You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-30 : Rahmat

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-30 : Rahmat

Pada hari penciptaan manusia, Allah Swt telah menciptakan manusia dalam kondisi senang, lalu Allah memilihnya untuk diri-Nya, Allah muliakan ia pada hadrah-Nya seraya berfirman,

وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
wa laqod karromnaa baniii aadama wa hamalnaahum fil-barri wal-bahri wa rozaqnaahum minath-thoyyibaati wa fadhdholnaahum ‘alaa kasiirim mim man kholaqnaa tafdhiilaa

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 70)

Maka sejak zaman azali, pada ilmu Allah, manusia senantiasa dilimpahkan karunia.

Kemudian kalian ke alam partikel, dimana Allah ambil janji tauhid, sehingga pada asalnya seluruhnya bertauhid, dan tauhid ini menetap dalam kefitrahannya; mustahil fitrah ini dapat diganti maupun dirubah.

Lalu manusia keluar lagi dan masuk ke alam rahim, kemudian ke alam dunia dengan fitrah keislaman sampai beberapa tahun, lalu syeithan menggoda dan memberikan rasa was-was padanya, sehingga kefitrahan yang dibawa sejak lahir tadi terpendam dan yang tersisa adalah godaan syeithan tadi.

Syeithan ketika ia bermaksiat pada Allah, Allah pun membuat tipu daya padanya, sehingga Allah memberikannya kemampuan untuk menguasai anak keturunan Adam hingga ia yakin bahwa ia mampu menguasai mereka, sehingga iapun bersumpah;

قَا لَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُ غْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ 
qoola fa bi’izzatika la-ughwiyannahum ajma’iin

“(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,”
(QS. Sad 38: Ayat 82)

اِلَّا عِبَا دَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ
illaa ‘ibaadaka min-humul-mukhlashiin

“kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.””
(QS. Sad 38: Ayat 83)

Sehingga pada hari kiamat tiba, Allah pun berfirman kepada Nabi Adam As, “Keluarkan utusan neraka? (maksudnya: bedakan penghuni neraka dari yang lainnya),” Nabi Adam As berkata, “Apa itu utusan neraka?” Allah berfirman, “Dari seribu ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan. ” (Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya:

عنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُوْلُ اللَّهُ: يَا آدَمُ، فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ، قَالَ: يَقُولُ : أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ، قَالَ : وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفِ يَسْعَمِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَذَاكَ حِينَ يَشِيبُ الصَّغِيرُ: وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمَلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُم بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ). فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا ذَلِكَ الرَّجُلُ، قَالَ: أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا وَمِنْكُمْ رَجُلٌ، ثُمَّ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنِّي لَأَطْمَعُ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، قَالَ: فَحَمِدْنَا اللَّهَ وَكَبَّرْنَا، ثُمَّ قَالَ : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنِّي لَأَطْمَعُ أَنْ تَكُونُوا شَطْرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِنَّ مَثَلَكُمْ فِي الْأُمَمِ كَمَثَلِ الشَّعَرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جِلْدِ النَّوْرِ الْأَسْوَدِ أَوِ الرَّحْمَةِ فِي ذِرَاعِ الْحِمَارِ.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai Adam’, nabi Adam menjawab, ‘Kupenuhi panggilan-Mu, kudatang dengan senang hati, dimana kebaikan ada ditangan-Mu’, Allah berfirman, kepada Nabi Adam As, Keluarkan utusan neraka? (maksudnya: bedakan penghuni neraka dari yang lainnya)’, Nabi Adam As berkata, ‘Apa itu utusan neraka?’ Allah berfirman, Dari seribu ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan (kecuali satu orang); maka itu ketika anak kecil sudah beruban, Dan gugurlah kandungan wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat kerasnya (Qs. Al Hajj [22]: 2). Maka kondisi itupun berat bagi mereka. Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah kami lelaki itu?” Nabi Saw bersabda, “Bergembiralah, sungguh dari pengikut Ya’juj dan Ma juj ada seribu dan dari kalian ada satu orang’, lalu Nabi Saw melanjutkan sabda beliau, Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, sungguh aku tamak untuk menjadikan mereka sebagian penghuni surga. Sungguh orang-orang seperti kalian yang ada pada umat ini, seperti satu rambut putih yang ada pada sapi betina berwarna hitam; atau layaknya nomer yang ada di kaki keledai.”)

Disanalah iblis -yang dilaknat Allah- senang, sebab ia ingin membuktikan di hadapan Allah bahwa ia dalam kebenaran ketika ia enggan sujud pada Adam As.

Tetapi kemudian ada kejutan, dimana Rasulullah bersujud di ‘Arasy, memuji Allah dengan beragam pujian, dan diserukan untuknya,

سَلْ تُعْطَهُ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، فَيَقُوْلُ: ذُرِّيَّةُ أَدَمَ لَا تُحْرَقِ الْيَوْمَ فِي النَّارِ.

“Mintalah, engkau akan diberi, mintalah syafa’at, engkau akan diberi syafa’at, Nabi Saw bersabda, Wahai Rabb, anak keturunan Nabi Adam As, hari ini janganlah mereka dibakar di neraka, ‘(HR. Al Ajiri dalam Asy-Syari’ah, dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh nya.) dan Allah pun menerima syafa’at Nabi Saw.

“Wahai iblis, engkau paling hina, paling kecil disisi Allah Swt meski engkau memasukkan anak keturunan Nabi Adam As ke dalam neraka dengan godaanmu itu.”

Maka telah disepakati bahwa manusia yang kafir, yang musyrik dan yang murtad, mereka ini lebih ringan dosanya disisi Allah daripada iblis -yang dilaknat Allah-.

Maka tidak ada lagi angan-angan iblis ketika itu kecuali ia bergelayutan pada satu dari tali rahmat Allah, lantas apakah ada yang menjadi rahmatan lil ‘alamin selain Rasulullah Saw? sementara beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيَغْفِرَنَّ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَغْفِرَةٌ يَتَطَاوَلُ لَهَا إِبْلِيسُ رَجَاءَ أَنْ تُصِيبَهُ

yang “Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, pada hari kiamat Allah pasti akan memberikan ampunan melampaui batas, dimana iblis berharap tidak terkena ampunan itu. ” (Ini merupakan penggalan dari redaksi hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Al Baihaqi dan Al Dailami:

عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ الْفَاجِرُ فِي دِينِهِ الأَحْمَقُ فِي مَعِيشَتِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ الَّذِي قَدْ مَحَشَتْهُ النَّارُ بِذَنْبِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيَغْفِرَنَّ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَغْفِرَةً يَتَطَاوَلُ لَهَا إِبْلِيسُ رَجَاءَ أَنْ تُصِيبَهُ.

Diriwayatkan dari Hudzaifah, dimana ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Demi jiwaku yang ada digenggaman-Nya, sungguh akan masuk surga orang yang durjana pada agamanya, yang tolol dalam kehidupannya; Demi jiwaku yang ada digenggaman-Nya, sungguh akan masuk surga orang-orang yang telah dibakar oleh api neraka; pada hari Kiamat Allah pasti akan memberikan ampunan yang melampaui batas, dimana iblis berharap tidak terkena ampunan itu.”)

Iblis bersikap demikian sampai ia melihat sendiri bahwa rahmat Allah sangat luas meliputi siapapun, manusia dan jin yang ada dibawah naungan tersebut, dan tidak ada yang tersisa kecuali dia (iblis).

Dalam riwayat lainnya ada tambahan redaksi,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيَغْفِرَنَّ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَغْفِرَةٌ لَا تَخْطُرُ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Demi jiwaku yang ada digenggaman-Nya, pada hari kiamat Allah akan memberikan ampunan yang tidak pernah terdetik pada kalbu manusia. ‘ (Redaksi tambahan Ini merupakan bagian dari riwayat Ath-Thabrani dalam Al Ausath.)

Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَجَعَلَ مِنْهَا فِي الأَرْضِ رَحْمَةً فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَى وَلَدِهَا وَالْوَحْشِ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ

“Sungguh Allah telah menciptakan seratus rahmat kala menciptakan langit-langit dan bumi. Setiap rahmat ada yang tergantung diantara langit-langit dan bumi. Allah jadikan satu diantaranya di bumi, maka dengan rahmat itulah seorang ibu mengasihi anaknya, hewan-hewan liar dan burungpun mengasihi sesamanya. Maka apabila hari kiamat tiba, Allah lengkapi rahmat itu dengan rahmat (yang turun ke bumi) ini. ” (HR. Muslim dalam Shahih-nya.)

Dalam riwayat lainnya disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْتَسْ مِنَ الْجَنَّةِ وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعَذَابِ لَمْ يَأْمَنُ مِنَ النَّارِ

“Sungguh Allah telah menciptakan seratus rahmat pada hari penciptaannya, Allah tahan sembilan puluh sembilan pada sisi-Nya, dan melimpahkan satu rahmat untuk seluruh makhluknya. Jikalau orang kafir tahu dengan seluruh rahmat yang ada pada sisi Allah, maka ia tidak akan berputus asa dari surga. Dan jikalau orang mukmin mengetahui seluruh adzab yang ada pada sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari api neraka. ” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya.)

