You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Wirid Wazhifah dan Aturan yang Perlu Diketahui dalam Thariqah At-Tijaniyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Wiridan Wazhifah.

1. Membaca istighfar sebanyak 30 kali dengan redaksi :

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمِ، الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ القَيُّومُ

2. Membaca shalawat fatih sebanyak 50 kali. Harus dengan shalawat fatih. Jika tidak, maka wazhifah-nya batal.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ وَالْهَادِى إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيْمِ وَعَلَى اٰلِهِ حَقَّ  قَدْرِهِ  وَمِقْدَارِهِ  العَظِيْمِ

3. Membaca hailalah (tahlil) sebanyak 100 kali.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

4. Membaca shalawat jauharatul kamal sebanyak 12 kali.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّــانِــيَّــةِ وَالْيَـاقُوْتَـةِ الْـمُتَحَقِّقَةِ اْلحَائِطَةِ بِمَرْكَــزِ الْفُهُوْمِ وَالْـمَعَانِى وَنُوْرِ اْلأَكْــوَانِ الْـمُتَــكَــوِّنَةِ اْلأٰدَمِـــيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ الرَّبَّـــانِـــي
اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزَوْنِ اْلأَرْيَاحِ الْـمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ الْبُحُوْرِ وَالْأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللَّامِعِ الَّذِى مَلَأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِــنَةِ الْـمَكَانِى

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى عَيْنِ الْحَقِّ الَّــتِى تَــتَــجَلّٰى مِنْـهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْـمَعَارِفِ الْأَقْوَامِ صِرَاطِكَ التَّامِ اْلأَسْقَمِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْكَنْــزِ اْلأَعْظَمِ إفَاضَتِكَ مِنْكَ إلَيْــكَ إحَاطَةِ النُّوْرِ الْـمُطَلْسَمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ صَلَاةً تُعَرِّفُنَا بِـهَا إيَّاهُ.

Wazhifah bisa dibaca satu kali di waktu pagi, satu kali di waktu petang atau bisa juga dibaca sehari satu kali. Jika dia membiasakan diri membacanya pada pagi hari, maka waktunya mengkuti waktu pembacaan wiridan pagi, begitu juga jika dia membiasakan diri membacanya pada waktu petang, maka waktu pembacaannya pun mengikuti waktu pembacaan wiridan petang.

Jika dia telah membiasakan diri untuk membaca wazhifah pada waktu pagi, kemudian ingin merubah waktu pembacaannya, maka dia juga harus membacanya pada waktu petang. Dianjurkan agar wazhifah ini bisa dibaca sehari dua kali pada hari dimana dia ingin merubah waktu pembacaannya; yaitu satu kali pada waktu pagi dan satu kali lainnya pada waktu petang. Jika dia ingin membaca wazhifah sebanyak dua kali dalam sehari, maka salah satunya dianggap sebagai bacaan sunah dan yang lainnya sebagai bacaan wajib.

Perkara yang biasa diamalkan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan para sahabat beliau adalah, bahwa wazhifah ini adalah wiridan yang lazim dibaca oleh murid Tijany sebanyak satu kali dalam sehari, namun membacanya dua kali dalam sehari itu lebih utama, tidak ada waktu khusus untuk membaca wazhifah ini. Seorang murid dapat membacanya kapanpun dia inginkan, baik pada malam atau siang hari. Seorang murid juga boleh membaca wazhifah hari ini di waktu petang dan esok harinya di waktu pagi, serta pada hari berikutnya dia membaca wazhifah itu pada pertengahan hari di waktu siang.

Beberapa Catatan Penting !.

1. Orang yang tidak hafal shalawat fatih, -bukan lantaran dia tidak bisa- maka wazhifah ini gugur baginya.

2. Orang yang tidak hafal shalawat jauharatul kamal bukan lantaran dia tidak bisa, atau persyaratan membacanya belum sempurna, yaitu tempatnya tidak dapat memuat enam orang atau dia bersuci dengan debu (ber-tayammum atau ber-istijmar) atau dirinya seorang wanita yang sedang haid atau nifas, maka dia harus menggantinya dengan bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali.

Sementara jika seseorang sedang dalam kondisi khalwat, maka kondisi ini dikecualikan, dirinya boleh membaca shalawat jauharatul kamal, sekalipun tempat itu hanya cukup untuk satu orang saja.

3. Orang yang masbuq dalam pembacaan wazhifah, maka dia harus memulai bacaannya seperti yang ikhwan lain baca. Jika mereka sudah selesai membaca wazhifah tersebut, maka yang masbuq tersebut lanjut melengkapi kekurangan bacaan dirinya mulai urutan istighfar dan seterusnya.

Jangan mencegah wanita yang ikut membaca wazhifah bersama para ikhwan lainnya, jangan pula dia melanjutkan bacaan wazhifah tadi dengan memulainya dari awal, yaitu dengan membaca ta’awwudz, basmalah, shalawat fatih karena hal ini hanya dianjurkan bagi orang yang hadir dari awal pembacaan wazhifah.

4. Orang yang membaca wazhifah ketika sedang mengendarai hewan tunggangan, hendaknya dia turun dari hewan tunggangan saat dia akan mulai membaca shalawat jauharatul kamal. Hendaknya dia berhati-hati dan berusaha semaksimal mungkin agar jangan menginjak suatu najis di tengah jalan. Jika dia sudah membaca shalawat jauharatul kamal urutan ke tujuh, maka dia boleh kembali duduk di atas hewan tunggangan itu sampai bacaan wazhifahnya selesai.

Namun jika dia tidak mungkin melengkapi bacaan shalawat jauharatul kamal dengan duduk di atas hewan tunggangan, maka dia boleh membacanya dalam posisi berdiri atau sambil berjalan, dengan catatan tempat tersebut merupakan tempat yang suci. Jika tidak, maka harus menggantikannya dengan bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali.

Sementara jika dirinya mengendarai kereta api atau mobil, maka dia dapat membaca wazhifah di tempat dirinya duduknya, yaitu dengan mengganti bacaan shalawat jauharatul kamal menjadi bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali. Dia harus melepas sepatu yang dikenakannya, jika tidak dapat dipastikan kesuciannya-dan menaruh kaki di atas sepatu tersebut. mla

5. Apabila dia ber-tayammum untuk melakukan shalat, dia boleh membaca wazhifah dengan tayammum ini. Sedangkan jika dirinya ber-tayammum untuk membaca wiridan dan kemudian ingin membaca wazhifah, maka dia harus ber-tayammum lagi untuk membacanya. Jika dia membacanya dengan tayammum untuk wiridan tadi, maka dia harus mengulangi pembacaan wazhifah tersebut.

6. Orang yang merunduk, mengantuk dan lupa, dimana dia memajukan sebagian rukun bacaan wazhifah ini dari rukun lainnya; contohnya seperti, dia sedang membaca istighfar kemudian berpindah spontan kebacaan hailalah sebelum dirinya membaca shalawat, maka dia harus menghentikan apa yang sedang dia baca dan beralih pada urutan bacaan yang benar. Yaitu dirinya harus menghentikan bacaan hailalah dan shalawat tersebut, serta menetapkan bahwa dirinya hanya baru membaca istighfar, yang kemudian sebelum penutup wazhifah, dirinya membaca istighfar sebanyak 100 kali dengan niatan jabr.

Namun jika dia bersama sekelompok ikhwan lainnya, maka dia tidak perlu membaca istighfar dengan niatan jabr itu. Dimana menambal hal yang luput dengan membaca istighfar hukumnya wajib. Jika hal ini ditinggalkan secara sengaja, maka wazhifah-nya batal.

7. Jika ada orang yang lupa suatu bacaan wazhifah, sementara orang tersebut membacanya bersama sekelompok orang, maka orang itu dan mereka harus membaca apa yang kurang dari bacaan wazhifah itu setelah semua rukunnya selesai, mereka tidak perlu membaca istighfar dengan niatan jabr.

8. Bersuci dengan air dan tempat yang suci nan memadai untuk enam orang merupakan syarat sahnya pembacaan shalawat jauharatul kamal, bahkan sekalipun dirinya hanya hendak membacanya satu kali saja. Apabila salah satu syarat ini tidak ada, maka dia dapat menggantikan bacaan shalawat jauharatul kamal ini dengan bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali.

9. Orang yang merasa haus atau gatal, yang membuatnya terluputkan suatu bacaan wazhifah, jika dirinya mampu mengejar ketertinggalannya dan menyusul bacaan para ikhwan, maka dia boleh melakukan hal itu. Namun jika tidak, maka dia bisa menyempurnakan bacaan wazhifah itu bersama para ikhwan lainnya dan kemudian melengkapi bacaan yang tertinggal tadi setelah semua rukunnya selesai.

10. Orang yang mengeluarkan darah dari hidungnya saat membaca wazhifah; apabila darah yang keluar itu kental, maka dia boleh menyumbat hidungnya dan menyempurnakan bacaan wazhifah tersebut. Namun jika darah itu terus mengalir atau menetes, maka dia boleh membasuhnya; yaitu jika posisi tempat untuk mencucinya itu dekat, dirinya tidak menginjak najis pada jalan yang dia lewati itu dan juga tidak berbicara dengan seseorang. Setelah membasuh membersihkan darah itu, dan diapun dapat langsung menyempurnakan bacaan yang kurang, namun jika tidak memenuhi tiga hal di atas, maka dia harus mengulangi bacaan wazhifah itu dari awal. dan

11. Pembacaan wazhifah menjadi batal apabila dibarengi dengan makan dan minum saat membacanya.

12. Orang yang yakin, bahwa para ikhwan lebih dalam membaca suatu bacaan wazhifah, maka dirinya dapat memberikan peringatan kepada ikhwan lainnya, dirinya tidak malah ikut membaca bacaan yang jumlahnya lebih itu, justru dia malah harus menanti bacaan ikhwan yang lainnya dan mengakhiri pembacaan wazhifah itu bersama-sama dengan mereka.

13. Jika ada orang yang bersuci dengan cara ber-tayammum, dan ikut membaca shalawat jauharatul kamal bersama para ikhwan lain lantaran lupa akan cara bersucinya itu, maka dia harus mengulangi bacaan tersebut; yaitu menggantinya dengan bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali.

14. Orang yang bersuci dengan debu dan dia membaca shalawat fatih sebanyak 20 kali sebagai ganti dari shalawat jauharatul kamal, apabila dia telah usai membaca shalawat fatih sementara para ikhwan belum selesai membaca shalawat jauharatul kamal, maka dia boleh pergi dan meninggalkan mereka.

15. Diwajibkan meng-qadha pembacaan wazhifah jika dalam waktu 24 jam wazhifah tidak dibaca.

16. Jika ada orang yang membaca wazhifah selepas Ashar di hari Jum’at, kemudian dirinya baru ingat, bahwa dia belum membaca wazhifah hari Kamis kemarin, maka dia harus membaca wazhifah hari Kamis kemarinnya, lalu kemudian mengulangi pembacaan wazhifah hari Jum’at tersebut. Sementara bagi orang yang membaca wazhifah pada hari Jum’at setelah maghrib, maka dia cukup membaca wazhifah hari Kamis kemarinnya tanpa perlu mengulangi pembacaan wazhifah hari Jum’at.

17. Jika ada orang yang masbuq dalam pembacaan wazhifah, kemudian nampak bahwa pada sekelompok ikhwan ini terdapat rukun bacaan yang kurang, dimana mereka kembali ke rukun bacaan yang kurang dan lalu menyempurnakan hingga akhir. Maka, hal yang wajib dilakukan bagi orang yang masbuq dalam kondisi ini adalah ikut kembali bersama mereka dan menyempurnakan bacaan sampai akhir bersama mereka. Jika semua sudah selesai, maka dia baru kemudian meng-qadha bacaan rukun yang luput itu.

18. Jika ada orang yang memiliki bau baadan atau bau mulut yang tidak sedap, baik ditubuhnya ada luka yang bernanah atau dirinya telah memakan buah bit, bawang merah atau juga bawang putih dan tidak menemukan penawar bau tersebut, maka dia harus membaca pengganti shalawat jauharatul kamal yang berupa bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali dan duduk di belakang shaf para ikhwan.

19. Jika engkau telah membaca wazhifah secara berjarnaah, kemudian menziarahi sesama ikhwan Tijany dan engkau temui mereka dalam kondisi membaca wazhifah secara berjama’ah; jika engkau ikut juga membaca wazhifah bersama mereka dan ada bacaan yang tertinggal, maka engkau tidak perlu meng-qadha bacaan tersebut. Sebab, keikutsertaan dirimu membaca wazhifah bersama mereka termasuk dalam ulasan hadits,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا

“Jika engkau melewati taman surga, maka nikmatilah apa yang ada di dalamnya. ” (HR. At-Tirmidzi; dimana dia menilai hadits ini hasan, Ahmad; Al Baihaqi; Abu Ya’lâ; Abu Nu’alm; Ibnu ‘Asäkir dalam Târikh-nya dari riwayat Anas; At-Tirmidzi; dia menilainya hasan, dari riwayat Abu Hurairah; Ath-Thabrani dalam Al Kabir dari riwayat Ibnu ‘Abbas; Abu Nu’aim dari riwayat Ibnu ‘Umar.)

20. Jika ada orang yang membaca wazhifah, kemudian melihat di bajunya terdapat najis yang di-ma’fu, maka dia tidak diperbolehkan membaca shalawat jauharatul kamal dan mengganti bacaan itu dengan shalawat fatih sebanyak 20 kali, hal ini dilakukan jika ditakutkan waktu untuk membacanya tidak cukup, atau dirinya tidak menemukan air di sana.

Namun, jika tidak dalam kondisi ini, maka dia harus mencuci dan membersihkannya, lalu melanjutkan bacaan shalawat jauharatul kamal, hal ini diperbolehkan jika jangka waktu pembersihan najis itu tidak lama. Tetapi jika pembersihan najis itu membutuhkan waktu yang cukup lama, maka dia harus memulai bacaan wazhifah itu dari awal.

21. Jika engkau yakin, bahwa dalam bacaan wazhifah sekelompok ikhwan itu kurang satu rukunnya, atau ada keraguan akan jumlah hitungan; apakah mereka sedang membaca rukun bacaan wazhifah yang ketiga atau yang keempat, maka mereka wajib kembali kepada rukun bacaan yang kurang saat mereka ingat, lalu mereka membaca apa yang mereka anggap kurang atau ragu, kemudian mereka lanjutkan bacaan sisa rukun wazhifah yang ada sampai akhir, mereka tidak perlu membaca istighfar sebanyak 100 kali dengan niatan jabr.

22. Wazhifah harus dilakukan secara berjamaah. Jika para ikhwan meremehkan prihal membaca wazhifah secara berjamaah ini dalam suatu negara, maka negara tersebut akan tertimpa musibah. Sebab, pembacaan wazhifah ini akan memberikan efek aman bagi suatu Negara.

Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY