You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Warisan Dari Rasulullah ﷺ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Warisan Dari Rasulullah Saw

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُ مِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَاِ نْ كَا نُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ 
huwallazii ba’asa fil-ummiyyiina rosuulam min-hum yatluu ‘alaihim aayaatihii wa yuzakkiihim wa yu’allimuhumul-kitaaba wal-hikmata wa ing kaanuu ming qoblu lafii dholaalim mubiin

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata,”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 2)

Allah Swt mengutus Rasul-Nya kepada umat yang ummi, -yang tidak pandai membaca dan menulis- bahkan di setiap kabilah hanya ada satu orang saja yang pandai menulis, yang sering juga disebutkan, “Sang penulis bani fulan.”

Akan tetapi dengan turunnya wahyu kepada Rasulullah Saw, yang diawali dengan firman-Nya,
اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ 
iqro bismi robbikallazii kholaq

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,”
(QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 1)

Maka, berubahlah umat ini menjadi umat yang memiliki kitab suci, umat yang menggiring manusia lain kepada nuansa ilmu dan pengetahuan, sehingga mereka tidak lagi menjadi umat yang ummi, maka Rasulullah Saw lah sang guru dan juga menjadi teladan bagi semua manusia yang ada.

Rasulullah Saw pernah bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطَ السَّاعَةِ أَنْ يَفِيْضَ الْمَالُ، وَيَكْثُرُ التَّجَّارُ، وَيَفْشُوَ الْقَلَمُ .

“Sungguh termasuk dari beberapa syarat Kiamat itu akan datang adalah, harta berlimpah, banyak pedagang dan banyak tulisan orang. ” (HR. Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahân, dari riwayat ‘Amru bin Taghlib Ra; Al Bukhari dalam Al Adab; dari riwayat Thariq bin Syihab Ra; dengan lafadz

بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةِ: تَسْلِيمُ الْخَاصَةِ، وَفَشْوُ التِّجَارَة حتى تُعين الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ، وَقَطْعُ الْأَرْحَامِ، وَقَشْوُ الْقَلَمِ

“Diantara tanda didirikannnya As-Sa’aah (hari Klamat) adalah adanya penyerahan kepada orang-orang khusus; menyebanya pedagang; bahkan sampai sang istri membantu suaminya dalam berdagang; terputusnya tali silaturahmi dan tersebanya pena.”; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al Kubra dan Abu Nu’aim-dalam Al Ma’rifah serta Ath-Thayâlisi dengan lafazh, “وَيَظْهرُ الْثَلَمُ” “Dan pena nampak.” Juga dengan lafazh “ظهور القلم” “Nampaknya pena;” Ahmad.)

Tentang tarqiyah, dalam ayat di atas terletak pada firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُ مِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَاِ نْ كَا نُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ 
huwallazii ba’asa fil-ummiyyiina rosuulam min-hum yatluu ‘alaihim aayaatihii wa yuzakkiihim wa yu’allimuhumul-kitaaba wal-hikmata wa ing kaanuu ming qoblu lafii dholaalim mubiin

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata,”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 2)

Sementara tentang tarbiyyah, maka itu ada pada firman Allah Swt, “وَيُزَكِّيْهِمْ” Mensucikan mereka.”

Begitu juga dengan ta’lim (pengajaran), terletak pada firman Allah Swt, “وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ” “Dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As-Sunnah).”

Duduknya para sahabat nabi di hadapan Rasulullah Saw dan beliau membacakan ayat-ayat Allah Swt, maka ini adalah proses tarqiyah yang berkelanjutan. Lihatlah, bagaimana Rasulullah Saw mampu menggubah sebuah materi dan pandangan akan materi tersebut, bahkan pandangan beliau sampai menembus ruh dan menyinari kalbu. Pemahaman materi tersebut pun akan selalu berkembang pada setiap sisi terkecil yang ada dalam bahasannya, sehingga kaum muslimin pun langsung terpikat dengan beliau Saw melebihi keinginan diri mereka sendiri. Kondisi itu sampai pada titik, dimana jika beliau Saw berbicara, beliau Saw akan selalu ditaati dan jika beliau Saw menuturkan apapun, maka akan didengar.

Pengarang Al Bariqah Al Mahmudiyyah pernah mengutarakan sabda Rasulullah Saw,

خَمْسٌ مِنَ النَّظْرِ عِبَادَةٌ: النَّظُرُ إِلَى الأَبَوَيْنِ عِبَادَةٌ، النَّظْرُ فِي الْمُصْحَفِ عِبَادَةٌ، وَ النَّظْرُ إِلَى الْكَعْبَةِ عِبَادَةٌ، وَ النَّظْرُ فِي زَمْزَمَ عِبَادَةٌ يَحُطُّ الْخَطَايَا حَقًّا، وَ النَّظْرُ إِلَى الْعَالِمِ عِبَادَةٌ.

“Lima pandangan yang memiliki nilai ibadah; memandang kedua orang tua adalah ibadah, memandang mushaf adalah ibadah, memandang ka’bah adalah ibadah, memandang air zam-zam adalah ibadah yang mampu mengugurkan beragam kesalahan dan memandang orang yang ‘alim adalah ibadah.” (Pengarang Al Bariqah Al Mahmudiyyah menyebutkannya dengan lafazh di atas; sebagaimana yang ditunjukkan oleh Al Fakihi dalam Akhbar Makkah,

HR. Abu Daud dalam Al Mashahiť, dari riwayat Ummul Mukminin ‘Aisyah; Al Baihaqi dan juga Ar-Rafi’i dalam Akhbar Qazwain, dari riwayat ‘Abdullah bin Mas’ûd; dia berkata:

النظر إلى الوالد عبادة و النظر إلى الكعبة عِبَادَةٌ، النظري الْمُصْحَفِ عِبَادَةٌ، وَالنَّفْرُ إلى أخيك حُبًّا لَهُ فِي اللهِ عِبَادَةٌ

“Memandang orang tua itu adalah ibadah; memandang Ka’bah adalah ibadah; memandang Mushaf adalah ibadah dan memandang saudaramu lantaran kecintaanmu karena Allah juga ibadah.”;

Al Minawi menukil dalam Al Faidh Al Qadir dari At-Tirmidzi dan Al Hakim sebuah penyataan: Disebutkan dalam sebuah khabar, bahwa:

النظر إلى البحر عبادة، و النظر إلى العالم عِبَادَةٌ ، والنظر إلى الْكَعْبَةِ عِبَادَةٌ ، وَ النَّظُرُ إِلَى وَجْهِ الْأَبَوَيْنِ عِبَادَةٌ

Memandang laut adalah ibadah; memandang Alam adalah ibadah; memandang ka’bah adalah ibadah; memandang kedua wajah orang tua adalah ibadah.”; Ibnu Baththah Al ‘Akbari juga menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbad Ra; bahwa dia berkata :

النظر في الْمُصْحَفِ عِبَادَةٌ، والنظر إلى الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ يَدْعُوا إلى  الشةِ وَيُنْهَى عَنِ الْبِدْعَةِ عِبَادَةٌ

“Memandang mushaf adalah ibadah, memandang kepada seseorang dari ahli sunnah, yang selalu menyerukan kepada Sunnah dan melarang dari bid’ah adalah ibadah.”)

Sebagaimana diriwayatkan pula,

النَّظْرُ إِلَى عَلِيَّ عِبَادَةٌ

“Memandang kepada ‘Ali adalah ibadah.” (HR. Al Hakim dengan lafazh di atas; dimana beliau juga menilainya shahih, Ath-Thabrâni dalam Al Kabîr; Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah dari riwayat ‘Imran bin Hashîn Ra; Al Kattani juga turut menyebutkan riwayat ini dalam Nazhm Al Mutanâtsir Min Al Hadits Al Mutâwatir, dimana beliau berkomentar tentang riwayat ini; “bahwa hadits di atas telah diriwayatkan oleh 11 orang sahabat dengan beragam jalur periwayatan. As-Suyuthi berkata dalam At-Ta’qibât, “Itulah jumlah untuk hadits mutawatir menurut para ulama.”

Ada pula riwayat lainnya yaitu:

النظر إلى وَجْهِ عَلَى عبادة

“Memandang kepada wajah ‘Ali adalah ibadah.” HR. Al Hakim; Ath-Thabrani; Ibnu Syahin; Abu Nu’aim dari riwayat ‘Abdullah bin Mas’üd; Al Khathib Al Baghdadi dalam Tarikh-nya dari riwayat Mu’adz bin Jabal; Diriwayatkan pula dalam Dzail Tarikh Baghdad serta Tarikh Dimasyqa dari riwayat Anas, dari Ummul Mukminin ‘Aisyah.)

Lantas bagaimana halnya dengan memandang Rasulullah Saw, dimana beliau adalah cahaya yang bersinar dengan terang benderang, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلُـنَا يُبَيِّنُ لَـكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ ۗ قَدْ جَآءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌ 
yaaa ahlal-kitaabi qod jaaa-akum rosuulunaa yubayyinu lakum kasiirom mimmaa kungtum tukhfuuna minal-kitaabi wa ya’fuu ‘ang kasiir, qod jaaa-akum minallohi nuuruw wa kitaabum mubiin

“Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan,”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 15)

Redaksi “cahaya” dalam ayat di atas adalah Rasulullah Saw. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّدَا عِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِ ذْنِهٖ وَسِرَا جًا مُّنِيْرًا
wa daa’iyan ilallohi bi-iznihii wa siroojam muniiroo

“dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 46)

Redaksi “cahaya” yang dimaksud dalam ayat ini pun demikian, disini mengandung arti cahaya dan kekuatan untuk menyinari. Mari kita coba lihat kepada sabda Rasulullah Saw,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah. “(HR. Al Baihaqi; Al Bazzar; Ibnu Hibbân; Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad dari riwayat Abu Dzarr Ra; Ath Thabrani dalam Al Ausath, dari riwayat Salim.)

Senyuman yang keluar dari seorang mukmin dapat merubah sebuah materi senyum menjadi kekuatan yang mampu menembus ruh dan wijdan orang lain, sehingga senyuman ini mampu membekaskan sikap positif serta rasa cinta dalam diri. Mari kita lihat lagi sabda Rasulullah Saw,

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Tutur kata yang baik itu adalah sedekah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; Ahmad; Al Baihaqi; Ibnu Hibban dalam Shahih-nya; Ibnu Khuzaimah; Asy-Syihab Al Qadhdha’i; Ibnu Abi ‘Ashim dalam Az-Zuhd, Ath-Thabrani dalam Makârim Al Akhlaq, At-Tibrizi dalam Al Misykât, dari riwayat Abu Hurairah.)

Tutur kata merupakan materi, tetapi ini mampu membekaskan kekuatan yang besar; baik itu berupa sikap penerimaan negatif ataupun positif. Mari kita lihat lagi sabda Rasulullah Saw lainnya,

كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ

“Setiap kebaikan itu adalah sedekah. ” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya; At-Tirmidzi; Ahmad; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi; Al Hakim, dimana beliau menilainya shahih, yaitu dari riwayat Jabir bin ‘Abdillah Ra; Muslim; Abu Daud; Ahmad; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi dari riwayat Hudzaifah Ra; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al Kubrâ dari riwayat ‘Abdullah bin Mas’ûd Ra.)

Lantas engkau bersedekah dengan apa?, sungguh sejatinya engkau bersedekah dengan kekuatan dan pertolongan yang besar. Disebutkan pula dalam sabda Rasulullah Saw lainnya,

فِي بِضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Pada kelamin salah seorang diantara kalian ada sedekah.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya; Ahmad; Al Baihaqi; Abu ‘Awanah; Ibnu Hibban dalam Shahih-nya; Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad, Ibnu Abi Ad-Dunya dari riwayat Abu Dzarr Ra.)

Memandang wajah Rasulullah Saw, didalamnya ada tarqiyah, lantas bagaimana jika engkau sendiri yang melihat beliau Saw secara langsung, mendengarkan bacaan Al Qur`an beliau Saw secara langsung, inilah ilmu tarqiyah. Inilah yang terus berpindah dari satu ruh kepada ruh lainnya dengan cara yang samar. Hal ini pula yang akan mengangkat derajat seseorang dengan perkara yang tidak dapat dicapai dengan shalat dan juga puasa, ini seperti yang diriwayatkan dalam sebuah hadits:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيْبِ بْنِ عَرَبِي الْبَصْرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ كَثِيرِ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ طَلْحَةَ بْنَ خِرَاشٍ، يَقُوْلُ : سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، يَقُوْلُ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا تَمَسُّ النَّارُ مُسْلِمًا رَآنِي أَوْ رَأَى مَنْ رَآنِي، قَالَ طَلْحَةُ : فَقَدْ رَأَيْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، وَقَالَ مُوسَى : وَقَدْ رَأَيْتُ طَلْحَةَ، قَالَ يَحْيَى: وَقَالَ لِي مُوسَى : وَقَدْ رَأَيْتُنِي وَنَحْنُ نَرْجُو الله.

Yahya bin Habib bin ‘Arabi Al Bashri menceritakan kepada kami, dia berkata: Mûsa bin ‘Ibrahim bin Katsir Al Anshari menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Thalhah bin Khirasy berkata: Aku mendengar Jabir bin ‘Abdillah berkata: Rasulullah bersabda, “Tidaklah menyentuh neraka seorang muslim yang telah melihatku atau melihat orang yang melihatku.” Abu Thalhah berkata: Aku telah melihat Jabir bin ‘Abdillah, Musa berkata: Aku telah melihat Thalhah telah melihat mereka, dimana kami memohon kepada Allah. ” (HR. At-Tirmidzi dengan lafazh di atas; dia menilai; bahwa hadits ini hasan gharib, Abu Nu’alm Al Ashbahani dalam Al Ma’rifahı, dia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Hamdan menceritakan kepada kami; Al Hasan bin Sufyan menceritakan kepada karni; ‘Abdurrahman bin ‘Ibrahim Duhaim menceritakan kepada kami; Mūsa bin ‘Ibrahim bin Katsir bin Basyir bin Al Fakah mencertitakan kepada kami; dia berkata: Aku mendengar Thalhah bin Khirasy; yaitu anak dari Paman Jabir pernah berkata: Aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda :

لا تمى النار مُسْلِمًا رَآنِي أَوْ رَأَى مَنْ رَآنِي

“Tidaklah menyentuh neraka seorang muslim yang telah melihatku atau melihat orang yang melihatku.” Dia berkata: Wahai Anak saudaraku; Jâbir telah melihat Rasulullah Saw; dan aku telah melihat Jabir dan engkaupun telah melihatku.

Ath-Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadits di dalam Al Kabîr, dari ‘Alqamah bin Wa`il; dari Ayahnya; dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

طونى لمنْ رَآنِي، وَمَنْ رَأَى مَنْ رَأْنِي ثَلاثاً

“Beruntunglah orang yang pernah melihatku; dan juga orang yang telah melihat orang yang telah melihatku; beliau mengucapkan ini sebanyak 3 kali.”

Al Hakim juga meriwayatkan hadits yang senada dengan ini dalam Mustadrak-nya; dari riwayat ‘Abdullah bin Busr; dengan lafazh;

طوبى لِمَنْ رَآنِي، وطُوبَى لِمَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي، وَ لِمَنْ رأى مَن رَأَى مَنْ رَآنِي وَأَمَنَ بِي

“Beruntunglah orang yang pernah melihatku; beruntunglah orang yang melihat orang yang telah melihatku, dan juga orang yang melihat orang yang pernah melihat orang yang telah melihatku dan beriman kepadaku. “Beliau menyebutkannya sebanyak tiga kali.

Ath-Thabrani juga meriwayatkan dalam Al Ausath berupa hadits senada dengan hadits di atas; dari riwayat Anas bin Malik; dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

طوبى لمن رآني، وَمَنْ رَأى منْ رَآنِي، وَمَنْ رَأى من رأى من رابي ثلاث

“Beruntunglah bagi orang yang pernah melihatku; dan orang yang pernah melihat orang yang telah melihatku; juga orang yang melihat orang yang pernah melihat orang yang pernah melihatku; beliau menyebutkannya sebanyak tiga kali.”

‘Abd bin Humaid dan Al Bukhari meriwayatkan dalam At-Tarikh Al Kabir dari Abu Sa’id Ra; Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah dari riwayat ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair; dari ayahnya dari kakeknya Nufair Ra; Tammâm juga turut meriwayatkannya dalam Fawa ‘idnya; dari riwayat Abu Umamah Ra; Tammâm juga meriwayatkan hadits tersebut dari Anas Ra; dia berkata; Rasulullah Saw bersabda; “Beruntunglah bagi orang yang pernah melihatku; juga bagi orang yang pemah melihat orang yang telah melihatku; juga bagi orang yang melihat orang yang penah melihat orang yang pernah melihatku.”)

Dapat melihat Rasulullah Saw sejatinya adalah tiket yang dapat menghantarkan seseorang masuk ke dalarn surga, sebagaimana yang ada dalam hadits yang telah dikemukakan di atas, bahwa kata “melihat” itu bukanlah kalimat mutlak, ia adalah kalimat yang tidak mutlak. Maksudnya adalah, bahwa syarat masuk surga itu tidak hanya cukup dengan melihat Rasulullah Saw saja, akan tetapi anwar dari proses melihat beliau itu mencakup setiap mata rantai sanad yang tersambung antara dirimu dan Rasulullah Saw. Apabila engkau atau gurumu, termasuk orang yang telah melihat Rasulullah Saw dalam mimpi atau dalam keadaan terjaga, (Kami nyatakan dengan kata; Dalam mimpi atau secara terjaga.” Pada hak Rasulullah Saw; hal itu sama saja; atau paling tidak pemilihan kata ini merupakan perkiraan yang dangkal; sebab kedua kondisi tersebut akan manyebabkan yang lainnya; hal ini seperti yang tertera dalam banyak hadits yang kami riwayatkan, diantaranya:

من رأني في المنام، فسيراني في اليقظة

Disebutkan dengan lafazh “Barangsiapa yang telah melihatku didalam mimpi; maka kelak dia akan melihatku dalam kondisi terjaga.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; Abu Daud; Ahmad; juga Al Baihaqi dalam Ad-Dala `il, Ath-Thabrâni dalam Musnad Asy-Syamiyyîn, Al Khathib Al Baghdadi dalam Tarikh-nya dari riwayat Abu Hurairah Ra; Ath-Thabrâni dalam Al Kabîr dari riwayat Malik bin ‘Abdillah Al Khats’ami).

Disebutkan dengan lafazh;

من رأتِي فِي الْمَنَامِ، فكانما راني في اليقظة

“Barangsiapa yang telah melihatku didalam mimpi; maka seakan-akan dia telah melihatku dalam kondisi terjaga.” (HR. Ibnu Majah; Ath-Thabrâni dalam Al Kabir, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya; Al Bukhari dalam At-Tarikh, Tammâm dalam Fawa ‘idnya dari riwayat Abi Juhaifah; Ath-Thbrani dalam Al Kabir dan Al Ausath, Ibnu ‘Asakir dari riwayat ‘Abdullah bin ‘Amru).

Disebutkan pula dengan lafazh;

من راني في المنام، فقد رابي في اليقظة

“Barangsiapa yang telah melihatku di dalam mimpi, maka dia telah melihatku dalam keadaan terjaga.” (HR. Ibnu Majah dari riwayat Abdullah bin Mas’ûd Ra; Ahmad; Ath-Thayalisi dari riwayat Abu Hurairah; Al Bazzar dari riwayat Abu Malik Al Asyja’i dari ayahnya; Ibnu ‘Asakir dari Abi Bakrah).

Maka kabar gembira akan proses melihat Rasulullah Saw Ini pun juga diperuntukkan bagi dirimu, baik dirimu melihat Rasulullah secara langsung maupun dengan perantara.

Kabar gembira akan hal ini tidak dibenarkan untuk selain muslim, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt terkait orang kafir,Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نْ تَدْعُوْهُمْ اِلَى الْهُدٰى لَا يَسْمَعُوْا ۗ وَتَرٰٮهُمْ يَنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ
wa ing tad’uuhum ilal-hudaa laa yasma’uu, wa taroohum yangzhuruuna ilaika wa hum laa yubshiruun

“Dan jika kamu menyeru mereka (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. Dan kamu lihat mereka(berhala-berhala) memandangmu padahal mereka tidak melihat.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 198)

Lantas bagaimana jika Rasulullah Saw yang melihatmu dengan pandangan ridha, pandangan yang melebihi semua amal ibadahmu, ini merupakan perkara yang dapat mengangkatmu pada derajat yang tinggi dalam sekejap. Oleh karena itu, engkau diperintahkan untuk meninggikan kesungguhan hatimu, berproses dari dirimu yang mernandang kepada Rasulullah Saw, sampai Rasulullah Saw memandangimu dengan pandangan ridha.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقُوْلُوْا رَا عِنَا وَ قُوْلُوا انْظُرْنَا وَا سْمَعُوْا ۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa taquuluu roo’inaa wa quulungzhurnaa wasma’uu wa lil-kaafiriina ‘azaabun aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu katakan “Ra’ina”, tetapi katakanlah, “Unzurna,” dan dengarkanlah. Dan orang-orang kafir akan mendapat azab yang pedih.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 104)

Redaksi firman Allah “قُوْلُوا انْظُرْنَا “

Tetapi katakanlah: “Unzurna” ini merupakan perintah Allah kepada orang-orang mukmin untuk meminta pandangan dari Rasulullah Saw, berusaha mencuri perhatian beliau, mendekati beliau, mencintai beliau Saw, fana dalam kecintaan kepada beliau.

Semua perkara ini sebenarnya merupakan aplikasi dari firman Allah terkait hak Rasul-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّاۤ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًا 
innaaa arsalnaaka syaahidaw wa mubasysyirow wa naziiroo

“Sungguh, Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan,”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 8)

لِّـتُؤْمِنُوْا بِا للّٰهِ وَ رَسُوْلِهٖ وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُ ۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا
litu-minuu billaahi wa rosuulihii wa tu’azziruuhu wa tuwaqqiruuh, wa tusabbihuuhu bukrotaw wa ashiilaa

“agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 9)

Redaksi firman Allah “وَا سْمَعُوْا” Dan dengarkanlah, ini merupakan perintah Allah kepada orang-orang mukmin untuk mendengar apa yang bersumber dari beliau Saw. Sebab, mendengarkan ucapan beliau itu sejatinya adalah tarqiyah, seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُ مِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَاِ نْ كَا نُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ 
huwallazii ba’asa fil-ummiyyiina rosuulam min-hum yatluu ‘alaihim aayaatihii wa yuzakkiihim wa yu’allimuhumul-kitaaba wal-hikmata wa ing kaanuu ming qoblu lafii dholaalim mubiin

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata,”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 2)

Redaksi firman Allah “وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ” ; “Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.”

Kekufuran dalam ayat ini adalah penghalang, sementara orang-orang kafir di sini adalah orang-orang yang menutup-nutupi hakikat diri Rasulullah Saw, dimana sosok beliau itu adalah kebenaran itu sendiri, hal ini seperti yang tertera dalam sebuah hadits shahih,

مَنْ رَآنِي فَقَدْ رَأَى الْحَقَّ

“Barangsiapa yang pernah melihatku, maka dia telah melihat kebenaran. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; Al Baihaqi; Ibnu Al Muqri; Al-Lâlikâ’i; At-Tabrizi dalam Al Misykât dari riwayat Abu Qatadah; Al Bukhari dalam Shahih-nya dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri.)

Barangsiapa yang tidak melihat sosok beliau sebagai kebenaran, maka dia terhijab dari beliau, semoga Allah melindungi kita dari hal itu.-

Lantas bagaimana jika beliau yang memandang dirimu, tertawa di hadapan wajahmu?!

قَالَ زَيْدٌ الْأَرْقَمِ: فَبَيْنَمَا أَنَا أَسِيْرُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ قَدْ خَفَقْتُ بِرَأْسِي مِنَ الهَمِّ ، إِذْ أَتَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَكَ أُذُنِي وَضَحِكَ فِي وَجْهِي، فَمَا كَانَ يَسُرُّنِي أَنَّ لِي بِهَا الخُلْدَ فِي الدُّنْيَا، ثُمَّ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ حَقَّنِي فَقَالَ : مَا قَالَ لَكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قُلْتُ: مَا قَالَ لِي شَيْئًا، إِلَّا أَنَّهُ عَرَكَ أُذُنِي وَضَحِكَ فِي وَجْهِي، فَقَالَ: أَبْشِرْ، ثُمَّ لَحِقَنِي عُمَرُ، فَقُلْتُ لَهُ مِثْلَ قَوْلِي لأَبِي بَكْرٍ.

Zaid bin Al Arqam pernah berkata, “Disaat aku bepergian dengan Rasulullah Saw dalam suatu perjalanan, aku geleng-gelangkan kepalaku lantaran ada masalah yang melilit, tiba-tiba aku sudah bersama beliau, beliau menggerak-gerakkan telingaku dan tertawa di hadapan wajahku, sungguh hal ini membuatku senang, seolah-olah aku abadi di dunia ini dengan perlakuan tersebut. Kemudian Abu Bakar dapat menyusulku dan berkata kepadaku, ‘Apa yang telah Rasulullah Saw ucapakan kepadamu?’ Aku berkata, ‘Beliau tidak berkata apapun kepadaku, kecuali beliau hanya menggerak-gerakkan telingaku dan tertawa di hadapan wajahku’. Abu Bakar berkata, ‘Bergembiralah’. Kemudian Umar pun menyusulku dan berkata kepadaku seperti perkataan Abu Bakar. ” (HR. At-Tirmidzi; dimana dia menilai hadits ini shahih, Al Hâkim, dia juga menilai hadits ini shahih, Ath-Thabrani; Al Baihaqi dalam Ad-Dala ‘il, Ibnu Abi Syaibah; Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya.)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُ مِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَاِ نْ كَا نُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ 
huwallazii ba’asa fil-ummiyyiina rosuulam min-hum yatluu ‘alaihim aayaatihii wa yuzakkiihim wa yu’allimuhumul-kitaaba wal-hikmata wa ing kaanuu ming qoblu lafii dholaalim mubiin

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata,”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 2)

Tentang redaksi firman Allah “وَيُزَكِّيْهِمْ” Mensucikan mereka, proses tazkiyah sudah dikenal oleh para sufi. Prosesnya adalah mengosongkan diri secara zhahir dan bathin dari beragam akhlak buruk serta menghiasinya dengan akhlak terpuji.

Sementara tentang redaksi, “وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ” Dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As-Sunnah),” yang dimaksud “Al Kitab” di sini adalah beragam ilmu-ilmu Al-Qur’an, sementara “Al Hikmah” adalah beragarn ilmu-ilmu yang berkenaan dengan syari’at.

Para ulama sepeninggalan Rasulullah Saw adalah pewaris beliau, Rasulullah Saw pernah bersabda,

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلَا دِرْهَماً، ولكِنَّهُم ورَّثُوا العِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.

“Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah meraup banyak kebaikan. ” (HR. At-Tirmidzi; Abu Daud; Ad-Dârimi; Ibnu Hibbân dalam Shahih-nya; Ath-Thabrâni; Asy-Syihab Al Qadhdha’i; Al Baihaqi; Ibnu Al A’rabi; Ibnu ‘Asåkir dalam Tarikh-nya dari riwayat Abu Ad-Darda`.)

Maka diantara ulama ada yang mewariskan tarqiyah bagi manusia, ada yang mewariskan tazkiyah dan ada juga yang mewariskan ta ‘lim.

Selama tarqiyah, tazkiyah dan ta’lim ini bersatu pada diri seorang guru, maka beliau itu termasuk khalifahnya Rasulullah Saw bagi umat ini, dia juga merupakan pewaris Rasulullah Saw serta tempat pandangan Rasulullah Saw, dialah wali quthb zamannya dan di sekitarnyalah semua ruh alam itu berada.

➤ Syaikhut Ta’lim (Guru Pengajar)

Dirinya mengajarkan orang banyak ilmu fikih, hadits, tafsir, qira `at, bahasa, ilmu duniawi seperti maternatika, fisika, kimia dan lain sebagainya. Pengajaran beliau sama sekali tidak keluar dari ranah syari’at.

Penjelasan secara syari’at: Perlu diketahui olehmu bahwa sesuatu itu ada dua sisi: Sisi zhahir dan sisi bathin, hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

هُوَ الْاَ وَّلُ وَا لْاٰ خِرُ وَا لظَّاهِرُ وَا لْبَا طِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
huwal-awwalu wal-aakhiru wazh-zhoohiru wal-baathin, wa huwa bikulli syai-in ‘aliim

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 3)

Sejatinya seluruh alam ini bersandar kepada Dzat yang membuatnya, bahkan syari’at sekalipun memiliki sisi zhahir dan juga sisi bathin.

Semua yang wujudnya zhahir itu identik dengan kemudahan, misalnya seperti oksigen untuk manusia bernafas; seperti sifat indah, yang dengannya seseorang bisa melihat wujud sesuatu yang indah; seperti lautan, langit, pepohonan. Begitu pula dengan sisi zhahir syari’at, yang mengindikasikan perkara yang mudah untuk dilakukan, orang yang tidak pandai membaca dan menulis pun dapat mengetahuinya, sama seperti pengetahuannya orang yang pandai dan pengamalannya.

Sementara sisi bathin, maka hal itu lebih indah dari sisi zhahir-nya, akan tetapi ini terikat dengan perkara yang rumit, contohnya seperti, sifat jamalnya Allah Swt, hal ini merupakan sisi bathin dan bukan sisi zhahir, semisal ini tidak dapat didalami kecuali oleh para pembesar sufi.

Wujud dari hukum syari’at terlihat nampak di duriia, sedangkan pada alam khayalan dan mimpi, maka hukum syari’at tidak berlaku di alam tersebut. Dalam alam ini, seseorang bisa saja bermimpi sebuah perkara yang dalam syari’at termasuk dosa besar; seperti mimpi orang yang melakukan hubungan intim dengan ibunya; terkait mimpi semacam ini ada ulama yang mengatakan bahwa makna mimpi itu adalah: Si pemimpi itu kelak akan menginjak kota Makkah dan menunaikan ibadah haji.

Bisa juga seseorang berkhayal yang sesuai dengan apa yang diinginkannya dan syari’at tidak menghukumi hal tersebut. syari’at hanya menilai perbuatan rill yang dilakukan atau apa yang diucapkan.

Syariat dapat memberikan justifikasi hukum selagi akal manusia masih berfungsi, namun jika akal itu hilang lantaran mabuk dengan suatu hal yang haram, maka syari’at bisa memberikan hukuman yang pantas dengan apa yang dia lakukan, sementara jika dia mabuk karena perkara selain itu, maka syari’at tidak bisa memberikan justifikasi hukum pada perkara semacam ini. Hukum syari’at hanya berfungsi di alam nyata, sementara di alam lainnya, maka alam tersebut setara dengan alam semu, alam mutlak dan alam lainnya, yang hukum syari’at tidak berlaku di dalamnya.

Setelah semua penjelasan yang kami paparkan di atas, maka kami katakan, bahwa seorang guru pengajar itu adalah panutan yang harus dicontoh, sosoknya selalu berpegang teguh pada syari’at zhahir dalam semua kondisi diri, tetapi dia tidak memiliki bagian dari sisi syari’at yang tersembunyi -sekalipun sosoknya adalah panutan banyak orang.- Kecuali jika dirinya pernah terjerumus ke dalam dosa seperti orang lain, dia pernah menyesali perbuatannya dan juga bertobat. Sungguh dosa semacam ini tidaklah mengotori keadilan diri dan tidak membuat seseorang terlarang untuk menimba suatu ilmu kepadanya. Apabila seorang guru pengajar itu melakukan dosa kecil ataupun dosa besar, maka dirinya harus bertobat dan tidak mengulanginya lagi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِا لْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّا رِ 
wallaziina shobarubtighooo-a waj-hi robbihim wa aqoomush-sholaata wa angfaquu mimmaa rozaqnaahum sirrow wa ‘alaaniyataw wa yadro-uuna bil-hasanatis-sayyi-ata ulaaa-ika lahum ‘uqbad-daar

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 22)

Meski guru pengajar juga pernah melakukan kesalahan, namun Al Qur’an tetap memuji mereka, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۙ لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَسَآءُوْا بِمَا عَمِلُوْا وَيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا بِا لْحُسْنٰى 
wa lillaahi maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, liyajziyallaziina asaaa-uu bimaa ‘amiluu wa yajziyallaziina ahsanuu bil-husnaa

“Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).”
(QS. An-Najm 53: Ayat 31)

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰٓئِرَ الْاِ ثْمِ وَا لْفَوَا حِشَ اِلَّا اللَّمَمَ ۙ اِنَّ رَبَّكَ وَا سِعُ الْمَغْفِرَةِ ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَ كُمْ مِّنَ الْاَ رْضِ وَاِ ذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ ۚ فَلَا تُزَكُّوْۤا اَنْفُسَكُمْ  ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
allaziina yajtanibuuna kabaaa-irol-ismi wal-fawaahisya illal-lamama inna robbaka waasi’ul-maghfiroh, huwa a’lamu bikum iz angsya-akum minal-ardhi wa iz angtum ajinnatung fii buthuuni ummahaatikum, fa laa tuzakkuuu angfusakum, huwa a’lamu bimanittaqoo

“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 32)

Kondisi para pengajar pun terkadang dicaci lantaran dosa yang mereka perbuat, namun hal itu tidak mengeluarkan mereka dari sifat baik yang mereka miliki.

➤ Syaikhut Tazkiyah (Guru Pemurni Jiwa)

Beliau adalah guru yang memiliki pengetahuan mendalam tentang beragam ilmu syari’at, sosoknya selalu mengedepankan hukum syari’at zhahir, dia tidak membutuhkan hukum syari’at dari sisi bathin. Sosoknya memiliki akhlak dan sifat yang baik.

Mayoritas kondisi dirinya selalu terjaga dari dosa kecil maupun besar, kesalahan yang diperbuatnya menurut pakar syari’at adalah suatu hal yang baik. Apabila dirinya lupa berdzikir kepada Allah Swt sesaat saja, maka dia menganggap bahwa itu adalah kesalahan dirinya. Sosok guru semacam ini adalah seorang wali mursyid, sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَتَرَى الشَّمْسَ اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَا تَ الْيَمِيْنِ وَاِ ذَا غَرَبَتْ تَّقْرِضُهُمْ ذَا تَ الشِّمَا لِ وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُ ۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ ۗ مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
wa tarosy-syamsa izaa thola’at tazaawaru ‘ang kahfihim zaatal-yamiini wa izaa ghorobat taqridhuhum zaatasy-syimaali wa hum fii fajwatim min-h, zaalika min aayaatillaah, may yahdillaahu fa huwal-muhtadi wa may yudhlil fa lang tajida lahuu waliyyam mursyidaa

“Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu. Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 17)

➤ Syaikhut Tarqiyah

Ini yang menjadi masalah, bahwa sosok beliau ini termasuk orang yang Allah Swt pilih untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bahkan diri beliau itu layaknya cermin yang mampu melihat sisi bathin dari syari’at, sebagaimana dia pun mampu melihat sisi zhahir dari syari’at itu sendiri. Beliau terkadang menggunakan standar hukum syari’at zhahir, sehingga dikagumi oleh banyak orang, namun terkadang dirinya pun menampakkan sisi syari’at bathin, sehingga Syaikh Ta’lim dan Syaikh Tarbiyah yang tadinya berpegang teguh pada syari’at zhahir banyak yang mengingkarinya. Sosoknya tidak memiliki kepentingan kepada mereka, perbuatannya itu murni hanya untuk Allah Swt.

