
Elsubha.com – Adab Murid dan Sifat Muqaddam Dalam Thariqah At-Tijaniyyah
Perlu diketahui, bahwa berpegang teguh pada adab merupakan perkara yang dapat membuat seorang murid sampai pada apa yang diinginkannya, seorang murid tidak akan sampai para hadhrah Allah Swt jika dia tidak beradab. Oleh karena itu, bab ini dibuat untuk memaparkan kembali ragam adab yang seyogyanya menghiasi diri seorang murid Tijany. Sebab adab merupakan perkara penting nan ditekankan dalam sebuah thariqah. Lantaran itulah, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah menyatakan, “Aku senantiasa menaruh perhatian yang besar terhadap adab dalam thariqah, hal ini sebagai peringatan bahwa adab adalah ruh dan pondasi sebuah thariqah.”
Dengan berpijak pada ucapan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra inilah, maka aku mulai pembahasan ini:
Adab merupakan simbol menghiasi diri dengan ragam perkara yang memiliki keutamaan, mengosongkan diri dari perkara yang hina. Seluruh adab yang ada di dunia ini kembali kepada makna tersebut.
A. Adab Kepada Diri sendiri
Adab seorang murid Tijany kepada dirinya adalah dengan cara berpegang teguh pada ajaran agama yang lurus; yaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya; menjalankan dengan Sunnah Nabi Muhammad Saw seraya mengikui ragam akhlak yang mulia dan menjauhi ragam adab yang buruk. Adab ini akan menggiring seorang kepada keridhaan Allah Swt serta masuk surga bersama para generasi terdahulu.
B. Adab Kepada Syaikh
Meskipun pembahasan ini juga akan menyinggung pembahasan diatas, namun aku akan mencoba memaparkannya secara terperinci, bagaimana cara yang paling mudah untuk mendapatkan keridhaan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, yang dengannya Sayyidi Syaikh Ra mengkhususkan murid Tijany dengan ragam asrar dan kucuran cahaya ilahiyyah. Diantara adabnya adalah:
1) Menghormati sang guru secara zhahir dan bathin.
2) Tidak menentang beliau.
3) Mendahulukan beliau dari yang lainnya.
4) Tidak duduk sementara beliau berdiri.
5) Tidak tidur di tempat beliau kecuali atas izinnya.
6) Tidak banyak bicara meski hanya bermaksud ingin menghangatkan suasana.
7) Tidak duduk ditempat yang telah disiapkan untuk beliau.
8) Tidak berdzikir dengan menggunakan tasbeh beliau.
9) Tidak menolak perintah beliau.
10) Tidak bepergian dan juga tidak menikah serta tidak melakukan ragam perkara penting kecuali atas izin beliau.
11) Tidak meminta bersalaman selagi tangan beliau sibuk memegang sesuatu, seperti sedang memegang pena.
12) Tidak berjalan di hadapan beliau; tidak menyamai langkah kaki beliau kecuali dalam kondisi gelap.
13) Mendahului beliau ketika bermaksud untuk menjaga beliau dari ragam gangguan jalan.
14) Tidak menyebutkan kepada orang yang memusuhi guru, bahwa beliau dalam kondisi baik, hal ini bertujuan agar musuh beliau tidak mencela.
15) Menjaga beliau kala beliau sedang tidak ada seperti halnya menjaga beliau saat ada di tempat.
16) Senantiasa mengamati beliau dengan sepenuh hati dalam berbagai kondisi agar mampu merasakan keberkahan beliau.
17) Tidak berteman dengan orang yang beliau benci.
18) Memandang bahwa setiap keberkahan yang diperoleh lantaran sebab sang guru.
19) Bersabar ketika dijauhi dan ditolak oleh sang guru.
20) Tidak mengatakan kepada sang guru, ‘mengapa
melakukan itu pada si fulan dan tidak melakukan yang serupa pula padaku’.
21) Taat pada setiap perintah yang diucapkan sang guru.
22) Tidak memata-matai ibadah dan kebiasaan sang guru; tidak ber-khalwat kecuali atas izin dari beliau.
23) Tidak datang berziarah kepada beliau kecuali badan dalam kondisi suci.
24) Selalu berbaik sangka kepada beliau dalam setiap kondisi.
25) Tidak membebankan sang guru dengan apapun.
26) Tidak menikahi wanita yang pernah beliau talak atau lantaran beliau meninggal dunia.
Dengan kata lain, hendaknya sang murid melakukan ragam perkara yang membuat Sayyidi ridha dan berupaya menjauhi setiap perkara yang meragukan lagi tidak beliau suka. Adab inilah yang seharusnya ada pada diri seorang murid Tijany kepada Syaikh Thariqah At-Tijaniyyah, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan juga kepada para khalifah beliau, sebab mereka adalah wakil daripada beliau Ra. Adab ini pun wajib dilakukan kepada muqaddamnya khalifah, sebab muqaddam tersebut ada di bawah naungan sang khalifah.
C. Perbedaan Khalifah dan Muqaddam
Perbedaan khalifah dan muqaddam; khalifah adalah sosok yang mampu menyampaikan apa yang telah disampaikan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra kepada sang murid; baik berupa ragam pengetahuan, asrar dan semua dzikiran serta yang berhak memberi izin sang murid untuk ber-khalwat atau tidak. Sedangkan muqaddam, beliau adalah sosok yang menalqinkan wiridan lazimah dan juga menalqinkan sebagian wiridan ghair lazimah. Beliau inilah sosok yang senantiasa membimbing, memerintahkan sang murid dengan ragam perkara yang baik dan mencegah mereka dari ragam perkara mungkar, terlebih khusus jika beliau adalah sosok yang memberikan sang murid wiridan thariqah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu athii’ulloha wa athii’ur-rosuula wa ulil-amri mingkum, fa ing tanaaza’tum fii syai-ing fa rudduuhu ilallohi war-rosuuli ing kungtum tu-minuuna billaahi wal-yaumil-aakhir, zaalika khoiruw wa ahsanu ta-wiilaa
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 59)
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari riwayat Abu Hurairah Ra, bahwa ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ
عَصَانِي
“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah ta’at kepada Allah; barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, berarti ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada (orang yang aku tunjuk jadi) pemimpin, berarti ia telah ta’at kepadaku; barangsiapa yang bermaksiat kepada (orang yang aku tunjuk menjadi) pemimpin, berarti ia telah bermaksiat kepadaku.”
Tidak diragukan lagi bahwa setiap dari masyayikh itu adalah para da’i yang menyeru kepada Allah Swt dan bagian dari pemimpin (yang dipercaya oleh) Rasulullah Saw. Orang yang Syaikh percayakan kepemimpinan umat dengan cara men-taqdim-nya, maka ia juga termasuk (orang yang dipercaya oleh Rasulullah Saw menjadi) pemimpin.
Disebutkan dalam Khalashah Al Mardhiyyah, ketika menjelaskan adab seorang murid, “Hendaknya seorang murid berkhidmah kepada orang yang di-taqdim oleh gurunya, meskipun yang bersangkutan ilmunya kurang.”
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah menyatakan seraya mengajarkan semua pengamal thariqah At-Tijaniyyah, “Hendaknya seorang murid ta’at kepada muqaddam yang memberikannya talqin wiridan; yaitu ketika beliau memerintahkan pada perkara yang baik dan juga ketika beliau melarang perkara yang mungkar atau juga ketika beliau berupaya memperbaiki situasi perseteruan yang sedang terjadi.”
D. Adab Kepada Sesama Ikhwan Thariqah
Adab seorang murid Tijany kepada sesama ikhwan dalam thariqah sangatlah banyak. Diantaranya adalah:
1) Saling bersalaman ketika bertemu dan akan berpisah dari suatu perkumpulan; seperti seusai membaca wazhifah berjama’ah.
2) Mendahului ikhwan lainnya ketika ingin berjabat tangan seraya mengucapkan, “Assalamu’alaikum.”
3) Tidak membelakangi dan juga tidak memutus tali silaturahmi dengan ikhwan lain.
4) Cinta kepada ikhwan yang lebih tua (lebih senior dan juga ikhwan yang muda (lebih junior).
5) Tidak mengkhususkan diri dengan sesuatu tanpa juga mengkhususkan mereka (para ikhwan), kecuali pada perkara yang memang Allah Swt khususkan untuk dirinya saja.
6) Cinta mereka dengan apa yang disukai dirinya
7) Menjenguk mereka ketika mereka sakit atau juga bertanya tentangnya ketika ikhwan tersebut tidak hadir.
8) Melihat ikhwan lain lebih baik daripada dirinya seraya senantiasa meminta keridhaan mereka.
9) Tidak ikut campur pada perkara dunia mereka (para ikhwan thariqah At-Tijaniyyah).
10) Menghormati ikhwan yang lebih tua serta mengasihi ikhwan yang lebih muda.
11) Mengikat jiwa mereka dengan dzikir kepada Allah Swt, saling tolong menolong dengan mereka serta membuat mereka bahagia.
12) Menjaga aib mereka (para ikhwan) serta memaafkan apa yang terjadi para mereka.
13) Cinta pada orang yang mereka (para ikhwan) cintai dan memusuhi orang yang mereka musuhi.
14) Memberikan petunjuk kepada ikhwan lain jika ia lebih tua dan belajar dari mereka ketika yang bersangkutan lebih muda.
15) Tidak menunjukkan kelapangan kondisi diri sementara mereka sedang dalam kesusahan.
16) Berupaya berkhidmah untuk mereka meski hanya dengan merapihkan sandal mereka dan seyogyanya senantiasa murah senyum ketika berbicara dengan mereka.
17) Berupaya untuk sepakat dengan mereka dan tidak malah berbeda dengan mereka.
18) Tidak membebani mereka dengan beban yang mereka tidak mampu pikul serta tidak perlu menanyakan alasan mereka (tidak melakukan suatu perkara).
19) Tidak membebani mereka (para ikhwan) kecuali memang itu merupakan perkara yang mereka gandrungi. Jika demikian, maka boleh membebani mereka dengan beban yang mereka mampu pikul guna mendapatkan keridhaan mereka. Yang demikian ini tidak termasuk ke dalam perkara pembebanan yang dibenci oleh pengamal thariqah.
20) Mengutamakan ikhwan yang sudah terkenal memiliki keutamaan, melapangkan majelis baginya dan juga memberikan porsi tempat baginya di dalam majelis.
21) Tidak berupaya mempermudah melaksanakan hak mereka dengan dalih adanya rasa saling cinta diantara sesama ikhwan thariqah At-Tijaniyyah.
Dengan kata lain, seorang ikhwan thariqah At-Tijaniyyah harus memperhatikan ragam hak para ikhwan thariqah At-Tijaniyyah dan tidak menyia-nyiakannya. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Barangsiapa yang diuji dengan menyia-nyiakan hak ikhwan, niscaya Allahpun akan uji dia dengan menyia-nyiakan ragam hak ilahiyyah.”- Semoga Allah Swt melindungi kita dari kondisi ini. Sebab tingkatan pertemanan dan persaudaraan memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama Islam, keutamaan tersebut tergambarkan dalam pujian Allah Swt dalam sebuah firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَا ذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّا رِ فَاَ نْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
wa’tashimuu bihablillaahi jamii’aw wa laa tafarroquu wazkuruu ni’matallohi ‘alaikum iz kungtum a’daaa-ang fa allafa baina quluubikum fa ashbahtum bini’matihiii ikhwaanaa, wa kungtum ‘alaa syafaa hufrotim minan-naari fa angqozakum min-haa, kazaalika yubayyinullohu lakum aayaatihii la’allakum tahtaduun
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 103)
Juga dalam sabda Rasulullah Saw,
إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ تَقَطَّعَتْ الْأَرْحَامُ، وَقَلَّتِ الأَسْبَابُ وَذَهَبَتِ الْأُخُوَّةُ فِي اللَّهِ تَعَالَى، وَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى : الْأَخِلَّاء یَومَىٕذٍ
“Ketika hari Kiamat tiba, silaturahmi terputus, sebab keselamatan sedikit dan persaudaraan karena Allah pun sima; inilah makna firman Allah Swt, ‘Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain (Qs. Az-Zukhruf [43]: 67).” (Tafsir Ad-Dur Al Mantsur)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلْاَ خِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ
al-akhillaaa-u yauma-izim ba’dhuhum liba’dhin ‘aduwwun illal-muttaqiin
“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 67)
‘Umar bin Khaththab pernah mengatakan seraya menyerukan, “Hendaknya kalian memiliki saudara yang jujur, dimana kita bisa hidup di pundaknya. Sebab mereka itu adalah hiasan kala lapang dan cadangan kala mushibah datang.”
Syaikh Az-Zarruq pernah mengatakan, “Ulama menyatakan, kekerabatan itu ada dua: Kekerabatan dalam agama, dimana inilah yang lebih mulia dari pada kekerabatan dalam garis keturunan.”
Suatu ketika ditanya kepada beliau, “Manakah yang lebih engkau cintai, saudaramu atau temanmu?” beliau menjawab, “Aku cinta saudaraku jika ia adalah teman karibku.”
Ragam hadits dan atsar yang membahas mulianya persahabatan karena Allah dan tingginya kedudukan tersebut ini sangatlah banyak. Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik dengan kemuliaan Nabi Muhammad Saw.-
E. Sifat Muqaddam Tijany
Sifat muqaddam yang diperbolehkan menalqinkan wiridan thariqah adalah dirinya mendapatkan izin secara jelas untuk menalqinkan wiridan thariqah At-Tijaniyyah dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra walaupun dengan mata rantai perantara tokoh Tijany dan muqaddam yang banyak; yang bersangkutan haruslah seorang yang sudah ahli mengenai seluk beluk thariqah; minimalnya dia adalah orang yang alim dalam bidang bersuci. Yaitu tentang perkara menghilangkan najis, berwudhu, ragam mandi dan tayammum. Dia pun alim tentang ragam rukun dan persyaratan dalam thariqah At-Tijaniyyah yang insya Allah akan kami bahas pada bab V nanti. Diapun alim tentang apa yang diinginkan dengan masuk ke dalam suatu thariqah, apa tujuannya, serta harapannya setelah mengamalkan thariqah ingin menjadi apa.
Nilai manfaat ber-shuhbah dengan mereka terfokus pada dua perkara:
a. Hendaknya tahu bahwa wali yang disahabati dan engkau hendak masuk ke dalam thariqahnya adalah walinya Allah, sehingga engkaupun bersahabat dengan beliau dan masuk ke dalam thariqahnya beliau sehingga engkau tertarik masuk ke dalam perlindungan Allah Swt.
b. Hendak engkau tahu bahwa beliau termasuk hambanya Allah Swt, beliau tahu jalan ma’rifat menuju Allah; baik berupa mukasyafah dan munazalah dengan ragam adabnya, sehingga engkau bersahabat dengan beliau agar beliau bisa menunjukimu ragam perkara tadi.
Orang yang masuk ke dalam suatu thariqah tanpa dua syarat ini, ia telah rugi dunia dan akhirat. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah menyatakan, “Perkara paling minimal yang dijadikan pusat perhatian pada ikhwan yang akan di-taqdim adalah sisi keilmuan dan ma’rifat akan seluk beluk thariqah. Jika yang bersangkutan kurang dari pengetahuan ini, maka dia belum pantas di-taqdim. Sebab dia belum tahu seluk beluk perkara thariqah.”
Dalam menalqin wiridan Tijany, seorang muqaddam harus bisa memastikan bahwa ia memberikan wiridan thariqah At-Tijaniyyah kepada orang yang hendak mengamalkan dengan sebaik-baiknya, setelah sebelumnya memaparkan ragam persyaratan dalam thariqah. la pun harus bisa memastikan bahwa sang murid menerima wiridan thariqah At-Tijaniyyah dengan jiwa yang tenang. Ketika kondisinya demikian, maka barulah sang muqaddam menalqinkan wiridan thariqah seraya menghadirkan himmah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Hendaknya sang muqaddam tidak menelan secara mentah-mentah redaksi yang tertera dalam kitab Jawahirul Ma’âni yang menyatakan bahwa wiridah thariqah At-Tijaniyyah diberikan kepada siapapun kaum muslimin yang memintanya bahkan dalam kondisi apapun. Perkara diatas haruslah dikedepankan ketika hendak menalqin thariqah At-Tijaniyyah, hal ini pun bukan tanpa adanya alasan, sang muqaddam memandang bahwa orang yang meninggalkan wiridan thariqah At-Tijaniyyah yang telah diambilnya atau dia meremehkan wiridan tersebut, niscaya adzab dan kehancuran akan datang kepadanya.
Muqaddam tersebut seyogyanya tidak men-tajdid kembali ikhwan yang ingin lepas dari thariqah ini, bahkan hendaknya ia melarang sejadi-jadinya agar ikhwan tidak keluar dari thariqah ini dengan senantiasa mengulang-ulang kembali perkara yang berkaitan dengan thariqah, sehingga yang bersangkutan pun jiwanya tenang dan berjanji tidak akan mengulangi kembali keinginan untuk lepas dari thariqah ini, ketika demikian barulah sang muqaddam men-tajdid thariqah ikhwan tersebut. Perkara seperti ini merupakan ragam perkara yang telah diketahui dengan baik oleh para sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Sebagai tambahan sifat muqaddam diatas, maka seorang muqaddam haruslah beragama bagus, berakal sehat, penyabar, mampu memegang amanah dengan baik, memiliki kegigihan yang luhur, memiliki kepercayaan yang mantap kepada Allah Swt, memiliki akhlak yang baik, mampu bergaul dengan baik sesuai kemampuan diri, dia tidak riya dalam perbuatannya, senantiasa menundukkan pandangan dari ragam aib ikhwan. Ketika sang muqaddam melihat ada ikhwan yang melanggar syari’at atau hakekat, dia pun tidak bersuara keras menegunya diantara ikhwan lain, tetapi menegur dengan memberikan perumpamaan, seperti contohnya sang muqaddam berkata, “Aku melihat ada orang yang melakukan ini dan itu, sebenarnya yang dia harus lakukan adalah ini dan itu.” Jika ikhwan tersebut memahaminya, maka iapun akan berhenti dari perbuatan tersebut, namun jika masih saja belum mengerti sang muqaddam akan memanggil dan menergurnya secara individu.
Ada ulama yang menyatakan, “Orang yang memberitahu aib dirimu dengan teguran personal, maka dia adalah penasehat. Sedangkan orang yang memberitahu aibmu dihadapan banyak orang, maka dia adalah pengumbar kesalahan orang.”
Perlu diketahui pula bahwa seorang muqaddam adalah suri tauladan yang baik bagi semua ikhwan di negara tersebut. Oleh karena itu, seyogyanya sang muqaddam senantiasa memperbaiki diri; zhahir dan bathin-nya, dimana dengan perangainya yang baik, maka baiklah masyarakat dan bukan malah sebaliknya. Jika sang muqaddam tidak melakukan perbaikan diri, maka dialah yang harus bertanggung jawab atas kekurangan yang terjadi pada masyarakat.
Timbangan perkara ini adalah tingginya kegigihan diri sang muqaddam untuk tidak memandang apa yang dimiliki oleh ikhwan thariqah At-Tijaniyyah dan tidak membebankan mereka bagaimanapun caranya. Perkara yang terakhir ini adalah timbangan bagi persyaratan muqaddam yang lainnya terkait dengan keahlian diri dalam thariqah At-Tijaniyyah, dengannya dia dapat menilai kondisi dirinya. Ketika ditemukan adanya ketamakan dalam diri dengan apa yang diberi oleh ikhwan yang dia talqin, dengan itulah dia mengetahui bahwa dirinya bukanlah ahli dalam thariqah At-Tijaniyyah ini, bahkan bukan pula orang yang digolongkan menjadi muqaddam. Jika kondisinya demikian, maka lebih baik baginya memperbaiki diri dan tidak menerima ijazah taqdim dari siapapun. Bahkan hendaknya dia tidak sengaja meminta untuk di-taqdim atau berupaya memperoleh taqdim dari yang lainnya lagi. Jika ia melakukannya, maka ia telah merugi. Kami memohon perlindungan kepada Allah dari kerugian tersebut.-
F. Wasiat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra Untuk Muqaddam
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pemah menuliskan wasiat terkait dengan ragam rukun muqaddam, sebagai berikut: “Aku wasiatkan bagi muqaddam yang memberikan wiridan, agar ia memaafkan kesalahan ikhwan, agar ia membentangkan maafnya bagi setiap kesalahan, agar ia menghindari kedengkian dalam diri dan senantiasa berusaha memperbaiki orang-orang disekitarnya, dan juga wajib memperbaiki kedengkian sebagian ikhwan pada sebagian yang lainnya, apabila menyala api permusuhan di antara mereka hendaknya ia memadamkannya. Hendaknya ia mengusahakan itu hanya mengharap ridha Allah semata dan bukan karena urusan lainnya. Hendaknya ia (seorang muqaddam) itu melarang orang yang ia lihat melakukan adu domba, hendaknya ia melarang orang tersebut dengan penuh kasih sayang dan kata-kata yang lunak. Hendaknya ia (seorang muqaddam) itu ber-mu’amalah kepada mereka dengan penuh kasih sayang, mempermudah urusan mereka, tidak menolaknya dan juga tidak mempersulit mereka dalam setiap perkara yang diperintahkan dan juga dilarang bagi mereka terkait beragam hak Allah dan juga hak ikhwan, dengan memperhatikan sabda Rasulullah Saw,
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
‘Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan malah menakut-nakuti’. (Al Hadits).
Hendaknya ia (muqaddam) menghindarkan diri dari membebani urusan dunia mereka (para ikhwan), jangan ia tertarik pada harta milik mereka dengan meyakini bahwa Allahlah Yang Maha memberi, Yang Maha Menghalangi, Al Hafidh, Ar-Rafi’. Hendaklah yang menjadi fokus dirinya terhadap para ikhwan dalam hal harta mereka pada sikap boros mereka. Jangan meminta pada mereka agar mereka memberikan sesuatu, baik itu sedikit maupun banyak, kecuali jika diri mereka memang tulus ikhlas memberikannya tanpa perlu meminta pada mereka, sebab semua pemikiran manusia dominannya terfokus pada perkara ini (perkara harta).
Wasiat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ini kiranya sudah cukup untuk mendefinisikan keahlian dalam thariqah At-Tijaniyyah yang disyaratkan, sebagaimana inipun mengandung mayoritas perkara yang dipinta dari seorang muqaddam. -Semoga Allah senantiasa memberikan kita hidayah pada jalan yang lurus.-
