You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Gambaran Kehidupan dan Kezuhudan Al Mushthafa Muhammad ﷺ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Gambaran Kehidupan dan Kezuhudan Al Mushthafa Saw

Nabi Muhammad Saw tidak memilih untuk bermegah-megahan dalam kehidupan, hal ini pun diikuti oleh keluarga beliau. Dalam gaya hidup beliau yang penuh dengan ketawadhu’an, terdapat salah satu bentuk turut berduka cita, merasakan pahitnya kehidupan orang-orang miskin dari umatnya. Sudah jelas bahwa keutamaan seseorang tidak dilihat dari banyaknya harta dan tingginya kedudukan, akan tetapi keutamaan tersebut terwujud dari kesempurnaan dalam dirinya. Beliaupun bekerja layaknya para sahabat lain, dimana semuanya itu semata-mata karena Allah Swt.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
washbir nafsaka ma’allaziina yad’uuna robbahum bil-ghodaati wal-‘asyiyyi yuriiduuna waj-hahuu wa laa ta’du ‘ainaaka ‘an-hum, turiidu ziinatal-hayaatid-dun-yaa, wa laa tuthi’ man aghfalnaa qolbahuu ‘ang zikrinaa wattaba’a hawaahu wa kaana amruhuu furuthoo

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 28)

عَنْ أَبِي ذَرِّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا ذَرٍّ، أترى كثرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى؟، قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَتَرَى قِلَّةَ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: إِنَّمَا الْغِنَى عَلَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ، ثُمَّ سَأَلَنِي عَنْ رَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ، فَقَالَ: هَلْ تَعْرِفُ فُلَانًا قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ : فَكَيْفَ تَرَاهُ وَتُرَاهُ ؟ قُلْتُ: إِذَا سَأَلَ أُعْطِيَ وَإِذَا حَضَرَ أُدْخِلَ، ثُمَّ سَأَلَنِي عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الصُّفَةِ، فَقَالَ: هَلْ تَعْرِفُ فُلَانَا ؟ ، قُلْتُ: لَا ، وَاللَّهِ مَا أَعْرِفُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَمَا زَالَ يُحَلِّيْهِ وَيَنْعَتُهُ حتَّى عَرَفْتُهُ، فقلت: قَدْ عَرَفْتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَكَيْفَ تَرَاهُ أَوْ تُرَاهُ؟

قُلْتُ: رَجُلٌ مِسْكِينَ مِنْ أَهْلِ الصُّفَةِ، فَقَالَ: هُوَ خَيْرٌ مِنْ طَلَاعِ الْأَرْضِ مِنَ الآخِرِ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا يُعْطَى مِنْ بَعْضِ مَا يُعْطَى الْآخَرُ ؟ فَقَالَ: إِذَا أُعْطِيَ خَيْرًا فَهُوَ أَهْلُهُ وَإِنْ صُرِفَ عَنْهُ فَقَدْ أُعْطِيَ حَسَنَةً.

Diriwayatkan dari Abu Dzarr Ra, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Abu Dzarr, apakah banyaknya harta itu kaya?,” Aku menjawab, “Iya wahai Rasulallah,” Beliau kembali bertanya, “Apakah sedikitnya harta itu miskin?,” Aku menjawab, “Iya, wahai Rasulallah,” Lalu beliau besabda, “Sungguh kaya itu adalah kayanya hati dan miskin itu adalah miskinnya hati.” Kemudian aku ditanya tentang seorang lelaki dari Quraisy, “Apakah engkau mengenal si fulan?,” Aku menjawab, “Iya, wahai Rasululallah,” Rasulullah menimpalinya dengan bersada, “Bagaimana engkau melihatnya atau orang-orang melihatnya (keadaannya),?” Aku menjawab, “Apabila ia meminta, maka (permintaannya itu) akan selalu diberikan; apabila ia datang, maka ia akan disambut.” Kemudian Rasulullah Saw bertanya lagi kepadaku tentang salah seorang Ahlusuffah (orang fakir yang tidak memiliki sanak saudara dan berada di sebelah kiri masjid nabawi), “Apakah engkau mengenali si fulan?,” Aku menjawab, “Demi Allah, Aku tidak mengenalnya wahai Rasulallah,” Beliau pun menyebutkan beberapa sifat dan ciri-cirinya hingga akhirnya aku mengenali sosoknya dan akupun berkata, “Aku telah mengenalnya wahai Rasulullah,” Rasulullah Saw bertanya lagi padaku, “Bagaimana engkau melihatnya atau orang-orang melihatnya? Aku menjawab, “Dia orang miskin dari Ahlussuffah,” Rasulullah bersabda, “Dia orang yang paling baik di seantero jagad ini daripada yang lainnya,” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah (keutamaan) yang ia punya akan diberikan kepada orang lain?” Rasulullah Saw bersabda, “Apabila diberikan kebaikan, maka ia adalah orangnya: apabila ia ditolak, maka ia telah diberikan satu kebaikan.” (HR. An-Nasa’i secara ringkas; Ibnu hibban dalam Shahih-nya, dimana lafazh hadits ini miliknya).

عَنْ أَبِي ذَرِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ لِي رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا ذَرِّ، انْظُرْ أَرْفَعَ رَجُلٍ فِي الْمَسْجِدِ، قَالَ: فَنَظَرْتُ، فَإِذَا رَجُلٌ عَلَيْهِ حُلْةٌ، قَالَ: قُلْتُ: هَذَا، قَالَ: قَالَ لِي: انْظُرْ أَوْضَعَ رَجُلٍ فِي الْمَسْجِدِ، قَالَ: فَنَظَرْتُ، فَإِذَا رَجُلٌ عَلَيْهِ أَخْلَاقٍ، قَالَ: قُلْتُ: هَذَا، فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَهَذَا عِنْدَ اللهِ أَخِيرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلِ هَذَا.

Diriwayatkan dari Abu Dzarr Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda kepadaku, “Wahai Abu Dzarr, lihatlah orang terpandang yang ada di dalam masjid ini,” Abu Dzarr berkata, “Aku pun melihatnya dan ternyata ia adalah seorang lelaki yang mengenakan jubah dari sutera,” Beliau pun bersabda kepadaku, “Lihatlah pula orang paling hina yang ada di dalam masjid ini,” Abu Dzarr berkata, “Aku pun melihatnya dan ternyata ia adalah seorang lelaki yang berakhlak,” Abu Dzarr berkata lagi, “Lelaki yang ini,” maka Rasulullah Saw pun bersabda, “Lelaki ini paling baik di sisi Allah Swt pada hari Kiamat daripada semua penghuni bumi yang sepertinya.” (HR. Ahmad dengan berbagai sanad yang dijadikan hujjah dalam Ash-Shahih, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya).

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: رَأَى سَعْدٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ.

Diriwayatkan dari Mus’ab bin Sa’ad, ia berkata: Sa’ad Ra berpandangan bahwa ia merasa memiliki kelebihan daripada orang lain, Rasulullah Saw pun bersabda, “Tidakkah kalian diberi pertolongan dan diberi rezeki kecuali karena orang-orang yang lemah (fakir)?.” (HR. Al Bukhari dan An-Nasa’i).

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا تُنصَرُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِضُعَفَائِهَا بِدَعَوَاتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ.

Diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’d, Rasulullah Saw bersabda kepadanya, “Sungguh umat ini tertolong dengan orang-orang yang lemah (fakir); (yaitu) dengan do’a, shalat dan keikhlasan mereka.”

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: ابْغُوْنِي ضُعَفَالَكُمْ فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ.

Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda Ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Biarkanlah aku bersama orang-orang yang lemah (fakir), karena sesungguhnya kalian diberi limpahan rezeki serta pertolongan lantaran orang-orang lemah (fakir) kalian.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasâ`i).

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا طَلَعَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلَّا بُعِثَ بِجَنَبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ الْأَرْضِ إلا الثَّقَلَيْنِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، هَلُمُوا إِلَى رَبِّكُمْ، فَإِنْ مَا قَلَّ وَ كَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَ أَلْهَى.

Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah terbit mentari pagi kecuali ada dua malaikat yang menyertainya, saling memanggil dan mendengarkan penduduk bumi kecuali jin dan manusia, seraya berkata; ‘Wahai manusia datanglah kepada Tuhanmu, karena hal sedikit yang mencukupi lebih baik dari pada hal yang banyak tapi melalaikan’.” (HR. Ahmad, Para periwayatnya merupakan periwayat hadits shahih; Ibnu Hibban dalam Shahih-nya; Al Hakim berkata, “Sanadnya shahih’).

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، قُلْتُ: لَا يَا رَبِّ وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا ، أَوْ قَالَ ثَلَاثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدَتُكَ.

Diriwayatkan dari Abi Umamah Ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Tuhanku menawarkan padaku, agar la menjadikan bebatuan kerikil Makkah menjadi emas,” Aku berkata, “Jangan wahai Tuhanku, akan tetapi biarkan aku kenyang satu hari dan lapar satu hari, beliau berkata demikian sebanyak tiga kali.-Apabila aku lapar, aku datang kepada-Mu dengan rendah diri seraya mengingat-Mu dan apabila aku telah kenyang, aku pun bersyukur dan memuji-Mu.” (HR. At-Tirmidzi, dimana ia menilai, bahwa hadits ini hasan).

Diriwayatkan dari Anas Ra, ia berkata, “Nabi Saw belum pernah makan di atas meja makan hingga wafat dan belum pernah makan roti yang empuk (lunak) hingga wafat.” Dalam riwayat lainnya; “Nabi tidak pernah melihat sama sekali kambing yang sedang dibersihkan kulitnya.” (HR. Al Bukhari).

Diriwayatkan dari Abu Thalhah Ra, ia berkata, “Kami melapor kepada Rasulullah Saw akan kelaparan yang kami alami dan kami mengangkat baju dengan meletakkan batu di atas perut kami, maka Rasulullah Saw pun mengangkat baju dengan meletakkan dua buah batu di atas perut beliau. (HR. At-Tirmidzi).

Diriwayatkan dari Anas Ra, ia berkata, “Aku melihat Umar -pada saat ia menjadi Amirul Mukminin- beliau menambal bajunya; yang ada di antara kedua bahunya dengan tiga tambalan (HR. Malik).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata, “Keluarga Muhammad Saw tidak pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat.” Dalam riwayat lainnya: Abu Hazim berkata, “Aku melihat Abu Hurairah seringkali menunjuk dengan jari tangannya seraya berkata, ‘Demi jiwa Abu Hurairah yang ada digenggaman-Nya, Nabiyyullah Muhammad Saw tidak pernah kenyang dengan roti yang terbuat dari gandum selama tiga hari berturut-turut hingga beliau meninggal dunia’.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, ia berkata, “Rasulullah Saw pernah menghabiskan beberapa malam dan keluarganya tertidur tanpa makan malam, roti yang sering mereka makan adalah roti yang terbuat dari gandum.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).

Diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata, “Keluarga Muhammad Saw tidak pernah kenyang memakan roti dari gandum selama dua hari berturut-turut sampai beliau meninggal dunia. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Sedangkan dalam riwayat Muslim, Aisyah Ra berkata, “Rasulullah Saw meninggal dunia, beliau belum pernah kenyang memakan roti dan minyak (makanan yang berlemak) sebanyak dua kali dalam sehari.”

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra, ia berkata, “Sayyidah Fatimah Ra pernah disuapi sepotong roti oleh Nabi Saw seraya beliau berkata, ‘Inilah makanan pertama yang ayahmu makan selama tiga hari. “(HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).

Ath-Thabrani menambahkan: “Apakah ini?,” Fatimah Ra berkata, “Secuil roti,” Nabi Saw bersabda, “Aku tidak tenang apabila aku belum memberikan secuil roti ini padamu seraya berkata, ‘Inilah makanan pertama yang ayahmu makan selama tiga hari.”(Periwayat kedua hadits ini tsiqah).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata, “Rasulullah Saw diberi makanan panas, yang kemudian beliau makan, selepas makan beliau bersabda, ‘Alhamdulillah, perutku belum terisi makanan panas sejak ini dan itu.”(HR. Ibnu Majah, dengan sanad hasan, dan Al Baihaqi dengan sanad shahih).

Dari Nabi Saw, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, para Amirul mukminin, para Åhlu Bait dan Sahabat Ra inilah dapat kita ambil contoh- akan keengganan mereka terhadap dunia, dimana mereka berinfaq tanpa batas; kekayaan mereka hanya karena Allah Swt, dunia hanya ada di tangan mereka dan bukan di hati mereka.

Rasulullah Saw memberikan apa saja tanpa takut jatuh miskin, keluarga beliau tidak membenci dunia walaupun serba hidup dalam kekurangan-, hal ini bukan protes mereka kepada Allah Swt -akan kemiskinan menerpa- akan tetapi inilah sebuah makrifat dan benar-benar bentuk penyerahan semua perkara kepada Allah Swt. Sikap yang demikian ini bukan berarti mengharuskan seseorang untuk meninggalkan dunia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
wabtaghi fiimaaa aataakallohud-daarol-aakhirota wa laa tangsa nashiibaka minad-dun-yaa wa ahsing kamaaa ahsanallohu ilaika wa laa tabghil-fasaada fil-ardh, innalloha laa yuhibbul-mufsidiin

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)

Akan tetapi setiap muslim seyogyanya mengambil dan menunaikan (bagiannya) -dari dunia- dengan benar.

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI