You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-26 : Rahasia Qadha dan Qadar

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-26 : Rahasia Qadha dan Qadar

Qadha dan qadar sebenarnya bukanlah rahasia yang mutlak. Tetapi ia adalah cinta, adab dan juga sebab.

Dzat Allah Yang Suci: Tidak ada penciptaan pada Dzat-Nya, Dia adalah Allah Al Haqq tanpa adanya ketersambungan, tidak pula keterpisahan, tidak pula memiliki nama-nama bahkan tidak pula memiliki sifat-sifat.

Dzat Allah suci dari suatu hubungan dan sisi yang berlawanan.

Dzat-Nya pun suci dari penyucian Dzat, sebagaimana Dzat-Nya pun suci dari penyerupaan.

Dzat-Nya pun suci dari kemutlakan, sebagaimana Dzat-Nya suci dari keterkaitan dan batas.

Seluruhnya berasal dari Dzat-Nya, akan kembali pada-Nya, Dzat-Nya ada didalam seluruhnya dan berfungsi dengan-Nya.

Qadha dan qadar tidak memiliki esensi, bahkan iapun tidak ada tempat untuk cahaya Dzat-Nya Allah.

Sebab Qadha (ketentuan) haruslah membutuhkan Dzat yang menentukan dan sesuatu yang ditentukan dan ini adalah suatu keterkaitan, sementara Dzat Allah suci dari suatu keterkaitan.

1. Martabat Uluhiyyah

Martabat inilah yang biasa digambarkan dengan ungkapan lafazh jalalah, “Allah.”

Inilah martabat penciptaan dan pengadaan.

Pada martabat inilah semuanya memiliki keterkaitan sebagai makhluk ciptaan, bahkan orang kafir dan orang yang beriman, juga kematian dan kehidupan juga memiliki keterkaitan dengan martabat uluhiyyah ini.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ 
allazii kholaqol-mauta wal-hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa, wa huwal-‘aziizul-ghofuur

“yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)

Sayyidina Muhammad Saw pun tercipta dengan martabat uluhiyyah ini untuk menyebarkan hidayah.

Sedangkan iblis yang Allah laknat- tercipta dengan martabat uluhiyyah untuk menyebarkan kesesatan.

Inilah kebingungan.

Dimana Allah Swt menginginkan segala sesuatu dan menciptakannya, namun Dia tidak ridha terhadap kekufuran dan ridha terhadap kebalikannya; keimanan yang sering dibahasakan dengan simbol rasa syukur kepada Allah yang telah memberi anugerah, (seperti yang tertera dalam firman-Nya),

اِنْ تَكْفُرُوْا فَاِ نَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۗ وَلَا يَرْضٰى لِعِبَا دِهِ الْـكُفْرَ ۚ وَاِ نْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَـكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَا زِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ بِۢذَا تِ الصُّدُوْرِ
ing takfuruu fa innalloha ghoniyyun ‘angkum, wa laa yardhoo li’ibaadihil-kufr, wa ing tasykuruu yardhohu lakum, wa laa taziru waazirotuw wizro ukhroo, summa ilaa robbikum marji’ukum fa yunabbi-ukum bimaa kungtum ta’maluun, innahuu ‘aliimum bizaatish-shuduur

“Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridai kekafiran hamba-hambanya. Jika kamu bersyukur, Dia meridai kesyukuranmu itu. Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam dada(mu).”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 7)

Allah Swt membuatmu memilih dengan firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقُلِ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ اِنَّاۤ اَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ نَا رًا ۙ اَحَا طَ بِهِمْ سُرَا دِقُهَا ۗ وَاِ نْ يَّسْتَغِيْثُوْا يُغَا ثُوْا بِمَآءٍ كَا لْمُهْلِ يَشْوِى الْوُجُوْهَ ۗ بِئْسَ الشَّرَا بُ ۗ  وَسَآءَتْ مُرْتَفَقًا
wa qulil-haqqu mir robbikum, fa mang syaaa-a falyu-miw wa mang syaaa-a falyakfur, innaaa a’tadnaa lizh-zhoolimiina naaron ahaatho bihim suroodiquhaa, wa iy yastaghiisuu yughoosuu bimaaa-ing kal-muhli yasywil-wujuuh, bi-sasy-syaroob, wa saaa-at murtafaqoo

“Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 29)

Allah Swt pun mengendalikan dengan firman-Nya,

وَا للّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
wallohu kholaqokum wa maa ta’maluun

“padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 96)

Kemudian Allah Swt pun menempatkanmu pada sebuah kehendak dengan firman-Nya,

وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
wa lillaahi mulkus-samaawaati wal-ardh, yaghfiru limay yasyaaa-u wa yu’azzibu may yasyaaa, wa kaanallohu ghofuuror rohiimaa

“Dan hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 14)

Rahasia ketetapan Allah pada martabat uluhiyyah-Nya adalah sebuah adab.

Jika engkau melakukan perbuatan buruk dan berkata, “Akulah yang berbuat, akulah yang melakukan dan aku pulalah yang mengakui perbuatan itu.” Maka Allah Swt akan berfirman, “Akulah yang yang menentukan dan menetapkan dan Aku telah ampuni dosamu.”

Jika engkau melakukan perbuatan buruk dan berkata, “Engkaulah ya Rabb yang telah menetapkan dan menentukan.” Maka Allah Swt akan berfirman, “Tetapi engkaulah yang telah melakukan dan durjana.”

Apabila manusia melakukan ketaatan seraya berkata, “Engkaulah yang telah mempermudah dan telah menetapkannya.” Maka Allah akan berfirman, “Tetapi engkaulah yang telah melakukan, telah beramal dan lelah, maka engkau pantas diberi ganjarannya.”

Lalu apabila seorang manusia melakukan ketaatan seraya berkata, “Akulah yang telah melakukan, memikirkan dan merencanakannya.” Maka Allah Swt akan berfirman, “Tetapi Akulah yang mempermudah dan membantumu.”

Maka adab adalah rahasia dari ketentuan Allah dalarn martabat uluhiyyah Allah Swt.

“Mintalah ampunan meski tanpa alasan, Aku akan ampuni tanpa adanya cacian.”

2. Martabat Rububiyyah

Martabat ini merupakan martabat pemberian bantuan ruhani.

Pada martabat ini semuanya menjadi sesuatu yang dimaksudkan darinya.

Orang-orang yang beriman merupakan orang-orang yang diinginkan dan diberikan bantuan ruhani dari nama-Nya, “Al Hadi (Yang Memberi Petunjuk).”

Orang-orang kafir pun juga merupakan orang-orang yang diinginkan dan diberikan bantuan ruhani dari nama-Nya, “Al Mudhill (Yang Menyesatkan).”

Martabat Rububiyyah merupakan martabat terdekat bagi seorang hamba. Dan syari’at terkait sisi Rububiyyah ini sudah jelas.

Terkait dengan martabat ini, posisi manusia diberikan pilihan, bahkan dipaksa dan difitrahkan untuk memilih.

Kalaupun manusia ingin menjadi makhluk yang dioperasikan, maka iapun tidak mampu untuk itu.

Dalam martabat Rububiyyah ini: Orang yang beriman dan ta’at akan masuk surga.

Orang yang kufur dan berbuat maksiat akan masuk neraka.

Namun terkadang manusiapun menempati posisi dioperasikan (oleh Allah):

Ketika ia sakit atau terkena musibah, maka kondisi ini menjadikannya kehilangan kondisi untuk bisa memilih.

Atau ketika Allah Swt memberi rezeki padanya tanpa sebab yang jelas, maka ini berkaitan dengan sisi uluhiyyah Allah. Rasulullah Saw pernah bersabda,

وَأَبَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ أَرْزَاقَ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ حَيْثُ يَحْتَسِبُونَ

“Allah enggan menjadikan rezeki para hambanya yang mukmin dari arah yang dapat disangka.” (Al Baihaqi meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib Kw, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّمَا تَكُوْنُ الصَّنِيعَةُ إِلَى ذِي دِيْنٍ أَوْ حَسَبٍ، وَجِهَادُ الضُّعَفَاءِ الْحَيُّ، وَجِهَادُ الْمَرْأَةِ حُسْنُ التَّبَعُلِ لِزَوْجِهَا، وَالتَّوَدُّدُ نِصْفُ الدِّينِ، وَمَا عَالَ امْرُؤٌ اقْتَصَدَ، وَاسْتَنْزِلُوا الرِّزْقَ بِالصَّدَقَةِ، وَأَبَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ أَرْزَاقَ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ حَيْثُ يَحْتَسِبُوْنَ .

“Sesungguhnya berkarya/bekerja itu bagi orang yang beragama atau bagi orang yang mempunyai kedudukan; jihadnya orang yang lemah adalah menunaikan ibadah haji, jihadnya seorang wanita adalah setia pada suaminya. Kecintaan itu separuh agama. Tidaklah seseorang itu tinggi (kedudukannya) kecuali ia sederhana. Pintalah turunnya rezeki dengan bersedekah. Allah enggan menjadikan rezeki para hamba-Nya yang mukmin dari arah yang dapat disangka.”)

Maka qadha dan qadar itu:

A. Pada Dzat Allah ada cahaya dan fana dan yang dipinta darimu adalah cinta.

B. Pada sisi Uluhiyyah ada penciptaan dan pengadaan dan yang dipinta darimu adalah adab.

C. Pada sisi Rububiyyah ada pertolongan ruhani dan kedekatan jiwa dan yang dipinta darimu adalah menggapai penyebab itu bisa terjadi.

Maka engkaulah ketentuan itu dan rahasia dari ketetapan Allah Swt.

Engkaulah yang diinginkan itu dan manusia yang menyenangkan.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY