
Elsubha.com –Adab Dalam Talqin.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِ نَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
innallaziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’uunalloh, yadullohi fauqo aidiihim, fa man nakasa fa innamaa yangkusu ‘alaa nafsih, wa man aufaa bimaa ‘aahada ‘alaihulloha fa sayu-tiihi ajron ‘azhiimaa
“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 10)
Talqin terbagi menjadi dua macam: Talqin umum dan talqin khusus. Talqin umum adalah untuk orang banyak secara umum, sementara talqin khusus adalah untuk orang yang juga khusus.
Talqin umum itu seperti talqin yang tertera dalam sebuah hadits:
عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عِبَادِ الدِّيْلِيُّ ، فَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسُوقِ ذِي الْمَجَازِ، وَهُوَ يَقُوْلُ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، تُفْلِحُوْا .
Diriwayatkan dari Rabi’ah bin ‘Abbad Ad-Dîliyyu, dia berkata, suatu hari aku melihat Rasulallah Saw di pasar Dzil Majāz, dimana beliau bersabda, “Wahai segenap manusia, katakanlah, “Tiada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah’, niscaya kalian akan beruntung.” Beliau mengulangi sabda ini berkali-kali. (HR. Ahmad; Al Baihaqi; Al Hakim; Ath-Thabrani; Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah, dan Al-Lâlikâ`i.)
Sedangkan talqin khusus, dalam hal ini adalah rentetan silsilah yang terkenal dan bersambung dikalangan pemuka ulama dan juga para wali, misalnya; diriwayatkan dari ‘Ali Ra, dia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulallah, jalan apakah yang paling dekat menuju Allah, yang paling mudah bagi hamba Allah dan yang paling utama disisi Allah?” Rasulullah Saw menjawab, “Wahai ‘Ali, hendaknya engkau mengistiqamahkan dzikir kepada Allah.” ‘Ali Ra kemudian berkata, “Semua orang berdzikir kepada Allah.” Rasulullah Saw kembali bersabda, “Wahai ‘Ali, hari Kiamat itu tidak akan ditegakkan sampai tidak tersisa lagi orang yang mengatakan, ‘Allah’ di muka bumi ini.” ‘Ali pun kemudian berkata, “Bagaimana Aku berdzikir wahai Rasulallah?” Rasulullah Saw pun kembali bersabda, “Pejamkan matamu dan dengarkanlah perkataan yang aku ucapkan, kemudian katakan seperti yang engkau dengar.” Rasulullah Saw melanjutkan sabdanya, “Lâ Ilaha Illallah,” (Tiada ilah yang patut disembah selain Allah). Beliau mengulangi perkataan tersebut sebanyak tiga kali seraya memejamkan mata, lalu ‘Ali Ra pun menyatakan hal yang sama. Kemudian ‘Ali Ra mentalqinkan hal tersebut kepada Hasan Al Bashri, lalu Hasan mentalqinkannya kepada Habib Al ‘Ajami, kemudian Habib Al ‘Ajami mentalqinkannya kepada Daud Ath-Thâ`i, lalu Daud Ath-Thâ`i menalqinkannya kepada Ma’ruf Al Karkhi, kemudian Ma’ruf Al Karkhi menalqinkannya kepada As-Sara As-Saqathi, lalu As-Sara As-Saqathi mentalqinkannya kepada Al Junaid Al Baghdadi, lalu dari Al Junaid Al Baghdadi inilah ditalqinkan kepada para pemuka agama yang mentarbiyah murid.
عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : لَمَّا غَزَا رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ، أَشْرَفَ النَّاسُ عَلَى وَادٍ فَرَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ : اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَ غَالِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ، وَأَنَا خَلْفَ دَابَّةٍ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُوْلُ: لا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ، فَقَالَ لِي: يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ، قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ، قَالَ : أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَيْرٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي، قَالَ : لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.
Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari Ra, dia berkata: Di saat Rasulullah Saw berada dalam perang Khaibar, sewaktu itu orang-orang berada di atas bukit, mereka mengangkat suara menyerukan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah” (Allah Maha Besar, Allah Maha besar, Allah Maha Besar, Tiada ilah yang patut disembah selain Allah). Maka Rasulullah Saw bersabda, “Lirihkan suara kalian, kalian tidaklah menyeru Dzat yang tuli dan ghaib, kalian itu menyeru kepada Dzat yang Maha mendengar lagi dekat. Dia bersama kalian.” Saat itu aku berada dibelakang hewan tunggangan Rasulullah Saw dan beliau mendengar aku mengatakan, “La Haula Wala Quwwata Illa Billah” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah). Lalu Rasulullah bersabda kepadaku, “Wahai ‘Abdullah bin Qais,” Aku menyahut, “Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulallah.” Lalu beliau bersabda, “Tidakkah mau aku tunjukkan kepadamu salah satu dari perbendaharaan surga?”, Aku berkata, “Iya, wahai Rasulallah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.” Lalu beliau bersabda, “La Haula wala Quwwata Illa Billâh” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah). (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; Abu Daud; Ahmad; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al Kubra, Al Baihaqi; Al Bazzar dan Al-Lalika`i.)
Ini merupakan contoh talqin khusus untuk Abu Musa dalam kalimat, “La Haula wala Quwwata Illa Billah,” dimana berlaku pula talqin secara umum bagi dirinya saat Rasulullah Saw mentalqinkan kalimat ini kepada umatnya. Sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw bersabda,
أَكْثَرُوا مِنْ قَوْلِ لاَ حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ، فَإِنَّهَا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ.
“Perbanyaklah kalian mengucapkan, Lâ Haula wala Quwwata Illa Billâh’ (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah) sebab itu adalah salah satu dari perbendaharaan surga. ” (HR. Ahmad; Ath-Thabrâni dalam Ad-Du’a, dari riwayat Abu Hurairah; Ath-Thabrâni dari riwayat Hazim bin Harmalah; Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahân, Ath-Thabrâni dalam Ad-Du’a dari riwayat ‘Umar bin Al Khaththâb; Ath-Thabrani dalam Ad-Du’a, dari riwayat Sa’d bin Abi Waqqash; dan juga Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya dari riwayat Abu Bakar Ash-Shiddiq.)
Rasulullah Saw menyatakan hadits ini kepada umatnya dengan lisan, dimana beliau juga mengajarkan ‘Ali Ra dan Abu Musa Al Asy’ari dengan lisannya, akan tetapi dzikirnya ‘Ali Ra satu kali dengan ucapan, “La Ilaha Illallah “yaitu dengan tatacara yang Rasulullah Saw ajarkan, setara dengan dzikirannya seluruh umat. Begitu juga dengan dzikirannya Abu Musa Al Asy’ari satu kali dengan ucapan, “La Haula wala Quwwata Illa Billâh,” setara dengan dzikirannya seluruh umat dengan lafazh tersebut.
“Orang yang ingin mengetahui sanad thariqahku, maka sungguh sanad thariqahku ini aku ambil dari Rasulillah Saw secara terjaga dan tidak dalam kondisi tidur.”
(Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra)
Di saat talqin dengan izin khusus ini memiliki keistimewaan yang besar, yaitu berupa berlipat gandanya perkara yang dilakukan, maka para wali nujaba dari umat ini lebih gandrung pada pemilik izin khusus, mereka selalu berusaha mendapatkan talqin wirid dengan izin yang khusus ini, serta dengan rentetan sanad yang bersambung hingga Rasulullah Saw.
Sementara ada sebagian ulama, yang Allah Swt buat manusia lainnya cemburu dengannya, sosoknya enggan melakukan pancarian sanad talqin tersebut kecuali Rasululah lah yang men-talqin-kan sendiri kepadanya tanpa ada perantara, secara terjaga dan tidak dalam kondisi tertidur, dimana Rasulullah Saw men-talqin-kannya dengan talqin khusus dan inilah maqam Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sebagaimana yang dinyatakan dalam Kasyful Hijab,
Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
