You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-32 : Senantiasa Menggantungkan Diri Pada Allah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-32 : Senantiasa Menggantungkan Diri Pada Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رَا كِعُوْنَ
innamaa waliyyukumullohu wa rosuuluhuu wallaziina aamanullaziina yuqiimuunash-sholaata wa yu-tuunaz-zakaata wa hum rooki’uun

“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah).”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 55)

Hal ini bisa dicapai dengan cara menjadikan Allah sebagai penolong, dan inilah titik puncaknya. Jika belum bisa untuk itu, maka hendaknya ia menggantungkan diri pada sosok yang benar-benar bergantung pada Allah Swt.

Lantas siapakah sosok selain Rasulullah Saw?

Jika engkau tidak dapat sampai pada posisi ini, maka bergantunglah pada orang mukmin dan orang shaleh yang Rasulullah Saw. Sebab sudah bergantung pada menggantungkan diri pada orang mukmin merupakan bagian dari bergantung pada Rasulullah Saw.

Sedangkan bergantung pada Rasulullah Saw merupakan inti dari bergantung pada Allah Swt.

Orang-orang nasrani menggantungkan diri pada Isa As, tetapi mereka salah ketika menisbatkan bahwa Isa adalah Tuhan atau anak Tuhan, mereka berlebihan dalam menisbatkan sehingga mereka patut masuk neraka, tetapi ketika mereka tulus dalam menggantungkan diri, maka inipun akan memberikan manfaat bagi mereka pada hari kiamat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّا سِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُ مِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ قَا لَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْۤ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَـيْسَ لِيْ بِحَقٍّ ۗ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗ ۗ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَاۤ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّا مُ الْغُيُوْبِ
wa iz qoolallohu yaa ‘iisabna maryama a angta qulta lin-naasittakhizuunii wa ummiya ilaahaini ming duunillaah, qoola sub-haanaka maa yakuunu liii an aquula maa laisa lii bihaqq, ing kungtu qultuhuu fa qod ‘alimtah, ta’lamu maa fii nafsii wa laaa a’lamu maa fii nafsik, innaka angta ‘allaamul-ghuyuub

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai ‘Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?” (‘Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 116)

Dalam ayat ini, nabi Isa As berlepas diri dari keyakinan mereka yang rusak, meski beliau tidak berlepas diri dari individu mereka, hal ini seperti yang telah difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِ نَّهُمْ عِبَا دُكَ ۚ وَاِ نْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِ نَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
ing tu’azzib-hum fa innahum ‘ibaaduk, wa ing taghfir lahum fa innaka angtal-‘aziizul-hakiim

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 118)

Maka nabi Isa As pun memohon ampunan kepada Allah Swt bagi mereka agar mereka selamat di akhirat lantaran keberkahan nabi Isa As.

Maka orang yang menggantungkan diri pada sosok yang sudah menggantungkan diri pada Allah Swt, maka penggantungan dirinya itu akan berujung pada akhir hayat yang terpuji sekalipun nyatanya ia sesat.

Rasulullah Saw telah bersabda,

اللهم إنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ

“Ya Allah, sungguh aku memohon kecintaanmu, kecintaan orang yang telah mencintai dan amal perbuatan yang dapat men-yampaikanku pada kecintaan-Mu.” (HR. At-Tirmidzi, dimana ia berkata, “Hasan Shahih,” Ahmad; Al Bazzar; Ath-Thabrani.)

Dalam riwayat lain disebutkan:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنِي حُبُّهُ عِنْدَكَ

“Ya Allah, keruniakanlah kecintaanmu padaku, dan kecintaan orang yang kecintaannya bermanfaat bagiku disisi-Mu.” (HR. At-Tirmidzi, dimana ia berkata, “Hadits Hasan”; Ibnu Abi Syaibah.)

Sementara orang yang bergantung pada patung atau pada batu, maka Allah tidak akan mencukupkannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ حَصَبُ جَهَـنَّمَ ۗ اَنْـتُمْ لَهَا وَا رِدُوْنَ
innakum wa maa ta’buduuna ming duunillaahi hashobu jahannam, angtum lahaa waariduun

“Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 98)

Redaksi kata dalam ayat diatas biasa dipergunakan untuk yang tidak berakal. Sedangkan untuk orang yang berakal; Jika dia rela dengan ibadah manusia padanya, maka ia telah terputus dari Allah, kondisinya tidak tersambung dengan Allah dan tidak bisa wushul pada-Nya. Sedangkan jika dia tidak rela, maka ketersambungan dirinya itu masih berkesinambungan, seperti nabi ‘Isa As dan ‘Uzair As.

Rasulullah Saw bersabda,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Pada hari kiamat, seseorang kelak bersama orang yang dicintainya. ” (HR. At-Tirmidzi, dimana ia berkata, “Hadits Hasan”; Ibnu Al Mubarak dalam kitab Az-Zuhd.)

Kesinambungan komunikasi dengan orang-orang yang senantiasa berkomunikasi dengan Allah merupakan wushul dan juga ada sisi kewalian. Ini sesuai dengan firman-Nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ وَلِيِّ يَ اللّٰهُ الَّذِيْ نَزَّلَ الْـكِتٰبَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصّٰلِحِيْنَ
inna waliyyiyallohullazii nazzalal-kitaaba wa huwa yatawallash-shoolihiin

“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an). Dia melindungi orang-orang saleh.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 196)

Syafa’at Rasulullah Saw sudah berlaku sejak dahulu dan ini juga bermanfaat bagi setiap partikel terkecil di alam ini.

Sejatinya setiap partikel alam ini bergantung pada Rasulullah Saw, baik bentuk ketergantungannya bisa memilih atau harus dipaksa.

Maka orang-orang yang ketergantungan dirinya bisa memilih adalah para pecinta.

Sedangkan orang-orang yang harus dipaksa dalam ketergantungan ini adalah orang-orang kafir. Sebab, di akhirat kelak mereka menyaksikan dengan kasat mata beragam perkara yang kala itu bisa disaksikan, sehingga ini membuat mereka beriman secara terpaksa pada syafa’at Rasulullah Saw, mustahil kala itu mereka bisa mengelak akan perkara ini, sementara Rasulullah lah pewaris Allah dan sosok yang dipasrahkan perihal pemberian syafa’at ini; seperti yang tersinyalir dalam firman-Nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ الْاَ رْضِ ۗ ءَاِلٰـهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ 
am may yujiibul-mudhthorro izaa da’aahu wa yaksyifus-suuu-a wa yaj’alukum khulafaaa-al-ardh, a ilaahum ma’alloh, qoliilam maa tazakkaruun

“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di Bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 62)

Tidaklah ada suatu zaman dan tempat kecuali disana ada sosok yang diposisikan layaknya posisi Rasulullah Saw, yang juga dipasrahkan oleh beliau Saw, agar manusia bisa menggantungkan diri mereka kepadanya;

Baik lantaran cinta, keta’atan maupun pilihan diri.

Baik lantaran dipaksa untuk ragam kebutuhan mereka.

Penggantungan diri yang dimaksud disini adalah penggantungan diri pada yang masih hidup dan bukan pada yang telah mati.

Para syuhada, shiddiqûn dan para nabi, mereka itu hidup.

Orang yang syahid; maka kita tidak boleh mengatakan bahwa ia sudah mati, sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَا تٌ ۗ بَلْ اَحْيَآءٌ وَّلٰـكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ
wa laa taquuluu limay yuqtalu fii sabiilillaahi amwaat, bal ahyaaa-uw wa laakil laa tasy’uruun

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 154)

Kita pun tidak menganggap mereka sudah mati, sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَا تًا ۗ بَلْ اَحْيَآءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ 
wa laa tahsabannallaziina qutiluu fii sabiilillaahi amwaataa, bal ahyaaa-un ‘ingda robbihim yurzaquun

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki,”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 169)

Maksudnya adalah hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, dimana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan disisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.

Ash-Shiddiqûn lebih tinggi derajatnya dari orang-orang yang syahid, seorang nabi lebih tinggi derajatnya dari shiddiqun. Allah Swt telah menyusun derajat mereka dalam firman-Nya,

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ فَاُ ولٰٓئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَا لصِّدِّيْقِيْنَ وَا لشُّهَدَآءِ وَا لصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَفِيْقًا 
wa may yuthi’illaaha war-rosuula fa ulaaa-ika ma’allaziina an’amallohu ‘alaihim minan-nabiyyiina wash-shiddiiqiina wasy-syuhadaaa-i wash-shoolihiin, wa hasuna ulaaa-ika rofiiqoo

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 69)

Maksudnya adalah orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul. Dan Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat, sebagaimana yang tertera dalam surat Al Fatihah ayat 7.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

صِرَا طَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ
shiroothollaziina an’amta ‘alaihim ghoiril-maghdhuubi ‘alaihim wa ladh-dhooolliin

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 7)

Maka saksikanlah wahai Allah, bahwa aku bergantung dengan kecintaan-Mu dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, juga kecintaan orang yang mendekatkanku pada kecintaan-Mu.

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY