You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-7 : Jiwa itu Aurat

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-7 : Jiwa itu Aurat

Jiwa itu aurat. Aurat itu harus ditutupi, maka jagalah jiwamu agar jangan ada orang lain yang mengenalnya atau ada orang lain yang berusaha mencari tahu akannya.

Aurat itu ditutupi lantaran kemuliaan yang ia miliki, bukan lantaran adanya aib didalamnya.

Jiwa merupakan simpanan yang mahal, perbendaharaan yang istimewa dan penuh dengan ragam cahaya tajalli.

Jika ia tidak ditutupi, maka ia akan terkoyak. Oleh karena itu, kebanyakan Ahlullah mencela jiwa. Tujuan mereka tak lain adalah demi memelihara keutamaannya dan menjaga beragam rahasianya.

Beragam kebaikan ada pada jiwa jika ia senantiasa digembleng, sebagaimana keburukan ada padanya jika ia diremehkan bahkan diabaikan, sebab Allah Swt telah berfirman,

وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
wa maaa ubarri-u nafsii, innan-nafsa la-ammaarotum bis-suuu-i illaa maa rohima robbii, inna robbii ghofuurur rohiim

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 53)

Maka apabila engkau berzuhud dan berjuang dengan kondisi jiwa seperti ini (nafs ammarah bis-su), maka pintu-pintu neraka lah yang akan dibukakan untukmu, kecuali orang yang Allah firmankan,


وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
wa maaa ubarri-u nafsii, innan-nafsa la-ammaarotum bis-suuu-i illaa maa rohima robbii, inna robbii ghofuurur rohiim

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 53)

Namun jika engkau menerima keberadaan jiwa yang demikian itu dan memberikannya rasa lemah lembut dan cintapada jiwa tersebut, maka beragam perbendaharaan kebaikan dibukakan untukmu.

Rasulullah Saw bersabda,

ابْدَأُ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا

“Mulailah dari dirimu, maka kemudian bersedekahlah padanya.” (Redaksi haditsnya demikian:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَعْتَقَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي عُذْرَةَ عَبْدًا لَهُ عَنْ دُبُرٍ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَلَكَ مَالٌ غَيْرُهُ فَقَالَ : لا ، فَقَالَ: مَنْ يَشْتَرِيهِ مِنِّى فَاشْتَرَاهُ نُعَيْمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْعَدَوِيُّ بِثَمَانِمِائَةِ دِرْهَم فَجَاءَ بِمَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: ابْدَأَ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقُ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٍ فَلأَهْلِكَ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا يَقُولُ فَبَيْنَ يَدَيْكَ وَعَنْ يَمِينِكَ وَعَنْ شَمَالِكَ.

Diriwayatkan dari Jabir Ra, ia berkata: Seorang lelaki dari Bani

‘Udzrah memerdekakan seorang budak miliknya dengan cara dabar, berita tersebut sampai pada Nabi Saw, dan beliau bersabda, “Apakah engkau tidak punya harta selainnya?” lelaki itu berkata, “Tidak,” Beliau bersabda, “Kini siapa yang ingin membelinya dariku?” Maka Nu’aim bin Abdullah membelinya dengan 800 dirham. lalu Nu’aim pun pergi dan membayarkannya kepada Rasulullah Saw, kemudian Nabi Saw bersabda kepada lelaki itu, “Mulailah dari dirimu, maka kemudian bersedekah dari itu; jika lebih, maka untuk keluargamu; jika lebih bagi keluargamu, maka (sedekahkanlah) untuk kerabatmu; jika masih lebih bagi kerabatmu, maka begini dan begitu.” Periwayat berkata: yaitu bagi orang yang ada disekitarmu, di kanan dan kirimu. (HR. Muslim dalam Shahih-nya).)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَ مْوَا لَهُمْ بِاَ نَّ لَهُمُ الْجَــنَّةَ ۗ يُقَا تِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰٮةِ وَا لْاِ نْجِيْلِ وَا لْقُرْاٰ نِ ۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَا سْتَـبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ ۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
innallohasytaroo minal-mu-miniina angfusahum wa amwaalahum bi-anna lahumul-jannah, yuqootiluuna fii sabiilillaahi fa yaqtuluuna wa yuqtaluuna wa’dan ‘alaihi haqqong fit-taurooti wal-ingjiili wal-qur-aan, wa man aufaa bi’ahdihii minallohi fastabsyiruu bibai’ikumullazii baaya’tum bih, wa zaalika huwal-fauzul-‘azhiim

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 111)

Andai saja ia bukan harga yang paling mahal, maka Allah tidak akan memuji orang-orang mukmin dengan membelinya dari mereka, bahkan Allah menjadikan harganya adalah surga.

Allah telah melarang berbuat zhalim terhadap diri sendiri, lantas bagaimana tentang pembunuhan dan penguasaan akannya?.

Rahasia dari larangan Allah tentang berbuat zhalim terhadap diri sendiri tersebut lantaran jiwa mampu dititipkan beragam nasehat baik.

Nabi Saw tidaklah memberikan nasehat pada akal dan juga hati, akan tetapi jiwa terdalamlah yang dituju, sebagaimana firman Allah Swt,

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ يَعْلَمُ اللّٰهُ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَ عْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَّهُمْ فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ قَوْلًاۢ بَلِيْغًا
ulaaa-ikallaziina ya’lamullohu maa fii quluubihim fa a’ridh ‘an-hum wa’izh-hum wa qul lahum fiii angfusihim qoulam baliighoo

“Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 63)

Sebab, jiwa manusia adalah petunjuk kala petunjuk yang lain tidak ada, ia juga pemberi nasehat nan terpercaya, yang tidak pernah berdusta dan tidak menipu, dia juga merupakan tempat berlindung kala ada fitnah. Sebagaimana Allah Swt berfirman,

فَرَجَعُوْۤا اِلٰۤى اَنْـفُسِهِمْ فَقَا لُوْۤا اِنَّكُمْ اَنْـتُمُ الظّٰلِمُوْنَ 
fa roja’uuu ilaaa angfusihim fa qooluuu innakum angtumuzh-zhoolimuun

“Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, “Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri).”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 64)

Tidak ada kerugian yang menandingi kerugian akannya (zhalim terhadap diri sendiri), sebagaimana firman Allah Swt,

فَا عْبُدُوْا مَا شِئْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ ۗ قُلْ اِنَّ الْخٰسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْۤا اَنْـفُسَهُمْ وَ اَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اَ لَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَا نُ الْمُبِيْنُ
fa’buduu maa syi-tum ming duunih, qul innal-khoosiriinallaziina khosiruuu angfusahum wa ahliihim yaumal-qiyaamah, alaa zaalika huwal-khusroonul-mubiin

“Maka sembahlah selain Dia sesukamu! (wahai orang-orang musyrik). Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 15)

Tidak ada hukuman yang lebih besar dari itu, hal ini sebagaimana firman Allah Swt,

وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَ نْسٰٮهُمْ اَنْفُسَهُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
wa laa takuunuu kallaziina nasulloha fa angsaahum angfusahum, ulaaa-ika humul-faasiquun

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 19)

Maka ia akan tetap dalam kebaikan,

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا 
qod aflaha mang zakkaahaa

“sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 9)

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY