
Elsubha.com – Syarat Kamaliyyah Berkaitan Dengan Diri Murid Tijany
Syarat kamaliyyah yang berkaitan dengan diri murid Tijany ada 20; yaitu:
1. Memilih muqaddam yang bertakwa dan memiliki izin yang benar serta sanadnya bersambung kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meski dengan perantara silsilah sanad tokoh Tijany atau muqaddam yang banyak.
Kebenaran izin taqdim seorang muqaddam merupakan syarat yang lazim ada bagi muqaddam yang hendak menalqin ikhwan masuk ke dalam thariqah At-Tijaniyyah, sebagaimana keabsahan inipun menjadi syarat bagi ikhwan thariqah At-Tijaniyyah. Jika seorang ikhwan mengambil talqin wiridan thariqah At-Tijaniyyah dari orang yang izin taqdimnya tidak benar, maka inipun tidak akan bermanfaat baginya, bahkan itu dapat menggiringnya ke ranah bahaya.
Ciri muqaddam yang bertakwa itu ada empat:
1) Mampu menjaga batasan agama;
2) Mau mengerahkan semua kemampuan yang dimiliki;
3) Mampu menepati janji; dan
4) Memiliki sifat qana’ah (merasa cukup diri) dengan apa yang dimiliki.
Empat perkara ini dijadikan syarat bagi sang murid agar dia tidak lagi tertarik kepada yang lainnya setelah mengambil talqin thariqah At-Tijaniyyah, sebab itu mampu menghambat terbukanya pintu asrar baginya. Selain itu, juga ada syarat seorang murid dapat mengambil manfaat dari gurunya adalah meyakini bahwa tidak ada yang paling sempurna selain gurunya di alam semesta ini (tentunya setelah Rasulullah Saw).
Dalam Ibtihaj Al Qulüb disebutkan bahwa Syaikh Abul Mahasin Al Fasi Ra telah melarang sebagian muridnya untuk duduk di majelis saudara bellau; Al ‘Arifbillah Sayyidi Abdurrahman; larangan ini beliau kemukakan setelah melihat tanda-tanda futuh pada adiknya tersebut. Syaikh Abul Mahasin Al Fasi Ra berkata kepada muridnya, “Wahai fulan, kembalikan ruhmu pada satu sisi sebab ditakutkan ruhmu tercerai-berai.”
Beliau katakan ini untuk menyatukan pandangan ruh sang murid kepadanya, ini pun berlaku bagi saudara beliau sendiri yang telah ma’rifat pada Allah, meski sama-sama dalam satu thariqah dan silsilah sanad yang sama, dimana yang diinginkan adalah agar ruh tidak menoleh kepada yang lainnya.
Setelah menukil masalah ini dari kitab Bughyatul Mustafid, dalam Ad-Durratul Khariîdah disebutkan, “Abul Mawahib As-Sa`ihi memberikan penguatan dalam masalah ini, beliau mengatakan, ‘Hal tersebut menunjukkan bahwa masalah ini terkenal dalam thariqah At-Tijaniyyah ini. Oleh karena itu, sebagian muqaddam mengatakan kepada ikhwan yang berziarah kepadanya, ‘Pulanglah ke muqaddam yang menalqinmu dan mintalah padanya apapun yang engkau inginkan, kami tidak punya apa yang engkau pinta’.”
Dengan demikian, maka seorang ikhwan thariqah At-Tijaniyyah seyogyanya mengetahui sanad muqaddam yang menalqinnya hingga sampai ke Rasululah Saw. Para ulama menyebutkan, bahwa memperhatikan sanad adalah bagian dari kekhususan umat ini, sebab sanad adalah nasabnya seorang manusia dalam agama. Maka sungguh bodoh orang yang bodoh akan nasabnya, sebab sanad adalah pokoknya perkara agama ini, sementara yang lain hanyalah cabang dari ini. Dengan demikian, ikhwan yang tidak memiliki sanad dalam thariqah ini, maka dia hanyalah orang yang mengaku-ngaku.”
