
Elsubha.com – Pondasi Ke-29 : Cahaya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَوَمَنْ كَا نَ مَيْتًا فَاَ حْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّا سِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَـيْسَ بِخَا رِجٍ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
a wa mang kaana maitang fa ahyainaahu wa ja’alnaa lahuu nuuroy yamsyii bihii fin-naasi kamam masaluhuu fizh-zhulumaati laisa bikhoorijim min-haa, kazaalika zuyyina lil-kaafiriina maa kaanuu ya’maluun
“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 122)
Redaksi, “Al Mayyitu,” maknanya adalah orang yang kalbunya lalai.
Redaksi, “Al Mayyitu,”, maknanya adalah orang yang habis kehidupannya.
Orang yang kafir itu mayyitun, maka Allah hidupkan kalbunya dengan keimanan, kemudian Dia jadikan syari’at sebagai cahaya pemandu baginya.
Orang yang mukmin juga mayyitun, maka Allah hidupkan kalbunya dengan keilmuan, kemudian Dia jadikan kema’rifatan sebagai cahaya pemandu baginya.
Orang yang ‘alim pun juga mayyitun, maka Allah hidupkan kalbunya dengan kema’rifatan, kemudian Dia jadikan musyahadah sebagai cahaya pemandunya menuju Allah.
Sementara orang yang sudah mampu ber-musyahadah, maka cahaya yang ada pada dirinya bukanlah dibuat, tetapi murni cahaya jiwa yang bersumber dari Dzat dan ruh Allah Swt.
Sebab, seorang hamba, jika ia telah sampai pada derajat orang-orang yang Allah cintai, maka diapun akan menyaksikan bahwa Allah adalah pendengarannya, penglihatannya dan semua kekuatannya, sehingga dapat dikatakan itu merupakan cahaya dari jiwanya; maksudnya adalah murni dari Dzat-Nya Allah.
Dari sinilah Rasulullah Saw bersabda,
وَاجْعَلْنِي نُورًا
“Jadikanlah aku cahaya, “(HR. Muslim dalam Shahih-nya.) maka yang dimaksud adalah cahaya yang ada pada jiwa.
Dalam sebuah riwayat disebutkan,
وَاجْعَلْ لِي نُورًا
“Jadikanlah cahaya itu untukku, “(HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.) maka yang dimaksud adalah cahaya yang Allah sengaja buatkan untuknya.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
