
Elsubha.com – Keutamaan Thariqah At-Tijaniyyah
Mengenai keutamaan pengamal thariqah At-Tijaniyyah sangatlah banyak, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah menyebutkannya, namun di sini aku hanya ingin menyebutkan sebagiannya saja yang aku temukan di beberapa buku karya sahabat Sayyidi Syaikh Ra, tujuannya tak lain untuk memberikan kabar gembira bagi para pengamal thariqah At-Tijaniyyah ini, dimana ragam perkara ini tidak asing lagi di telingga kita semua kecuali orang-orang yang bodoh dengan agungnya keutamaan Allah Swt.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تُؤْمِنُوْۤا اِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِيْنَكُمْ ۗ قُلْ اِنَّ الْهُدٰى هُدَى اللّٰهِ ۙ اَنْ يُّؤْتٰۤى اَحَدٌ مِّثْلَ مَاۤ اُوْتِيْتُمْ اَوْ يُحَآ جُّوْكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ قُلْ اِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِ ۚ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
wa laa tu-minuuu illaa limang tabi’a diinakum, qul innal-hudaa hudallohi ay yu-taaa ahadum misla maaa uutiitum au yuhaaajjuukum ‘ingda robbikum, qul innal-fadhla biyadillaah, yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim
“Dan janganlah kamu percaya selain kepada orang yang mengikuti agamamu.” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya petunjuk itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang diberikan kepada kamu, atau bahwa mereka akan menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu.” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 73)
يَّخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
yakhtashshu birohmatihii may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 74)
Dimana sudah kita ketahui bersama, bahwa Allah Swt akan memuliakan orang yang mengikuti (sosok yang ia figurkan),
lantaran kemuliaan yang terdapat pada sosok yang diikuti.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا تَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِ يْمَا نٍ اَلْحَـقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَاۤ اَلَـتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ ۗ كُلُّ امْرِئٍ بِۢمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ
wallaziina aamanuu wattaba’at-hum zurriyyatuhum bi-iimaanin alhaqnaa bihim zurriyyatahum wa maaa alatnaahum min ‘amalihim ming syaii, kullumri-im bimaa kasaba rohiin
“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
(QS. At-Tur 52: Ayat 21)
Ada ulama yang mengatakan, “Sebagaimana Allah menghubungkan keluarga orang-orang yang beriman dengan memberikan kepada mereka keutamaan-Nya meski memang amaliyah mereka tidaklah sepadan, maka begitu pula orang yang mengikuti (sosok figur), ia pun akan mendapatkan keutamaan seperti sosok figur yang mereka ikuti, meski memang dalam amaliyah mereka tentu tidaklah sama.”
Perkara ini menunjukkan seperti apa yang tertera dalam Shahih Muslim dari riwayat Anas Ra, ia berkata:
قَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ قَالَ: حُبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قَالَ: فَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Seorang lelaki datang kepada Nabi Saw seraya berkata, Wahai Rasulullah, kapankah datangnya hari Kiamat?’, nabi Saw menimpali, ‘Lantas apa yang sudang engkau siapkan?, lelaki tadi menjawab, ‘Kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya’, spontan Nabi Saw menjawab, ‘Engkau kelak bersama sosok yang kau cintai”.”
Anas berkata, “Kami belum pernah merasa senang sekali setelah memeluk Islam daripada senangnya kami mendengar sabda Nabi Saw, ‘Sungguh engkau kelak bersama orang yang kau cintai,” Anas kembali berkata, “Aku cinta pada Allah dan Rasul-Nya, juga cinta kepada Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap semoga aku tergolong bersama mereka meski belum bisa beramal seperti mereka.”
Mari kita renungi redaksi, “Meski belum bisa beramal seperti mereka,” dari sini jelas sudah bahwa pahala yang akan diperoleh pun adalah seperti pahala sosok figur yang diikuti.
Dalam hadits qudsi disebutkan,
مَنْ عَادَ لِي وَلِيًّا فَقَدْ بَارَزَنِي بِالْمُحَارَبَةِ
“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka secara terang-terangan dia telah menabuh genderang perang dengan-Ku.”
Dalam sebuah kitab disebutkan, “Barangsiapa yang mengangkat seorang diantara wali-Ku, maka Aku akan pilih dan dekatkan ia pada-Ku.” Maka tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah mendapatkan keutamaan ini lantaran mereka mengikuti Sayyidi Syaikh Ra, bahkan Sayyidi Syaikh Ra pernah mengatakan secara gamblang mengenai perkara itu, kala Sayyidi Muhammad bin Al Musyri bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ra, “Keutamaan yang agung ini mereka dapatkan sebab mereka mengkonsistenkan sholawat Fatih atau dengan sebab lain?” Sayyidi Syaikh Ra diam sejenak lalu berkata, “Lantaran kami, segala puji bagi Allah atas karunia tersebut.”
Selanjutnya tidak ada orang yang mengingkari ragam jaminan dan kabar gembira yang datangnya dari Nabi Muhammad Saw kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra kecuali dia adalah orang yang nakal. Sayyidi Al Mallali Ra pernah mengatakan, “Aku melihat tulisan tangan Syaikh As-Sanusi, yang redaksinya: ‘Perkara yang menunjukkan bahwa ada yang datang dari seorang wali Allah yang berupa kabar gembira dengan masuk surga, maka hal tersebut tidaklah menyelisihi As-Sunnah terlebih ketika itu datangnya sosok figur yang patut diikuti, Nabi Muhammad Saw sendiri telah memberikan kabar gembira bagi sekelompok sahabat bahwa mereka akan masuk surga, dan ini bagian daripada mu’jizat Nabi Muhammad Saw.
Bahkan jumhur ulama dari kalangan Ahlussunnah menyatakan, “Segala sesuatu yang mungkin menjadi mukjizat bagi seorang nabi, maka itupun mungkin menjadi karomah bagi seorang wali. Jika saja seorang wali mampu menerawang perkara akhir hidup beliau pada sekelompok ulama tahqiq, maka itu pun mungkin beliau lakukan pada orang lainnya.” Lihat selengkapnya dalam kitab Al Jaisyul Kafil.
Jika perkara ini sudah mantap dalam pikiranmu, maka aku katakan, bahwa apa yang akan aku sebutkan dalam buku ini yang berupa 40 keutamaan; dimana 14 diantaranya akan didapatkan oleh setiap orang yang memiliki keterikatan diri pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang berupa keyakinan diri; patuh pada beliau; penghormatan kepada beliau, tidak mengkritik beliau dalam semua perkara; baik perkara yang nampak jelas di depan mata, maupun perkara yang tersembunyi; cinta pada beliau dan pada pengamal thariqahnya dengan bentuk menghormati dan memuliakan mereka serta tidak menyakiti mereka. Sementara keutamaan lain sisanya adalah bagi pengamal thariqah beliau; thariqah At-Tijaniyyah yang senantiasa menjaga wiridannya, meski belum pernah bertemu beliau Ra di dunia ini, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Jawahirul Ma’âni.
Semua keutamaan yang ada ini merupakan jaminan dari Nabi Muhammad Saw untuk Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, yang semua itu bisa terjadi dengan syarat tidak merasa aman dari murka Allah Swt.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah mewanti-wanti pada sahabat beliau seraya memberikan petunjuk pada mereka, beliau mengatakan, “Sayyidil wujud, Nabi Muhammad Saw telah memberikan jaminan bagi kami, bahwa orang yang mencela kami dan terus saja mencela kami serta tidak bertobat, maka dia tidak akan mati kecuali dalam keadaan kafir. Akupun katakan pada ikhwan. ‘bahwa murid Tijany yang telah mengambil wiridan thariqah kami dan mendengar perkara masuk surga tanpa dihisab dan tanpa diadzab dan juga kemaksiatan tidak akan memudharatkanya, sehingga menjebloskan dirinya dalam kemaksiatan pada Allah Swt, serta menjadikan hal tersebut sebagai ikatan dirinya untuk merasa aman dari adzab Allah Swt, Allah akan membuat hatinya membenci kami hingga ia mencela kami, ketika ia telah mencela kami, Allah Swt akan mematikannya dalam keadaan kafir, maka berhati-hatilah kalian dari kemaksiatan. Jika toh ada diantara kalian yang Allah takdirkan dengan suatu dosa- dimana memang manusia tidaklah ma’shum, maka kami tidak akan mendekatkannya pada kami kecuali hatinya menangis (dengan tangisan penyesalan) lantaran takut dari adzab-Nya Allah Swt.”
