
Elsubha.com – Lafazh Al Asqam Mengindikasikan Penisbatan Kekurangan Pada Nabi Saw
Berkenaan dengan penggunaan kalimat-kalimat yang cacat menurut bahasa; sebab kata “Al Fadhilu,” tidak terbentuk kecuali dari tsulatsi (kata dengan tiga huruf). Katanya, “dengan begitu menghasilkan kesan merendahkan kedudukan Rasulullah Saw.”
Jawaban atas asumsi ini: Ada sejumlah ahli tata bahasa arab yang memperbolehkan penggunaan bentuk tsulâtsi mazîd untuk ini; yaitu sebagaimana pernyataan Ibnu Malik dalam At-Tashil yang dikutip oleh Ar-Ridha dari Al Akhfasy dan Al Mubarrad, sebagaimana dalam kitab Kâfiyah-nya.
Penyusun kitab Al Wafiyah mengatakan, “Diperbolehkan penggunaan bentuk tsulatsi mazîd untuk itu walaupun nyata hal tersebut tidak umum.”
Al Murada pernah mengatakan, “Boleh dibentuk dari tsulâtsi mazid untuk itu dalam bentuk kiasan, mutlak. Itu merupakan madzhab Sibawaih dan para muhaqqiq kalangan sahabat-sahabatnya.
Kata “Asqama,” dibentuk dari kata “Istaqâma (bersikap lurus),” yang berasal dari kata, “Qârna (berdiri).”
Apabila ada orang yang mengatakan, “Sekiranya kata Asqama, itu kata kerja dari istaqâma. Huruf wawu adalah aslinya. Sedangkan huruf Sin nya adalah tambahan. Sedangkan yang ditekankan adalah supaya menghapus yang bersifat tambahan dan menyisakan yang asli?”
Maka kami jawab, “Itu adalah kaidah umumnya. Jika bukan atas dasar itu, maka tambahannya pun boleh dihapus sekaligus menolak aslinya. Contohnya kata “Amkinatun,” kata ini bentuk plural dari kata “makânun (tempat).” Bentuk yang seharusnya adalah Akûnah, tetapu justru dihapus aslinya dan disisakan tambahannya. Dan seperti itulah yang ada pada kata Al Aqwam pada sholawat Sayyidi Syaikh Ra tadi.”
Apabila disebut dengan Al Aqwâmu, maka yang akan muncul adalah pengulang-ulangan lafal. Adapun soal adanya kesan merendahkan martabat Rasulullah Saw, maka tidak dintyatakan dalam tata bahasa, bahwa kata Al Asqam itu berarti Al Akhasshu (lebih hina) atau al adh’aafu (lebih lemah). Kalaupun kata Al Asqam itu berasal dari kata As-Saqamu, yang berarti sakit, maka itu pun tidak bersifat merendahkan, sebab ada di dalam riwayat hadits-hadits yang menyatakan bahwa beliau Saw pernah dilanda sakit panas yang berat.
Tidak ada yang menduga bahwa dalam lafazh Asqam trdapat sisi merendahkan Nabi Saw. Sebab alur pembicaannya yang sedang kita ketengahkan jelas dan ada kata yang membatas pembahasan kita ini.
Penjelasan diatas dikutip dari kitab Risalah Raddul Muhkim Ala Munkiril Asqam karya Al Allamah Syaikh Ahmad bin Al Amin Asy-Syingqithi. Bagi yang ingin keterangan lebih lanjut silahkan merujuk pada kitab tersebut, sebab itu adalah risalah terbaik yang tidak mungkin dapat disanggah.
