You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

8 Adab Murid Thariqah At-Tijaniyah Kepada Sesama Ikhwan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Adab Murid Tijany Kepada Sesama Ikhwan

1. Yang paling penting adalah, engkau duduk bersama mereka dengan penuh kecintaan pada mereka dan dengan kecintaan Allah Swt. Hendaknya mencintai mereka dan mengerahkan semua harta yang dimiliki kepada mereka, melebihi kecintaan terhadap diri sendiri.

Sebagian orang shaleh pernah berkata, “Apabila saudara se-thariqah meminta harta kepadamu,” lantas engkau berkata, “Berapa yang engkau inginkan?” Maka dirinya ini tidak pantas untuk dijadikan sebagai ikhwan dan menjadi sahabat. Sikap yang benar adalah, menyerahkan segala apa yang dimiliki dan engkau mengambil hakmu sesuai yang engkau butuhkan.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِينَ فِي وَالْمُتَجَالِسِينَ فِي وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِي وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِي.

“Allah Tabâraka wa Ta’ala berfirman, ‘Kecintaan-Ku itu wajib bagi orang-orang yang saling mencintai-Ku, orang-orang yang saling duduk bersimpuh untuk-Ku, orang-orang yang saling mengunjungi untuk-Ku dan orang-orang yang membelanjakan hartanya untuk-Ku.” (HR. Mâlik; Ahmad; Al Hakim, dimana Al Hakim menilai shahih hadits ini; Ath-Thabrâni; Al Baihaqi; Ibnu Hibbân dalam Shahih nya; ‘Abd bin Humaid; Asy-Syihab Al Qadhdha’i; Ath-Thayalisi; Al Bazzar; Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya.)

2. Engkau menziarahi dan mencari keberadaan mereka (para ikhwan), sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتِّ، قِيلَ : مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلَّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتُهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam. Ada yang mengatakan: ‘Apa itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Apabila engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya; apabila dia mengundangmu, maka penuhilah undangannya; apabila dia meminta nasehat kepadamu, maka nasehatilah ia; apabila dia bersin, maka pujilah Allah dan ber-tasymit-lah, apabila dia sakit, maka jenguklah dan apabila dia meninggal dunia, maka iringilah jenazahnya,” (HR. Muslim dalam Shahih-nya; Abu Ya’la; Ibnu Hibbân; Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad, dan Tammâm dalam Fawa ‘idnya.)

3. Memaafkan orang yang menzhalimi dan memberi sesuatu kepada orang yang tidak memberi pada dirinya, sikap ini seperti yang tertera dalam sebuah hadits:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: لَقِيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَدَرْتُهُ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَبَدَرَنِي فَأَخَذَ بِيَدِي فَقَالَ: يَا عُقْبَةُ، أَلا أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ أَخْلاقِ أَهْلِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ؟ قَالَ: تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ.

Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir Ra, dia berkata: Suatu hari aku menemui Rasulallah Saw dengan mengejutkan beliau dan aku raih tangan beliau; atau datang kepadaku dengan tiba-tiba dan meraih tanganku, maka Rasulullah Saw bersabda, “Wahai ‘Uqbah, tidakkah engkau ingin aku beritahukan akhlak penduduk bumi dan langit yang paling mulia? Beliau melanjutkan, “Sambunglah orang yang memutuskan hubungan denganmu, berilah orang yang pernah tidak memberimu dan maafkanlah orang yang menzhalimimu. ” (HR. Ahmad -dimana Al Haitsami menilai para periwayatnya merupakan periwayat yang tsigah; Al Hakim; Ath-Thabrani; Al Baihaqi; Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah, Ibnu Wahb; Ar-Rūyāni; dan Ibnu Abi Ad-Dunya.)

4. Mengutamakan kebutuhan mereka daripada kebutuhan diri sendiri, mengutamakan keridhaan mereka daripada keridhaan diri sendiri. Apabila ada yang mencemarkan nama baik guru ruhani, maka ikhwanlah yang harus memperbaikinya dan tidak demikian jika ada orang yang mencemarkan nama baik ikhwan, maka guru ruhani tidak dapat merestorasi hal itu. Hendaknya murid Tijany dapat menjawab tuduhan mereka di saat para ikhwan tidak ada dan terus menjaga kehormatan mereka.

5. Hendaknya engkau seolah-olah menjadi pelayan bagi mereka, dengan keyakinan bahwa mereka itu memiliki keutamaan tersendiri daripada dirimu. Jangan sampai dirimu melihat bahwa engkau memiliki hak dari mereka. Yang benar adalah hendaknya dirimu melihat, bahwa merekalah yang memiliki hak atas dirimu, sehingga dirimu harus meminta maaf dan meminta keridhaan mereka.

6. Hendaknya dirimu memandang, bahwa para ikhwan lain selalu lebih baik dari dirimu dalam semua kondisi, bahkan sampai menilai bahwa tidur mereka itu lebih baik dari pada ibadahmu.

7. Hendaknya engkau memusuhi orang yang memusuhi mereka dan hendaknya mencintai orang yang mencintai mereka, yaitu dengan cara menjadikan keputusannya layaknya keputusan seorang raja yang terletak pada keridhaan rakyatnya.

8. Janganlah engkau sebarluaskan rahasia mereka, bersikap tawaddhu’ lah kepada yang lebih tua dan cintai yang lebih muda, niscaya dengan ini engkau kelak mendapatkan keridhaan Allah Swt.

Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY