You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-8 : Kesatupaduan dan Keterpisahan Jiwa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-8 :  Kesatupaduan dan Keterpisahan Jiwa

Kesatupaduan, keterpisahan,  keterbentangan, keterhimpunan,  kemenangan dan kekalahan jiwa, inilah pondasi ilmu dan obat jiwa.

Ruh merupakan cahaya dari alam ‘amr (Alam ketuhanan).

Ruh tidak bisa menerima benda, ia hanya bisa menerima cahaya.

Ruh tidak bisa meminta pertolongan kecuali kepada Allah dan tidak pula bisa melihat kecuali pada Dzat Allah, bahkan ruh orang kafir sekalipun.

Al Fatqu maknanya keterpisahan, sementara Ar-Ratqu maknanya adalah kesatupaduan. Allah Swt berfirman,

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ كَا نَـتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَا ۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
a wa lam yarollaziina kafaruuu annas-samaawaati wal-ardho kaanataa rotqong fa fataqnaahumaa, wa ja’alnaa minal-maaa-i kulla syai-in hayy, a fa laa yu-minuun

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 30)

Al Infihaq maknanya keterbentangan dan penuh, dimana lawan katanya adalah keterhimpunan antara satu dengan yang lainnya, hal ini sebagaimana yang tertera didalam sebuah hadits

فَيُقَدِّمُهُ إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا قَامَ إِلَى  بَابِ الْجَنَّةِ انْفَهَقَتْ لَهُ الْجَنَّةُ فَرَأَى مَا فِيهَا مِنَ الْخَبْرَةِ وَالسُّرُورِ 

“Digiringnya kedepan pintu surga, maka  ketika ia berdiri di depan pintu surga, terbentanglah surga baginya, maka lapun dapat melihat kesenangan dan kebahagiaan didalamnya.”

Sementara jasad adalah benda atau materi yang ada pada alam penciptaan, sejatinya ia tidak bisa menerima unsur cahaya dalam kondisi apapun.

Sedangkan Jiwa mampu menerima cahaya yang lembut dan materi yang kasar, ia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling ajaib. Oleh karena itu, Allah Swt bersumpah dengannya, seperti yang tertera dalam firman-Nya,

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا 
wa nafsiw wa maa sawwaahaa

“demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya,”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 7)

Ketika jiwa diberi asupan makanan berupa cahaya dzikir dan akal pikiran, maka ia akan bersih, berseri dan segar. Kemudian apabila Allah mewafatkan jiwa yang segar ini, ia akan mengikuti ruh. Ia pun akan diberi kenikmatan dengan kenikmatan yang diperuntukkan bagi ruh di sisi Allah.

Beragam bantuan dari ruh kepada jasad tidak akan terputus ketika bantuan itu datangnya melalui jiwa, sehingga jasad tetap utuh dan tidak musnah.

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Sungguh Allah mengharamkan atas bumi untuk memakan jasad para nabi.” (Redaksi haditsnya:

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْحَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثَرُوا عَلَى مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَى، قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ، يَقُولُونَ بَلِيتَ . فَقَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ.

Diriwayatkan dari Aus bin Aus Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh diantara hari yang paling utama bagi kalian adalah hari jum’at; didalamnya Allah menciptakan Adam, didalamnya pula dimatikan, didalamnya terjadi peniupan ruh, didalamnya ada sambaran petir, maka perbanyaklah bersholawat padaku dihari tersebut, sebab shalawat kalian ditampakkan padaku.” Periwayat berkata: Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami akan ditampakkan kepada baginda, sementara baginda telah terkubur,” Nabi Saw bersabda, “Sungguh Allah Swt telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Abu Daud; Ibnu Majah; An-Nasa ‘i; Ahmad; Al Bazzar; dan Ath-Thabrani).

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَكْثَرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ، فَإِنَّهُ مَشْهُودٌ، تَشْهَدُهُ الْمَلَائِكَةُ، وَإِنَّ أَحَدًا لَنْ يُصَلِّيَ عَلَيَّ إِلَّا عَرِضَتْ عَلَيَّ صَلَاتُهُ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا، قَالَ: قُلْتُ: وَبَعْدَ الْمَوْتِ ؟ قَالَ : وَبَعْدَ الْمَوْتِ، إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ، فَنَبِيُّ اللَّهُ حَيٌّ يُرْزَقُ.

Didalam riwayat lain dari Abu Ad-Darda Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Perbanyaklah shalawat padaku dihari jum’at, sebab hari itu disaksikan; yaitu para malaikat menyaksikan. Sungguh tidaklah seseorang bershalawat padaku kecuali shalawat itu ditampakkan padaku, sampai ia selesai bershalawat.” Periwayat berkata: Abu Ad-Darda berkata, “(bahkan) setelah kematian?” Nabi Saw bersabda, “Dan (bahkan) setelah kematian, sungguh Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi, maka nabi Allah itu tetap hidup dan diberi rezeki.” (HR. Ibnu Majah).)

Allah pun mengharamkan pemutlakkan kata, “kematian” pada para syuhada, sebagaimana tertera dalam firman-Nya,

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَا تٌ ۗ بَلْ اَحْيَآءٌ وَّلٰـكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ
wa laa taquuluu limay yuqtalu fii sabiilillaahi amwaat, bal ahyaaa-uw wa laakil laa tasy’uruun

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 154)

Seorang hamba itu menang dengan ruh, jiwa dan jasadnya.

Andai ruh tersebut dibantu dengan materi yang tebal, hitamnya dosa, maka ruh tersebut akan menyendiri dan suram. Sehingga bantuan yang datangnya dari ruh akan terputus. Jasad pun akan kembali ke tanah dan menjadi sina. Sehingga jiwa dan jasadnya merugi. Tetapi ruhnya akan tetap ada, Allah Swt sudah menetapkan kekekalan bagi ruh.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْۤا اَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَّا كَا نُوْا يَفْتَرُوْنَ
ulaaa-ikallaziina khosiruuu angfusahum wa dholla ‘an-hum maa kaanuu yaftaruun

“Mereka itulah orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan.”
(QS. Hud 11: Ayat 21)

لَا جَرَمَ اَ نَّهُمْ فِى الْاٰ خِرَةِ هُمُ الْاَ خْسَرُوْنَ
laa jaroma annahum fil-aakhiroti humul-akhsaruun

“Pasti mereka itu (menjadi) orang yang paling rugi di akhirat.”
(QS. Hud 11: Ayat 22)

Jasad yang tebal akan kembali pada asalnya. Ruh akan kembali pada alam ‘Amr. Sementara jiwa, maka ia akan kembali pada Rabb-Nya. Rabb-Nya jiwa yang tenang adalah Allah yang ridho dan meridhoi, seperti dalam firman Allah Swt,

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ 
yaaa ayyatuhan-nafsul-muthma-innah

“Wahai jiwa yang tenang!”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 27)

ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً 
irji’iii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 28)

Sementara jiwa yang senantiasa menyesali diri, maka Rabbnya adalah Allah yang Maha Menerima Tobat, seperti yang tertera dalam firman-Nya,

وَلَاۤ اُقْسِمُ بِا لنَّفْسِ اللَّوَّا مَةِ 
wa laaa uqsimu bin-nafsil-lawwaamah

“dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).”
(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 2)

Begitu pula jiwa yang bergejolak, Rabbnya adalah Allah yang Maha Pengampun dan Penyayang, seperti yang tertera dalam firman-Nya,

وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
wa maaa ubarri-u nafsii, innan-nafsa la-ammaarotum bis-suuu-i illaa maa rohima robbii, inna robbii ghofuurur rohiim

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 53)

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY