
Elsubha.com – Pondasi Ke-6 : Dzikir Itu Makanan Akal
Kami meriwayatkan dengan sanad yang bersambung kepada Rasulullah Saw:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ طَعَامِ الْمُؤْمِنِينَ فِي زَمَنِ الدَّجَّالِ، قَالَ: طَعَامُ الْمَلَائِكَةِ قَالُوا: وَمَا طَعَامُ الْمَلائِكَةِ ؟ قَالَ : طَعَامُهُمْ مَنْطِقُهُمْ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّقْدِيسِ، فَمَنْ كَانَ مَنْطِقُهُ يَوْمَئِذٍ التَّسْبِيحَ وَالتَّقْدِيسَ أَذْهَبَ اللهُ عَنْهُ الْجُوعَ، فَلَمْ يَخْشَ جُوعًا
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar Ra, bahwa Nabi Saw pernah ditanya tentang makanan orang mukmin pada zaman dajjal, beliau bersabda, “Makanannya malaikat,” mereka berkata, “Lantas apa makanan malaikat?,” beliau bersabda, “Makanan mereka adalah ucapan tasbih dan pujian pensucian (Allah). Barangsiapa yang ketika itu ucapannya berupa tasbih dan pujian, niscaya Allah menghilangkan kelaparan darinya, sehingga ia tidak lagi takut kelaparan. ” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, dimana ia berkata, “Ini merupakan hadits yang sanadnya shahih sesuai syarat Muslim.)
Terkait hal ini, bahwa malaikat itu diciptakan dari cahaya, dzikir itu pun cahaya, sehingga cocoklah ketika dzikir itu menjadi makanan malaikat. Apabila seorang manusia tidak menemukan makanan, jasadnya akan terus berusaha meminta pertolongan daya dari cahaya dzikiran yang merupakan makanan orang yang sedang makan dan minuman orang yang minum.
Diriwayatkan pula dari hadits Abu Hurairah Ra:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةً قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُوَاصِلُوْا، قَالُوا: إِنَّكَ تُوَاصِلُ، قَالَ: إِنِّي لَسْتُ مِثْلَكُمْ، إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي، فَلَمْ يَنتَهُوا عَنِ الْوِصَالِ، قَالَ: فَوَاصَلَ بِهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَيْنِ أَوْ لَيْلَتَيْنِ ثُمَّ رَأَوُا الْهِلَالَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ تَأَخَّرَ الْهِلَالُ لَزِدْتُكُمْ كَالْمُنَكِّلِ لَهُمْ
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi Saw bersabda, “Janganlah kalian melanjutkan (berpuasa lebih dari dua hari tanpa makan dan minum -An-Nawawi-),” mereka berkata, “Sungguh baginda juga telah melakukannya,” Nabi Saw bersabda, “Aku tidaklah seperti kalian, sungguh aku menetap disore hari, dimana Rabbku lah yang memberiku makan dan minum,” mereka juga belum berhenti dari meneruskan puasa, maka Nabi Saw pun melakukan itu satu atau dua malam, kemudian mereka melihat bulan sabit, Nabi Saw bersabda, “Jikalau bulan datang terlambat, maka aku akan tambahkan (kewajiban ini pada kalian), sebagai percontohan bagi mereka. ” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya.)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقُلْنَا يٰۤـاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَـنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا ۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
wa qulnaa yaaa aadamuskun angta wa zaujukal-jannata wa kulaa min-haa roghodan haisu syi-tumaa wa laa taqrobaa haazihisy-syajarota fa takuunaa minazh-zhoolimiin
“Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 35)
Redaksi
يٰۤـاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَـنَّةَ
[“Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga,” maksudnya surganya pengetahuan.]
Redaksi,
وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا
[“dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu.],”maksudnya adalah makanlah dzikiran apapun yang kalian sukai.”]
Redaksi,
وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
[“(Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!],” maksudnya karena pohon itu adalah materi atau benda.
Tubuh mereka muda, tidak mampu mengemban kecuali dzikiran, makanannya adalah dzikiran, mereka tidak butuh makanan yang lain. Akan tetapi ketika keduanya (Adam dan Hawa) memakan materi atau benda, kemudian benda atau materi tersebut terproses didalam jasad mereka, sehingga mereka merasa perlu untuk mengeluarkan materi tadi, maka aurat yang terbuat dari cahaya itu tersingkap dan bagian yang tertutupi itu terbuka dan tidak butuh lagi pada dzikiran, akan tetapi butuh pada apa yang sudah disebutkan (materi atau benda).
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
