You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-22 : Syirik

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-22 : Syirik

Meskipun orang musyrik, namun dalam dirinya masih ada semerbak bau tauhid dan sikap pengagungan terhadap sisi uluhiyyah. Sekalipun ia syirik dari satu Tuhan, bersamaan dengan orang yang meyakini ketuhanan dzat tersebut.u

Dzat tersebut baginya adalah Tuhan yang agung dan bukan Tuhan jadi-jadian. Diapun menjadikan adanya tuhan lain yang dia jadikan (perantara) untuk mendekat pada Tuhan yang agung tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَا لِصُ ۗ وَا لَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ ۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّا رٌ
alaa lillaahid-diinul-khoolish, wallaziinattakhozuu ming duunihiii auliyaaa, maa na’buduhum illaa liyuqorribuunaaa ilallohi zulfaa, innalloha yahkumu bainahum fii maa hum fiihi yakhtalifuun, innalloha laa yahdii man huwa kaazibung kaffaar

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)

Penghormatan dirinya pada maqam uluhiyyah (sisi ketuhanan), aku berharap dari Allah agar diapun selamat dengan kesyirikan yang ada padanya.

Sebab, sesungguhnya kala kesulitan datang, diapun tidak memohon kecuali kepada Tuhan yang satu, seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan,

وَاِ ذَا غَشِيَهُمْ مَّوْجٌ كَا لظُّلَلِ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ۚ فَلَمَّا نَجّٰٮهُمْ اِلَى الْبَـرِّ فَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۗ وَمَا يَجْحَدُ بِاٰ يٰتِنَاۤ اِلَّا كُلُّ خَتَّا رٍ كَفُوْرٍ
wa izaa ghosyiyahum maujung kazh-zhulali da’awulloha mukhlishiina lahud-diin, fa lammaa najjaahum ilal-barri fa min-hum muqtashid, wa maa yaj-hadu bi-aayaatinaaa illaa kullu khottaaring kafuur

“Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima kasih.”
(QS. Luqman 31: Ayat 32)

Kematian adalah kesulitan yang paling sengsara.

Lihatlah pada Fir’aun ketika akan ditenggelamkan, yang nampak ketika itu tak lain adalah pengagungan terhadap Tuhan yang pada hakekatnya dia yakini.

Orang yang musyrik pada Allah tidak akan bisa tertolong kecuali dengan kembali kepada tauhid yang murni.

Begitu pula ketika Allah Swt berfirman pada malaikat:

ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ، فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا لَمْ نَذَرُ فِيهَا خَيْرًا

“Kembalilah kalian, jika kalian menemukan seseorang yang didalam hatinya ada kebaikan meskipun hanya sebesar biji atom, maka keluarkanlah ia, maka para malaikatpun mengeluarkan banyak sekali makhluk (dari neraka),” para malaikat berkata, ‘Wahai Tuhan kami, kami tidak ber-nadzar kebaikan atas perbuatan itu’. ” (HR. Muslim dalam Shahih-nya. Di dalamnya disebutkan:

كَانَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِى يَقُولُ: إِنْ لَمْ تُصَدِّقُوْنِى بِهَذَا الْحَدِيثِ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفُهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا). فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ قَدْ عَادُوا حُمَمًا فَيُلْقِيهِمْ فِي نَهْرٍ فِي أَفْوَاهِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ نَهْرُ الْحَيَاةِ فَيَخْرُجُوْنَ كَمَا تَخْرُجُ الْحَيَّةُ فِي حَمِيْلِ السَّيْلِ أَلَا تَرَوْنَهَا تَكُوْنُ إِلَى الْحَجَرِ أَوْ إِلَى الشَّجَرِ مَا يَكُوْنُ إِلَى الشَّمْسِ أَصَيْفِرُ وَأُحَيْضِرُ وَمَا يَكُوْنُ مِنْهَا إِلَى الظَّلِّ يَكُونُ أَبْيَضَ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّكَ كُنْتَ تَرْعَى بِالْبَادِيَةِ، قَالَ : فَيَخْرُجُوْنَ كَاللُّؤْلُةِ فِي رِقَابِهِمُ الْخَوَاتِمُ يَعْرِفُهُمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ هَؤُلَاءِ عُتَقَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ أَدْخَلَهُمُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ عَمِلُوْهُ وَلَا خَيْرٍ قَدَّمُوْهُ، ثُمَّ يَقُوْلُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ فَمَا رَأَيْتُمُوهُ فَهُوَ لَكُمْ. فَيَقُولُونَ : رَبَّنَا أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ. فَيَقُولُ: لَكُمْ عِنْدِي أَفْضَلُ مِنْ هَذَا، فَيَقُوْلُوْنَ : يَا رَبَّنَا أَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ هَذَا؟ فَيَقُوْلُ: رضاى، فَلَا أَسْحَطْ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا.

Abu Sa’id Al Khudri sang periwayat hadits berkata, “Jika kalian tidak mempercayaiku akan hadits ini, maka bacalah firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar biji zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (Qs. An-Nisa [4]: 40). Allah Swt berfirman, “Para malaikat memberikan syafa’at, para nabi memberikan syafa’at, orang-orang yang beriman memberikan syafa’at, dan tidak tersisa kecuali Dzat Allah yang Maha Penyayang. Lalu Aku ambil segenggam dari api neraka dan keluarlah dari genggaman tersebut suatu kaum yang tidak pernah mengerjakan kebaikan sama sekali, dan merekapun menjadi tanah (humaman), maka Aku lemparkan mereka ke mulut surga yang disebut dengan ‘Sungai kehidupan, kemudian merekapun berkeluaran seperti keluarnya putik bunga, tidakkah engkau lihat ia berjatuhan ke atas bebatuan atau ke pohon lainnya, sementara yang terkena matahari ia akan menguning atau menghijau dan yang jatuh ke sisi yang teduh akan berubah menjadi putih?. ‘Para sahabat berkata, “Wahal Rasulullah, sepertinya baginda yang mengurusi lembah ini, “Rasulullah Saw bersabda, “Maka merekapun seperti permata didalam lingkaran cincin. Penghuni surga mengenal mereka, mereka adalah orang-orang yang Allah bebaskan dan Dia masukkan kedalam surga tanpa ada amal perbuatan yang pernah dilakukan, tanpa adanya kebaikan yang mereka suguhkan. Kemudian Allah Swt berfirman, “Masuklah kalian ke dalam surga, apa yang kalian lihat di dalamnya maka itu adalah milik kalian.” Penghuni surga tersebut berkata, “Wahai Rabb kami, Engkau telah memberikan kami apa yang tidak diberikan kepada seorangpun di alam semesta ini. Allah Swt berfirman, “Bahkan kalian memiliki yang lebih utama dari ini.” Para penghuni surga berkata, “Lantas apa yang lebih utama dari ini?” Allah berfirman, “Keridhaan-Ku, selamanya Aku tidak akan pernah membenci kalian.” Dalam sebuah riwayat disebutkan tambahan kata setelah sabda, “Tanpa ada amal perbuatan yang pernah dilakukan, tanpa adanya kebaikan yang mereka suguhkan,” yaitu kata, “Maka dikatakan kepada mereka, ‘Apa yang kalian lihat dan semisalnya itu untuk kalian.”)

Semerbak pengagungan maqam uluhiyyah (sisi ketuhanan) pada kalbu orang-orang yang musyrik terkadang melebihi besarnya biji zarah.

Sementara Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
wa qodhoo robbuka allaa ta’buduuu illaaa iyyaahu wa bil-waalidaini ihsaanaa, immaa yablughonna ‘ingdakal-kibaro ahaduhumaaa au kilaahumaa fa laa taqul lahumaaa uffiw wa laa tan-har-humaa wa qul lahumaa qoulang kariimaa

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 23)

Maksudnya adalah, Allah telah menetapkan sejak zaman azali bahwa tidaklah seorang hamba menyembah kecuali ia menyembah pada dzat yang menampakkan beragam penampakan sisi uluhiyyah.

Dari sini, maka berbedalah pandangan setiap hamba terhadap dzat yang disembah, sedangkan keyakinan akan uluhiyyah didalam kalbu mereka adalah satu.

Sementara Allah memiliki sifat cemburu.

Dia tidak ingin ada dzat lain yang disembah selain-Nya, sehingga pada setiap hamba akan nampak wujud yang disembahnya.

Maka akan nampak (dzat yang disembah) pada penyembah batu dalam gambaran batu.

Maka akan nampak (dzat yang disembah) pada penyembah pepohonan dalam gambaran pohon.

Maka akan nampak (dzat yang disembah) pada penyembah manusia dalam gambaran manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الْاَ وَّلُ وَا لْاٰ خِرُ وَا لظَّاهِرُ وَا لْبَا طِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
huwal-awwalu wal-aakhiru wazh-zhoohiru wal-baathin, wa huwa bikulli syai-in ‘aliim

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 3)

Maka Allahlah “Azh-Zhahir (Yang Maha Nyata),” huruf alif lam pada kata Azh-Zhahir artinya adalah tidak ada yang nampak selain Dzat-Nya

Maka tidaklah seorang hamba menyembah (apapun yang diyakininya sebagai Tuhan) kecuali sejatinya dia menyembah Allah, namun hamba tersebut tidak merasa.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY