
Elsubha.com – Penjelasan Lafazh Wiridan Lazimah dan Wazhifah
Perlu diketahui bahwa menghadirkan kalbu kala berdzikir merupakan syarat terpenting, sebab ia adalah ruhnya suatu amalan, kamudian tidak pula sempurna kehadiran kalbu kita kecuali kita tahu makna wiridan yang kita baca. Oleh karena itu, dibuatlah bahasan ini agar beragam makna wiridan dapat diketahui, yang dalam hal ini bacaan wazhifah sudah mewakili bacaan wiridan lazimah.
A. Makna Istighfar
Redaksi
” اسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمِ الَّذِى لا الهَ إِلا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ”
Maknanya adalah mintalah pada Allah perlindungan dan penyekat antara dirimu dan balasan Allah, atau antara aku dan ragam perkara yang mewajibkan datangnya iqab Allah, yaitu ragam perbuatan dosa. Disebutkan lafazh “Al ‘Azhim” dan bukan lafazh lainnya hal ini bertujuan agar mampu merasakan agungnya Rububiyah Allah dan hinanya penghambaan diri dengan meyakini bahwa meski dosa-dosanya besar, tetapi disisi rahmat dan keagungannya Allah tidak ada apa-apanya, Allah Swt mampu mengampuni itu semua dalam sekejap kedipan mata jika Dia berkehendak.
Redaksi العَظِيْم adalah Dzatnya tidak ada dzat lain yang menyamai-Nya dalam tingginya Dzat dan luhurnya keagungan-Nya
Redaksi, ” الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا ” maksudnya tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya
Redaksi “إلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ” maksudnya Dzat yang disifati dengan kehidupan yang terus menerus, yang mampu berdiri sendiri mengatur makhluk. Dikhususkan dengan dua Asmaul Husna tersebut karena dua nama tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam terkabulnya ragam do’a, dan menolak kesengsaraan bahkan sampai dikatakan bahwa kedua Asmaul Husna tersebut adalah Isim A’zham. Oleh karenanya, Nabi Saw ketika berdo’a kerap menyebutkan, “Ya Hayyu Ya Qayyum.”
B. Makna Sholawat Fatih
Redaksinya:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكُ الْمُسْتَقِيمِ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ
“Ya Allah curahkanlah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami Nabi Muhammad pembuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus, dan juga (curahkanlah rahmat dan keselamatan) atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung.”
Redaksi “اللَّهُمَّ ” maksudnya adalah Wahai Allah..
Redaksi”صَلِّ”maknanya adalah sholawatnya Allah kepada nabi-Nya, hal ini sebagaimana pernyataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, bahwa kata “shali” merupakan kata yang sesuai, ia adalah sifat Allah yang berdiri sendiri. Tujuan orang yang bersholawat adalah memohon sholawat untuk Nabi Saw dengan ditambahkan kemuliaan bagi beliau Saw.
Redaksi “عَلَى سَيِّدِنَا” maknanya adalah penghulunya semua makhluk dari kalangan jin dan manusia serta malaikat.
Redaksi “مُحَمَّدٍ” maknanya adalah ilmunya Nabi Muhammad Saw
Redaksi, “الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ” maknanya adalah pernbuka wujud yang tertutup, dimana jika bukan karena Nabi Muhammad Saw, maka tidak ada makhluk dan tidak ada makhluk yang bisa keluar dari ketiadaan menjadi dzatnya ada. Beliaulah Saw sebab satu-satunya adanya semua makhluk. Sebagaimana beliau pulalah sebab kucuran rahmat Allah Swt bagi setiap makhluk. Jika bukan lantaran keberadaan beliau Saw, maka tidak ada makhluk yang mendapatkan curahan kasih sayang. Beliaulah yang membuka penutup keberadaan makhluk dan memberi kucuran madad, kucuran rahmat Allah Swt.
Redaksi “وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ” maknanya adalah yang menutup sisi kenabian dan risalah yang telah lampau, sehingga tidak ada nabi dan rasul setelah beliau Saw.
Redaksi, “نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ ” maknanya adalah penolong agamanya Allah Swt dengan kebenaran dan kesungguhan diri, bukan penolong kebatilan dan keburukan.
Redaksi, “وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكُ الْمُسْتَقِيمِ” maknanya adalah orang yang menunjukkan pada jalan-Mu yang lurus, jalan yang tidak ada kebengkokan, yaitu agama Islam.
Redaksi, “وَعَلَى آلِهِ” kata Al” dalam do’a
dimaksudkan semua ummat yang ada, akan tetapi seharusnya melihat sisi kedekatan dengan Nabi Saw dengan menambahkan rasa hormat pada mereka.
Redaksi “حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ” maknanya adalah kadar keutamaan dan keagunganya beliau tidak ada satupun manusia yang memilikinya. Maka makna “Allhumma sholli, ” dan seterusnya puncaknya pada kadar yang dimiliki utusan-Mu.
Lihatlah apa puncak pencapaian Rasulullah Saw dan apa yang dipinta oleh orang yang bersholawat pada Allah agar Allah Swt berkenan bersholawat kepada sosok yang Dia cintai; Nabi Muhammad Saw dengan kadar yang mampu dicapai dengan keutamaan sholawat yang tidak memiliki batasannya.
Makna redaksi ” ُلاَ إِلَهَ إِلاَ اللّٰه” adalah tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Swt, seseorang yang hendak memulai bacaan ini hendaknya meniatkan makna ini. Sedangkan tahapan atasnya adalah meyakini bahwa tidak ada tempat meminta dan tempat yang dituju kecuali Allah Swt, hingga akhirnya tidak ada yang dicinta kecuali Allah Swt.
C. Makna Sholawat Jauharatul Kamal
Redaksinya:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّــانِــيَّــةِ وَالْيَـاقُوْتَـةِ الْـمُتَحَقِّقَةِ اْلحَائِطَةِ بِمَرْكَــزِ الْفُهُوْمِ وَالْـمَعَانِى وَنُوْرِ اْلأَكْــوَانِ الْـمُتَــكَــوِّنَةِ اْلأٰدَمِـــيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ الرَّبَّـــانِـــي
اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزَوْنِ اْلأَرْيَاحِ الْـمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ الْبُحُوْرِ وَالْأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللَّامِعِ الَّذِى مَلَأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِــنَةِ الْـمَكَانِى
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى عَيْنِ الْحَقِّ الَّــتِى تَــتَــجَلّٰى مِنْـهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْـمَعَارِفِ الْأَقْوَامِ صِرَاطِكَ التَّامِ اْلأَسْقَمِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْكَنْــزِ اْلأَعْظَمِ إفَاضَتِكَ مِنْكَ إلَيْــكَ إحَاطَةِ النُّوْرِ الْـمُطَلْسَمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ صَلَاةً تُعَرِّفُنَا بِـهَا إيَّاهُ.
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan perwujudan rahmat sifat-sifat Tuhan, mutiara yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, dan yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, sang pembawa kebenaran ketuhanan, yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang yang menghadap-Nya. Yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat.
Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang menjadi Ain Al Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran), telah tampak dari padanya seluruh hakikat keadilan yang seperti Arsy sebagai sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus.
Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajally, yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, tempat datangnya kasih-Mu, yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui hakikat.”
Redaksi, “اللَّهُمَّ صَلِّ” makna ini sudah dibahas diatas dalam penjelasan mengenai sholawat Fatih
Redaksi, “وَسَلِّمْ” maknanya adalah berikanlah rasa aman pada beliau Saw dari apa yang beliau takutkan terjadi pada ummatnya terkait urusan dunia dan akhirat.
Redaksi, “عَيْنِ” maknanya adalah Dzatnya Allah Swt.
Redaksi, “الرَّحْمَةِ” maknanya adalah ringannya kalbu yang menyebabkan mendapatkan keutamaan dan sisi ihsan.
Redaksi, “الرَّبَّــانِــيَّــةِ” maknanya adalah kata ini dinisbatkan kepada Allah Swt
Redaksi, “وَالْيَـاقُوْتَـةِ” maknanya adalah Rasulullah Saw disebandingkan dengan batu Ruby, sebab batu jenis ini merupakan batu permata yang paling bagus dan mahal.
Redaksi, “الْـمُتَحَقِّقَةِ” maknanya adalah Dzat yang disifati dengan Dzat yang mengetahui seluk-beluk semua sifat dan ragam nama-nama ilahiyyah yang dengannya alam semesta ini ada.
Redaksi, “اْلحَائِطَةِ بِمَرْكَــزِ الْفُهُوْمِ وَالْـمَعَانِى” maknanya adalah Dzat yang mampu menyelimuti semua pemahaman. Kata ma’ani merupakan kata plural dari kata ma’na yang artinya adalah pusat. Maknanya adalah ketika ragam pemahaman yang Allah bagi-bagikan kepada makhluknya untuk mengetahui ragam makna Al Qur’an, hukum ilahiyyah dan sifat-sifat ilahiyyah. Hal ini seperti menjadikan sesuatu terhujam ke bumi seperti tongkat contohnya, maka Nabi Saw semisal lingkaran yang mengelilingi tongkat tersebut.
Redaksi, ” وَنُورِ” merupakan bagian yang ikut pada kata Ainir-Rahmah.
Redaksi, “اْلأَكْــوَانِ” maknanya adalah ragam makhluk hidup.
Redaksi, “الْـمُتَــكَــوِّنَةِ” maknanya adalah sesuatu yang menampakkan sesuatu lain setelahnya, dimana Nabi Saw adalah cahaya tersebut.
Redaksi, “اْلأٰدَمِـــيِّ” maksudnya dinisbatkan kepada nabi Adam As, dimana Nabi Muhammad Saw adalah bapaknya Nabi Adam As pada asal mula hakekat penciptaannya, sebab Nabi Saw adalah pokok dari keberadaan makhluk. Oleh karena itu, sebagian Sufi pernah mengatakan dalam sebuah sya’ir:
وَإِنِّي وَإِنْ كُنْتُ ابْنَ آدَمَ صُورَةً # فَلِيَ فِيْهِ مَعْنَى شَاهِدٌ بِأُبُوَّتِي
“Dan aku, meski dalam gambarannya aku adalah Anak cucu Nabi Adam As # namun aku punya bukti penguat dengan ke bapakanku secara makna.”
Redaksi, “صَاحِبِ الْحَقِّ الرَّبَّـــانِـــي” maksudnya adalah pemilik agama yang dinisbatkan kepada Allah Saw.
Redaksi, “اَلْبَرْقِ” maksudnya adalah bahwa kata ini merupakan kata na’tun yang menjelaskan cahaya alam semata. Yang dimaksudkan di sini adalah hakekat Nur Al Muhammadiyyah.
Redaksi, “اْلأَسْطَعِ” maksudnya adalah yang paling tinggi dan paling nampak.
Redaksi, “بِمُزَوْنِ” kata ini terkait dengan kata sebelumnya; yaitu awan. Sedangkan kata “اْلأَرْيَاحِ” itu merupakan kata plural dari Rabaha.”
Walhasil bahwa kata “Al Barqi” itu dipinjamkan untuk makna Hakekat Al Muhammadiyyah, sedangkan kata “Bimuzûni,” digunakan untuk mencurahkan rahmat ilahiyyah pada semua makhluk. Sebab, kilat biasanya menemani turunnya hujan sebagaimana sisi Hakekat Al Muhammadiyyah yang senantiasa menyertai rahmat dari sisi ketuhanan.
Redaksi “الْـمَالِئَةِ” yang menyertai awan.
Redaksi, “لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ الْبُحُوْرِ وَالْأَوَانِى” maksudnya adalah yang memenuhi setiap dari para nabi dan wali yang meminta pertolongan kepada-Nya.
Redaksi, “وَنُوْرِكَ” adalah kata yang kembali pada makna mata air rahmatnya Allah Swt.
Redaksi, “اللَّامِعِ” maksudnya adalah yang menerangi.
Redaksi, “الَّذِي” kata sifat dari “Nûrika”
Redaksi, “مَلَأْتَ بِهِ” maksudnya dengan cahaya itu
Redaksi, “كَوْنَكَ” menjadi kata rujukan dari kata “mala` ta.”
Redaksi, “الْحَائِطَ” kata sifat dari redaksi “Kaunaka.”
Redaksi, “بِأَمْكِــنَةِ” kata yang masih terkait dengan sebelumnya yaitu : الْحَائِطَ
Redaksi, “الْـمَكَانِى” adalah kata yang disematkan pada suatu tempat. Maka maksudnya adalah cahaya-Mu yang terang itulah yang memenuhi Dzat-Mu di setiap tempat. Alam yang terbatas merupakan perintah ilahiyyah, yang dengannya Allah Swt menampakkan wujud ini, maka perkaranya ini dipenuhi oleh Nabi Muhammad Saw.
Redaksi, “اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ” kata ini sudah dibahas
Redaksi, “عَيْنِ الْحَقِّ” maksudnya adalah “Al Adlu (adil/tidak condong),” bahwa Nabi Saw sosok yang istiqomah, tidak pernah condong kemanapun sama sekali. Oleh karena itu, Nabi Saw pernah bersabda kepada orang yang berkata kepada beliau “Berlaku adillah dalam pembagian,” beliau Saw menjawab, مَنْ يَعْدِلْ إِذَا لَمْ أَعْدِلُ “Lantas siapa yang adil jika bukan aku yang berlaku adil.”
Redaksi, “الَّــتِى تَــتَــجَلّٰى مِنْـهَا” maksudnya adalah yang darinya nampak sesuatu.
Redaksi, “عُرُوْشُ” merupakan kata plural dari ‘Arsyun
Redaksi, “الْحَقَائِقِ” merupakan kata plural dari haqîqah yaitu hakekat. la itupun disepadankan dengan ‘Urusy lantaran ketinggiannya dalam segala sesuatu. Maka maknanya adalah “Ya Allah semoga Engkau berkenan bersholawat atas dzat adil, yang dari beliau muncul ragam hakekat seperti ‘Arasy yang berada di langit tinggi.”
Redaksi, “عَيْنِ الْـمَعَارِفِ” maksudnya adalah dengan sumber dan perbendaharaannya.
Redaksi, “الْأَقْوَامِ” maksudnya adalah yang paling sempurna dalam menjalankan perintah Allah Swt dan menepati hak-Nya.
Redaksi “التَّامِ” maksudnya adalah yang paling sempurna. Nabi Saw disamakan dengan gambaran jalan, sebab tidak seorang pun bisa sampai pada hadhrah-Nya Allah kecuali melalui perantara Nabi Saw, sebagaimana tidaklah seseorang bisa masuk ke depan surga tanpa melewati titian.
Redaksi, “اْلأَسْقَمِ” maksudnya adalah yang sempurna dengan keitiqamahan tanpa bengkok. Kata “Asqam” sendiri merupakan kata kerja yang menunjukkan kinerja lebih. Hal ini pun telah dibahas dalam bab ke 2.
Redaksi, “اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ” ini sudah dibahas sebelumnya.
Redaksi, “عَلٰى طَلْعَةِ” maksudnya adalah penampakan sisi Allah Swt.
Redaksi, “بِالْحَقِّ” maksudnya adalah dengan dzatnya Allah Swt. Maksudnya bahwa tajallinya Allah pada Hakekat Al Muhammadiyyah mumi dari Dzat-Nya yang Maha luhur, dan suci dari dzat lainnya. Makna bahwa Nabi Saw merupakan simbol gambaran dari Allah, dengan pertolongan Allah, sebab jika bukan karena beliau Saw, maka tidak ada seorang pun yang ma’rifat pada Allah Swt, hal ini sebagaimana yang pernah dijelaskan dalam sebuah hadits qudsi,
كُنْتُ كَيْرًا مَخْفِيًّا، فَأَرَدْتُ أَنْ أَعْرَفَ، فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ، فَيَ
عَرَفُونِي
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Aku ingin dikenal, Aku ciptakanlah makhluk, dan dengan-Kulah kalian bisa mengenali-Ku.”
Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa Nabi Saw lah pokok dari semua makhluk.
Redaksi, “الْكَنْــزِ اْلأَعْظَمِ” Al Kanz berarti kumpulnya ragam simpanan berharga. Pada setiap simpanan yang agung terdiri dari semua pemberian Allah Swt, ragam kucuran Rabbaniyyah yang sifatnya keduniawiyaan dan keakhiratan.
Redaksi, “إفَاضَتِكَ” maksudnya adalah sumber kelembutan Allah yang engkau pinta dari-Nya.
Redaksi, “مِنْكَ” maksudnya adalah ketika engkau ya Allah ber-tajalli dengan Dzat-Mu pada Jiwa-Mu, Engkaupun meminta pada jiwa-Mu, maka Engkaupun menerima permintaan tersebut dengan pertolongan-Mu, dimana sebenarnya kembali sendiri pada Dzat-Mu.
Redaksi, “إلَيْــكَ” maksudnya adalah maka dengan itulah Allah mengadakan wujud Nabi Saw, dan dari-Nya pun semua makhluk ada wujudnya.
Redaksi, “إحَاطَةِ النُّوْرِ” maksudnya adalah diatas batasan menunjukkan keadilan
Redaksi, “الْـمُطَلْسَمِ” maksudnya adalah yang tersembunyi dan itulah rahasia ketuhanan yang Allah Swt ingin sembunyikan selain dari orang-orang khusus. Nabi Saw lah yang sisi keilmuan dan sisi rasanya mampu mencakupi itu semua. Rahasia inilah yang terkumpul dalam Hakekat Al Muhammadiyyah dan inilah yang mampu menyampaikan kepada setiap makhluk apa yang dibagikan dari Nabi Saw.
Redaksi, “وَعَلٰى أٰلِهِ” maksudnya adalah semua umat Islam, hal ini senada dengan suatu hadits “وَإِيَّاكُمْ وَالصَّلَاةَ البتراء” “Berhati-hatilah kalian dengan sholawat yang terputus”, dikatakan, “Apakah sholawat yang terputus itu,? Beliau menjawab “أَنْ تُصَلُّوْا عَلَيَّ دُوْنَ آلِي” “Engkau bersholawat padaku tanpa menyebut keluargaku.”
Redaksi, “صَلَاةً” merupakan objek dari kata “Sholla,” dimana ya diakhir dibuang untuk menunjukkan kata dipenghujung.
Redaksi, “تُعَرِّفُنَا بِـهَا إيَّاهُ” merupakan kata yang mengikuti redaksi kata sholawat, maksudnya adalah dengan sholawat untuk Nabi Saw, dimana murid Tijany yang bersholawat memohon pada Allah Swt agar dengan perantara sholawat bisa ber-ma’rifat pada Rasulullah Saw.
Ya Allah kenalkanlah kami hakekat beliau Saw dan matikan kami dalam agama beliau serta kumpulkanlah kami kelak pada kelompok beliau. Âmîn.
