You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Kedengkian Imperialis Terhadap Tasawuf Islam

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Kedengkian Imperialis Terhadap Tasawuf Islam

Kaum muslimin merupakan orang-orang terpercaya dalam mengutip perkataan generasi sebelum mereka, kaum muslimin menisbatkannya kepada siapa yang mengatakannya. Seolah-olah ini sudah menjadi tradisi ilmiah mereka. Mereka tidak pernah mengaku-ngaku yang bukan miliknya, lain halnya dengan apa yang dilakukan orang-orang Eropa terhadap khazanah keilmuan Arab. Betapa banyak buku yang tercantum nama ilmuwan Eropa, mereka hanya mengganti nama pemilik buku asli dengan nama mereka serta memberikan sedikit perubahan. Hal ini banyak terjadi lantaran kebencian imperialis Eropa yang ingin menghilangkan jejak orang-orang Arab dari segala keunggulan yang mereka miliki.

Diantara perkara yang mereka utarakan adalah, bahwa kaum muslimin mengambil fikih dari Roma, tasawuf dari hindu dan rahib, ini sungguh merupakan sebuah kebohongan besar yang dibarengi niatan jahat. Beragam ibadah kaum muslimin, dari shalat, puasa, haji, wudhu dan mandi wajib serta berbagai perkara mu’amalah yang berada di buku fikih, tak ada sumber lain kecuali berasal dari Al Qur’an dan Al Hadits. Dimana kita pun telah mengetahui, bahwa Al Qur’an dan Al Hadits bersumber dari Rasul yang Agung, Sayyidina Muhammad Saw. Para ahli sejarahpun tidak ada yang mengatakan, bahwa semasa Nabi Saw hidup, kaum muslimin pernah bercampur dengan kaum hindu, tidak juga dengan Roma bahkan Persia. Begitu pula orang-orang yang dianugerahi Allah Swt untuk memeluk Islam seperti Suhaib, Salman dan Bilal, tidak lain hanya ittiba’ (mengikuti) Rasul Saw, mereka ialah tabi’in (orang-orang yang mengikuti Nabi Saw) bukan matbutin (orang-orang yang diikuti ajarannya), dimana kehidupan dan ibadah Rasulullah Saw sudah mendarah daging dalam diri mereka.

Orang-orang bayaran utusan kolonial yang tujuannya memerangi Islam, menamakan diri mereka dengan “Mubasysyirîn” (orang-orang yang memberi kabar gembira), mereka membuat takhayul yang membuat kita tidak habis pikir, apakah mereka tidak bertanya pada diri mereka sendiri, “Apakah mereka tidak malu dengan beragam kebohongan mereka? Mengapa mereka mengakui bahwa mereka ahli pikir, sementara mereka memberikan dalil berlandaskan kebodohan mereka?.”

Salah satu contoh ungkapan mereka, “bahwa Ka’ab bin Al Ahbar pernah berkumpul dengan Nabi Saw, mereka saling bertukar pikiran.” Perkataan ini menunjukkan pada dua hal:

1. Mereka tidak malu untuk membuat suatu perkara dusta yang diasaskan pada kedengkian mereka. Hal ini tidak lain bersumber dari tabi’at mereka yang buruk.

2. Mereka tidak mengira akan ada banyak orang yang membaca buku mereka dan menyematkan kedunguan dan kebodohan bagi mereka. Seandainya pun mereka dikatakan sebagai orang berakal yang sedang mencari kebenaran, kenapa mereka malah dengan beraninya membuat beragam rantai kedustaan lainnya.

Sejatinya, Ka’ab bin Al Ahbar tidak pernah melihat Nabi Saw, apalagi berkumpul bersama. la berasal dari Yaman dan ia baru berhijrah ke Hijaz pada masa Umar bin Al Khaththab Ra. Oleh karena itu, ia bukan dari kalangan “sahabat.” Namun ia “tabi’în”. -Tidak ada dalil bagi orang Islam kecuali dari Al Qur`an dan Al Hadits.-

Begitu pula mengenai penggemblengan ruh dan tazkiyah nafs; baik teori maupun praktek, zuhud serta ibadah, sumbernya adalah dari Rasulullah Saw.

Disebutkan di dalam Shahih Al Bukhari dari riwayat ‘Aisyah Ummul Mukminin Ra, ia berkata: “Permulaan wahyu yang turun kepada Rasulullah Saw adalah dengan melihat hal-hal baik dalam kondisi tidur, beliau tidak melihat kecuali seperti terangnya matahari pagi. Setelah itu beliau suka menyendiri; beliau menyendiri di gua hira’. Beliau beribadah di sana beberapa malam setelah sebelumnya pergi ke keluarganya dan membawa bekal, kemudian pergi ke Khadijah dan membawa bekal seperti biasanya sampai pada akhimya datanglah sebuah kebenaran dan beliau sedang berada di gua hira’, malaikat mendatanginya seraya berkata, ‘Bacalah….sampai akhir hadist’.

Mimpi para nabi merupakan wahyu. Sebelum Nabi Muhammad Saw beribadah di gua hira, Allah Swt memuliakan beliau dengan wahyu didalam mimpi, kemudian hal itu yang mengilhami beliau untuk ber-khalwat (menyendiri), dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا 
laqod kaana lakum fii rosuulillaahi uswatun hasanatul limang kaana yarjulloha wal-yaumal-aakhiro wa zakarolloha kasiiroo

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)

Inilah dalil dan alasan para sufi untuk mengasingkan diri dari hiruk-pikuk manusia dan semata-mata beribadah kepada Allah Swt beberapa waktu, sampai ruh benar-benar bisa menyatu dengan Allah Swt.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الْمُزَّمِّلُ 
yaaa ayyuhal-muzzammil

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!”
(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 1)

قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًا 
qumil-laila illaa qoliilaa

“Bangunlah (untuk sholat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil,”
(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 2)

نِّصْفَهٗۤ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًا 
nishfahuuu awingqush min-hu qoliilaa

“(yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu,”
(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 3)

اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰ نَ تَرْتِيْلًا 
au zid ‘alaihi wa rottilil-qur-aana tartiilaa

“atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”
(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 4)

Rasulullah Saw selalu bangun malam, berdzikir dalam segala keadaannya, sering berpuasa, sebulan sampai dua bulan tidak memasak (untuk dimakan) dan semuanya ini berasal dari hadist-hadist shahih.

Dari sinilah para sahabat Nabi Saw mencontoh perilaku Nabi Saw dan dari mereka jualah diambil cermin kesederhanaan. Rasulullah Saw menganjurkan bagi umatnya untuk qiyamul-lail (bangun pada malam hari untuk beribadah) dan juga untuk berzuhud di dunia dengan tidak mengabaikan pekerjaannya, untuk makan dan bersedekah dari hasil jerih payahnya.

Maka sungguh merupakan sebuah kebohongan yang diada-ada, jika ada orang yang berprasangka bahwa beragam ibadah dalam Islam, serta zuhud, asal muasalnya bukan dari Nabi Muhammad Saw.

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI