You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Shalawat Fatih dan Kandungan Makna serta Keutamaannya Menurut Sayyidi Syekh Ahmad Tijani radhiyallahu ‘anhu

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Shalawat Fatih.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ

Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammaddinil Fatihi Lima Ughliqo Wal Khotimi Lima Sabaqo, Nashiril Haqqi Bil Haqqi Wal Hadi Ila Shirotikal Mustaqim Wa Ala Alihi Haqqo Qodrihi Wa Miqdarihil Azhim.

“Ya Allah curahkanlah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami Nabi Muhammad pembuka yang terkunci, penutup dari yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar dan penunjuk kepada jalan-Mu yang lurus dan juga (curahkanlah rahmat dan keselamatan) atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung.”

Di saat Allah Swt memerintahkan kami (manusia) untuk bershalawat kepada Rasulullah Saw, dimana ruh para wali Quthb dan ‘Arifin tertuju kepada beliau, mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, Nabi-Mu ini telah berbuat dengan kebaikan yang sempurna kepada kami, kami adalah hamba-Mu, kami tidak memiliki keutamaan pada amalan kami sedikitpun, namun kami harus memberikan balasan untuk beliau.”

Lisan ahwal Rasulullah Saw kala itu menyatakan, “Tiada yang aku ketahui selain Tuhanku.” Lalu Engkau wahai Tuhanku berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
innalloha wa malaaa-ikatahuu yusholluuna ‘alan-nabiyy, yaaa ayyuhallaziina aamanuu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)

Dengan hal ini, maka kebingungan kami pun semakin menjadi-jadi, seorang hamba sejatinya tidak memiliki sesuatu yang cukup untuk dijadikan sebagai balasan, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا للّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
wallohu kholaqokum wa maa ta’maluun

“padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 96)

Dengan ini, maka kebutuhan kami terhadap-Mu semakin menjadi-jadi. Dalam sebuah kaidah disebutkan, “Barangsiapa yang membesar-besarkan penghambaan dirinya, maka Tuannya akan mencukupi kebutuhannya dan siapa yang merendahkan penghambaan dirinya, maka Tuannya pun akan menolaknya, sehingga tidak ada imbalan dan juga pertolongan.”

Engkau tahu apa yang cocok bagi Nabi Saw dan bisa mengugurkan kewajiban kami dalam membalas jasa beliau, Engkau bershalawat di hadapan kemuliaan-Mu, sebagai perwakilan dari lemahnya penghambaan kami dengan shalawat yang mencakup segala keagungan Nabi Saw, Engkaulah yang hanya mampu melakukan itu, sebab beliau itu adalah hamba dan makhluk-Mu.

Saat Engkau wahai Allah, telah mengetahui kelemahan dan buruknya adab kami, Engkau tampakkan kepada kami shalawat-Mu kepada beliau pada masa azali dengan shalawat yang abadi – perkara ini merupakan ilham yang diperbolehkan bagi para wali Allah- dan Engkau mudahkan kami sehingga kami dapat membacanya dengan lisan, akal kami pun mampu menangkap Itu. Tiada seorang pun yang pernah bershalawat semisal shalawat fatih ini dalam alam ruh dan alam asybah ini.

Barangsiapa yang membaca shalawat ini dengan segala persyaratan dan adabnya, maka akan dikabulkan apa yang dimintanya, bahkan seandainya di dunia ini dibacakan beribu-ribu shalawat semisalnya, maka satu bacaan shalawat ini memiliki nilai yang lebih banyak dari shalawat yang lainnya.

A. Kandungan dan Makna dalam Shalawat Fatih

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ

Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammaddinil Fatihi Lima Ughliqo Wal Khotimi Lima Sabaqo, Nashiril Haqqi Bil Haqqi Wal Hadi Ila Shirotikal Mustaqim Wa Ala Alihi Haqqo Qodrihi Wa Miqdarihil Azhim.

“Ya Allah curahkanlah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami Nabi Muhammad pembuka yang terkunci, penutup dari yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar dan penunjuk kepada jalan-Mu yang lurus dan juga (curahkanlah rahmat dan keselamatan) atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung.”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra pernah menjelaskan kandungan maknanya sebagai berikut:

1. Redaksi “اللَّهُمَّ صَلِّ“

Ini merupakan hak Allah Swt dalam bershalawat kepada Nabi-Nya (Nabi Muhammad Saw), juga sifat yang selalu ada. Dengan catatan, bahwa shalawat ini sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya. Maka di saat engkau mengatakan ” اللَّهُمَّ” , maksudnya adalah, aku ber-tawassul kepada-Mu dengan segenap nama-nama-Mu, untuk menjadi wakil-Mu dengan segenap keutamaan yang datangnya dari-Mu, sebab Engkau telah membebaniku dengan hal yang tidak mampu kulakukan, yaitu bershalawat kepada sosok yang tidak dapat aku nalar kesempurnaannya, sebagaimana Engkau pula yang telah mewakilkanku untuk membaca shalawat ini. Lalu dilanjutkan “صَلِّ” , maksudnya adalah kekalkanlah kekhilafahan beliau Saw yang mencakup seluruh lapisan makhluk dan kokohkanlah agama beliau selagi dunia masih berdiri kokoh, tinggikanlah derajat beliau. Jangan Engkau hinakan beliau Saw dengan memberikan adzab kepada seorang pun dari umatnya.

2. Redaksi “عَلىَ سَيِّدِنَا“

Maksudnya adalah, bahwa Nabi Muhammad Saw adalah khalifah Allah dalam lautan ijad dan imdad, beliau memberikan madad dengan cahaya Dzat yang selalu ada, sebagai wakil dan khalifah Allah Swt. Wahai Allah, setiap yang Engkau jadikan penghulu, maka Engkau benar-benar telah menjadikannya sebagai penghulu. Tidaklah seseorang menjadi penghulu di dunia dan di alam arwah ini kecuali hal itu semata-mata dengan nampaknya keagungan ruh beliau (Nabi Muhammad Saw). Ruh beliau memberikan madad kepada ruh kita, sisi kemanusiaan beliau selalu memberikan madad kepada sisi kemanusiaan kita. Puji syukur bagi Allah yang telah mencocokkan sisi kemanusiaan kami dengan beliau dalam segala hakikat. Oleh karena itu, apa yang Engkau beri kepada beliau wahai Allah, sungguh kami pun turut mendapatkan keutamaan itu. Disaat Engkau bershalawat kepadanya, Engkau (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) berfirman kepada kami,

هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰٓئِكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ  ۗ وَكَا نَ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
huwallazii yushollii ‘alaikum wa malaaa-ikatuhuu liyukhrijakum minazh-zhulumaati ilan-nuur, wa kaana bil-mu-miniina rohiimaa

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 43)

Sungguh betapa mulianya sisi kemanusiaan di sisi-Mu wahai Tuhanku! Bagaimana pikiran kami tidak menjadi kacau terhadap dunia ini, sementara Engkau telah memberikan sebuah indikasi kegembiraan yang meluap-luap kepada kami berupa firman-Mu,

هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰٓئِكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ  ۗ وَكَا نَ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
huwallazii yushollii ‘alaikum wa malaaa-ikatuhuu liyukhrijakum minazh-zhulumaati ilan-nuur, wa kaana bil-mu-miniina rohiimaa

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 43).

Juga firman-Nya,

لَـقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
laqod jaaa-akum rosuulum min angfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil-mu-miniina ro-uufur rohiim

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 128)

Sungguh Engkau telah mengagungkan dan meninggikan derajat kami. Kemuliaan Nabi Saw tersebar secara umum pada para nabi dan malaikat, tidaklah para nabi mulia kecuali itu merupakan wakil dari kemuliaan Nabi Muhammad Saw. Kemuliaan beliau merupakan pangkal setiap kemulian yang ada, semoga Engkau berkenan bershalawat kepadanya Ya Allah, dengan shalawat dan salam yang dapat memasukkan ruhku dalam menjaga ruh beliau dengan kemampuan-Mu, baik itu secara terjaga maupun dalam kondisi mimpi…Amîn.

3. Redaksi “مُحَمَّدٍ“

Maksudnya adalah, bahwa beliau Saw merupakan sosok yang dipuji oleh semua makhluk saat semuanya masih menjadi tulang belulang, juga pada semua alam yang ada. Jibril dan Israfil merupakan petugas pengibar panji Nabi Saw, mereka itu layaknya keluarga beliau.

Sementara mengenai rasa takut Nabi Saw saat beliau melihat Jibril As dengan enam ratus sayapnya, hal ini dikarenakan saat itu Nabi Saw melihatnya dengan gambaran kemanusiaan beliau, sementara Jibril As nampak dengan gambaran ruhaniahnya, maka tidak ada kecocokan antara keduanya. Jika sisi ruhaniah Nabi Saw yang keluar saat itu, maka Jibril As layaknya satu dari banyaknya burung pipit kecil.

Dalil mengenai hal ini adalah, adanya sebuah sabda Nabi Saw,

مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي بِالْمَلَإِ الأَعْلَى ، وَجِبْرِيلُ كَالْحِلْسِ الْبَالِي مِنْ خَشْيَةِ الله

“Suatu malam dimana aku dimi’rajkan oleh Allah, aku melihat Jibril itu seperti hils (Al Hils adalah kain tipis yang biasanya ada di atas punggung unta) lantaran ketakutannya terhadap Allah. ” (HR. Ath-Thabrâni dalam Al Ausath dengan sanad yang shahih, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, Ibnu Abi Ad-Dunya; Ibnu ‘Asäkir dalam Tarikh-nya dari riwayat Jabir bin ‘Abdillah.)

Muhammad merupakan nama beliau di dunia, Mahmud nama beliau di langit. Ahmad adalah nama beliau yang ada di dalam Taurat; nama Mahmud adalah wujud yang nampak di luar, sedangkan Muhammad adalah wujud bathinnya dan Ahmad adalah sisi terdalam dari bathinnya sosok beliau.

4. Redaksi “الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ“

Maksudnya adalah, pembuka gambaran beberapa akwan, sejatinya semua akwan ini terkunci dalam hijab bathin, maka beliaulah sosok yang membuka hijab yang tertutup, beliau keluar dari wujud ketiadaan hingga menjadi ada (berwujud manusia), hal ini semata-mata karena keutamaan yang dimiliki oleh sosok beliau Saw. Jika bukan karena keutamaan beliau, maka Allah Swt tidak akan menciptakan makhluk atau membuat sesuatu yang awalnya tidak ada menjadi ada.

Dalam sebuah hadits disebutkan percakapan antara Allah Swt dengan Nabi Adam As, Allah Swt berfirman kepadanya,

وَلَوْلَاهُ مَا خَلَقْتُكَ

“Jika bukan karenanya (Nabi Muhammad Saw), maka Aku tidak akan menciptakanmu. ” (HR. Ath-Thabrâni dalam Al Ausath dan Ash-Shaghir, Al Ajuri dalam Asy-Syari’ah; Al Hakim; dimana dia menilai hadits ini shahih, Abu Nu’aim; Al Baihaqi dalam Ad-Dala ‘il Ibnu Asakir dari riwayat ‘Umar bin Al Khaththâb.)

Jika bukan karena Nabi Muhammad Saw, maka tidak akan terbuka beragam hijab yang terkunci tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wa maaa arsalnaaka illaa rohmatal lil-‘aalamiin

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Jika bukan karena Nabi Muhammad Saw, maka kalbu yang telah tertutupi beragam keburukan tidak akan pernah terbuka lagi dengan keimanan. Jika bukan karena Nabi Muhammad Saw, maka pintu surga tidak akan pernah dibuka, sebab beliaulah orang yang pertama kali membuka pintu surga.

5. Redaksi “وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ“

Maksudnya adalah, bahwa beliau Saw merupakan penutup kenabian dan juga risalah-Nya. Beliaulah yang menutupnya, sehingga tidak ada nabi setelah beliau Saw.

6. Redaksi “نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ“

Maksudnya adalah, bahwa beliau (Nabi Muhammad Saw) itu menolong Allah Swt dengan apa yang Allah berikan kepada beliau Saw.

7. Redaksi “وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ“

Maksudnya adalah, bahwa beliaulah (Nabi Muhammad Saw) yang menunjukkan semua hamba Allah Swt kepada agama-Nya yang lurus.

8. Redaksi “وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ“

Maksudnya adalah, bahwa orang yang bershalawat kepada beliau Saw memohon kepada Allah Swt yang mengetahui kadar keagungan Nabi-Nya, agar Allah Swt berkenan untuk bershalawat (curahkanlah rahmat dan keselamatan) kepada Nabi Saw sesuai dengan kadar pengetahuan Allah akan keagungan Nabi Saw dan juga  atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung.

B. Keutamaan Shalawat Fatih

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Seluruh umur dari manusia banyak yang terbuang sia-sia, kecuali pengamal shalawat fatih lima ughliq ini, sebab mereka mendapatkan keuntungan dunia dan akhirat. Orang yang mampu menyatu dengan shalawat ini tak lain adalah orang yang beruntung. Kekhususan shalawat fatih ini merupakan rahasia illahi yang tidak bisa dinalar. Seandainya ada 100 ribu umat, dimana setiap umat itu ada 1000 kabilah, yang di setiap kabilah itu ada 100 ribu orang, dimana setiap orang itu mampu hidup selama 1000 tahun, dimana setiap dari mereka itu melantunkan shalawat kepada Nabi Saw dengan selain shalawat fatih. Maka pahala bacaan semua dzikir umat yang ada dalam kurun semua tahun itu, tidak sama seperti pahala membaca satu kali shalawat fatih.”

Seorang wali quthub Sayyidi Muhammad Fathan Al Bakiri Ash-Shiddiqi telah memohon kepada Allah Swt selama 40 tahun agar Allah Swt memberikannya bacaan shalawat Nabi Saw yang mencakup pahala semua shalawat yang ada, lalu malaikat datang membawa shalawat yang tertulis dalam lembar kertas dari cahaya.

Akan tetapi Allah Swt tidak tampakkan pada beliau beberapa sisi kekhususannya seperti yang Allah Swt berikan kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra -Hal ini sudah dijelaskan dalam Ad-Durrah Al Kharidah karya Al Imam An-Nazhifi- Dimana Sayyidi Al Bakiri juga tidak dizinkan untuk mentarbiyah ikhwan dan mentalqinkan shalawat tersebut.

Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY