
Elsubha.com – Pondasi Ke-14 : Allah Sang Pencipta
Allah Swt adalah pencipta semua makhluk sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ خَا لِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙ وَّ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
allohu khooliqu kulli syai-iw wa huwa ‘alaa kulli syai-iw wakiil
“Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 62)
Mencipta merupakan sifat keesaan Allah Swt. dan dengan sifat inilah Allah menantang, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَفَمَنْ يَّخْلُقُ كَمَنْ لَّا يَخْلُقُ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
a fa may yakhluqu kamal laa yakhluq, a fa laa tazakkaruun
“Maka apakah (Allah) yang menciptakan sama dengan yang tidak dapat menciptakan (sesuatu)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 17)
Yang mampu mencipta adalah Illah (yang patut disembah), sedangkan yang lainnya tidak mampu untuk itu.
Ketika manusia merupakan satu-satunya khalifah Allah; Ar-Rahman, maka Allah menganugerahkan kepadanya semua asma dan sifat-Nya, akhlak, sisi ta’alluq dan aplikasinya terhadap apa yang ada pada sisi penciptaan sesuatu.
Allah Swt memberikan kemampuan pada jiwa manusia sehingga manusia mampu membuat apa saja yang dia inginkan, dan ini ada dalam alam imajinasi dan juga alam abstrak.
Sedangkan di surga, ia diberikan rahasia kata, “Kun.”
Dia bisa berkata pada sesuatu كُن فَيَكُونُ “Jadilah, maka sesuatu itu pun jadi.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
تَرَى الظّٰلِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا كَسَبُوْا وَهُوَ وَا قِعٌ بِۢهِمْ ۗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فِيْ رَوْضَا تِ الْجَـنّٰتِ ۚ لَهُمْ مَّا يَشَآءُوْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ
tarozh-zhoolimiina musyfiqiina mimmaa kasabuu wa huwa waaqi’um bihim, wallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati fii roudhootil-jannaat, lahum maa yasyaaa-uuna ‘ingda robbihim, zaalika huwal-fadhlul-kabiir
“Kamu akan melihat orang-orang zalim itu sangat ketakutan karena (kejahatan-kejahatan) yang telah mereka lakukan, dan (azab) menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 22)
Manusia di surga diciptakan secara indrawi dan maknawi. Adapun di dunia, manusia hanya diciptakan secara maknawi saja. Oleh karena itu, penciptaan manusia di surga merupakan penciptaan yang paling sempurna.
Didalam alam imajinasi, Allah tidak melarang apapun. Sebab, jika Allah ingin melarang sesuatu, maka Dia harus mengaitkannya dengan sesuatu. Sementara imajinasi tidak bisa dikaitkan dengan suatu ikatan, bahkan ikatan syari’at sekalipun.
Dalam alam imajinasi tidak ada haram ataupun halal.
Salah satu contohnya adalah semua yang manusia lihat dalam mimpinya.
Allah telah mengangkat pena (catatan amal perbuatan) pada alam khayalan/imajinasi.
Alam khayalan/imajinasi adalah nikmat yang agung dan bermanfaat bagi ruh serta tempat berlindung bagi semua keluh kesah beratnya hidup.
Maka jangan haramkan ruh kalian untuk dapat masuk ke dalam alam ini, alam yang hanya Allah khususkan bagi keturunan nabi Adam As untuk mengalaminya.
Hari-hari belakangan ini, dimana manusia sudah sangat bagus membuat televisi, menayangkan beragam sinema, sudah mampu mewujudkan imajinasi menjadi sebuah kenyataan dan mampu diindera, engkau bisa melihatnya dengan kedua matamu, mendengarnya dengan telingamu dan menikmatinya dengan perasaanmu.
Engkau lihat pada saluran televisi, mereka sudah bisa membuat imajinasi menjadi kenyataan, mereka mewujudkannya dengan warna yang variatif dan suara yang baik.
Semua kemampuan itu lantaran apa yang sudah Allah berikan kepada manusia dari nama Allah: Al Khaliq, Pencipta.
Lantas apa yang sudah engkau buat wahai manusia?.
Engkau bisa saja menciptakan sesuatu pada suatu waktu dan pada suatu tempat.
Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا للّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
wallohu kholaqokum wa maa ta’maluun
“padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 96)
Alam semesta ini merupakan film agung yang besar dan berdurasi panjang, enak ditonton, penuh dengan penonton dan beragam tayangan yang ada pada semua alam, benda mati, tumbuhan, ikan dan hewan. Dan masih tetap saja Allah mencipta, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, dengan cara yang sesuai kehendak-Nya, dengan waktu yang Dia kehendaki dan dimanapun Dia kehendaki di alam semesta ini. Engkau adalah bagian dari film ini. Allah telah memilih peran terbaik untukmu yang bisa kau laksanakan.
Maka berhentilah dimana Dia menginginkanmu untuk berhenti.
Merenunglah sebagaimana Dia menyuruhmu untuk merenung.
Lihatlah ketika Dia mengatakan kepadamu untuk melihat.
Berpikirlah ketika Dia memerintahkanmu untuk berpikir.
Engkau adalah bayangan Allah, dimana selamanya bayangan itu tidak akan terpisah dari dzatnya selamanya.
Bayanganpun tidak akan nampak kecuali adanya cahaya.
Allah lah cahaya itu, sehingga bayangan tersebut nampak untuk cahaya.
Allah lah satu diantara penonton tersebut, dan satu diantara yang disaksikan.
Allahlah yang berperan dalam setiap adegan dengan asma dan sifat-Nya. Diapun berperan pada setiap kemutlakan dan setiap yang terbatas.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
