
Elsubha.com – Pondasi Ke-11 : Lingkaran Kehidupan
Lingkaran kehidupan itu luas dan mencakup semua makhluk yang ada.
Allah Swt berfirman,
اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِ ذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ ۚ وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
allohu laaa ilaaha illaa huw, al-hayyul-qoyyuum, laa ta-khuzuhuu sinatuw wa laa na-uum, lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, mang zallazii yasyfa’u ‘ingdahuuu illaa bi-iznih, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiithuuna bisyai-im min ‘ilmihiii illaa bimaa syaaa, wasi’a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardh, wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa, wa huwal-‘aliyyul-‘azhiim
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 255)
Disebutkan dalam sebuah hadits:
قَالَ أَبُو ذَرِّ : يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ مَا أَنْزَلَ اللهُ عَلَيْكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ: آيَهُ الكُرْسِيِّ، ثُمَّ قَالَ: يَا أَبَا ذُرِّ ، مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ مَعَ الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الفَلَاةِ عَلَى الحَلْقَةِ
Abu Dzarr Ra berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, Apa hal terbesar yang Allah turunkan pada baginda?” Beliau menjawab, “Ayat Kursi,” lalu baginda melanjutkan, “Wahai Abu Dzar, tidaklah (perbandingan) langit yang tujuh dengan kursi kecuali seperti cincin yang dilemparkan ke tanah yang luas. Keutamaan ‘Arasy dengan kursi seperti bentangnya tanah yang luas daripada cincin itu. ” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya; Al Baihaqi; Abu Syaikh dalam Al ‘Azhamah, Ibnu Abi Syaibah dalam Al ‘Arasy.)
Al Kursi itu seluas tujuh langit dan tujuh lapisan bumi beserta orang-orang dan apa yang ada didalamnya serta yang ada diantara keduanya.
‘Arasy bisa seluas Al Kursi.
Lantaran Dzat-Mu lah yang ber-istiwa’ dengan sisi rahmat diatas Al Kursi, ‘Arasy pun menjadi hilang dalam sisi rahmat-Mu, sebagaimana alam-alam yang ada pun lenyap dalam ‘Arasy-Mu.
Jejak kehidupan terhapus dengan jejak Dzat-Nya; dimana Dzat selain Allah terhapus dengan lingkaran gugusan cahaya yang mengelilinginya.
Rahmat Allah mencakup segala sesuatunya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ
waktub lana fii haazihid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti innaa hudnaaa ilaiik, qoola ‘azaabiii ushiibu bihii man asyaaa, wa rohmatii wasi’at kulla syaii, fa sa-aktubuhaa lillaziina yattaquuna wa yu-tuunaz-zakaata wallaziina hum bi-aayaatinaa yu-minuun
“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 156)
Maka ‘Arasy dan Al Kursi itu luas, alam semesta pun luas, bahkan adzab pun luas dengan sendirinya, sebab ia adalah sesuatu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ بَتِ اِنِّيْۤ اَخَا فُ اَنْ يَّمَسَّكَ عَذَا بٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ وَلِيًّا
yaaa abati inniii akhoofu ay yamassaka ‘azaabum minar-rohmaani fa takuuna lisy-syaithooni waliyyaa
“Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.””
(QS. Maryam 19: Ayat 45)
Keutamaan-Nya seluas rahmat-Nya.
Kecintaan-Nya seluas keutamaan-Nya.
Kecintaan-Nya seluas semuanya.
Karena sesungguhnya…
Cintalah sebab terjadinya penciptaan,
Sebab turunnya rahmat,
Sebab datangnya keutamaan.
Itu adalah cinta yang senantiasa terbaharukan.
Itulah cinta yang tidak ada lawan katanya.
Lingkaran cinta itu meliputi setiap lingkaran.
Seluruhnya bahagia;
Baik yang ada pada lingkaran rahmat (Allah).
Baik yang ada pada lingkaran keutamaan (Allah).
Baik yang ada pada lingkaran kecintaan (Allah).
Baik yang ada pada lingkaran keadilan (Allah).
Semua lingkaran ini untuk menakut-nakuti dan bukan untuk mengadzab.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَهُمْ مِّنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِّنَ النَّا رِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۗ ذٰلِكَ يُخَوِّفُ اللّٰهُ بِهٖ عِبَا دَهٗ ۗ يٰعِبَا دِ فَا تَّقُوْنِ
lahum ming fauqihim zhulalum minan-naari wa ming tahtihim zhulal, zaalika yukhowwifullohu bihii ‘ibaadah, yaa ‘ibaadi fattaquun
“Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan yang disediakan bagi mereka. Demikianlah Allah mengancam hamba-hamba-Nya (dengan azab itu). “Wahai hamba-hamba-Ku, maka bertakwalah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 16) sehingga mereka tidak terjebak pada kemaksiatan.
Andaikan mereka terjebak pada kubangan maksiat, Allah Swt cukupkan mereka dengan ampunan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ يٰعِبَا دِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
qul yaa ‘ibaadiyallaziina asrofuu ‘alaaa angfusihim laa taqnathuu mir rohmatillaah, innalloha yaghfiruz-zunuuba jamii’aa, innahuu huwal-ghofuurur-rohiim
“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 53)
Redaksi “قُلْ يٰعِبَا دِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ” “Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri!” maksudnya adalah mereka mengembalikan perbuatan tersebut pada diri mereka, yaitu kemaksiatan yang mereka lakukan, sikap ini merupakan puncak kecintaan, kasih sayang dan juga pemuliaan.
Redaksi, “لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ” “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” maksudnya adalah Allah melarang mereka berputus asa, bahkan menggolongkan berputus asa kedalam dosa-dosa yang besar; hal itu karena engkau mengira bahwa Allah Swt tidak akan mengampunimu. Sementara Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖۤ اِلَّا الضَّآلُّوْنَ
qoola wa may yaqnathu mir rohmati robbihiii illadh-dhooolluun
“Dia (Ibrahim) berkata, “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 56)
Redaksi, “اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا” “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” Maksudnya adalah, meskipun mereka telah melampaui beragam batasan keborosan, maka disini tidak lagi dikhususkan bagi keborosan diatas keborosan dan dosa diatas dosa lainnya sampai Allah pun mengampuni orang yang sudah berputus asa, meski mereka belum bertobat dan belum menjadikan keborosan dan dosa sebagai syarat datangnya ampunan.
Redaksi “ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ” “Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” maksudnya adalah Allah mengampuni mereka semua, sebab pengampunan dan juga rahmat merupakan sifat-Nya.
Sehingga ada sebuah kaum yang Allah Swt beri ampunan tanpa mereka perlu bertobat.
Ada kaum yang Allah karuniakan tobat pada mereka.
Ada juga sebuah kaum yang mencintai Allah hingga Allah pun mencintai mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
