You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-24 : Malaikat

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-24 : Malaikat

Malaikat pada hakekatnya adalah setetes cahaya yang Allah bentuk sedemikian rupa sesuai kehendak Allah Swt.

Kemudian Allah memberi mereka dua sayap, tiga sayap hingga 600 sayap sesuai dengan kehendak-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لْحَمْدُ لِلّٰهِ فَا طِرِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ جَا عِلِ الْمَلٰٓئِكَةِ رُسُلًا اُولِيْۤ اَجْنِحَةٍ مَّثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۗ يَزِيْدُ فِى الْخَـلْقِ مَا يَشَآءُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
al-hamdu lillaahi faathiris-samaawaati wal-ardhi jaa’ilil-malaaa-ikati rusulan uliii ajnihatim masnaa wa sulaasa wa rubaa’, yaziidu fil-kholqi maa yasyaaa, innalloha ‘alaa kulli syai-ing qodiir

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan Bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Fatir 35: Ayat 1)

Allahpun membekali mereka dengan kemampuan sehingga mereka bisa terbang secepat kilatan cahaya; seperti yang tergambar dalam firman-Nya,

يُدَبِّرُ الْاَ مْرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَى الْاَ رْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَا نَ مِقْدَا رُهٗۤ اَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
yudabbirul-amro minas-samaaa-i ilal-ardhi summa ya’ruju ilaihi fii yauming kaana miqdaaruhuuu alfa sanatim mimmaa ta’udduun

“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 5)

Diantara malaikat pun ada yang bisa terbang dengan kecepatan 50 kali lipat dari kecepatan cahaya, seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan,

تَعْرُجُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَ الرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَا نَ مِقْدَا رُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍ 
ta’rujul-malaaa-ikatu war-ruuhu ilaihi fii yauming kaana miqdaaruhuu khomsiina alfa sanah

“Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 4)

Jika mereka mau, merekapun bisa menyerupai makhluk yang ada di bumi atau ditempat manapun tanpa perlu berpindah tempat dan tidak terikat dengan waktu. Malaikat Jibril misalnya, ia dapat menyerupai Sayyidah Maryam, yang mana pada waktu yang sama iapun ada di langit dengan 600 sayapnya dan ini tidak terikat dengan waktu.

Menyerupai merupakan salah satu kondisi malaikat.

Allahpun telah mewakilkan malaikat pada setiap manusia untuk menjaganya. Mereka berjalan bersama manusia tersebut, seperti manusia berjalan, merekapun berdiri sebagaimana manusia berdiri.

Manusia tidur sementara malaikat terjaga untuk menjaganya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ
lahuu mu’aqqibaatum mim baini yadaihi wa min kholfihii yahfazhuunahuu min amrillaah, innalloha laa yughoyyiru maa biqoumin hattaa yughoyyiruu maa bi-angfusihim, wa izaaa aroodallohu biqouming suuu-ang fa laa marodda lah, wa maa lahum ming duunihii miw waal

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 11)

Inilah penjagaan secara personal untuk orang yang beriman.

Diantara para malaikat ada dua malaikat yang menulis kebaikan dam keburukan.

Dalam pandangan para Malaikat, manusia ada beberapa kelompok:

1. Tipikal/golongan pertama: Orang yang Allah inginkan hisabnya di hari klamat.

Maka ketika mereka ini melakukan perbuatan baik, maka malaikat Yamin (Roqib) pun menulis amal perbuatan itu, begitu pula ketika ia melakukan perbuatan buruk, maka malaikat Syimal (‘Atid) akan menulis perbuatan itu dan begini terus sampai hari kiamat tiba. Allah Swt meletakkan timbangan yang memiliki dua sisi; satu sisi untuk kebaikan dan sisi lain untuk keburukan.

Ini seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan,
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ 
fa may ya’mal misqoola zarrotin khoiroy yaroh

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7)

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
wa may ya’mal misqoola zarroting syarroy yaroh

“Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 8)

Juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكُلَّ اِنْسَا نٍ اَلْزَمْنٰهُ طٰٓئِرَهٗ فِيْ عُنُقِهٖ ۗ وَنُخْرِجُ لَهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ كِتٰبًا يَّلْقٰٮهُ مَنْشُوْرًا
wa kulla ingsaanin alzamnaahu thooo-irohuu fii ‘unuqih, wa nukhriju lahuu yaumal-qiyaamati kitaabay yalqoohu mangsyuuroo

“Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 13)

Juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَا زِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَـفْسٌ شَيْـئًـا ۗ وَاِ نْ كَا نَ مِثْقَا لَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفٰى بِنَا حٰسِبِيْنَ
wa nadho’ul-mawaaziinal-qistho liyaumil-qiyaamati fa laa tuzhlamu nafsung syai-aa, wa ing kaana misqoola habbatim min khordalin atainaa bihaa, wa kafaa binaa haasibiin

“Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 47)

2. Tipikal/golongan kedua: Orang yang Allah segerakan hisabnya di dunia.

Yaitu setiap kali ia melakukan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu tidak dituliskan ke dalam catatan amal kebaikannya, akan tetapi amal kebaikan itu menghapus catatan amal keburukannya, bahkan amal kebaikannya itu akan berlipat ganda menjadi sepuluh bahkan sampai tujuh ratus kali lipat.

Ketika catatan amal keburukannya sudah nol, maka ketika itulah malaikat Roqib baru mencatat perbuatan baiknya itu, dan ini sesuai dengan firman-Nya,

وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَا رِ وَزُلَـفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗ اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ ۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ 
wa aqimish-sholaata thorofayin-nahaari wa zulafam minal-laiil, innal-hasanaati yuz-hibnas-sayyi-aat, zaalika zikroo liz-zaakiriin

“Dan laksanakanlah sholat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”
(QS. Hud 11: Ayat 114)

Apabila catatan amal kebaikannya sudah dicatat pada catatan malaikat Roqib, maka catatan amal kebaikannya itu selamanya tidak akan terhapus, sebab kebaikan tidak bisa dihilangkan dengan keburukan.

3. Tipikal/golongan ketiga: Mereka adalah orang yang Allah ampuni dosa yang telah lampau maupun yang akan datang. Oleh karena itu, tidak dituliskan dosa baginya, sehingga dikatakan pada mereka,

اعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Berbuatlah sesuka kalian, Aku telah ampuni kalian. (Redaksi haditsnya:

قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي رَافِعٍ قَالَ سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ : بَعَثَنِي رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَالزُّبَيْرَ وَالْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ، قَالَ: انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ حَاجٍ، فَإِنَّ بِمَا ظَعِيْنَةًوَمَعَهَا كِتَابٌ فَخُذُوهُ مِنْهَا،
فَانْطَلَقْنَا تَعَادَى بِنَا حَيْلُنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الرُّوْضَةِ فَإِذَا نَحْنُ بِالضَّعِينَةِ، فَقُلْنَا: أَخْرِجِي الْكِتَابَ، فَقَالَتْ : مَا مَعِي مِنْ كِتَابٍ، فَقُلْنَا : لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُلْقِيَنَّ الثَّيَابَ فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ عِقَاصِهَا فَأَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا فِيْهِ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى أُنَاسٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يُخْبِرُهُمْ بِبَعْضِ أَمْرِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا خَاطِبُ مَا هَذَا؟ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا تَعْجَلْ عَلَيَّ إِنِّي كُنتُ امْرَأَ مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ فَرَابَاتٌ مَكَّةَ يَحْمُوْنَ بِمَا أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنَ النَّسَبِ فِيْهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا يَحْمُوْنَ بِهَا قَرَابَتِي، وَمَا فَعَلْتُ كُفْرًا وَلَا ارْتِدَادًا وَلَا رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ صَدَقَكُمْ ، قَالَ عُمَرُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ، قَالَ إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَكُوْنَ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ، فَقَالَ: اعْمَلُوْا مَاشِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ.

Ubaidillah bin Abi Rafi’ berkata: Aku mendengar ‘Ali berkata, “Rasulullah Saw pernah mengutusku bersama Az-Zubair dan Al Miqdad bin Al Aswad seraya bersabda, Pergilah kalian hingga sampai pada raudhah khukh, sebab disana ada zho’inah (wanita musafir) yang membawa sebuah surat, ambillah surat tersebut dari mereka. Maka kamipun pergi dengan menunggangi kuda kami seperti biasa, hingga sampai ke raudhah tersebut dan bertemu dengan wanita itu, kamipun berkata, ‘Keluarkan surat tersebut. Maka wanita itupun berkata, ‘Aku tidak membawa surat itu, kamipun berkata, ‘Engkau keluarkan surat itu atau kami tanggalkan pakaianmu’, maka wanita itupun mengeluarkan surat tersebut dari sanggulnya. Dan kamipun memberikan surat itu kepada Rasulullah Saw.

Ternyata didalamnya ada tulisan: Dari Hathib bin Abi Balta’ah kepada orang-orang musyrik penghuni Makkah, yang menyebutkan kepada mereka tentang sebagian perkara Rasulullah Saw; Rasulullah Saw bersabda, ‘Wahai Hathib, apa ini?, Hathib berkata, ‘Jangan terburu-buru menuduhku wahai Rasulullah Saw, aku orang yang memiliki hubungan erat dengan orang Quraisy, sekalipun aku bukan bagian dari mereka, sedangkan orang-orang muhajirin yang bersama baginda, mereka itu memiliki kerabat dekat di Makkah, mereka juga ingin menjaga harta dan keluarga mereka (yang ada di Makkah), aku senang jika pertautan nasabku ini hilang, aku ingin menjadi tangan (penjembatan) yang dengannya aku bisa menjaga kekerabatanku. Aku tidak lakukan ini lantaran aku kafir, atau murtad, akupun tidak rela dengan kekufuran setelah aku masuk Islam’. Rasulullah Saw bersabda, ‘Kalian telah percaya?!. Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah, biarkan aku penggal leher si munafik ini. Rasulullah Saw bersabda, ‘Sungguh ia ini pernah ikut perang badar, tidakkah engkau tahu Itu wahai Umar? Mudah-mudahan Allah mengenal ahli Badar. Rasulullah Saw pun bersabda, ‘Lakukanlah apapun yang kalian suka, Aku telah ampuni kalian. (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Mereka inilah orang-orang yang catatan keburukannya ditutup oleh malaikat Atid, dimana amal perbuatan mereka dimaklumi, sehingga yang ditulis hanya amal kebajikan saja.

Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا ثُمَّ قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وَمَنْ لَبِسَ ثَوْبًا فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

“Barangsiapa yang makan seraya berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan memberi rezeki dengannya kepadaku tanpa daya dan tanpa kekuatanku, ‘Allah telah mengampuni dosa yang telah lampau dan yang akan datang. Barangsiapa yang mengenakan pakaian seraya berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memakaikanku pakaian ini dan memberi rezeki kepadaku dengannya tanpa adanya daya dan kekuatanku, maka Allah telah ampuni dosa yang telah lampau maupun yang akan datang. “(HR. Abu Daud; At-Tirmidzi, dimana ia menilainya hasan, dan Ibnu Majah.)

4. Tipikal/golongan keempat: Orang-orang yang Allah ganti keburukan mereka dengan kebaikan.

Rasulullah Saw bersabda,

مَا جَلَسَ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ، لَا يُرِيدُونَ بِذَلِكَ إِلَّا وَجْهَهُ، إِلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ : أَنْ قُومُوا مَغْفُورًا لَكُمْ، قَدْ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

“Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla kecuali ada sesuatu memanggil-manggil mereka dari langit seraya berkata, ‘Berdirilah kalian dalam keadaan diampuni, keburukan kalian telah digantikan dengan kebaikan! ” (HR. Ahmad; Al Bazzar; Ath-Thabrani; Abu Nu’aim; Al Baihaqi; dan Abu Ya’la.)

Orang yang berdzikir kepada Allah senantiasa dalam kondisi berjama’ah sekalipun ia hanya berdzikir sendirian.

Sebab Allah Swt berfirman dalam hadits qudsi,

أَنَا جَلِيسُ مَنْ ذَكَرَنِي

“Aku adalah teman duduk orang yang berdzikir mengingat-Ku. ” (HR. Ad-Dainawari; Al Kalabadzi; Abu Nu’alm; Al Baihaqi; dan Abu Syaibah.)

Lantas berjama’ah seperti apa yang lebih baik dibanding ditemani oleh Allah?!

Mereka inilah orang-orang yang membuat malaikat pencatat amal kebajikan takjub, bahkan Allah membanggakan mereka dihadapan malaikat pencatat amal buruk.

5. Tipikal/golongan kelima: Mereka adalah orang-orang yang bersabar. Orang-orang yang Allah berikan pahala tanpa dihisab kemudian.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يٰعِبَا دِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَاَ رْضُ اللّٰهِ وَا سِعَةٌ ۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَا بٍ
qul yaa ‘ibaadillaziina aamanuttaquu robbakum, lillaziina ahsanuu fii haazihid-dun-yaa hasanah, wa ardhullohi waasi’ah, innamaa yuwaffash-shoobiruuna ajrohum bighoiri hisaab

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 10)

Tidak ada catatan amal dan juga timbangan bagi mereka.

Allah Swt berfirman pada orang yang ketika diuji ia bersabar,

اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ أَنْصَبَ لَهُ مِيزَانًا أَوْ أَنْشُرَ لَهُ دِيْوَانًا

“Pada hari kiamat Aku malu memberinya timbangan atau membentangkan catatannya. “(Redaksi haditsnya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، عَنْ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، عَنِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، قَالَ: إِذَا وَجَّهْتُ إِلَى عَبْدٍ مِنْ عَبِيدِي مُصِيبَةً فِي بُدْنِهِ أَوْ مَالِهِ أَوْ وَلَدِهِ ثُمَّ اسْتَقْبَلَ ذَلِكَ بصير جميل، اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ أَنْصَبَ لَهُ مِيزَانًا أَوْ أَنْشُرَ لَهُ دِيْوَانًا.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra, dari Nabi Saw, dari Jibril As, dari Allah Tabaraka wa ta’ala, Dia berfirman, “Apabila aku berikan ujian pada badan atau harta atau anak seorang dari hamba-hamba-Ku, kemudian dia terima itu dengan sabar yang baik, maka pada hari kiamat Aku malu memberinya timbangan atau membentangkan catatannya.” (HR. Asy-Syihab Al Qadhdha’i dalam Musnad-nya; Ad-Dainawari dalam pembahasan Al Mujalasah).

6. Tipikal/golongan keenam: Mereka yang berpendapat bahwa yang melakukan perbuatan tersebut secara hakiki adalah Allah Swt.

Mereka tidak punya kebaikan sama sekali, dimana mereka menisbatkan semua kebaikan itu kepada Allah Swt. Sehingga Allah memperlakukan mereka dengan kemuliaan-Nya. Sementara perbuatan burukpun tidak dinisbatkan kepada mereka, sebagaimana merekapun tidak pernah menisbatkan perbuatan baik pada diri mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هَلْ جَزَآءُ الْاِ حْسَا نِ اِلَّا الْاِ حْسَا نُ 
hal jazaaa-ul-ihsaani illal-ihsaan

“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 60)

Mereka inilah yang membuat malaikat Roqib dan ‘Atid beristirahat (dari tugasnya).

Merekapun tidak memiliki catatan amal, tidak ada timbangan, bahkan merekapun tidak punya kebajikan dan keburukan.

7. Tipikal/golongan ketujuh: Mereka adalah orang orang yang saling mencintai karena Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)

Mereka tidak punya kebajikan, tidak pula punya keburukan, tidak memiliki catatan amal, amalnya pun tidak akan ditimbang, bahkan mereka malah berharap agar kondisi diri mereka itu juga bisa menular pada yang lainnya dengan perantara ruhani yang berupa kecintaan mereka kepada Allah. Sebab Rasulullah Saw bersabda,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Pada hari kiamat, seseorang kelak bersama orang yang dicintainya. “(HR. Al-Tirmidzi, dimana la mengatakan, “Hasan Shahih.”)

Juga seperti sabda beliau lainnya,

الْمُتَحَابُّوْنَ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلا ظِلُّهُ، عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، يَغْبِطُهُمْ بِمَكَانِهِمُ النَّبِيُّوْنَ وَالصِّدِّيقُوْنَ

“Pada hari kiamat, hari dimana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya; para pencinta kelak ada dibawah naungan ‘Arasy, yang berada diatas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya; para nabi dan ash-shidiqin cemburu kepada mereka. “(HR. Ahmad; Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban.)

8. Tipikal/golongan kedelapan: Ini merupakan golongan yang paling tinggi derajatnya, mereka adalah orang-orang yang ridha.

Ridho merupakan martabat paling tinggi dari kesabaran, dimana ridho ini merupakan puncak sebuah cinta dan kondisi tenggelam dalam musyahadah. Mereka adalah,sesuai dengan firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَـنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ الْـفَوْزُ الْعَظِيْمُ
qoolallohu haazaa yaumu yangfa’ush-shoodiqiina shidquhum, lahum jannaatung tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaaa abadaa, rodhiyallohu ‘an-hum wa rodhuu ‘an-h, zaalikal-fauzul-‘azhiim

“Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 119)

Nabi Saw pernah bersabda,

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ، فَيُحِبُّهُ جبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوْهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي الْأَرْضِ.

“Jika Allah cinta kepada seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya berfirman, ‘Sungguh Allah cinta pada si fulan, maka kau cintailah dia, maka Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril menyeru pada penghuni langit, ‘Sungguh Allah cinta
pada si fulan, maka kalian cintailah dia, maka penghuni langitpun mencintainya’, kemudian ia dijadikan standar diterimanya (suatu do’a) penghuni bumi. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.)

Maka para malaikat pun mencintai mereka, bahkan kecintaan mereka pun dijadikan angan-angan.

Tidak ada angan-angan lagi setelah mendapatkan cinta dan keridhaan-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗ وَرِضْوَا نٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
wa’adallohul-mu-miniina wal-mu-minaati jannaating tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaa wa masaakina thoyyibatang fii jannaati ‘adn, wa ridhwaanum minallohi akbar, zaalika huwal-fauzul-‘azhiim

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 72)

Maka kini lihat dirimu, ada dimana dirimu (dari bagian kecintaan dan keridhaan-Nya)?

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY