
Elsubha.com – Pondasi Ke-25 : Tak Dapat Digapai Kasat Mata
Manusia dapat mengetahui berat, jumlah, panjang, lebar, sisi, waktu, tempat dan detail sesuatu.
Akan tetapi manusia tidak mengetahui esensinya.
Hal itu karena Allahlah esensi segala sesuatu, bahkan Dialah hakekat dan yang ada pada hakekat tersebut.
Dialah Allah yang tidak bisa dicapai secara kasat mata, seperti dalam firman-Nya,
لَا تُدْرِكُهُ الْاَ بْصَا رُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَ بْصَا رَ ۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
laa tudrikuhul-abshooru wa huwa yudrikul-abshoor, wa huwal-lathiiful-khobiir
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 103)
Bahkan tidak pula bisa diketahui dengan kaca pembesar.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wa iz qoola ibroohiimu robbi arinii kaifa tuhyil-mautaa, qoola a wa lam tu-min, qoola balaa wa laakil liyathma-inna qolbii, qoola fakhuz arba’atam minath-thoiri fa shur-hunna ilaika summaj’al ‘alaa kulli jabalim min-hunna juz-ang summad’uhunna ya-tiinaka sa’yaa, wa’lam annalloha ‘aziizun hakiim
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260)
Allah pun berada pada bagian burung yang terpisah dengan kondisi yang bisa dinalar manusia.
Maka bersamaan dengan itu, Nabi Ibrahim As tidak mengetahui esensi kehidupan yang dengannya Allah hidupkan sesuatu yang mati.
Didalam Ash-Shahih disebutkan, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,
حِجَابُهُ النُّوْرُ – وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ : النَّارُ – لَوْ كَشَفَهُ لِأَحْرَقَتْ سُبْحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ
Tabir penghalang-Nya adalah cahaya dalam riwayat Abu Bakar disebutkan: (Tabir penghalang-Nya adalah) api. jikalau Dia menyingkapnya, niscaya wajah-Nya akan membakar mata makhluk yang memandang-Nya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya.)
Dalam riwayat lain disebutkan,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُونَ سَبْعِينَ أَلْفَ حِجَابٍ مِنْ نُوْرٍ وَظُلْمَةٍ، وَمَا يَسْمَعُ مِنْ نَفْسٍ شَيْئًا مِنْ حِسٌ تِلْكَ الْحُجُبِ إِلَّا زَهَقَتْ
“Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla memiliki tujuh puluh ribu tabir penghalang dari cahaya dan kegelapan. Tidaklah ada orang yang bisa mendengar sesuatu dari bagian tabir penghalang tadi kecuali akan binasa. ” (HR. Ath-Thabrani; Abu Syaikh dalam Al ‘Azhamah.)
Tabir penghalang cahaya adalah sisi jamal-Nya Allah, sedangkan tabir penghalang kegelapan adalah sisi jalal-Nya Allah Swt.
1. Dzat Ilahiyyah
Dzat inilah yang biasa digambarkan secara kiasan, “Dzat Allah.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّا سِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُ مِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ قَا لَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْۤ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَـيْسَ لِيْ بِحَقٍّ ۗ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗ ۗ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَاۤ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّا مُ الْغُيُوْبِ
wa iz qoolallohu yaa ‘iisabna maryama a angta qulta lin-naasittakhizuunii wa ummiya ilaahaini ming duunillaah, qoola sub-haanaka maa yakuunu liii an aquula maa laisa lii bihaqq, ing kungtu qultuhuu fa qod ‘alimtah, ta’lamu maa fii nafsii wa laaa a’lamu maa fii nafsik, innaka angta ‘allaamul-ghuyuub
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai ‘Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?” (‘Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 116)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّاۤ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰٮةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗ وَاِ لَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ
laa yattakhizil-mu-minuunal-kaafiriina auliyaaa-a ming duunil-mu-miniin, wa may yaf’al zaalika fa laisa minallohi fii syai-in illaaa ang tattaquu min-hum tuqooh, wa yuhazzirukumullohu nafsah, wa ilallohil-mashiir
“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah tempat kembali.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 28)
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا ۛ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْٓءٍ ۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗۤ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗ وَا للّٰهُ رَءُوْفٌ بِۢا لْعِبَا دِ
yauma tajidu kullu nafsim maa ‘amilat min khoirim muhdhorow wa maa ‘amilat ming suuu, tawaddu lau anna bainahaa wa bainahuuu amadam ba’iidaa, wa yuhazzirukumullohu nafsah, wallohu ro-uufum bil-‘ibaad
“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 30)
Dimana inilah yang memiliki makna khusus tentang keesaan Allah antara Dia dan Dzat-Nya.
2. Martabat Uluhiyyah
Martabat inilah yang biasa digambarkan dengan nama-Nya, “Allah.” Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗ قُلْ اَفَا تَّخَذْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ لَا يَمْلِكُوْنَ لِاَ نْفُسِهِمْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَ عْمٰى وَا لْبَصِيْرُ ۙ اَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمٰتُ وَا لنُّوْرُ ۚ اَمْ جَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَآءَ خَلَقُوْا كَخَلْقِهٖ فَتَشَا بَهَ الْخَـلْقُ عَلَيْهِمْ ۗ قُلِ اللّٰهُ خَا لِـقُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ الْوَا حِدُ الْقَهَّا رُ
qul mar robbus-samaawaati wal-ardh, qulillaah, qul a fattakhoztum ming duunihiii auliyaaa-a laa yamlikuuna li-angfusihim naf’aw wa laa dhorroo, qul hal yastawil-a’maa wal-bashiiru am hal tastawizh-zhulumaatu wan-nuur, am ja’aluu lillaahi syurokaaa-a kholaquu kakholqihii fa tasyaabahal-kholqu ‘alaihim, qulillaahu khooliqu kulli syai-iw wa huwal-waahidul-qohhaar
“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya sendiri?” Katakanlah, “Samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat? Atau samakah yang gelap dengan yang terang? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Maha Perkasa.“
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 16)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِ ذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ ۚ وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
allohu laaa ilaaha illaa huw, al-hayyul-qoyyuum, laa ta-khuzuhuu sinatuw wa laa na-uum, lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, mang zallazii yasyfa’u ‘ingdahuuu illaa bi-iznih, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiithuuna bisyai-im min ‘ilmihiii illaa bimaa syaaa, wasi’a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardh, wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa, wa huwal-‘aliyyul-‘azhiim
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 255)
Martabat inilah yang memiliki makna khusus tentang penciptaan dan perwujudan.
3. Martabat Rububiyyah
Martabat inilah yang biasa digambarkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya,
قَا لَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ اٰبَآئِكُمُ الْاَ وَّلِيْنَ
qoola robbukum wa robbu aabaaa-ikumul-awwaliin
“Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 26)
Martabat inilah yang memiliki makna khusus yang berkaitan dengan pemberian dan bantuan.
Allah Swt tidak tampak pada makhluk dalam setiap tingkatannya kecuali dengan cara ber-tajalli pada sisi jamal Nya. Sebab, jika Dzat-Nya nampak dengan sisi tajalli ‘izzah dan jalal pada sesuatu, niscaya semesta ini akan sirna seketika; (seperti yang tertera dalam sabda Nabi Saw), “niscaya wajah-Nya akan membakar mata makhluk yang memandang-Nya.”
Beragam tajalli dengan sisi jamal-Nya Allah tidak akan pernah berakhir. Sebab, jika beragam tajalli sisi jamal-Nya Allah ini berakhir, maka akan diberlakukan tajalli Allah pada sisi al jalal yang biasa diungkapkan dengan bahasa, “Tabir penghalang yang wujudnya kegelapan,” sehingga makhlukpun akan berakhir pada ketiadaan, dan ini bukan bagian dari nama Allah, “Al Mu’dim (Yang Melenyapkan).”
Kemudian bagaimana bisa tajalli dengan sisi jamal-Nya Allah ini berakhir sementara tajalli ini mencakup makna yang luas?.
Sehingga dengan inilah selamanya makhluk akan merasakan nikmat berada dibawah bayangan tabir cahaya Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَا حٌ ۗ الْمِصْبَا حُ فِيْ زُجَا جَةٍ ۗ اَلزُّجَا جَةُ كَاَ نَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍ ۙ يَّـكَا دُ زَيْتُهَا يُضِيْٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَا رٌ ۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍ ۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ لِلنَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
allohu nuurus-samaawaati wal-ardh, masalu nuurihii kamisykaating fiihaa mishbaah, al-mishbaahu fii zujaajah, az-zujaajatu ka-annahaa kaukabung durriyyuy yuuqodu ming syajarotim mubaarokating zaituunatil laa syarqiyyatiw wa laa ghorbiyyatiy yakaadu zaituhaa yudhiii-u walau lam tamsas-hu naar, nuurun ‘alaa nuur, yahdillaahu linuurihii may yasyaaa, wa yadhribullohul-amsaala lin-naas, wallohu bikulli syai-in ‘aliim
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 35)
Rasulullah pun pernah bersabda,
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ
“Sungguh nanti kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. ” (Redaksi haditsnya:
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةً يَعْنِي الْبَدْرَ فَقَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُونَ (تُضَالُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِنَا فَافْعَلُوْا ثُمَّ قَرَأَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طلوع الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Ra, dia berkata: Kami pernah bersama Nabi Saw dan melihat bulan purnama di suatu malam, Nabi Saw bersabda, “Sungguh kalian akan melihat Rabb kalian, sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak akan terhalang dalam melihatnya. Andai kalian bisa melakukan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah.” Kemudian Nabi Saw membaca firman Allah, “Bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)” (Qs. Qaf [50]: 39).
Dimana sudah kita ketahui bahwa bulan hanya memantulkan cahaya dari matahari untuk kita.
Maka Dzat Ilahiyyah, Allah dan juga Rabb, semuanya ini merupakan ragam pondasi yang tidak dapat dibuktikan dengan bukti-bukti yang gamblang sebagaimana pula tidak dapat dilihat dengan kasat mata, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak ada orang yang dapat mengetahui esensinya, akan tetapi, kita dapat mengetahui beragam tajalli sisi jamal Dzat Allah dengan ruh kita.
Kitapun bisa mengetahui beragam cahaya tajalli Allah dengan bukti-bukti faktual yang jelas.
Kita dapat mengetahui ragam cahaya tajalli Allah secara kasat mata (dengan melihat pada alam semesta yang senantiasa terjaga).
Rasulullah Saw bersabda,
تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوْتَ
“Belajarlah kalian, sungguh seseorang diantara kalian tidak akan pernah bisa melihat Rabb-nya ‘Azza wa jalla hingga ia meninggal dunia. ” (HR. Muslim dalam Shahih-nya.)
Maka jika ada orang yang beranggapan sampai ia meninggal dunia bahwa beragam hal yang nampak di alam semesta ini terlepas dari adanya wujud tajalli-Nya Allah, maka ia malah akan melihat bahwa hal yang nampak di alam semesta ini dipenuhi dengan wujud tajalli-Nya Allah.
Orang yang didunia senantiasa menyaksikan beragam tajalli Rububiyyah-Nya Allah, maka setelah kematianpun ia akan senantiasa menyaksikan tajalli Rububiyyah-Nya Allah.
Orang yang didunia senantiasa menyaksikan beragam tajalli uluhiyyah-Nya Allah, maka di akhirat kelak ia akan melangkah untuk bisa menyaksikan tajalli Dzat Allah.
Kematian itu kondisi yang paling baik, sebab ia akan mengangkat derajat yang bersangkutan, bahkan orang kafir sekalipun, karena ia akan beriman, serta mengetahui perkara tersebut secara mendalam.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَدْ جَآءَكُمْ بَصَآئِرُ مِنْ رَّبِّكُمْ ۚ فَمَنْ اَبْصَرَ فَلِنَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَاۤ اَنَاۡ عَلَيْكُمْ بِحَفِيْظٍ
qod jaaa-akum bashooo-iru mir robbikum, fa man abshoro fa linafsih, wa man ‘amiya fa ‘alaihaa, wa maaa ana ‘alaikum bihafiizh
“Sungguh, bukti-bukti yang nyata telah datang dari Tuhanmu. Barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka dialah yang rugi. Dan aku (Muhammad) bukanlah penjaga(mu).”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 104)
Seluruh manusia buta (tidak bisa melihat kebenaran), kecuali jika ada Allah (maksudnya; dalam pengawasan Allah), (sebagaimana tertera dalam hadits]:
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ
“Apabila aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi telinga yang dia gunakan untuk mendengar, mata yang ia gunakan untuk melihat.” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya.)
Ketika Allah yang telah menjadi mata seorang hamba, maka sungguh Allah kala itu sedang memperlihatkan tajalli Dzat-Nya.
Maka orang yang memiliki dzauq ini, akan melihat tajalli Allah yang berlangsung pada setiap benda terkecil di alam ini.
Ketika Allah menggambarkan tentang sesuatu bahwa ia adalah “cahaya,” maka maksudnya adalah bahwa engkau tidak akan dapat mengetahui hakekatnya. Akan tetapi yang dapat engkau ketahui adalah tajalli-Nya Allah dan tanazzul-Nya, sebagaimana engkau melihat cahaya matahari pada bulan.
Maka Allah menamakan Dzat-Nya dengan, “Cahaya.” Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَا حٌ ۗ الْمِصْبَا حُ فِيْ زُجَا جَةٍ ۗ اَلزُّجَا جَةُ كَاَ نَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍ ۙ يَّـكَا دُ زَيْتُهَا يُضِيْٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَا رٌ ۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍ ۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ لِلنَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
allohu nuurus-samaawaati wal-ardh, masalu nuurihii kamisykaating fiihaa mishbaah, al-mishbaahu fii zujaajah, az-zujaajatu ka-annahaa kaukabung durriyyuy yuuqodu ming syajarotim mubaarokating zaituunatil laa syarqiyyatiw wa laa ghorbiyyatiy yakaadu zaituhaa yudhiii-u walau lam tamsas-hu naar, nuurun ‘alaa nuur, yahdillaahu linuurihii may yasyaaa, wa yadhribullohul-amsaala lin-naas, wallohu bikulli syai-in ‘aliim
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 35)
Dia menamakan rasul-Nya dengan, “Cahaya,” sebagaimana yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلُـنَا يُبَيِّنُ لَـكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ ۗ قَدْ جَآءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌ
yaaa ahlal-kitaabi qod jaaa-akum rosuulunaa yubayyinu lakum kasiirom mimmaa kungtum tukhfuuna minal-kitaabi wa ya’fuu ‘ang kasiir, qod jaaa-akum minallohi nuuruw wa kitaabum mubiin
“Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan,”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 15)
Maka maksudnya adalah, bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui hakekat Rasulullah Saw kecuali hanya Allah semata.
Allahpun menamakan Al Qur’an dengan, “Cahaya,” sebagaimana tertera dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَاٰ مِنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَا لنُّوْرِ الَّذِيْۤ اَنْزَلْنَا ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
fa aaminuu billaahi wa rosuulihii wan-nuurillaziii angzalnaa, wallohu bimaa ta’maluuna khobiir
“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 8)
Maka tidak akan ada orang yang mengetahui hakekat Al Qur’an kecuali hanya Allah semata yang mengetahui hakekatnya.
Sementara kita, maka cukuplah kita tenggelam dalam ragam cahaya tajalli jamal-Nya Allah, Rasulullah Saw dan juga Al Qur’an baik di dunia maupun di akhirat.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
