
Elsubha.com – Pondasi Ke-9 : Pondasi Segala Pondasi
“Janganlah engkau berada (masuk) diantara Allah Swt dan Rasul-Nya Saw.”
Didalam Al Qur’an ada kalimat khusus antara Allah dan Rasululllah Saw, kalimat yang tidak bisa ditafsirkan. Kalimat itu untuk peribadatan dan bukan untuk diungkapkan. Sebab kalimat itu merupakan adab luhur diatas pengetahuan manusia atau bisa disebut juga sebagai rumusan dan rahasia Allah Swt.
Beberapa contoh kalimat didalam Al Qur’an yang didalamnya terdapat kalimat khusus antara Allah dan Rasulullah Saw, seperti ketika Allah Swt berfirman untuk nabi Muhammad Saw,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَا لْمُنٰفِقِيْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
yaaa ayyuhan-nabiyyuttaqillaaha wa laa tuthi’il-kaafiriina wal-munaafiqiin, innalloha kaana ‘aliiman hakiimaa
“Wahai nabi! Bertakwalah engkau kepada Allah dan janganlah engkau menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 1)
Atau firman Allah Swt lainnya,
وَاِ ذْ تَقُوْلُ لِلَّذِيْۤ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَاَ نْعَمْتَ عَلَيْهِ اَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَا تَّقِ اللّٰهَ وَتُخْفِيْ فِيْ نَفْسِكَ مَا اللّٰهُ مُبْدِيْهِ وَتَخْشَى النَّا سَ ۚ وَا للّٰهُ اَحَقُّ اَنْ تَخْشٰٮهُ ۗ فَلَمَّا قَضٰى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنٰكَهَا لِكَيْ لَا يَكُوْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ حَرَجٌ فِيْۤ اَزْوَا جِ اَدْعِيَآئِهِمْ اِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۗ وَكَا نَ اَمْرُ اللّٰهِ مَفْعُوْلًا
wa iz taquulu lillaziii an’amallohu ‘alaihi wa an’amta ‘alaihi amsik ‘alaika zaujaka wattaqillaaha wa tukhfii fii nafsika mallohu mubdiihi wa takhsyan-naas, wallohu ahaqqu ang takhsyaah, fa lammaa qodhoo zaidum min-haa wathoroo, zawwajnaakahaa likai laa yakuuna ‘alal-mu-miniina harojung fiii azwaaji ad’iyaaa-ihim izaa qodhou min-hunna wathoroo, wa kaana amrullohi maf’uulaa
“Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, “Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 37)
Maka pada ayat diatas, yang dimaksud dengan ketaqwaan dan takut disini adalah perkara yang tidak mampu diketahui oleh akal manusia yang terbatas.
Ia adalah taqwa yang taqwa sendiri tidak mengetahui maknanya.
Ia adalah takut yang rasa takut sendiri tidak mengetahui kadarnya.
Maka jika ada seorang muslim berkata kepada Rasulullah Saw, seperti yang tertera didalam Al Quran
اتَّقِ اللّٰهَ
“Bertaqwalah kepada Allah,” maka ia telah kafir.
Atau ada yang berkata kepada Rasulullah Saw
وَتَخْشَى النَّا سَ
“Engkau takut pada manusia,” maka ia termasuk orang yang durjana.
Maka ketika membaca ayat Al Qur’an yang didalamnya terdapat kalimat khusus antara Allah Swt dan Rasulullah Saw, hendaknya kita berniat untuk beribadah pada Allah Swt, dengan niatan mewakili Allah, yaitu dengan cara kita membaca bismilahirrahmanirrahim
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
bismillaahir-rohmaanir-rohiim
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
bismillaahir-rohmaanir-rohiim
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
di permulaan pembacaan ayat Al Qur’an tersebut.
Menafsirkan ayat-ayat semacam ini merupakan su’ul adab kepada Rasulullah Saw, dimana engkau nimbrung masuk diantara Allah dan Rasul-Nya yang memiliki kedudukan yang tinggi.
Namun masih saja kita menemukan para ulama yang terus saja menafsirkan firman Allah Swt, “Alif Lâm Mim, Kâf Ha Ya ‘Aîn Shâd, Alif Lâm Mim Shâď dan yang semisal dengannya, mereka sejatinya tidak tahu bahwa ini adalah rumusan dan juga ilmu antara Allah dan Rasul-Nya Saw; antara dzat yang mencinta dan yang dicinta. Hal ini tidak diketahui oleh seorang nabi, tidak pula seorang wali, bahkan tidak pula malaikat.
Maka janganlah engkau mendekati kawasan ini, sebab engkau akan capek, engkau akan hancur dan dihancurkan sementara engkau tidak tahu akan hal itu.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
