
Elsubha.com – Pondasi Ke-33 : Huruf Nuraniyyah Yang Mujarab
Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ الْعَدُوَّ غَدًا، وَإِنَّ شِعَارَكُمْ حَمَ لَا يُنْصَرُونَ
“Sungguh esok hari kalian akan bertemu musuh, dan syi’ar kalian adalah, ‘Ha Mim’ niscaya kalian tidak akan dikalahkan.” (HR. Ahmad; An-Nasa’i; Ath-Thabrani; Al Hakim; dan Al Balhaqi.)
Dalam riwayat lainnya disebutkan,
إِنْ بَيْنَكُمُ العَدُوُّ ، فَقُوْلُوا :{ حَمَ } لَا يُنْصَرُوْنَ
“Andai kalian berhadapan dengan musuh, maka katakanlah, ‘Ha Miim’, niscaya kalian tidak akan dikalahkan. (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad.)
Akan tetapi huruf ini adalah hakekat yang sejatinya memiliki luapan cahaya, manjur, memiliki kekuatan, bisa menguasai dan bisa memaksa.
Ya Allah, dengan kebenaran “Alif,” satukanlah setiap kalbu agar tidak tercerai-berai.
Ya Allah, dengan kebenaran “Shad,” sampaikanlah kami pada yang kami maksud dan kucurkanlah hidayah pada hamba-Mu.
Ya Allah, dengan kebenaran, “Mim,” tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
Setiap huruf memiliki 10 hingga 700 kali lipat pahala.
Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُوْلُ الَمَ حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al Qur’an), maka dengan bacaan itu ia memiliki satu kebaikan, dan kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipat dengan yang semisalnya. Aku tidak katakan, Alif Lâm Mim’, satu huruf, tetapi ‘Alif satu huruf; Lâm satu huruf dan Mîm satu huruf ” (HR. At-Tirmidzi, dimana ia berkata, “Hasan Shahih”; Al Bazzar; Ath-Thabrani; Al Baihaqi.)
Orang-orang umum menerima huruf-huruf ini dan beranggapan bahwa ini merupakan huruf-huruf yang terpenggal, yang dengannya ragam surah Al Qur’an dimulai.
Orang-orang khusus mengatakan bahwa huruf-huruf ini merupakan ragam huruf bercahaya, pembuka surah Al Qur’an.
Berbeda halnya bagi orang yang super khusus, mereka mengatakan bahwa huruf-huruf ini merupakan huruf-huruf yang berkhasiat tinggi lagi manjur.
Sementara orang-orang kafir, maka mereka tidak melirik huruf-huruf ini, sebab dalam lidah orang Arab juga mengandung huruf-huruf peringatan, merekapun menganggap itu bagian dari huruf-huruf peringatan.
Para pewaris Rasulullah Saw adalah orang-orang yang Allah Swt singkapkan sebesar satu partikel alam ini dengan apa yang mereka rasa dan alami, bukan sebatas ilmu belaka.
Meski demikian, ada pula sebagian dari mereka yang Allah singkapkan ragam huruf ini melalui usaha diri dan sebagian lainnya Allah singkapkan melalui pemberian-Nya.
1. Melalui usaha diri:
Untuk ini disyaratkan adanya izin yang benar dari empunya.
Kemudian engkau melakukan khalwat (menyepi, menyendiri).
Lalu membaca surah Al Fatihah dilanjutkan dengan membaca, “Alif Lâm Mîm.”
Kemudian engkau kembali membaca huruf yang dimaksud tadi dengan niatan membaca Al Qur’an, dengan pengulangan bacaan yang luapan cahayanya meniadakan alam ini dan menyirnakan waktu dan tempat. Jiwamu mi’raj pada Dzat yang paling suci menggunakan kendaraan buraq dari cahaya jiwa pada perjalanan suci menuju hadrah yang tinggi; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَا زَا غَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى
maa zaaghol-bashoru wa maa thoghoo
“penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 17)
Ketika ruh sampai pada bukit Judi (bukit kiasan) dan engkau diajak bicara dari sisi lembah yang suci; Thuwa, lalu engkau menyaksikan dari jarak dua ujung busur panah atau bahkan lebih dekat dari itu, dzatmu mendapatkan kucuran karunia dari Dzat-Nya, sifatmu saling bergantian dengan sifat-Nya, dimana engkau telah sampai pada puncaknya, engkau telah membawa panji itu, maka engkaupun telah dipanggil dengan, “wali Allah”;
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قِيْلَ يٰـنُوْحُ اهْبِطْ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَبَرَكٰتٍ عَلَيْكَ وَعَلٰۤى اُمَمٍ مِّمَّنْ مَّعَكَ ۗ وَاُ مَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِّنَّا عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
qiila yaa nuuhuhbith bisalaamim minnaa wa barokaatin ‘alaika wa ‘alaaa umamim mim mam ma’ak, wa umamung sanumatti’uhum summa yamassuhum minnaa ‘azaabun aliim
“Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.””
(QS. Hud 11: Ayat 48)
– Jika kalbumu sibuk dengan satu huruf saja, niscaya engkau akan fana dan terhijab. Dan engkau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menyembah Allah dengan berada ditepi (tidak sepenuh hati).
– Jika Allah mengikat kalbumu hingga ia kosong dari selain-Nya, maka engkau telah wushul dan tersambung dengan Allah Swt, tujuanmu adalah luapan cahaya-Nya tanpa membutuhkan usaha yang berarti. Semua sifat bawaan dari penciptaanmu berubah menjadi sifat hakiki yang sebenarnya.
2. Melalui sisi pemberian-Nya:
Maka ini merupakan keutamaan Allah yang bisa Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa ritual khalwat, tidak pula dzikir dan tidak pula mengamalkan sesuatu.
Bahkan ketika itu engkau adalah sosok yang dikehendaki dan dipilih langsung oleh Allah untuk mendapatkan anugerah ini.
Hal ini berkaitan dengan murninya keutamaan dan kemurahan Allah Swt tanpa ada sebab dan tidak perlu lelah untuk mendapatkannya.
Wahai Allah….
Janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang menyembah-Mu dari sisi tepian saja
Jangan engkau buat kami sibuk untuk memandang pada selain-Mu serta jangan Engkau halangi kami dari-Mu.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
