
Elsubha.com – Larangan Sayyidi Syaikh Ra Berziarah Wali Lain
Tuduhan ini lahir dari prasangka mereka bahwa larangan tersebut lantaran Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tidak suka kepada mereka (para wali Allah). Aku akan berikan jawaban agar pengamal thariqah At-Tijaniyyah bisa tenang dan orang yang mengkritik beliau Ra bisa surut dari hal tersebut.
Ziarah secara etimologi berarti bermaksud pergi ke sosok yang diziarahi di tempatnya. Sedangkan secara epistimologi, ziarah dapat diartikan sebagai saling menziarahi satu ikhwan pada yang lainnya; atau juga ziarah kubur. Ziarah dengan makna ini tidak dilarang dalam thariqah kita; thariqah At-Tijaniyyah, bahkan perkara ini sangat diajurkan. Akan tetapi yang dilarang adalah ziarah kepada sosok yang diyakini sebagai wali Allah dan ber ta’alluq kepadanya; maksudnya adalah dia mendatangi wali Allah dengan tujuan mengambil manfaat dan ber-istimdad darinya. Nah, ziarah yang seperti inilah ziarah yang dilarang oleh kebanyakan para sufi, sebab perkara tersebut merupakan hal terbesar yang memutuskan seorang murid dari thariqah.
Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi Ra pernah menyatakan, “Seorang Syaikh tidak mengizinkan muridnya untuk berkumpul dengan selainnya kecuali murid tersebut itu ragu mana diantara dua Syaikh tersebut yang paling baik baginya untuk ia berguru kepadanya. Jika ini sudah terjadi, maka kedua hati syaikh tadi tidak lagi bisa memberikan manfaat padanya karena syarat memperoleh manfaat dari seorang Syaikh adalah kesungguhan sang murid bahwa ia tidak akan keluar dari tarbiyah Syaikh tersebut hingga ia mencapai kesempurnaan jiwa.”
Syaikh Ad-Dardir dalam Syarah Al Kharidah Al Bahiyyah menjelaskan setelah papran beliau tentang adab sufi: “Hendaknya tidak menziarahi orang sholeh selagi la masih dalam tarbiyah (seorang Syaikh) sebelum ia mencapai kesempurnaan jiwa, sebab ditakutkan melihat suatu karomah pada orang sholeh tersebut, yang tidak ia lihat pada Syaikhnya sehingga ia berkeyakinan bahwa ada yang kurang pada Syaikhnya, sehingga madad syaikh tersebut terhalang baginya.”
Syaikh Ash-Shawi dalam Hasyiyah-nya ketika berbicara terkait perkara ini beliau mengatakan: Perkataan, “Agar tidak menziarahi orang sholeh.” Maksudnya adalah baik yang masih hidup atau sudah meninggal dunia kecuali atas izin dari Syaikhnya.”
Syaikh Asy-Sya’rani Ra pernah mengatakan, “Kebanyakan para murid thariqah/suluk jika ia berkumpul dengan syaikh lain tidak terlepas dari tiga perkara: Pertama, akan mencela Syaikh lain dan mengagungkan syaikhnya; kedua, mengagungkan Syaikh lain dan mengkhianati janji syaikhnya; ketiga, tidak menampakkan rasa percaya atau sebaliknya, sehingga tidak ada manfaat baginya berkumpul dengan Syaikh tersebut.”
Asy-Syuraisyi menuliskan dalam sya’ir Ra` nya:
وَلَا تَقَدَّمَنْ قَبْلَ اعْتِقَادُكَ أَنَّهُ # مُرَبِّ وَلَا أَوْلَى بِهَا مِنهُ فِي الْعَصْرِ
فَإِنَّ رَقِيْبَ الإِلْتِفَاتِ لِغَيْرِهِ # يَقُوْلُ لِمَحْبُوبِ السِّرِّيَةِ لَا تَسُرْ
“Janganlah engkau menonjolkan diri (kepada orang lain) sebelum engkau meyakini beliau adalah murabbi-mu # dan tiada yang paling utama dari murabbimu di zaman ini
Sungguh ada yang memantau keberpalinganmu pada yang lain # ia akan berkata kepada yang dicintainya secara sirr, jangan kau senang dahulu.”
Imam Al Fasi mengatakan ketika beliau memberikan penjelasan maksud ba’it diatas: Redaksi, “Sungguh ada yang memantau keberpalinganmu..,” maksudnya adalah sungguh pantauanmu selain kepada Syaikhmu dan menolehnya dirimu pada yang lain itu dapat memutus ikatan cinta atau madad Syaikhmu kepadamu dimana sebelum engkau berpaling engkau berusaha seoptimal mungkin bersama syaikhmu.
Syaikh Ahmad Zarruq pernah mengatakan, “Janganlah menoleh pada selainnya; jika engkau lihat ada sosok yang lebih alim dari beliau, maka keberkahan dari Syaikh yang pertama dan yang kedua akan terhalang bagimu.”
Syaikh Ahmad Zarruq pun kembali berkata, “Oleh karena itu, para masyayikh melarang sahabat-sahabat mereka untuk berteman dengan yang lain, terlebih menziarahinya. Perkara inilah yang sering diingkari orang-orang bodoh nan berpenampilan Ahlullah.”
Syaikh Sayyidi Muhammad Al Katani mengatakan dalam Jannatul Murid, setelah beliau memaparkan ragam tugas para masyayikh. Kemudian seorang syaikh juga tidak membiarkan muridnya menziarahi Syaikh lain, perkara itu tidak baik bagi sang murid. Dimana kemudharatan bagi sang murid telah jelas nyata terjadi, sebab setiap thariqah ada sosok syaikh khusus, dimana tidak boleh mengambil banyak thariqah dan tidak boleh pula mencampuradukkan dengan thariqah lainnya. Sebab bisa jadi seorang murid thariqah mendengar suatu perkara thariqah lain yang berbeda dengan thariqahnya, sehingga membuatnya bingung dan akhirnya suluknya berhenti. Oleh karena itu, seorang syaikh thariqah perlu menutup pintu ini bagi para muridnya dan tidak mengindahkan perkataan orang-orang yang tidak berilmu, serta tidak perlu percaya pada orang yang mengatakan bahwa perkara itu (melarang murid berziarah ke syaikh lain) bagian dari haus akan jabatan. Sebab, maqam seorang syaikh tentu terhindar dari perkara ini (ingin jabatan).
Sayyidi ‘Ali Wafa pernah mengatakan, “Ketika Allah saja tidak mengampuni orang yang berbuat syirik kepadanya; perkara yang nampak juga demikian (ada para masyayikh), bahwa mereka (para masyayikh) tidak memberikan ampunan kepada para muridnya, sebab perilaku mereka yang nampak adalah demikian, seorang syaikh adalah mereka dan mereka (para murid) adalah penampakan beliau Ra, semua perkara mereka (para murid adalah perkaranya Syaikh, maka jika engkau melihat seorang syaikh (lain), dimana pikiranmu terfokus pada beliau dengan simbol cinta, atau mengagungkan syaikh tersebut seperti mengagungkan syaikhmu, maka ketahuilah itu adalah gambarannya Allah yang tidak mengampuni orang yang berbuat syirik pada-Nya, sang Syaikh pun menampakkan dengan penampakan yang demikian, maka, pahamilah, ketahuilah dan lazimkanlah Syaikhmu.”
Syaikh Ali Wafa pun pernah mengatakan, “Seorang ustadz adalah gambaran penampakan rahasia sisi Rububiyah Allah bagi muridnya. Oleh karena itu, seorang murid hendaknya mengikuti perintah ustadznya dan jangan menoleh pada ustadz yang dikanan maupun yang dikiri.”
Dari ragam perkataan para tokoh diatas dapat kita simpulkan bahwa keberpalingan seorang murid dari Syaikhnya dapat memutusnya dari jalan suluk menuju Allah Swt. Lantas bagaimana pendapatmu jika perkara menolehnya sang murid pada Syaikh lain ditambah dengan gerakan tubuh yang nyata untuk mendatangi syaikh tersebut. Dari sini kita baru tahu bahwa jika bukan karena cacian terhadap Syaikh kita; Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra yang melarang para sahabatnya untuk berziarah kepada selain sahabat Nabi dan para Nabi As, bagaimana kita bisa tahu duduk perkara ini, sementara disebutkan oleh Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra bahwa Nabi Saw lah yang memerintahkan itu, Nabi Saw bersabda kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Jika sahabatmu melewati (kuburan) sahabatku, maka mereka bisa menziarahi, sedangkan selain mereka dari kalangan para wali Allah, maka tidak (boleh).”
Allah Swt berfirman,
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَـ لَا يَعْلَمُونَ )) ٢٩
“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua budak itu sama halnya?. Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Qs. Az-Zumar [39]: 29).
Penjelasan panjang perkara ini telah dijabarkan panjang lebar oleh pengarang kitab Bughyatul Mustafid. Sayyidi Muhammad Kanun pun pernah mengarang kitab yang berjudul, “Raf’ul ‘Itab ‘Amman Tarakaz-Ziyarah Minal Ashab.” Silahkan telaah kembali jika penjelasanku ini masih kurang, sebab disana disebutkan banyak pendapat ulama terdahulu terkait perkara yang kita bahas ini.
Dari penjelasan diatas, kita telah ketahui larangan Syaikh Ra bagi pengamal thariqah beliau tentang seseorang mencampuradukkan wiridan lain dengan wiridannya. Sebab baik perkara ini pun sumbernya adalah satu, yaitu tidak bolehnya berpaling dari sosok qudwah, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Hal tersebut terjadi bisa karena salah satu dari dua perkara; Pertama, menziarahi Syaikh lain; kedua, mengambil wiridan thariqah lain. Seorang murid tidak akan melakukan hal tersebut kecuali memang murid tadi tidak puas dengan Syaikhnya.
Disebutkan dalam Al ‘Uhud Al Muhammadiyyah, bahwa ada seorang murid berdiskusi dengan Syaikhnya terkait adanya seseorang yang menziarahi masyayikh terkemuka pada zaman itu, sontak Syaikhnya berkata, “Wahai Muhammad, seorang murid tidak seyogyanya mengambil (wiridan) dari seorang Syaikh kecuali dia tahu bahwa dirinya akan merasa cukup dengan Syaikh tersebut dari semua masyayikh yang ada. Jika aku tidak cukup bagimu, maka engkau akan kuserahkan pada siapa yang kau kehendaki.”
Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi Ra menyatakan dalam Futuhât Al Makkiyyah, “Sungguh seorang murid tidak akan beruntung jika bersama dua syaikh. Hal ini sesuai dengan qiyas bahwa alam tidak akan ada jika ada diantara dua ilah, tidak ada mukallaf jika ada diantara dua utusan Allah, serta tidak ada status istri jika posisinya ada diantara dua lelaki.”
Dari semua paparan diatas, dapat kita ketahui bahwa dugaan ketidaksukaan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra terhadap para wali Allah tentu tidaklah benar.”
Bagaimana bisa mereka menuduh demikian, padahal Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany senantiasa menganjurkan untuk memuliakan dan menghormati mereka (para wali Allah). Diantara perkataan beliau Ra yang menunjukkan hal itu adalah seperti yang tertera dalam sebuah risalah yang membicarakan seputar mensyukuri ragam nikmat Allah Swt. Setelah beliau menyebutkan ragam nikmat yang telah Allah Swt beri, beliau Ra mengatakan, “Dengan semua nikmat ini, kami pun tidak merendahkan kemuliaan para wali Allah dan tidak meremehkan mereka, maka agungkanlah kemuliaan mereka; yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Sungguh orang yang mengagungkan kehormatan mereka, Allah akan agungkan kemuliaannya. Orang yang menghina mereka (para wali Allah), niscaya Allah akan kerdilkan dia dan murka padanya. Maka janganlah kalian meremahkan kemuliaan para wali Allah.”
Perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Sungguh orang yang mengagungkan kehormatan mereka, Allah akan agungkan kemuliaannya..,” hal ini menunjukkan adanya penekanan beliau agar mengagungkan dan menghormati para wali Allah serta memperingatkan kita agar jangan meremehkan dan tidak menjaga hak pangkat mereka.