Melihat guru semacam ini merupakan ibadah, mengikutinya adalah petunjuk dan mengingkarinya adalah pintu kehancuran. Pandangan beliau kepada dirimu mampu mengangkat derajatmu ke tempat yang paling tinggi.

Apabila beliau bermu’amalah dengan banyak orang dengan standarisasi syari’at zhahir, maka mereka akan mengerti bahwa sosok seperti beliau itu menggiring manusia menuju surga. Namun jika beliau bermu’amalah dengan orang banyak dengan standarisasi syari’at bathin, maka mereka akan meragukan hal itu dan menilai bahwa beliau adalah pembuat bid’ah, orang-orang akan menilainya fasik bahkan kufur. Sebab, sisi bathin syari’at itu tidaklah memiliki aturan yang dapat mengikat dan tidak ada pula dalil syari’at yang dapat menunjukkan sisi bathin syari’at tersebut, perkara ini hanya dapat dicerna dengan dzauq. Sosok seperti beliau itu mampu mendapatkan hidayah dengan perkara yang dapat menyebabkan seseorang sesat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖۤ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۗ فَاَ مَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ وَاَ مَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَا ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًا ۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖۤ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَ 
innalloha laa yastahyiii ay yadhriba masalam maa ba’uudhotang fa maa fauqohaa, fa ammallaziina aamanuu fa ya’lamuuna annahul-haqqu mir robbihim, wa ammallaziina kafaruu fa yaquuluuna maazaaa aroodallohu bihaazaa masalaa, yudhillu bihii kasiirow wa yahdii bihii kasiiroo, wa maa yudhillu bihiii illal-faasiqiin

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 26)

Sosok beliau dapat membuat dirinya wushul dengan perkara yang membuat orang lain ingitha’ (terputus dari hadrah Allah Swt). Beliau dapat membuat diri merasakan nikmat dengan perkara yang membuat orang lain mendapatkan adzab. Semua yang ada dalam diri beliau bertentangan dengan yang biasa terjadi pada kebanyakan orang. Sosoknya layaknya lautan tak bertepi, beliau dapat memposisikan seseorang pada dalam kondisi bahaya dan tidak ada yang bisa selamat kecuali orang yang benar-benar berserah diri dan percaya.

Ketika engkau ingin melihat sisi nampak lautan, maka engkau akan dengan mudah melihatnya, engkau bisa melihat sisinya yang indah dan berkilauan cahaya, namun engkau tidak pernah tahu sisi buruk dalamnya lautan itu. Jika engkau tidak pandai berenang, maka cukuplah bagimu melihat dan menikmati keindahannya itu dari sisi luar.

Bersahabat dengan syaikh tarqiyah tanpa beradab kepada mereka itu merupakan perkara yang mengandung bahaya dan mangakibatkan huru-hara yang dahsyat. Dahulu ada yang pernah berkata, “Duduklah engkau di atas karpet dan hati-hati dengan sikap (Syaikh) yang memberikan kelapangan.”

Syaikh Tarqiyah ini ibarat cermin yang dapat memperlihatkan gambaran dirimu:

1. Saat engkau bersamanya dan dalam pandanganmu, bahwa beliau banyak melakukan kemaksiatan, maka itu adalah gambaran amal perbuatanmu yang tercermin pada diri beliau, agar dirimu dapat melihat sendiri perkara tersebut.

2. Saat engkau bersamanya dan dalam pandanganmu, bahwa beliau banyak melakukan amal kebaikan dan ketaatan, maka ketahuilah bahwa dirimu itu berada dalam kebaikan.

Tindakan Syaikhut tarqiyah ini tidaklah dapat engkau cerna dengan akal. Jika engkau gunakan akalmu, maka engkau akan sia-sia dan merugi, tetapi gunakanlah ruh dan kalbumu untuk bermuamalah dengan beliau.

Jangan sampai engkau bermuámalah kepada Allah Swt, Rasul-Nya, orang tua dan juga Syaikh Tarqiyah dengan menggunakan standarisasi akalmu, tetapi bermu’amalahlah kepada mereka dengan ruh dan kecintaan dirimu. Jangan engkau pertimbangakan perihal Rasulullah Saw dengan akalmu, begitu pula dengan Syaikh Tarqiyah yang merupakan pewaris Nabi Saw. Engkau bisa lihat bagaimana Musa saat bermu’amalah dengan Khidir menggunakan akal, yang ternyata membuatnya menerima penolakan dan terputusnya hubungan yang terjalin diantara keduanya.

Jika engkau bersahabat dengan Syaikh Tarqiyah, kemudian engkau melihat ada perkara pada diri beliau yang menurutmu tidak sesuai dengan syari’at, maka bersabarlah sampai beliau menjelaskan perkara itu kepadamu. Jika engkau tidak bersabar dan menanyakan penjelasan hal tersebut dari sisi syari’at, maka engkau termasuk orang yang terburu-buru. Dimana orang yang terburu-buru akan sesuatu sebelum waktunya tiba, dia malah akan diberi hukuman dengan tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, sehingga beliau malah tidak akan pernah menjelaskan hal itu dan meninggalkanmu dalam prasangka burukmu itu. Atau bisa jadi beliau akan menjelaskan hal itu kepadamu, akan tetapi dengan syarat berakhirnya persahabatan antara diri beliau dan dirimu, hal ini seperti yang Allah Swt firmankan dalam Al Qur`an,

قَا لَ هٰذَا فِرَا قُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَ ۚ سَاُ نَـبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا
qoola haazaa firooqu bainii wa bainik, sa-unabbi-uka bita-wiili maa lam tastathi’ ‘alaihi shobroo

“Dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 78)

Apabila engkau berguru kepada seorang Syaikh Ta’lim (guru pengajar), kemudian engkau berpisah dengan beliau, maka semua pengajaran beliau itu masih membekas didalam dirimu dan keberkahan pengajaran beliau pun masih menyertaimu, sehingga dirimu dapat memperbanyak murid, namun dengan syarat engkau harus mendo’akan gurumu setiap hari jika sosoknya masih hidup, namun jika beliau sudah meninggal dunia, maka engkau harus mendo’akan, meminta kasih sayang Allah Swt baginya, berbaik sangka terhadapnya dan selalu memujinya saat nama gurumu itu disebutkan.

Sedangkan pengajaran yang engkau dapatkan dari Syaikh Tazkiyah (guru pemurni jiwa); saat dirimu berpisah dengan beliau dan dirimu yakin bahwa sosok beliau adalah sosok yang baik, maka dirimu akan merasa banyak mengambil manfaat banyak dari beliau dan engkau pun bisa memberikan manfaat itu kepada orang lain. Jika demikian, maka senantiasa lah memohon madadnya dan perbanyak orang yang dapat mengambil manfaat dari dirimu.

Namun apabila dirimu berpisah dengan beliau dalam kondisi tidak yakin akan sosok beliau, maka dirimu dapat memilih; antara tercabutnya ruh tazkiyah dari dalam dirimu, sehingga engkau kembali memulai sulukmu itu dari awal atau engkau meminta maaf dan bermu’amalah dengan penuh kasih sayang kepada beliau, agar suatu hari Allah Swt memberimu hidayah.

Sementara tentang Syaikh Tarqiyah, apabila engkau datangi beliau dengan segenap ruh, maka engkau tidak akan pernah berpisah dengannya sekalipun beliau telah meninggal dunia, sebab madad-nya orang yang telah meninggal dunia tetap ada dan anwar-nya pun akan terus ada. Namun apabila engkau datangi beliau dengan daya nalarmu, maka dirimu akan cepat berpisah dengannya. Hal ini berimbas pada tercabutnya semua tarqiyah yang engkau dapatkan dari beliau saat itu juga, dirimu akan kembali pada kondisi yang buruk, wajahmu akan menghitam, hatimu akan sakit dan dirimu kelak akan menjadi orang yang mengingkari beliau; orang yang selalu mencari keburukan beliau. semoga Allah Swt menjaga kita dari hal yang demikian ini.-

Syaikh Ta’lim mendewakan syari’at, Syaikh Tarbiyah menyembah Allah Swt dengan syari’at dan Syaikh Tarqiyah itu menyembah Allah Swt dengan ketetapan Allah Swt.

Syaikh Ta’lim dapat merubah nafsu amarah menjadi nafsu lawwamah, Syaikh Tarbiyah dapat merubah nafsu lawwamah menjadi nafsu Radhiyah dan Syaikh Tarqiyah dapat mematikan semua nafsu yang ada dalam jiwa.

Syaikh Ta’lim sangat banyak jumlahnya dan terkenal, Syaikh Tarbiyah juga jumlahnya banyak, akan tetapi lebih sedikit daripada Syaikh Ta ‘lim dan mereka juga sama terkenal, sementara Syaikh Tarqiyah sosoknya hanya satu, untuk mengetahui sosok beliau sangatlah sulit.

Apabila seseorang mampu mengetahui sosoknya, maka itu termasuk futuh akbar, sosok Syaikh Tarqiyah hampir tidak dapat diketahui kecuali dengan hal yang ghaib. Apabila sosok beliau ini menunjukkan, bahwa dialah Syaikh Tarqiyah, maka ini merupakan keutamaan yang besar atas kemurahan diri beliau. Syaikh Tarqiyah banyak bersembunyi diantara manusia; baik sosoknya berpenampilan seadanya atau memiliki pekerjaan yang hina atau terkadang menyelisihi sebagian cabang bahasan fikih, seperti: Dia berwudhu dengan tata cara yang tidak teratur, sehingga banyak orang menilai bahwa beliau bukanlah orang ‘alim, sehingga banyak orang yang ingkar terhadap beliau. Sosok Syaikh Tarqiyah ini tidak dapat diketahui kecuali oleh para wali Allah Swt.

Diri seorang Syaikh (guru) itu lemah, sosoknya bahkan tidak bisa menyakiti orang lain, namun terkait dengan martabat beliau, maka dalam hal itu sangatlah berbeda, kondisi beliau ini sangat tidak senang dengan musuhnya. Maka apabila ada orang yang menampakkan permusuhan dengan Syaikh Tarqiyah, atau beradab kepadanya dengan adab yang buruk, maka Syaikh (guru) akan menyikapi permusuhan itu dengan lemah lembut, beliau malah akan mendo’akan kebaikan bagi orang yang bersangkutan.

Sementara jika dilihat dari sisi martabat Syaikh, maka beliau tidak suka dengan orang itu, orang yang menentang beliau bisa binasa, yang bersangkutan akan merasakan kemarahan Syaikh yang menyudutkan dirinya pada posisi kebinasaan atau bisa jadi dirimu itu akan mendapatkan nikmat Allah Swt yang nampak, seperti: Engkau memiliki kekayaan yang banyak, ibadahmu semakin bertambah; baik itu shalat, puasa atau haji, akan tetapi dalam dirimu terdapat kemunafikan dan sikap hasud terhadap Islam. Inilah balasan sikap permusuhan kepada Syaikh yang paling tersembunyi. Semoga Allah melindungi kita dari hal yang demikian, serta mengaruniai kami dan kalian dengan sempurnanya keyakinan pada para wali Allah, Amiin.-

Jika dirimu mampu bersanding dengan Syaikh yang dalam dirinya terkumpul tarqiyah, tazkiyah dan ta’lim, maka sungguh Allah Swt telah menyempurnakan nikmat-Nya padamu. Oleh karena itu, janganlah dirimu merasa sedih jika terluputkan sesuatu dari beliau; baik itu berupa ilmu dan juga pengamalannya atau berkaitan dengan urusan dunia dan akhirat. Syaikh semacam ini merupakan imam, wali ghauts dan sang wali quthb masanya.

Maka jika ada orang senantiasa bergumul dengan pakar tarqiyah, maka dia pun akan ber-tarqiyah, seperti bergumulnya seseorang dengan orang yang bahagia, dia pun akan bahagia, dirinya tidak akan pernah merasakan kesulitan sama sekali.

Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY