
Elsubha.com – Pondasi Ke-23 : Dosa
Tidaklah seorang mukmin melakukan suatu dosa kecuali didalamnya bercampur antara kebaikan dan keburukan:
1. Pengetahuan dia bahwa perbuatan itu adalah dosa, dan kepercayaannya bahwa itu adalah maksiat (kepada Allah Swt), maka itu adalah kebaikan.
2. Berprasangka baik terhadap Allah dalam dosa tersebut; Sebab, jika saja dia tahu dari Allah bahwa dia akan ditelan oleh bumi jika melakukan dosa, niscaya diapun tidak akan terpikirkan untuk melakukannya, maka ini adalah kebaikan.
3. Pandangannya akan kelemahan diri, itu adalah ibadah.
4. Pandangannya akan adanya penghalang Allah ketika ia dalam perbuatan dosa, maka itu adalah kebaikan.
5. Pandangannya akan kesabaran Allah padanya, dimana Allah panjangkan umurnya sampai ia melakukan dosa tersebut dan ia bertobat darinya serta senantiasa memperbanyak untaian istighfar.
6. Menyesal setelah melakukan dosa adalah tobat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah; Ath-Thayalisi; Ahmad; Al Bazzar dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya; Ath-Thabrani; Al Hakim.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْقِلٍ، قَالَ: دَخَلْتُ مَعَ أَبِي عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ، فَقَالَ لَهُ أَبِي: أَنْتَ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : النَّدَمُ تَوْبَةٌ، فَقَالَ: نَعَمْ، فَقَالَ لَهُ أَبِي: أَنْتَ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: النَّدَمُ تَوْبَةٌ، فَقَالَ : نَعَمْ.
Diriwayatkan dari Ibnu Ma’qil, dia berkata, “(Suatu ketika) aku bersama ayahku mendatangi Abdullah, aku dengar la berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Penyesalan itu adalah tobat’, Ayahku berkata padanya, ‘Apa engkau mendengar Nabi Saw bersabda, ‘Penyesalan adalah tobat? Dia berkata, ‘lya’.”)
7. Kebenciannya terhadap maksiat meskipun masih terus melakukan maksiat adalah kebaikan.
8. Pandangannya bahwa terlaksananya ketentuan Allah pada dosa tersebut, meskipun dirinya bisa memilih antara melakukan dosa ataupun meninggalkannya; maka tidak ada seorang mukmin yang melakukan suatu dosa kecuali dia tergolong kedalam orang-orang yang Allah Swt firmankan,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاٰ خَرُوْنَ اعْتَرَفُوْا بِذُنُوْبِهِمْ خَلَطُوْا عَمَلًا صَا لِحًـا وَّاٰخَرَ سَيِّئًا ۗ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
wa aakhoruuna’tarofuu bizunuubihim kholathuu ‘amalang shoolihaw wa aakhoro sayyi-aa, ‘asallohu ay yatuuba ‘alaihim, innalloha ghofuurur rohiim
“Dan (ada pula) orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 102)
Redaksi, عَسَى (Mudah-mudahan), didalam Al Qur’an mengindikasikan hukum yang wajib diwujudkan. (Semua redaksi kata dalam Al Qur’an mengindikasikan wajibnya hal tersebut diwujudkan kecuali pada satu tempat dalam Al Qur’an, “(Jika Nabi menceraikanmu) boleh jadi..” (Qs. Ath-Thalaq [66]: 5).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
عَسٰى رَبُّهٗۤ اِنْ طَلَّقَكُنَّ اَنْ يُّبْدِلَهٗۤ اَزْوَا جًا خَيْرًا مِّنْكُنَّ مُسْلِمٰتٍ مُّؤْمِنٰتٍ قٰنِتٰتٍ تٰٓئِبٰتٍ عٰبِدٰتٍ سٰٓئِحٰتٍ ثَيِّبٰتٍ وَّاَبْكَا رًا
‘asaa robbuhuuu ing thollaqokunna ay yubdilahuuu azwaajan khoirom mingkunna muslimaatim mu-minaating qoonitaating taaa-ibaatin ‘aabidaating saaa-ihaating sayyibaatiw wa abkaaroo
“Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 5)
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
