْمَجَازِ، وَهُوَ يَقُوْلُ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، تُفْلِحُوْا .

Diriwayatkan dari Rabi’ah bin ‘Abbad Ad-Dîliyyu, dia berkata, suatu hari aku melihat Rasulallah Saw di pasar Dzil Majāz, dimana beliau bersabda, “Wahai segenap manusia, katakanlah, “Tiada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah’, niscaya kalian akan beruntung.” Beliau mengulangi sabda ini berkali-kali. (HR. Ahmad; Al Baihaqi; Al Hakim; Ath-Thabrani; Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah, dan Al-Lâlikâ`i.)

Sedangkan talqin khusus, dalam hal ini adalah rentetan silsilah yang terkenal dan bersambung dikalangan pemuka ulama dan juga para wali, misalnya; diriwayatkan dari ‘Ali Ra, dia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulallah, jalan apakah yang paling dekat menuju Allah, yang paling mudah bagi hamba Allah dan yang paling utama disisi Allah?” Rasulullah Saw menjawab, “Wahai ‘Ali, hendaknya engkau mengistiqamahkan dzikir kepada Allah.” ‘Ali Ra kemudian berkata, “Semua orang berdzikir kepada Allah.” Rasulullah Saw kembali bersabda, “Wahai ‘Ali, hari Kiamat itu tidak akan ditegakkan sampai tidak tersisa lagi orang yang mengatakan, ‘Allah’ di muka bumi ini.” ‘Ali pun kemudian berkata, “Bagaimana Aku berdzikir wahai Rasulallah?” Rasulullah Saw pun kembali bersabda, “Pejamkan matamu dan dengarkanlah perkataan yang aku ucapkan, kemudian katakan seperti yang engkau dengar.” Rasulullah Saw melanjutkan sabdanya, “Lâ Ilaha Illallah,” (Tiada ilah yang patut disembah selain Allah). Beliau mengulangi perkataan tersebut sebanyak tiga kali seraya memejamkan mata, lalu ‘Ali Ra pun menyatakan hal yang sama. Kemudian ‘Ali Ra mentalqinkan hal tersebut kepada Hasan Al Bashri, lalu Hasan mentalqinkannya kepada Habib Al ‘Ajami, kemudian Habib Al ‘Ajami mentalqinkannya kepada Daud Ath-Thâ`i, lalu Daud Ath-Thâ`i menalqinkannya kepada Ma’ruf Al Karkhi, kemudian Ma’ruf Al Karkhi menalqinkannya kepada As-Sara As-Saqathi, lalu As-Sara As-Saqathi mentalqinkannya kepada Al Junaid Al Baghdadi, lalu dari Al Junaid Al Baghdadi inilah ditalqinkan kepada para pemuka agama yang mentarbiyah murid.

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : لَمَّا غَزَا رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ، أَشْرَفَ النَّاسُ عَلَى وَادٍ فَرَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ : اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَ غَالِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ، وَأَنَا خَلْفَ دَابَّةٍ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُوْلُ: لا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ، فَقَالَ لِي: يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ، قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ، قَالَ : أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَيْرٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي، قَالَ : لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari Ra, dia berkata: Di saat Rasulullah Saw berada dalam perang Khaibar, sewaktu itu orang-orang berada di atas bukit, mereka mengangkat suara menyerukan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah” (Allah Maha Besar, Allah Maha besar, Allah Maha Besar, Tiada ilah yang patut disembah selain Allah). Maka Rasulullah Saw bersabda, “Lirihkan suara kalian, kalian tidaklah menyeru Dzat yang tuli dan ghaib, kalian itu menyeru kepada Dzat yang Maha mendengar lagi dekat. Dia bersama kalian.” Saat itu aku berada dibelakang hewan tunggangan Rasulullah Saw dan beliau mendengar aku mengatakan, “La Haula Wala Quwwata Illa Billah” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah). Lalu Rasulullah bersabda kepadaku, “Wahai ‘Abdullah bin Qais,” Aku menyahut, “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulallah.” Lalu beliau bersabda, “Tidakkah mau aku tunjukkan kepadamu salah satu dari perbendaharaan surga?”, Aku berkata, “Iya, wahai Rasulallah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.” Lalu beliau bersabda, “La Haula wala Quwwata Illa Billâh” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah). (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; Abu Daud; Ahmad; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al Kubra, Al Baihaqi; Al Bazzar dan Al-Lalika`i.)

Ini merupakan contoh talqin khusus untuk Abu Musa dalam kalimat, “La Haula wala Quwwata Illa Billah,” dimana berlaku pula talqin secara umum bagi dirinya saat Rasulullah Saw mentalqinkan kalimat ini kepada umatnya. Sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw bersabda,

أَكْثَرُوا مِنْ قَوْلِ لاَ حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ، فَإِنَّهَا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ.

“Perbanyaklah kalian mengucapkan, Lâ Haula wala Quwwata Illa Billâh’ (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah) sebab itu adalah salah satu dari perbendaharaan surga. ” (HR. Ahmad; Ath-Thabrâni dalam Ad-Du’a, dari riwayat Abu Hurairah; Ath-Thabrâni dari riwayat Hazim bin Harmalah; Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahân, Ath-Thabrâni dalam Ad-Du’a dari riwayat ‘Umar bin Al Khaththâb; Ath-Thabrani dalam Ad-Du’a, dari riwayat Sa’d bin Abi Waqqash; dan juga Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya dari riwayat Abu Bakar Ash-Shiddiq.)

Rasulullah Saw menyatakan hadits ini kepada umatnya dengan lisan, dimana beliau juga mengajarkan ‘Ali Ra dan Abu Musa Al Asy’ari dengan lisannya, akan tetapi dzikirnya ‘Ali Ra satu kali dengan ucapan, “La Ilaha Illallah “yaitu dengan tatacara yang Rasulullah Saw ajarkan, setara dengan dzikirannya seluruh umat. Begitu juga dengan dzikirannya Abu Musa Al Asy’ari satu kali dengan ucapan, “La Haula wala Quwwata Illa Billâh,” setara dengan dzikirannya seluruh umat dengan lafazh tersebut.

“Orang yang ingin mengetahui sanad thariqahku, maka sungguh sanad thariqahku ini aku ambil dari Rasulillah Saw secara terjaga dan tidak dalam kondisi tidur.”

(Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra)

Di saat talqin dengan izin khusus ini memiliki keistimewaan yang besar, yaitu berupa berlipat gandanya perkara yang dilakukan, maka para wali nujaba dari umat ini lebih gandrung pada pemilik izin khusus, mereka selalu berusaha mendapatkan talqin wirid dengan izin yang khusus ini, serta dengan rentetan sanad yang bersambung hingga Rasulullah Saw.

Sementara ada sebagian ulama, yang Allah Swt buat manusia lainnya cemburu dengannya, sosoknya enggan melakukan pancarian sanad talqin tersebut kecuali Rasululah lah yang men-talqin-kan sendiri kepadanya tanpa ada perantara, secara terjaga dan tidak dalam kondisi tertidur, dimana Rasulullah Saw men-talqin-kannya dengan talqin khusus dan inilah maqam Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sebagaimana yang dinyatakan dalam Kasyful Hijab,

Ε. Legalitas Tarbiyah Dalam Thariqah Tijaniyyah

Terkait dengan pemberian izin, tidak ada seorang pun yang menyeru Allah Swt kecuali dia memegang izin tertentu, bahkan sampai para nabi sekalipun, hal ini seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَّدَا عِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِ ذْنِهٖ وَسِرَا جًا مُّنِيْرًا
wa daa’iyan ilallohi bi-iznihii wa siroojam muniiroo

“dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 46)

Inilah sebagian ciri para nabi terdahulu dan ulama umat kita ini. Sebab para umat terdahulu, saat nabi mereka meninggal dunia, maka baru ada nabi lagi setelah seratus tahun kemudian, sedangkan kondisi umatnya Nabi Muhammad Saw; beliau sendiri pernah bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib Ra,

أَلا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُوْنَ مِنْ مُوسَى؟ إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ مِنْ بَعْدِي

“Tidakkah engkau ingin menjadi bagian dariku layaknya posisi Harun dari Musa?, akan tetapi tidak ada nabi setelahku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; At-Tirmidzi; Ahmad; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi; Abdurrazzâq; An-Nasa’i dalam Sunan Al Kubra dari riwayat Sa’d bin Abi Waqqash; At-Tirmidzi dan Ahmad dari riwayat Jabir bin ‘Abdillah; Ahmad dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri; Ahmad dan An-Nasa’i dalam As-Sunan, dari riwayat Fathimah binti ‘Ali; dari Asma binti ‘Umais Ra; Ibnu Abi Syaibah dari riwayat Zaid bin Arqam.)

Para ulama Nabi Muhammad Saw layaknya para nabi di umat terdahulu. Oleh karena itu, sang ulama haruslah memiliki rentetan izin yang shahih kepada empu izin tersebut, yaitu Rasulullah Saw.

Sementara tentang perjanjian, maksudnya adalah janji dan talqin yang diambil dari semua orang, yaitu pada hari yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala abadikan dalam firman-Nya,

وَ اِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْۤ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ اَشْهَدَهُمْ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ ۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۗ قَا لُوْا بَلٰى  ۛ  شَهِدْنَا  ۛ  اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ 
wa iz akhoza robbuka mim baniii aadama ming zhuhuurihim zurriyyatahum wa asy-hadahum ‘alaaa angfusihim, a lastu birobbikum, qooluu balaa syahidnaa, ang taquuluu yaumal-qiyaamati innaa kunnaa ‘an haazaa ghoofiliin

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 172)

Dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: أَخَذَ اللَّهُ الْمِيثَاقَ مِنْ ظَهْرِ آدَمَ بِنَعْمَانَ – يَعْنِي عَرَفَةَ – فَأَخْرَجَ مِنْ صُلْبِهِ كُلَّ ذُرِّيَّةٍ ذَرَأَهَا، فَنَثَرَهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ كَالذَّرِّ، ثُمَّ كَلَّمَهُمْ قِبَلاً ، قَالَ : أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ, أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِن قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ.

“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi Saw, beliau bersabda, ‘Allah mengambil perjanjian dari penampakan wujud anak adam di ‘Arafah, dimana Allah mengeluarkan dari tulang sulbinya (Adam) setiap keturunan secara turun-temurun, kemudian Allah tebar dan pisahkan mereka layaknya biji jagung lalu Allah mengajak mereka berbincang-bincang secara langsung, seraya berkata, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’ Atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu? (HR. Ahmad; An-Nasâ`i; Ibnu Abi Hâtim; Ibnu Abi ‘Ashim; Al Hakim; Al Baihaqi, dimana dia menilainya shahih, Al Firyani dalam Al Qadr.)

Lalu secara umum manusia melupakan hal ini lantaran ruh itu ditiupkan ke jasad, juga lantaran dalam jasad terdapat gelapnya kebodohan. Para nabi As, Ash-Shiddiqin, para pembesar wali dan orang-orang shaleh lah yang kerap menyebutkan pembahasan ini kepada manusia.

Para wali yang kamil, di saat mereka mengambil ikrar janji dari sekelompok manusia, mereka selalu mengingatkan manusia akan kalimat, “La Ilaha Illallah” (Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah). Inilah kalimat yang para ruh janjikan kepada Allah Swt di alam bibit dan alam ruh. Maka apabila ada seseorang yang mengingatkanmu akan kalinat ini dan membuat dirimu mencintai Allah Swt, maka dia adalah gurumu. Oleh karena itu, bersandarlah padanya, dimana kecintaan pada beliau sejatinya adalah kecintaan kepada Allah juga, serta ber-istimdad darinya juga merupakan bentuk ber-istimdad kepada Allah Swt.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ قَالَ: لَيُؤْتَيَنَّ بِرِجَالٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ، يَغْبِطُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ بِمَنَازِهِمْ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، يَكُوْنُوْنَ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : الَّذِينَ يُحَرِّبُوْنَ اللَّهَ إِلَى النَّاسِ وَ يُحَبِّبُوْنَ النَّاسَ إِلَى اللَّهِ.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dari Rasulullah Saw, bahwa beliau bersabda, “Pada hari Kiamat kelak akan ada orang-orang yang bukan merupakan para nabi dan juga bukan para syahid. Para nabi dan syahid ini mencemburui mereka lantaran kedudukan mereka di sisi Allah, mereka (orang-orang ini) berada pada mimbar-mimbar dari cahaya.” Mereka berkata, “Siapakah mereka wahai Rasulallah?” Beliau menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang membuat manusia mencintai Allah dan menjadikan Allah cinta pada manusia.” (HR. Al Baihaqi, dengan lafazh ini dalam Asy-Syu’ab, Abu Asy-Syaikh, dan Ats-Tsa’alibi menyebutkan dalam tafsirnya. Sedangkan dengan lafazh

“إنَّ أَحَبُّ الْعِبَادِ إِلى اللهِ الَّذِينَ يُحِبُّونَ اللهَ، وَيُحَرِّبُونَ الله إلى عِبَادِهِ”

(Sungguh hamba yang paling dicintai Allah adalah orang-orang yang cinta kepada Allah dan yang menjadikan hamba-Nya mencintai Allah), hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi dalam As-Sunan, Al Hâkim; Ahmad dalam Az-Zuhd, Waki’; Ibnu Al Mubarak; Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Al Auliya dari riwayat Abu Ad-Darda)

Inilah tingkatan paling tinggi seorang guru ruhani, mereka inilah wakil dari kenabian dalam menggiring dan menunjukkan jalan kepada Allah Swt. Seorang guru bersama muridnya menempuh jalan menuju Allah Swt dengan mengikuti Rasulullah Saw, seorang guru bersama muridnya juga menempuh jalan pensucian diri dari hal-hal yang buruk. Apabila jiwanya telah suci dan kalbunya telah jernih, maka akan tersingkap keindahan tauhid setelah sebelumnya terhalang dan gelap.

Dzikiran yang dapat membuat futuh dan wushul adalah dzikiran yang diambil melalui jalur perizinan dan talqin khusus, dari seorang guru pewaris Nabi Saw dan telah wushul kepada Allah Swt, telah futuh dan sanad dirinya bersambung kepada Rasulullah Saw.

Perlu diketahui, bahwa dzikiran -yang dapat membuat orang futuh dan wushuk itu adalah dzikiran yang diambil melalui jalur perizinan dan talqin khusus dari seorang guru pewaris nabi dan juga telah wushul kepada Allah Swt, telah futuh dan sanad dirinya bersambung kepada Rasulullah Saw.

Sementara talqin secara umum tujuannya adalah mengangkismu dari lingkup kekufuran menuju lingkup Islam yang sebenarnya, sehingga dirimu menjadi bagian dari kaum muslimin, engkau memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum muslimin lainnya.

Apabila ada salah satu dari beragam syarat di atas dalam pengambilan janji dan talqin yang kurang, maka kehancuran orang ini lebih dekat daripada keselamatannya. Sebab, setiap wiridan khusus itu selalu dibarengi dengan beragam ujian, orang-orang yang jujur ahwalnya lah yang hanya akan mengambil dzikiran semacam ini. Sang guru ahli tarbiyah inilah yang menanggung semua ujian murid dan orang-orang yang mencintainya. Sementara jika hal ini dilakukan oleh seorang guru yang tidak dapat mengangkat segala ujian ini, maka ujian itu malah akan menimpanya bertubi-tubi, dimana dirinya tidak bisa menolaknya. Oleh karena itu, wiridan khusus tidaklah boleh dibaca kecuali dengan izin guru; sang pemilik talqin dan bukan orang lainnya.

Perlu diketahui pula, bahwa rahasia seorang guru itu terletak dalam wiridannya, barangsiapa yang menekuni wiridan tersebut, maka dia telah memperoleh rahasia sang guru, sedangkan orang yang tidak menekuninya, maka tidak ada futuh dan juga wushul bagi dirinya.

Dalam thariqahnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, setiap orang yang mengambil wiridan lengkap dengan semua persyaratannya, maka Nabi Muhammad Saw telah memberikan jaminan baginya; yaitu yang bersangkutan tidak meninggal dunia kecuali telah menjadi seorang wali yang futuh, sungguh jaminan ini tidaklah akan diingkari. Setiap pemeluk thariqah ini merupakan orang-orang yang dicintai dan diinginkan oleh Allah Swt, thariqah Tijaniyyah ini selalu memperhatikan bagaimanapun ahwal mereka, dengan catatan selagi mereka tidak merasa aman dari makar Allah.

Rahasia seorang guru terletak dalam wiridannya, Barangsiapa yang menekuni wiridan tersebut, maka dia telah memperoleh rahasia sang guru, sedangkan orang yang tidak menekuninya, maka tidak ada futuk dan juga wushul baginya.

Saat sang murid di-talqin, dia duduk dengan posisi layaknya orang yang sedang shalat di hadapan guru ruhani dengan segenap adab dan penuh penghormatan; yaitu dengan menaruh kedua tangan di atas paha, lalu guru men-talqin-kannya thariqah ini setelah sebelumnya menasehati untuk bertobat dari segala dosa yang pernah dia lakukan.

Prosesi seperti ini asalnya adalah bal’at yang dibaiatkan oleh Rasulullah Saw kepada para sahabatnya, dimana para sahabat berbaiat kepada Rasulullah Saw; baik itu untuk selalu berserah diri, untuk berjihad, untuk berhijrah, ataupun untuk suatu hal baik secara umum, semua ini banyak tertera didalam hadits-hadits shahih pada “Bab Bai’at.” Lihat kembali pada buku-buku hadits tersebut jika engkau mau.

Baiatnya seorang murid kepada gurunya merupakan baiat untuk kebaikan dan juga termasuk mengikuti tuntunan Rasulullah Saw.

Sementara jika yang hendak masuk thariqah ini adalah seorang wanita, maka guru tersebut (muqaddam) tidaklah menjabat tangannya, bahkan beliau akan duduk berjauhan dengannya dan men-talqin-kan thariqah tanpa berjabat tangan, dimana sang wanita tidak boleh mengangkat suaranya saat talqin berlangsung. Hal yang paling utama dalam prosesi men-talqin seorang wanita adalah, di-talqin-kan oleh wanita lain yang mewakili guru (muqaddam), sesuai dengan kapasitas izin sang muqaddam, baik muqayyad maupun muthlak. Bahkan guru ruhani (muqaddam) pun tidak boleh melihat sang wanita itu saat men-talqin, beliau hendaknya memejamkan mata, begitu pula sang wanita yang akan di-talqin.

Jika sang murid sudah berjanji untuk ber-suhbah secara ruhani, maka murid tersebut tidak dibenarkan menyembunyikan ahwalnya dari guru ruhani, karena hal ini tergolong berkhianat. Sang murid juga harus menceritakan mimpi yang pernah dilihatnya kepada guru ruhani, serta tidak menanti tafsiran mimpi itu dari beliau, sebab itulah sejatinya suatu adab. Jika sang guru menafsirkan mimpi itu, maka itulah tafsirannya dan engkau harus mensyukurinya, namun jika beliau tidak menafsirkannya, maka janganlah engkau menanyai beliau tentang tafsiran mimpi itu.

Perlu diketahui, bahwa pemberian izin dalam thariqah memiliki tingkatan tersendiri, dimana setiap tingkatan ada izinnya. Oleh karena itu, izin orang yang tidak memiliki tingkatan tidaklah berlaku, sebagaimana juga tidak ada tingkatan bagi orang yang tidak memiliki izin. Baik izin itu diberikan secara umum, yang membuat orang itu termasuk pengikut thariqah, atau izin bagi seorang murid sehingga dirinya diangkat menjadi seorang muqaddam, atau juga izin bagi seorang muqaddam sehingga dirinya menjadi khalifah. Tiap tingkatan berisikan adab yang harus diperhatikan oleh setiap orang, sesuai dengan derajat izin yang diberikan.

Barangsiapa yang memperoleh sebuah ijazah, dimana dia bukan pada tingkatannya, maka ijazahnya itu tidak lah bermanfaat dan barangsiapa yang ijazah-nya tidak sah, maka dia tidak pula memiliki tingkatan tersebut. Tidak ada seorangpun yang memiliki keutamaan dari yang lainnya dalam Ijazah yang dimiliki oleh seseorang. Sebab, “Berangan-angan atas suatu keutamaan itu termasuk hal yang dapat meruntuhkan amal perbuatan.” Oleh karena itu, hendaknya dia menganggap dirinya lebih rendah dari yang lainnya dalam thariqah, melihat dirinya sebagai pelayan yang lainnya, juga sebagai pelayan mereka bagi guru ruhani, yaitu orang yang menyampaikan apa yang guru ruhani berikan kepada para murid.

Dengan demikian tidaklah dikatakan, bahwa thariqah itu muncul pada negara ini berkat dirinya, atau dia sudah melakukan ini dan itu. Jika ada yang mengatakan hal demikian, maka dia telah memandang dengan pandangan kebencian dan melecehkan guru ruhani, dan guru ruhani malah akan menolaknya dari hadrah nan suci menuju tempat yang sangat jauh.

Cukuplah guru murabbi merasa bangga apabila sang murid dapat berdzikir dengan menyebutkan salah satu asma` Allah, dimana dengannya pula guru ruhani mentarbiyah mereka dan dengan itu pulalah guru ruhani membuat sang murid wushul kepada Allah Swt.

F. Adab Dalam Berdzikir

1. Ketika berdzikir disunahkan untuk duduk seperti duduknya orang shalat, atau bersila.

2. Badan, pakaian dan juga tempat saat berdzikir harus suci. Jika tidak, maka bacaan wiridannya batal.

3. Jika hendak membaca wazhifah, maka dia harus berada di tempat yang suci dan mampu menampung minimal enam orang.

4. Hendaknya menaruh kedua tangan di atas paha dan tidak dia memejamkan mata kecuali jika hal itu dapat membuat kalbunya lebih khusyu’ ketika berdzikir.

5. Disunahkan untuk mewangikan tempat dimana dia berdzikir, mengenakan pakaian yang bagus, suci dan baunya wangi. Sebab, majelis dzikir selalu dihadiri oleh para malaikat dan makhluk Allah lainnya, seperti yang tertera dalam hadits shahih.

6. Dianjurkan membaca wiridan dengan tartil atau perlahan, tidak membacanya dengan cepat dan salah dalam pelafalan.

7. Dianjurkan tidak menolah-noleh saat berdzikir.

8. Dianjurkan membaca hailalah dan wazhifah secara jahar (dengan suara yang keras) bagi laki-laki dan tidak demikian bagi perempuan. Dianjurkan pula membaca wiridan (pagi dan sore) dengan secara sirr (dengan suara lirih).

9. Dianjurkan mengubah posisi duduk saat wazhifah, yaitu sebelum urutan ketujuh dalam membaca shalawat jauharatul kamat menjadi posisi layaknya duduk dalam shalat, hal ini sebagai bentuk penghormatan bagi yang menghadiri prosesi pembacaan wazhifah, dimana dikatakan dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, bahwa wazhifah itu dihadiri oleh Rasulullah Saw dan khalifah yang empat (Abu Bakar Ra, ‘Umar Ra, ‘Utsman Ra dan ‘Ali Ra).

10. Dianjurkan mengangkat kedua tangan menjadi posisi berdo’a- pada pembacaan shalawat jauharatul kamal yang terakhir.

11. Harus berkumpul bersama ikhwan saat pembacaan hailalah dan wazhifah jika di daerah itu ada ikhwan-, hal ini merupakan salah satu syarat dalam pelaksanaannya. Namun jika tidak menemukan ikhwan di sekitarnya, maka dia boleh mengerjakannya seorang diri. Sementara dalam pembacaan wiridan pagi dan petang, dianjurkan membacanya sendiri.

12. Dianjurkan menghadirkan makna bacaan dzikir, hendaknya dirinya berusaha memasukkan kalbunya ke dalam wiridan dan juga dalam lafazh yang diucapkan.

13. Dianjurkan menghadirkan gambaran Rasulullah Saw, seolah-olah engkau sedang duduk di hadapan Rasulullah Saw dan memohon madad dari baginda Rasulillah Saw, baik berupa anwar maupun asrar. Hal itu dilakukan sebelum dan saat dirimu berdzikir.

Jika engkau belum berhasil menghadirkan gambaran Rasulullah Saw, maka cobalah hadirkan gambaran empu thariqah ini (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra). Jika engkau juga belum bisa menghadirkan gambaran Sayyidi Syaikh Ra, cobalah hadirkan gambaran gurumu dari para muqaddam dan khalifah yang engkau kenal. Sebab, semuanya ini ada dalam satu rentetan, maka jika engkau telah berhasil menghadirkan gambaran yang pertama, maka seolah-olah engkau telah menghadirkan gambaran yang terakhir tadi (gambaran Rasulullah Saw).

14. Orang yang terluput menghadirkan makna dzikiran, atau kekhusyu’annya pudar saat membaca wiridan atau wazhifah, maka dia bisa mengganti itu dengan membaca shalawat fatih satu kali atau membaca shalawat jauharatul kamal sebanyak tiga kali setelah membaca wiridan atau wazhifah.

15. Dianjurkan tidak makan dan minum saat membaca wiridan. Sebab, makan sesuatu sekalipun kadarnya sedikit dapat membatalkan wiridannya. Sementara makan dalam porsi yang banyak, maka itu dapat membatalkan wazhifah-nya.

16. Dianjurkan selalu dalam kondisi tenang dan diam setelah selesai membaca wiridan untuk menerima anwar serta detikan yang ada dalam kalbu. Dianjurkan pula agar dirinya selalu memendam hawa (kecondongan diri yang negatif), sehingga anwar dari dzikiran yang dibaca itu dapat meliputi semua kondisi jiwa.

17. Dianjurkan duduk dalam posisi bershaff atau bersila atau dalam berbentuk memutar.

18. Hendaknya sang murid memposisikan diri seperti biasanya dan melakukan apa yang biasa dia lakukan.

19. Dianjurkan berdo’a setelah membaca dzikiran, sebab waktu itu adalah waktu yang mustajab.

Perlu diketahui, semua adab yang telah kami sebutkan diatas telah dilakukan oleh pemeluk thariqah Tijaniyyah ini sejak awal dan juga orang-orang yang mengikuti mereka, dimana mereka semua dapat wushul kepada Allah Swt dan meraih maqamat tertinggi. Thariqah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ini merupakan thariqah yang cepat membuat seseorang wushul kepada Allah Swt, yaitu dengan keutamaan yang dimiliki Sayyidi Syaikh Ra; berupa kedudukan dan kecintaan beliau di sisi Allah Swt.

Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY