
Elsubha.com – Kucuran Ilahiyyah dari Sayyidil Wujud Saw
Sementara terkait pengingkaran mereka terhadap Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pada perkataan beliau Ra, “Sungguh ragam kucuran rahmat ilahiyyah yang mengucur dari sayyidil wujud…”
Terkait dengan pemahaman orang yang ingkar bahwa sahabat Nnabi Muhammad Saw masuk ke dalam umumnya perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Untuk hal ini, Sayyidi Umar Al Futi menyatakan dalam Ar-Rimah, bahwa perkataan yang demikian itu termasuk perkataan umum, namun yang diinginkan dari perkataan tersebut adalah kelompok yang khusus.” Dengan demikian, spontan sahabat Nabi tidak masuk ke dalam perkataan beliau Ra, meski para sahabat nabi tentunya lebih utama dari sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Sebenarnya kita pun bisa katakan: Tidak masalah juga jika toh sahabat Nabi Muhammad masuk dalam keumuman perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan membiarkannya nampak zhahir seperti itu, sebab sebuah keistimewaan tidaklah harus datang dari yang paling utama. Sebab bagaimanapun mereka (para sahabat Nabi Saw), mereka telah unggul dengan ber-shuhbah dengan Nabi Muhammad Saw, yang jika ini dikiaskan, maka tidak akan ada bandingannya. Sementara nilai ber-shuhbah ini tidaklah didapatkan bagi generasi setelah generasi sahabat Nabi; baik dari kalangan para wali Allah, para wali Quthb, bahkan meskipun itu adalah pemegang pangkat wali yang maktum lagi memiliki maqam Al Khatmul Muhammadiyyil Ma’lum. Perkara ini disebutkan oleh Sayyidi Muhammad An-Nazhifi dalam Ad-Durratul Kharidah.
Setelah memberikan jawaban tersebut, beliau menyenandungkan sya’ir yang maknanya adalah, bahwa jawaban ini adalah apa yang dipahami dari perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sebagai bentuk pernyataan yang gamblang nan jelas, dimana beliau Ra menyatakan pada fase pesiapan diri menuju maqam khatmiyah tersebut, “sejak dari penciptaan alam ini hingga terompet Kiamat dibunyikan.” Sementara ketika beliau ingin menjelaskan maqam khatmiyah yang telah beliau terima, beliau Ra menyatakan, “Sungguh semua wali Allah sejak dari zaman sahabat (Sahabat Sayyidi Syaikh Ra) hingga ditiupnya terompet Kiamat tidak ada yang sampai pada maqam kami.” Dari pernyataan ini jelas nampak bahwa sahabat Nabi tidak termasuk di sana.
Lain halnya jika yang dipahami adalah bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menyatakan demikian untuk memuji diri beliau; maka perkara ini jelas tertolak dengan dua hal ini:
Pertama, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menyatakan itu untuk memperkenalkan maqam yang beliau dapatkan. Perkara semisal ini juga banyak disampaikan dalam As-Sunnah, seperti sabda Nabi Muhammad Saw,
أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ
“Aku adalah nabi dan tidak berdusta,”
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ
“Aku adalah penghulunya anak keturunan Nabi Adam As dan aku tidak bangga dengan itu.”
أَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُ عَنْهُ الْأَرْضُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Aku adalah sosok yang pertama dibangkitkan dari Bumi pada hari Kiamat.”
إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا
“Sungguh yang paling bertakwa dan paling mengenal Allah diantara kalian adalah saya.”
Didalam Al-Qur’an, terkait Nabi Yusuf As, diabadikan bahwa beliau pernah mengatakan,
قَا لَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَآئِنِ الْاَ رْضِ ۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ
qoolaj’alnii ‘alaa khozaaa-inil-ardh, innii hafiizhun ‘aliim
“Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 55)
Utsman bin Affan Ra juga pernah mengatakan, sebagaimana tertera dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim,
أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَفَرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةَ فَحَفَرْتُهَا
“Bukankah kalian tahu bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, ‘Barangsiapa yang menggali mata air, maka baginya surga, aku telah menggalinya.” Perkataan yang semisal ini sangatlah banyak.
Az-Zamakhsyari mengatakan, ketika berbicara seputar kisah Nabi Yusuf As, dalam firman-Nya,
قَا لَ لَا يَأْتِيْكُمَا طَعَا مٌ تُرْزَقٰنِهٖۤ اِلَّا نَـبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيْلِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّأْتِيَكُمَا ۗ ذٰ لِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِيْ رَبِّيْ ۗ اِنِّيْ تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَهُمْ بِا لْاٰ خِرَةِ هُمْ كٰفِرُوْنَ
qoola laa ya-tiikumaa tho’aamung turzaqoonihiii illaa nabba-tukumaa bita-wiilihii qobla ay ya-tiyakumaa, zaalikumaa mimmaa ‘allamanii robbii, innii taroktu millata qoumil laa yu-minuuna billaahi wa hum bil-aakhiroti hum kaafiruun
“Dia (Yusuf) berkata, “Makanan apa pun yang akan diberikan kepadamu berdua, aku telah dapat menerangkan takwilnya, sebelum (makanan) itu sampai kepadamu. Itu sebagian dari yang diajarkan Tuhan kepadaku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka tidak percaya kepada hari Akhirat,”
(QS. Yusuf 12: Ayat 37)
“Maksudnya adalah bahwa seorang yang berilmu ketika ia belum tahu kedudukan dirinya dari keilmuan tersebut, maka ia mengatakan demikian, dimana hal ini tidak digolongkan bahwa ia memuji dirinya sendiri.”
Kedua, Perkara ini bagian dari tahadduts bin-ni’mah (ungkapan syukur nikmat yang datang dari Allah Swt), sesuai dengan firman Allah Swt,
وَاَ مَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
wa ammaa bini’mati robbika fa haddis
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 11)
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadits dari Al Hasan bin ‘Ali Ra, tentang firman Allah Swt “وَاَ مَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ” ;”Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 11); beliau berkata, “Jika engkau dapat kebaikan, beberkanlah itu kepada saudaramu.”
Dalam Zawa `id Musnad, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal; Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ
“Membeberkan nikmat (yang diterima dari Allah) adalah (bentuk) syukur, dan tidak membeberkannya adalah (bentuk) kekufuran diri.” (Disadur dari kitab Ar-Rimah).
