
Elsubha.com – Adab Kepada Sesama Ikhwan Thariqah
Adab seorang murid Tijany kepada sesama ikhwan dalam thariqah sangatlah banyak. Diantaranya adalah:
1) Saling bersalaman ketika bertemu dan akan berpisah dari suatu perkumpulan; seperti seusai membaca wazhifah berjama’ah.
2) Mendahului ikhwan lainnya ketika ingin berjabat tangan seraya mengucapkan, “Assalamu’alaikum.”
3) Tidak membelakangi dan juga tidak memutus tali silaturahmi dengan ikhwan lain.
4) Cinta kepada ikhwan yang lebih tua (lebih senior dan juga ikhwan yang muda (lebih junior).
5) Tidak mengkhususkan diri dengan sesuatu tanpa juga mengkhususkan mereka (para ikhwan), kecuali pada perkara yang memang Allah Swt khususkan untuk dirinya saja.
6) Cinta mereka dengan apa yang disukai dirinya
7) Menjenguk mereka ketika mereka sakit atau juga bertanya tentangnya ketika ikhwan tersebut tidak hadir.
8) Melihat ikhwan lain lebih baik daripada dirinya seraya senantiasa meminta keridhaan mereka.
9) Tidak ikut campur pada perkara dunia mereka (para ikhwan thariqah At-Tijaniyyah).
10) Menghormati ikhwan yang lebih tua serta mengasihi ikhwan yang lebih muda.
11) Mengikat jiwa mereka dengan dzikir kepada Allah Swt, saling tolong menolong dengan mereka serta membuat mereka bahagia.
12) Menjaga aib mereka (para ikhwan) serta memaafkan apa yang terjadi pada mereka.
13) Cinta pada orang yang mereka (para ikhwan) cintai dan memusuhi orang yang mereka musuhi.
14) Memberikan petunjuk kepada ikhwan lain jika ia lebih tua dan belajar dari mereka ketika yang bersangkutan lebih muda.
15) Tidak menunjukkan kelapangan kondisi diri sementara mereka sedang dalam kesusahan.
16) Berupaya berkhidmah untuk mereka meski hanya dengan merapihkan sandal mereka dan seyogyanya senantiasa murah senyum ketika berbicara dengan mereka.
17) Berupaya untuk sepakat dengan mereka dan tidak malah berbeda dengan mereka.
18) Tidak membebani mereka dengan beban yang mereka tidak mampu pikul serta tidak perlu menanyakan alasan mereka (tidak melakukan suatu perkara).
19) Tidak membebani mereka (para ikhwan) kecuali memang itu merupakan perkara yang mereka gandrungi. Jika demikian, maka boleh membebani mereka dengan beban yang mereka mampu pikul guna mendapatkan keridhaan mereka. Yang demikian ini tidak termasuk ke dalam perkara pembebanan yang dibenci oleh pengamal thariqah.
20) Mengutamakan ikhwan yang sudah terkenal memiliki keutamaan, melapangkan majelis baginya dan juga memberikan porsi tempat baginya di dalam majelis.
21) Tidak berupaya mempermudah melaksanakan hak mereka dengan dalih adanya rasa saling cinta diantara sesama ikhwan thariqah At-Tijaniyyah.
Dengan kata lain, seorang ikhwan thariqah At-Tijaniyyah harus memperhatikan ragam hak para ikhwan thariqah At-Tijaniyyah dan tidak menyia-nyiakannya. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Barangsiapa yang diuji dengan menyia-nyiakan hak ikhwan, niscaya Allahpun akan uji dia dengan menyia-nyiakan ragam hak ilahiyyah.”- Semoga Allah Swt melindungi kita dari kondisi ini. Sebab tingkatan pertemanan dan persaudaraan memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama Islam, keutamaan tersebut tergambarkan dalam pujian Allah Swt dalam sebuah firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَا ذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّا رِ فَاَ نْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
wa’tashimuu bihablillaahi jamii’aw wa laa tafarroquu wazkuruu ni’matallohi ‘alaikum iz kungtum a’daaa-ang fa allafa baina quluubikum fa ashbahtum bini’matihiii ikhwaanaa, wa kungtum ‘alaa syafaa hufrotim minan-naari fa angqozakum min-haa, kazaalika yubayyinullohu lakum aayaatihii la’allakum tahtaduun
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 103)
Juga dalam sabda Rasulullah Saw,
إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ تَقَطَّعَتْ الْأَرْحَامُ، وَقَلَّتِ الأَسْبَابُ وَذَهَبَتِ الْأُخُوَّةُ فِي اللَّهِ تَعَالَى، وَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى : الْأَخِلَّاء یَومَىٕذٍ
“Ketika hari Kiamat tiba, silaturahmi terputus, sebab keselamatan sedikit dan persaudaraan karena Allah pun sirna; inilah makna firman Allah Swt, ‘Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain (Qs. Az-Zukhruf [43]: 67).” (Tafsir Ad-Dur Al Mantsur)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلْاَ خِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ
al-akhillaaa-u yauma-izim ba’dhuhum liba’dhin ‘aduwwun illal-muttaqiin
“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 67)
‘Umar bin Khaththab pernah mengatakan seraya menyerukan, “Hendaknya kalian memiliki saudara yang jujur, dimana kita bisa hidup di pundaknya. Sebab mereka itu adalah hiasan kala lapang dan cadangan kala mushibah datang.”
Syaikh Az-Zarruq pernah mengatakan, “Ulama menyatakan, kekerabatan itu ada dua: Kekerabatan dalam agama, dimana inilah yang lebih mulia dari pada kekerabatan dalam garis keturunan.”
Suatu ketika ditanya kepada beliau, “Manakah yang lebih engkau cintai, saudaramu atau temanmu?” beliau menjawab, “Aku cinta saudaraku jika ia adalah teman karibku.”
Ragam hadits dan atsar yang membahas mulianya persahabatan karena Allah dan tingginya kedudukan tersebut ini sangatlah banyak. Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik dengan kemuliaan Nabi Muhammad Saw.-
