You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Kajian Tentang Perkataan Sayyidi Syekh Ahmad Tijani radhiyallahu ‘anhu, “Seluruh Umur Manusia Terbuang Sia-Sia Kecuali Pengamal Shalawat Fatih.”

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Seluruh Umur Manusia Terbuang Sia-Sia Kecuali Pengamal Sholawat Fatih.”

Terkait keingkaran meraka terhadap perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Seluruh umur manusia terbuang sia-sia kecuali pengamal sholawat Fatih.”

Sebenarnya pemahaman salah mereka berawal dari pandangan pertama mereka yang menyatakan, bahwa pengamal sholawat ini lebih utama daripada sahabat Nabi Muhammad Saw, dengan dalih mereka, bahwa pengecualian itu adalah batas ukuran umumnya sesuatu itu.

Perkara ini bisa dijawab sebagai berikut:

Pertama, penyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah perkataan umum namun yang diinginkan beliau adalah perkara khusus, dimana dalam perkataan tersebut ada perkataan yang bertalian yang mengkhususkan maksud penyataan itu, seperti sabda Nabi Saw,

لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Jikapun salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar bukit Uhud, ia tidak dapat menandingi per satu mud mereka dan tidak juga separuh (diri) mereka (para sahabat Nabil.” Letak pernyataan tersebut adalah pada” pengecualian,” ia menjadi sandaran umumnya perkataan itu selagi tidak ada kata lain yang mengikatnya dengan pengkhususan, seperti pada firman Allah Swt,

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكُ إِلَّا وَجْهَهُ

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (Qs. Al Qashash [28]: 88).

Nah yang dikecualikan dari perkara yang binasa ini adalah surga berikut penghuninya dan juga ruh, berikut yang dikecualikan dalam ayat tersebut. Ketika inilah tidak ada yang menduga sepadannya seseorang dengan sahabat Nabi Muhammad Saw, tetapi yang dikuatkan di sini adalah bahwa setiap sahabat Nabi Muhammad Saw yang turut menyebarkan ajaran agama Islam ini, maka semua pahala orang setelah mereka pun tertulis di catatan amal mereka (sebab para sahabat Nabi inilah yang menjadi perantara ajaran Islam tersebar). Maka demikian pun dengan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, bahwa perkataan itu berguna bagi orang khusus yang memperbanyak bacaan sholawat untuk Rasulullah Saw dengan shighat ini (sholawat Fatihi lima ughliqa) sebagai bentuk rahmat bagi mereka lantaran didalamnya ada keutamaan yang agung.

Kedua, Sungguh tujuan dari sabda Nabi Saw kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Sahabatmu adalah sahabatku,” adalah bahwa para sahabatrıya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra madad mereka hanya dari Nabi Muhammad Saw, seolah-olah mereka ini seperti sahabat Nabi Saw sebenamya, dimana perkataan Nabi Muhammad Saw kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bagian daripada perumpamaan, dimana orang yang diperumpama-kan tidak harus sama dengan perumpamaannya dari setiap sisi, bahkan sering kali orang yang diperumpamakan justru lebih kurang dari perumpamaan tersebut, seperti perkataan, “Si Zaid itu ibarat bulan purnama,” terkadang juga ada yang lebih luhur dari perumpamaan tersebut, seperti pada firman Allah Swt, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَا حٌ ۗ الْمِصْبَا حُ فِيْ زُجَا جَةٍ ۗ اَلزُّجَا جَةُ كَاَ نَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍ ۙ يَّـكَا دُ زَيْتُهَا يُضِيْٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَا رٌ ۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍ ۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ لِلنَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ 
allohu nuurus-samaawaati wal-ardh, masalu nuurihii kamisykaating fiihaa mishbaah, al-mishbaahu fii zujaajah, az-zujaajatu ka-annahaa kaukabung durriyyuy yuuqodu ming syajarotim mubaarokating zaituunatil laa syarqiyyatiw wa laa ghorbiyyatiy yakaadu zaituhaa yudhiii-u walau lam tamsas-hu naar, nuurun ‘alaa nuur, yahdillaahu linuurihii may yasyaaa, wa yadhribullohul-amsaala lin-naas, wallohu bikulli syai-in ‘aliim

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 35)

Ketiga, Bukan berarti sholawat Fatih yang setara dengan 6000 khataman Al Qur’an ini lebih utama dari Al Qur’an itu sendiri, akan tetapi maksudnya adalah bahwa satu kali bacaan sholawat Fatih bagi seorang salik yang mampu menghadirkan ragam makna yang tergambarkan dengan gambaran Nabi Muhammad Saw, dimana ia pun sembari meminta madad kepada beliau Saw, bukan yang pikirannya gentayangan kemana-mana nan memberikan efek buruk bagi akhlaknya. Kondisi ini tidak didapatkan orang yang pikirannya gentayanga kemana-mana sehingga ia pun tidak bisa mentadabburi makna yang ia baca. Meski demikian hal ini pun tidak mempengaruhi lebih utamanya Al Qur’an dari bacaan sholawat; atau maksudnya adalah bahwa satu kali bacaan sholawat Fatih pasti diterima di sisi Allah, ia setara dengan 6000 khataman Al Qur`an; baik dibaca oleh orang yang mengerti maknanya atau tidak mengerti maknanya lagi berani bermaksiat pada Allah Swt. Sebab pada pembacaan Al Qur’an jika kurang beradab, hal itu justru malah akan mendatangkan murka Allah dan tertolak dari rahmat Allah Swt.

Sementara terkait dengan sholawat Fatih ini, menurut Al Harusyi dalam Syarh Kunuz Al Asrar, beliau menyatakan bahwa satu kali bacaan sholawat Fatih setara dengan 600.000 bacaan sholawat lainnya.

Disebutkan dalam sebuah khabar, bahwa Allah Swt senantiasa menerima sholawat yang dibaca untuk nabi-Nya bagaimanapun kondisi pembacaannya. Orang yang membaca sholawat satu kali, niscaya Allah akan bersholawat (melimpahkan keberkahan) padanya 10 kali, maka perkirakanlah berapa yang didapatkan seseorang yang membaca sholawat Fatih.

Dari paparan diatas dapat kita simpulkan bahwa keutamaan tersebut letaknya bukan pada sholawat Fatih dan Al Qur’annya akan tetapi pada sosok yang membacanya jika bukan ini yang dimaksud, maka jelas Al Qur’an lebih utama dari perkataan apapun. (Dikutip dari Al Jaysyul Kafil.)

Sumber : BUKU FATHURRABBANI (FATHURRABBANI FIMA YAHTAJU ILAIHI MURID TIJANY) SYAIKH MUHAMMAD ATH-THASFAWI AT-TIJANY