Rasulullah Saw bersabda,

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ. قَالُوا وَاللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: فَإِنَّهَا فُضْلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا

“Api neraka kalian yang membakar anak keturunan Adam As merupakan satu dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka.” Para sabahat berkata, “Demi Allah, jika demikian maka itu sudah cukup wahai Rasulullah,” Rasulullah Saw melanjutkan sabda beliau, “Sungguh api neraka itu dilebihkan enam puluh sembilan api yang panasnya seperti panas api neraka.” (HR. At-Tirmidzi, dimana ia berkata, “Hasan Shahih.”)

Jikalau setiap bagian dari api neraka dihadapkan pada sebagian rahmat Allah, maka masih akan tersisa tiga puluh bagian rahmat Allah yang murni.

Rahmat yang keseratus ini adalah rahmat yang tercipta; rahmat itu adalah Rasulullah Saw ketika memberikan syafa’at, sebagaimana beliau Saw bersabda,

فَيَشْفَعُ النَّبِيُّونَ وَالْمَلَائِكَةُ وَالْمُؤْمِنُونَ فَيَقُولُ الْجِبَّارُ بَقِيَتْ شَفَاعَتِي

“Maka dia (Rasulullah Saw) memberikan syafa’at kepada para nabi, para malaikat dan orang-orang mukmin, kemudian Allah Al Jabbar berfirman, “Maka yang tersisa adalah syafa’at-Ku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.)

Maksudnya adalah, setelah Rasulullah Saw memberikan syafa’at, dimana beliau adalah rahmatan lil ‘alamin, dan Allah memberikan ampunan-Nya, kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya, maka disana ada rahmat lainnya, yaitu Rahmat Dzatiyyah yang lawan katanya bukan adzab. Itu adalah rahmat diatas rahmat, pengampunan diatas pengampunan, kelembutan diatas kelembutan, kasih sayang yang diikuti kasih sayang lainnya. Allah lah yang paling penyayang dari kasih sayang-Nya, yang paling lembut dari kelembutan-Nya.

Sedangkan ancaman dan janji Allah yang tertera dalam Al Qur’an, maka orang arab menyanjung bahwa Dia itu melaksanakan janji dan melanggar ancaman-Nya:

وَإِنِّي وَإِنْ أَوْعَدْتُهُ أَوْ وَعَدْتُهُ لَمُخْلِفٌ إِيعَادِي وَمُنْجِرٌ مَوْعِدِي

“Dan Aku, meskipun Aku ancam atau janjikan padanya # maka Aku langgar ancamanku dan laksanakan janjiku.”

Allah Swt suka dipuji dan suka menampakkan firman-Nya,

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wa maaa arsalnaaka illaa rohmatal lil-‘aalamiin

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Diapun suka membuat sedih iblis sebagaimana Dia pula suka merahmati hamba-Nya.

Maka keumuman rahmat Allah itu murni dijamin dengan jaminan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ

“Sungguh Allah telah menulis sebuah tulisan sebelum Dia menciptakan makhluk, ‘Sungguh rahmat-Ku itu mendahului kemurkaan-Ku’, ini dituliskan disisi-Nya yang berada diatas ‘Arasy. ” (HR. Al Bukhari dalam Shahih nya.)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا للّٰهُ يَدْعُوْۤا اِلٰى دَا رِ السَّلٰمِ ۗ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
wallohu yad’uuu ilaa daaris-salaam, wa yahdii may yasyaaa-u ilaa shiroothim mustaqiim

“Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam).”
(QS. Yunus 10: Ayat 25)

Seruan ini akan tetap berlangsung di dunia dan di akhirat. Dia tidak akan menyeru pada yang lainnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلْمُلْكُ يَوْمَئِذِ ٱِلْحَـقُّ لِلرَّحْمٰنِ ۗ وَكَا نَ يَوْمًا عَلَى الْكٰفِرِيْنَ عَسِيْرًا
al-mulku yauma-izinil-haqqu lir-rohmaan, wa kaana yauman ‘alal-kaafiriina ‘asiiroo

“Kerajaan yang hak pada hari itu adalah milik Tuhan Yang Maha Pengasih. Dan itulah hari yang sulit bagi orang-orang kafir.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 26)

Maka pada kondisi disana tidak ada tajalli kecuali dengan rahmat-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ 
waktub lana fii haazihid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti innaa hudnaaa ilaiik, qoola ‘azaabiii ushiibu bihii man asyaaa, wa rohmatii wasi’at kulla syaii, fa sa-aktubuhaa lillaziina yattaquuna wa yu-tuunaz-zakaata wallaziina hum bi-aayaatinaa yu-minuun

“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 156)

Dimana adzab yang ada adalah sesuatu, namun rahmat Allah telah meliputinya.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY