You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Ragu Hitungan Wiridan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Ragu Hitungan Wiridan

Terkait dengan murid Tijany yang ragu, apakah hitungan bacaan wiridannya kurang atau lebih, maka ia harus memastikannya; yaitu hitungan yang paling sedikit. Setelah ia membaca wiridan, dilanjutkan dengan membaca istighfar 100 kali dengan niatan jabr (menambal kekurangan). Begitu juga kondisinya bagi murid Tijany yang mampu memastikan kekurangan atau kelebihan bacaan wiridannya tetapi setelah selesai membaca kekurangan hitungan bacaannya, ia pun harus membaca istighfar 100 kali dengan niatan jabr. Hal ini juga berlaku bagi murid Tijany yang ngantuk dan lupa apakah dia tadi memulai bacaan wiridannya dengan sholawat Fatih atau dengan bacaan hailalah contohnya, maka dia harus menyudahinya dan memulai lagi dari awal, setelah selesai ia pun harus membaca istighfar 100 kali dengan niat jabr, seperti ragam perkara sebelumnya.

Seorang imam wazhifah, dialah yang menanggung kelupaan saat pembacaan wazhifah, dialah yang harus men-jabr kekurangan bacaan dalam wazhifah tersebut seperti la membaca wiridan sendirian. Jika yang bersangkutan ragu atas bacaan istighfar jabr, maka ia tidak perlu men-jabr lagi agar tidak berturut-turut, sebagaimana sujud sahwi pun tidak dilakukan berkali-kali.

Pembacaan wiridan lazimah, wazhifah dan hailalah dinyatakan batal jika jumlah kekurangan atau kelebihan hitungan bacaannya disengaja, sebagaimana wiridan pun batal jika sengaja menjawab panggilan, atau sengaja makan dan minum dalam jumlah yang banyak. Sedangkan jika ia memakan makanan tetapi sedikit, maka itu tidak membatalkan wiridan dan wazhifah tersebut, tetapi sudah seyogyanya ini tidak dilakukan oleh murid Tijany lantaran dalam bab sebelumnya sudah dijelaskan dalam pembahasan adab berdzikir; yaitu tidak makan dan minum setelah membaca wiridan, bahkan pada pertengahan membacanya tentu tidak boleh.

Ada pula yang membatalkan bacaan wiridan seperti membaca lafazh dzikir dengan bacaan yang salah, terlalu cepat yang berakibat mengurangi bacaan wiridan, tertawa terbahak-bahak, tidur pulas, banyak menoleh kecuali jika ia takut, enggan menyuarakan bacaan wiridan, wazhifah dan hailalah ketika membacanya seorang diri, banyak senyum dan sedikit menoleh, memikirkan urusan dunia, membaca wiridan sambil ngantuk. Jika toh ada murid Tijany membaca wiridan sembari mengantuk hingga membuatnya ragu jumlah bilangan wiridan, maka ia harus melakukan seperti halnya perkara orang yang ragu akan kurangnya jumlah bilangan wiridan.

Sumber : BUKU FATHURRABBANI (FATHURRABBANI FIMA YAHTAJU ILAIHI MURID TIJANY) SYAIKH MUHAMMAD ATH-THASFAWI AT-TIJANY