
Elsubha.com – Pondasi Ke-31 : Iman
Setiap makhluk sejatinya beriman dengan keimanan yang tidak bisa diubah maupun diganti, sesuai pada fitrah masa azalinya.
Orang-orang yang beriman ada dua kelompok:
1. Kelompok yang beriman pada yang ghaib di dunia ini; sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya,
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِا لْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
allaziina yu-minuuna bil-ghoibi wa yuqiimuunash-sholaata wa mimmaa rozaqnaahum yungfiquun
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 3)
وَا لَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِا لْاٰ خِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
wallaziina yu-minuuna bimaaa ungzila ilaika wa maaa ungzila ming qoblik, wa bil-aakhiroti hum yuuqinuun
“dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 4)
اُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
ulaaa-ika ‘alaa hudam mir robbihim wa ulaaa-ika humul-muflihuun
“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 5)
2. Kelompok yang beriman dengan penyaksian diri ketika kematian menjemput atau tatkala di akhirat; mereka ini adalah orang-orang yang kafir.
Orang yang beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, tentang hari kiamat dan tentang qadha dan qadar, maka ia telah beriman dari sesuatu yang ghaib.
Sedangkan orang-orang kafir, sejak pengambilan janji (di alam arwah), keimanan mereka tertutupi dalam memori mereka yang rusak, sehingga mereka meninggal dunia tanpa adanya keimanan dalam diri, tetapi ketika disingkapkan tirai penghalang bagi mereka, ketika itu mereka melihat apa yang bisa dilihat, menyaksikan apa yang bisa disaksikan, maka kalbu mereka pun dipenuhi dengan keimanan; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَـرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ كَذَّبَ بِاٰ يٰتِهٖ ۗ اُولٰٓئِكَ يَنَا لُهُمْ نَصِيْبُهُمْ مِّنَ الْـكِتٰبِ ۗ حَتّٰۤى اِذَا جَآءَتْهُمْ رُسُلُـنَا يَتَوَفَّوْنَهُمْ ۙ قَا لُوْۤا اَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ قَا لُوْا ضَلُّوْا عَنَّا وَشَهِدُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ اَنَّهُمْ كَا نُوْا كٰفِرِيْنَ
fa man azhlamu mim maniftaroo ‘alallohi kaziban au kazzaba bi-aayaatih, ulaaa-ika yanaluhum nashiibuhum minal-kitaab, hattaaa izaa jaaa-at-hum rusulunaa yatawaffaunahum qooluuu aina maa kungtum tad’uuna ming duunillaah, qooluu dholluu ‘annaa wa syahiduu ‘alaaa angfusihim annahum kaanuu kaafiriin
“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan dalam Kitab sampai datang para utusan (malaikat) Kami kepada mereka untuk mencabut nyawanya. Mereka (para malaikat) berkata, “Manakah sembahan yang biasa kamu sembah selain Allah?” Mereka (orang musyrik) menjawab, “Semuanya telah lenyap dari kami.” Dan mereka memberikan kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 37)
Maksudnya adalah bahwa mereka di dunia ini merupakan orang-orang kafir, sementara nanti di akhirat, maka mereka termasuk orang-orang yang beriman. Jika di dunia mereka terluputkan keimanan lantaran ke-ghaib-an (di luar jangkauan mereka), maka di akhirat, mereka tidak akan terluputkan keimanan itu lantaran penyaksian diri mereka (mereka manyaksikan apa yang terjadi ketika di akhirat).
Maka pada orang yang beriman itu terkumpul keimanan lantaran ke-ghaib-an dan penyaksian diri, sedangkan orang kafir, mereka hanya mendapatkan keimanan lantaran penyaksian diri (di akhirat), sehingga merekapun berada satu derajat dibawah orang yang beriman. Oleh karena itulah, Allah hukum mereka di akhirat dengan adzab yang lebih dahsyat dari api neraka yang pedih; yaitu terhijab dari Allah sang Pengayom alam semesta, seperti halnya yang tertera dalam firman-Nya,
كَلَّاۤ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَ
kallaaa innahum ‘ar robbihim yauma-izil lamahjuubuun
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.”
(QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 15)
Maksudnya adalah, sebagaimana pandangan mereka (orang kafir) ditutup di dunia dari keimanan terhadap perkara yang ghaib.
Meski mereka konsisten, namun tidak pernah merubah status mereka menjadi orang yang beriman, dimana Allah mengharamkan orang yang beriman masuk ke dalam neraka. Bagaimana tidak, sementara mereka (orang yang beriman) ini telah memikul sifat keimanan. Allah lah Dzat yang Mukmin yang diyakini setiap orang yang beriman pada-Nya; baik dia beriman di dunia maupun di akhirat.
Allah telah menciptakan api neraka untuk menakut-nakuti dan sebagai bentuk pencegahan bagi hamba-Nya, sebagaimana tertera dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَهُمْ مِّنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِّنَ النَّا رِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۗ ذٰلِكَ يُخَوِّفُ اللّٰهُ بِهٖ عِبَا دَهٗ ۗ يٰعِبَا دِ فَا تَّقُوْنِ
lahum ming fauqihim zhulalum minan-naari wa ming tahtihim zhulal, zaalika yukhowwifullohu bihii ‘ibaadah, yaa ‘ibaadi fattaquun
“Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan yang disediakan bagi mereka. Demikianlah Allah mengancam hamba-hamba-Nya (dengan azab itu). “Wahai hamba-hamba-Ku, maka bertakwalah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 16)
Bahkan ketika merekapun yakin akan binasa, Rasulullah Saw berdiri dan memberikan syafa’at untuk semuanya, sehingga nampaklah karomah beliau Saw ketika itu tanpa ada lagi yang memperdebatkannya bahkan rahmat Allah meliputi semuanya kala itu.
Lebih dari itu, ketika iblis diperintahkan untuk bersujud, maka sungguh ia diperintahkan bersujud untuk cahaya tersembunyi Rasulullah Saw dalam perwujudan Nabi Adam As.
Maka ketika iblis enggan untuk beriman pada perkara yang ghaib, dan pada hari kiamat nampaklah luapan cahaya Rasulullah Saw dan nampak pula rasa kebutuhan setiap makhluk pada syafa’at beliau Saw, maka tidak ada lagi celah bagi iblis kecuali bersujud pada Rasulullah Saw, sehingga iapun mendapatkan bagian dari rahmat tersebut dan pada detik itu pula keimanannya menjadi penyaksian diri, seperti keimanan orang-orang kafir yang telah terluputkan keimanan mengenai hal-hal yang ghaib.
“Jika engkau melihat makhluk dengan kacamata syari’at maka engkau akan membenci mereka, sementara jika engkau melihat mereka dengan kacamata hakekat, niscaya engkau akan menyayangi dan mentolerirnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
رَبَّنَاۤ اٰمَنَّا بِمَاۤ اَنْزَلْتَ وَا تَّبَعْنَا الرَّسُوْلَ فَا كْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ
robbanaaa aamannaa bimaaa angzalta wattaba’nar-rosuula faktubnaa ma’asy-syaahidiin
“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, karena itu tetapkanlah kami bersama golongan orang yang memberikan kesaksian.””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 53)
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