2. Menjaga shalat fardhu lima waktu pada waktunya secara berjama’ah jika memungkinkan dan juga menjaga ragam perintah syari’at. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dalam surat pertama beliau yang terdapat dalam Jawahirul Ma’ani disebutkan, “Dan syarat wiridan Tijany adalah menjaga shalat fardhu lima waktu secara berjama’ah dan juga menjaga ragam perkara syari’at.”
Ath-Thabrani meriwayatkan secara marfu’, “Rabb kalian Swt berfirman, ‘barangsiapa yang mendirikan shalat pada waktunya, menjaga kekonsistenannya serta tidak menyia-nyiakannya dengan menganggap remeh, maka baginya janji-Ku, akan Aku masukkan ia ke dalam surga.”
Rasulullah Saw bersabda,
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah melakukan shalat pada waktunya.” Maksudnya adalah pada awal waktunya.
Rasulullah Saw bersabda,
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذْ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjama’ah itu (keutamaannya) melebihi shalat secara sendirian dengan 27 derajat.”
Rasulullah Saw juga bersabda,
مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ
“Barangsiapa yang berwudhu untuk shalat dan menyempumakan wudhu’nya, kemudian berjalan untuk melakukan shalat; ia shalat bersama orang-orang atau bersama jama’ah, atau di masjid, Allah Swt niscaya mengampuni dosa-dosanya.”
Yang perlu menjadi catatan penting dalam perkara ini adalah hendaknya imam shalat dari kalangan Ahlussunnah, yang tidak mengerjakan ragam perkara bid’ah dan tidak juga fasik. Serta tidak membenci Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Sebab jika yang bersangkutan membenci Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, berarti dia membenci karomah wali Allah, sehingga dapat dikatakan bahwa dia bukanlah bagian dari Ahlussunnah. Karena Ahlussunnah sejatinya orang-orang yang pertama kali membenarkan adanya karamah wali Allah.
3. Membaca basmalah dengan jahar dalam setiap shalat fardhu yang jahar.
4. Tuma ninah saat ruku’ dan sujud dengan kadar mampu mengucapakan, “Subhana Rabbiyal ‘Azhîmi,” (3 kali) dengan bacaan tartil. Terkait dua syarat ini telah kami bahas pada bab ke-2, bahkan 3 syarat terakhir merupakan perkara yang senantiasa ditekankan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
5. Melakukan shalat tahajud meski hanya dua raka’at dengan bacaan surah pendek. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sangat semangat melakukannya hingga hampir shalat ini menjadi rukun thariqah At-Tijaniyyah ini namun tidak jadi. Terkadang Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengecam ikhwan yang mengatakan kepada beliau, “Wahai Sayyidi Aku tidak mampu bangun sebelum fajar,” Beliau menjawab, “Engkau ini lelaki yang tidak pantas dalam thariqah kami, maka tinggalkanlah tasbeh kami.”
Banyak hadits Nabi Saw yang menganjurkan
untuk melakukan shalat qiyamul-lail, diantaranya adalah:
Rasulullah Saw bersabda,
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ
“Paling utamanya shalat setelah shalat fardhu adalah sholat di penghujung malam.”
Rasulullah Saw bersabda,
رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا ابْنُ آدَمَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيْرِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا، وَلَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَفَرَضْتُهُمَا عَلَيْهِمْ
“Dua raka’at yang dilakukan anak cucu Adam pada penghujung malam hari itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Jika bukan karena takut menyusahkan ummatku, niscaya aku wajibkan itu bagi mereka.”
6. Melazimkan shalat rawatib. Para ularna pernah menyatakan bahwa hikmah dari adanya shalat sunah sebelum melakukan shalat fardhu adalah untuk menghilangkan bekas kelalaian dari bathin kita yang tumbuh dari bergaul dengan orang lain dan problematika kehidupan lain bersama mereka, tak lain tujuannya untuk mempersiapkan diri melakukan shalat fardhu secara sempurna. Sedangkan hikmah shalat sunah setelah melakukan shalat fardhu (rawatib) adalah bahwa shalat sunah tersebut menambal kekurangan yang terjadi kala shalat fardhu. Sebab disebutkan dalam sebuah khabar, “Diantara kalian ada yang senantiasa melakukan shalat secara sempurna, ada juga yang melakukannya dengan separuh, sepertiga, seperempat dan seperlima bahkan sampai hanya sepuluh persen kesempurnaan.”
Posisi bahasan itu adalah bagi orang yang tidak punya tanggungan shalat fardhu, jika tidak, maka dia harus menggadha shalat fardhu yang terluputkan dan ini lebih baik baginya daripada melakukan shalat sunah.
Al Khawwas pernah menyatakan, “Telah sampai berita pada kami bahwa Allah tidak menerima shalat sunah seseorang hingga ia melakukan shalat fardhu. Allah berfirman, “Perumpamaan kalian itu seperti seorang hamba yang buruk; ia memberi hadiah sebelum ia melunasi hutangnya.”
7. Senantiasa jujur dalam perkataan. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menganjurkan untuk jujur dalam perkataan dan perbuatan, beliau mewanti-wanti agar jangan berbohong. Kejujuran akan mewariskan keberagamaan yang baik, akal dan perangai baik, kemuliaan dan kesempurnaan diri, perkara ini sebagaimana firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ ۙ لَا يَهْدِيْهِمُ اللّٰهُ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
innallaziina laa yu-minuuna bi-aayaatillaahi laa yahdiihimullohu wa lahum ‘azaabun aliim
“Sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al-Qur’an), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan mereka akan mendapat azab yang pedih.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 104)
Rasulullah Saw bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّهُ مِنَ الْبِرِّ، وَالْبِرُّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ مِنَ الْفُجُورِ، وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
“Hendaknya kalian jujur, sebab ia bagian dari kebaikan dan kebaikan akan menunjukkan ke surga, berhati-hatilah kalian dari dusta, sebab ia bagian dari kedurjanaan dan kedurjanaan itu mengarah kepada neraka.”
Rasulullah Saw juga bersabda,
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
“Tinggalkan apa yang engkau ragu menuju perkara yang engkau tidak ragu. Sungguh dusta itu (mewariskan) keraguan dan kejujuran (mewariskan) ketenangan jiwa.”
Dalam sebuah sya’ir disebutkan
عَلَيْكَ بِالصِّدْقِ وَلَوْ أَنَّهُ # أَحْرَقَكَ الصِّدْقُ بِنَارِ الْوَعِيدِ
“Hendaknya engkau jujur, sekalipun #kejujuran itu membakarmu dengan api ancaman.”
Dalam thariqah sufi, kejujuran merupakan pondasi pertama bagi seorang murid. Al Imam Al Qusyairi Ra pernah menyatakan dalam Risalah beliau bab kejujuran, “Kejujuran adalah pilarnya perkara, dengannya perkara tersebut bisa sempurna, dengannya juga perkara tersebut teratur. la pun merupakan derajat kedua setelah kenabian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ فَاُ ولٰٓئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَا لصِّدِّيْقِيْنَ وَا لشُّهَدَآءِ وَا لصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَفِيْقًا
wa may yuthi’illaaha war-rosuula fa ulaaa-ika ma’allaziina an’amallohu ‘alaihim minan-nabiyyiina wash-shiddiiqiina wasy-syuhadaaa-i wash-shoolihiin, wa hasuna ulaaa-ika rofiiqoo
“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 69)
Hadits Nabi Saw yang menunjukkan keutamaan kejujuran adalah apa yang diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw seraya berkata, “Sungguh aku ini lelaki yang sebenarnya beriman kepadamu, akan tetapi aku ini suka mabuk, zina dan juga mencuri. Banyak orang yang mengatakan bahwa baginda melarang itu semua dan aku belum mampu untuk meninggalkan perbuatan tersebut. Andai baginda meringankan satu perkara bagiku untuk aku tinggalkan, maka akan aku lakukan,” Nabi Saw bersabda, “Tinggalkanlah dusta Jangan Berbohong).” Lelaki tadi pun menerima sabda Nabi Saw kemudian dia memeluk Islam. Ketika sudah keluar dari rumah Nabi Saw, orang-orang menawarkannya minuman khamr, iapun berguman dalam hati, “Andai aku minum dan Nabi Saw bertanya padaku dan aku jawab dengan dusta, maka aku telah melanggar janjiku. Andai aku jujur, maka aku akan terkena hukuman had, maka lebih baik aku tinggalkan itu. Lalu ada yang mengajaknya berzina, datanglah kembali detikan jiwa tadi, maka iapun kembali meningalkan (tidak melakukan) zina tersebut. Begitu juga dengan mencuri. Lelaki ini pun kembali kepada Nabi Saw seraya berkata, “Sangat baik apa yang engkau anjurkan bagiku untuk tidak berdusta, sehingga dengan menepati itu aku mampu menutup beragam pintu kemaksiatan.”
8. Berbuat baik kepada kedua orang tua. Sebab keduanya merupakan satu-satunya sebab adanya manusia dan sebab keberadaan kita di dunia.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
wa qodhoo robbuka allaa ta’buduuu illaaa iyyaahu wa bil-waalidaini ihsaanaa, immaa yablughonna ‘ingdakal-kibaro ahaduhumaaa au kilaahumaa fa laa taqul lahumaaa uffiw wa laa tan-har-humaa wa qul lahumaa qoulang kariimaa
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 23)
Lihatlah dalam ayat ini, dimana Allah memposisikan berbuat baik kepada kedua orang tua setelah posisi tidak berbuat syirik kepada-Nya. Oleh karena itu, setiap orang haruslah berbuat baik kepada kedua orang tuanya jika memungkinkan, khususnya berbuat baik kepada ibu. Sebab, ta’at kepadanya adalah sebab masuk surga.
Rasulullah Saw bersabda,
الْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ
“Surga berada dibawah telapak kaki para ibu.”
Rasulullah Saw bersabda,
رِضَا اللهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ
“Ridhanya Allah terletak pada keridhaan kedua orang tua dan murka-Nya terletak pada kemurkaan keduanya.”
Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّ الْجَنَّةَ يُوجَدُ رِيحُهَا مِنْ مَسِيْرَةِ خَمْسُمِائَةِ عَامٍ وَلَا يَجِدُ رِيحَهَا عَاقٌ وَلَا قَاطِعُ رَحْمٍ
“Sungguh baunya surga tercium dari perjalanan 500 tahun. Orang yang durhaka dan orang yang memutus tali silaturahmi tidak bisa mencium baunya.”
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Barangsiapa yang tidak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, dia tidak dipermudah untuk suluk di thariqah ini.”
9. Konsisten mencintai Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tanpa terputus hingga ajal menjemput. Sebab, kecintaan adalah ikatan yang mengikat antara seorang guru dengan muridnya. Sesuai dengan kadar kecintaan inilah bantuan ruhani sang guru dapat dirasakan sang murid.
Ciri-ciri seorang ikhwan Tijany mencintai Syaikhnya: Sangat beradab terkait dengan hak Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; sangat menghormati beliau; ketenangan dirinya ketika bersama Syaikhnya; hanya memikirkan Sayyidi Syaikh Ra; tidak senang kecuali Sayyidi Syaikh Ra senang, tidak bersedih kecuali ketika Sayyidi Syaikh Ra bersedih, bahkan semua tindakannya yang nampak maupun yang tersembunyi, dirinya ada bersama Sayyidi Syaikh Ra atau tidak, semuanya itu demi kemaslahatan Sayyidi Syaikh Ra dan ragam perkara yang layak bagi beliau. Dia tidak lagi peduli dengan dirinya, tidak peduli lagi dengan kemaslahatan dirinya.
Seorang khalifah pun mendapatkan hak yang sama dari murid Tijany.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Seluruh orang yang mengambil talqin wiridan kami, niscaya dibangkitkan termasuk golongan orang-orang yang aman dan masuk surga tanpa hisab dan tanpa hukuman; yaitu dia, kedua orang tuanya, suami/istrinya dan keluarganya terpisah dengannya, namun tidak termasuk cucu, (mereka akan mendapatkan itu semua) dengan syarat yakin dan tidak menodai kecintaan terhadap Sayyidi Syakh Ra serta tidak merasa aman dari makar Allah.”
10. Menghormati orang yang memiliki hubungan dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, tidak terkecuali para pembesar thariqah ini. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Sungguh kami memiliki martabat yang tidak terhingga di sisi Allah hingga batasan yang tidak boleh lagi diperbicangkan; tentunya bukan apa yang aku sebarkan kepada kalian ini. Jikalau aku berterus terang dengan martabat tersebut, niscaya Ahlul Haq dan para Arifbillah sepakat menganggapku kafir. Martabat tersebut bukanlah apa yang aku sebutkan kepada kalian tetapi sejatinya martabat itu ada dibalik itu.”
Diantara kekhususan martabat ini adalah bahwa orang yang tidak bisa menjaga perubahan hatiku dari sahabat kami, maka Allah akan campakkan ia dari sisi kedekatan-Nya dan Dia akan cabut apa yang telah diberikan padanya.”
11. Tidak menyakiti ikhwan sesama thariqah.
Diriwayatkan bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata, “Menyakiti pengamal thariqah ini sama saja dengan menyakiti Nabi Saw. Nabi Saw bersabda padaku, ‘katakan kepada para sahabatmu, janganlah menyakitiku dengan cara kalian menyakiti sebagian orang’.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فِى الدُّنْيَا وَا لْاٰ خِرَةِ وَاَ عَدَّ لَهُمْ عَذَا بًا مُّهِيْنًا
innallaziina yu-zuunalloha wa rosuulahuu la’anahumullohu fid-dun-yaa wal-aakhiroti wa a’adda lahum ‘azaabam muhiinaa
“Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghinakan bagi mereka.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 57)
12. Menghormati semua wali Allah. Sebab, mereka semua adalah orang-orang yang dicintai Allah Swt. Dengan memuliakan dan menghormati mereka, Allah akan memilihnya dan mendekatkannya kepada Allah Swt dan dengan menghinakan mereka, niscaya Allah Swt menghinakannya dan murka kepadanya.
Semoga Allah lindungi kita dari ini.-
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan dalam sebuah surat beliau, “Maka agungkanlah kehormatan para wali Allah yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia. Sebab orang yang memuliakan kehormatan mereka, Allah pun pasti memuliakan kehormatannya. Orang yang menghinakan kehormatan mereka, Allah pun akan hinakan dia dan murka kepadanya, maka jangan kalian menyepelekan kehormatan para wali Allah.
13. Cinta kepada semua manusia dan tidak memutus tali silaturahmi dengan mereka tidak terkecuali ikhwan dalam thariqah. Hendaknya memperlakukan mereka dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Jangan melakukan perbuatan yang mereka tidak suka. Hendaknya bergaul dengan mereka sesuai dengan adat yang biasa berlaku dan tabi’at diri masing-masing, serta memposisikan orang yang sudah tua seperti ayah sendiri; yang sepantaran dengan kita, kita posisikan sebagai saudara; yang lebih muda kita posisikan seperti anak kita sendiri.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Syaratnya adalah menjaga perkara syari’at khususnya shalat fardhu secara berjama’ah. Berhati-hatilah kalian dari merasa aman dari makar Allah saat kalian melakukan dosa, sebab rasa aman dari makar Allah Swt adalah kehancuran yang sebenarnya bagi seorang ikhwan. Jangan pula kalian memutuskan tali silaturahmi dengan makhluk Allah, khususnya antar sesama ikhwan dalam thariqah. Saling mengunjungilah kalian kepada sesama ikhwan karena Allah, sambunglah tali silaturahmi dan berilah mereka makan karena Allah semampu kalian, tanpa kalian merapa kesulitan dan terbebani.”
14. Membenci orang yang membenci Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, tidak duduk dengannya. Mencintai Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan mencintai orang yang dicintai oleh beliau serta menjadikannya teman, sekalipun dia tidak berthariqah.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra senantiasa mewanti-wanti kita untuk tidak bergaul, tidak mencintai, tidak makan dan tidak ngobrol dengan orang yang membenci Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra seraya berkata kepada mereka, “Sungguh kebencian mereka adalah kabar gembira yang berupa racun bagi orang yang bergaul dengan mereka.”
Dalam Munyatul Murid disebutkan,
وَمَنْ يُجَالْسُ مُبْغِضُ الشَّيْخِ # وَضَلَّ فِي مَهَامِهِ وَفِي حَلَكِ هَلَكَ
“Orang yang berkumpul dengan pembenci Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra # maka urusannya akan kacau dan binasa.”
اِخْتَرْ لِنَفْسِكَ الَّذِي أَطَاعَ # إِنَّ الطَّبَاعَ تَسْرِقُ الطِبَاعَ
“Pilihlah untuk dirimu orang yang ta’at # Sungguh tabiat seseorang dapat mencuri tabi’at yang lain”
Rasulullah Saw bersabda,
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu sesuai dengan agama teman karibnya, maka salah seorang diantara kalian hendaknya melihat siapa teman karibnya.”
Dalam sebuah sya’ir disebutkan,
عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ قَرِيْنَهُ # فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِى
“Tentang seseorang, janganlah engkau tanya dia, tetapi tanyalah tentang temannya # Sebab setiap teman akan mengikuti temannya”
Akan tetapi cinta dan benci pun harus diletakkan pada perkara syari’at, sesuai dengan firman Allah Swt,
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَ لَا السَّيِّئَةُ ۗ اِدْفَعْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِ ذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَ نَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
wa laa tastawil-hasanatu wa las-sayyi-ah, idfa’ billatii hiya ahsanu fa izallazii bainaka wa bainahuu ‘adaawatung ka-annahuu waliyyun hamiim
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 34)
Juga sabda Rasulullah Saw,
أَحْبِبْ حَبِيْبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضُ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا .
“Cintailah orang yang engkau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang engkau benci menjadi orang yang engkau cinta.”
15. Meyakini dan pasrah pada setiap perkara yang warid dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Sebab dengan keyakinanlah kecintaan akan bertambah, dimana dengan bermodalkan kecintaan itulah Syaikh dapat men-tarqiyah muridnya sampai derajat yang sempurna.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Seluruh orang yang mengambil talqin wiridan kami, niscaya dibangkitkan termasuk golongan orang-orang yang aman dan masuk surga tanpa hisab dan tanpa hukuman; yaitu dia, kedua orang tuanya, suami/istrinya dan keluarganya terpisah dengannya, namun tidak termasuk cucu, (mereka akan mendapatkan itu semua) dengan syarat yakin dan tidak menodai kecintaan terhadap Sayyidi Syakh Ra serta tidak merasa aman dari makar Allah.”
16. Tidak mengkritik Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pada setiap perkataan dan perbuatan beliau. Sebab kritikan seorang murid terhadap Syaikhnya dapat membuat murid tersebut binasa dan secara otomatis sang murid sudah keluar dari kelompok Syaikh tersebut. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Sungguh orang yang telah mengambil wiridan kami dan mendawamkannya hingga mati, niscaya dia akan masuk surga tanpa dihisab dan tanpa hukuman; dia, kedua orang tuanya, suami/istri dan keluarganya, dengan catatan mereka selamat dari tidak mengkritik.”
17. Tidak merasa aman dari makar (azab) Allah dalam berbagai kondisi diri.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَفَاَ مِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ
a fa aminuu makrolloh, fa laa ya-manu makrollohi illal-qoumul-khoosiruun
“Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 99)
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra senantiasa mengulang-ulang syarat ini dalam berbagai perkataan beliau, bahkan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra senantiasa menyenandungkan sya’ir dibawah ini:
وَآمِنٌ مَكْرَ اللَّهِ بِاللَّهِ جَاهِلٌ # وَخَائِفٌ مَكْرَ اللَّهِ بِاللَّهِ عَارِفٌ
وَلَا جَاهِلٌ إِلَّا مِنَ اللَّهِ آمِنْ # وَلَا عَارِفٌ إِلَّا مِنَ اللَّهِ خَائِفٌ
“Orang yang merasa aman dari azah Allah dengan merasa senantiasa adanya pertolongan Allah, dia adalah orang yang bodoh # Sementara orang yang takut dari azab Allah dengan merasa senantiasa adanya pertolongan Allah, dia adalah orang yang Arifbillah
Tidaklah seorang itu bodoh kecuali dia merasa aman dari Allah Tidaklah seorang itu Arifbillah kecuali dia takut kepada Allah.”
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra juga pernah berkata, “Bergembiralah, sungguh setiap orang yang memiliki kecintaan pada kami hingga ia meninggal dunia dengan kecintaan pada kami tersebut, niscaya dia akan dibangkitkan dengan kondisi tergolong orang-orang yang aman dalam kondisi apapun, selagi yang bersangkutan tidak merasa aman dari adzab Allah Swt.”
Seyogyanya kondisi jiwa seorang murid thariqah itu antara harapan dan juga takut, dimana keduanya tidak dapat dipisahkan; ketika harapan dipisahkan dari rasa takut, maka ia akan merasa aman dari adzab Allah Swt dan ketika rasa takut itu dipisahkan dari pengharapan, maka ia akan putus asa.
18. Tidak memberitahu hakekat wiridan thariqah kepada orang di luar thariqah. Sebab, wiridan para masyayikh itulah asrar mereka. Asrar tentu tidak diperdengarkan selain pada ahlinya, maka menyembunyikan ini tentu patut dicontoh bagi pengamal thariqah.
Didalam Bughyatul Mustafid disebutkan, “Orang-orang yang benar-benar menekankan adab thariqah biasanya dia menyembunyikan wiridan-nya, ia tidak mengumbarnya kecuali pada ikhwan sesama thariqah. Merekapun beranggapan bahwa perbuatan itu merupakan bagian dari menyembunyikan rahasia yang merupakan pusara untuk memperoleh hasil olah ruhani. Akupun melihat para sahabat Sayyidi Syaikh Ra saling berwasiat prihal perkara menyembunyikan wiridan.”
Dengan kata lain, perkara menyembunyikan wiridan ini merupakan perkara penting dalam thariqah, maka pahami dengan benar perkara ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kita hidayah-Nya.-
19. Tidak meremehkan wiridan; yaitu tidak mengakhir-kan waktu pembacaannya kecuali adanya udzur yang dibenarkan.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Orang yang telah mengambil wiridan kami dan meninggalkannya secara keseluruhan atau meremehkan wiridan tersebut, maka ia akan terkena hukuman Allah dan bisa binasa.”
20. Tidak memberikan wiridan tanpa adanya izin yang sah.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan: Para ahli kasyaf pernah menyebutkan beberapa perkara; andai satu perkara ini dilakukan dan tidak bertobat, maka yang bersangkutan akan mati dalam kondisi su`ul khotimah; yaitu mengaku-ngaku jadi wali dan syaikh; dengan memberikan wiridan tanpa adanya izin yang benar.”
