You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Hakikat Ketuhanan dan Kedudukan Sufi

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Hakikat Ketuhanan dan Kedudukan Sufi

Dalam kaitannya dengan pencarian Tuhan dan kedudukan para sufi di dalamnya, secara global manusia terbagi menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama, adalah kelompok yang condong pada pemenuhan kebutuhan dirinya saja. Memenuhi segala kebutuhan dirinya baik berupa makan, minum dan berbagai kebutuhan jasmani lainnya. Dirinya tidak pernah memikirkan dari mana ia berasal dan kemana ia akan kembali. Ia pun tidak mencari hakikat kehidupannya; dari mana dan kemana tujuannya. la tergolong orang-orang yang lalai. Para ahli hikmah tidak menggolongkannya ke dalam kelompok manusia yang berfikir, karena ia hanya memilih beragam perkara yang berkenaan dengan dirinya sendiri tanpa berfikir lainnya.

Kelompok kedua, adalah kelompok orang yang selalu berfikir; dari mana ia berasal dan kemana ia akan kembali, ia mencari hikmah akan hidup dan matinya, ia pun juga mencari hakikat keberadaan dirinya di dunia ini; baik ia lakukan sendiri maupun secara berkelompok. Dalam kaitannya untuk mencapai sebuah pengetahuan, mereka pun memilih jalan sendiri-sendiri, antara lain:

A. Melalui panca indera

Ada yang menggapai pengetahuan tersebut melalui indera. Kaidah ilmiah mengharuskan agar kita tidak mengingkari fakta kebenaran yang belum bisa diketahui melalui indera. Sebab, memang tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama, bahwa ada beberapa fakta kebenaran yang memang tidak dapat diketahui melalui indera. Jika demikian kondisinya, maka ia tergolong ke dalam orang yang percaya akan perkataan, “Beragam fakta di alam bawah sadar itu tidak ada batasannya.” Pendapat ini tidak bisa memberikan keyakinan yang menenangkan hati.

Sedangkan orang yang tidak mempercayai beragam hal di alam bawah sadar bahkan mengingkari keberadaannya, maka ia tidak lagi tergolong sebagai seorang ilmuwan dan keingkarannya itu sama sekali tidak ada artinya.

Tidak diragukan lagi, pencarian kebenaran melalui indera tidak dapat memberikan sebuah keyakinan, karena teorinya selalu berubah. Bahkan seandainya kita terima perkembangan teori-teori yang ada, maka hasilnya pun akan tetap berubah, karena beragam teori yang ada ini tidak bisa memberikan ketetapan akan sebuah kebenaran.-

Sudah tentu orang yang berakal tidak akan rela dengan cara ini, ia menginginkan sebuah kebenaran yang dapat membuat jiwanya tenang, terlepas dari keraguan dan merasa aman dari adanya perubahan.

Cara-cara yang ada tidak dapat memberikan keyakinan, ini sebuah pandangan yang memiliki tingkat resiko kemudharatan paling sedikit, timbulnya keraguan pada diri seseorang dan ia tidak merasa nyaman. Andaikan saja ia berusaha menenangkan dirinya, tetap saja ia tidak akan menemukan jalannya. Sebab, orang yang sedang dalam keraguan, tentu ia tidak mengetahui hal itu, dimana ia pun akan mengakui didalam dirinya, bahwa ia tidak yakin akan sesuatu itu.

Tidak cocok kiranya apabila kita menyebut cara ini sebagai sebuah ilmu atau kebenaran. Sebab, ilmu adalah sebuah keyakinan, dimana beragam kemungkinan yang ada tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah ilmu, lantas bagaimana orang yang sama sekali tidak bisa sampai pada prasangka atau juga ragam kemungkinan itu?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ ۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ ۚ وَاِ نَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَـقِّ شَيْئًـا 
wa maa lahum bihii min ‘ilm, iy yattabi’uuna illazh-zhonna wa innazh-zhonna laa yughnii minal-haqqi syai-aa

“Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 28)

Kebenaran pasti menghadapi penerimaan dan juga penolakan. Para ulama sepakat, bahwa seorang yang ragu akan kebenaran, maka ia tidak akan pernah sampai pada kebenaran itu sendiri. Sekalipun kita anggap, bahwa kebenaran itu terletak pada orang yang menolaknya, maka orang yang ragu pun tidak tergolong bagian dari mereka. Jika kebenaran ada pada orang yang memiliki fakta dan bukti, maka orang yang ragu pun bukan bagian dari kebenaran itu sendiri, ia sebenarnya tidak mengetahui apa-apa dan tidak bisa berkata apa-apa. Perkataan mereka tak ada artinya. Para ahli hikmah sepakat, orang-orang yang ragu ini bukanlah ilmuan selagi mereka tidak beranjak dari keraguan menuju keyakinan.

B. Melalui penalaran

Ada yang menggapai kebenaran melalui nalar atau akal, mereka membuat perumpamaan yang dicocokkan dengan data yang mereka miliki dan juga data yang sedang mereka cari, kemudian mereka mengotak-atiknya berdasarkan dasar argumentasi yang meyakinkan, hingga menghasilkan sesuatu yang pasti.

Orang yang berakal sudah tentu tidak akan puas pada perkara yang di dalamnya masih diperkirakan. Sebab, sesuatu yang di dalamnya masih diperkirakan, sudah tentu tidak bisa dijadikan bukti atau alasan, mereka ini adalah para filosof.

C. Melalui pengalaman ruhani

Ada pula yang menggapai kebenaran melalui pengalaman ruhani dengan berpedoman kepada sumber kehidupan, yaitu Allah Swt dan juga dengan selalu memohon pertolongan pada kesempurnaan-Nya yang tidak terjangkau. Mereka ini tidak akan berhenti sebelum sampai pada sebuah kebenaran, yaitu dengan menggabungkan antara buah pemikiran yang tidak diragukan lagi dan juga penyaksian ruhani yang bersih dari segala prasangka dan praduga, mereka inilah termasuk Shiddiqîn (orang yang jujur kondisi jasmani dan ruhaninya). Mereka termasuk orang-orang yang bertakwa kepada Allah Swt, sehingga Allah Swt pun mengajarkan sesuatu (yang tidak diketahui) olehnya.

Para ulama menyebut mereka dengan sufi, seperti sebutan orang-orang yang mendalami segala dimensi agama akidah, hukum, akhlaq, ilham. Kelompok ulama yang menyingkap kebenaran bidang tauhid; para ulama menyebut mereka dengan “ulama tauhid atau mutakallimin”; dalam bidang hukum -halal dan haramnya-, para ulama menyebut mereka dengan “fuqaha (pakar fikih)”; dalam bidang akhlaq dan ragam perkara yang berkaitan dengan ilham Allah Swt serta penggemblengan hati dan halusnya ruh, para ulama menyebut mereka “sufi.”

Mengenai asal-muasal kalimat sufi; apakah ia dari kata “Ash-Shafa” atau “Ash-Shaufu”, menurutku hal itu tidaklah begitu penting, selagi penyifatan seorang sufi adalah seperti tertera di dalam hadits qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيدَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

“Hamba-Ku terus saja mendekat kepada-Ku dengan beragam perkara nawafil (sunah), sampai Aku mencintanya, maka apabila Aku telah mencintainya, Aku pun akan menjadi telinganya, yang ia gunakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk meraih, kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Andai ia meminta pada-Ku, niscaya akan Kuberikan dan andai ia meminta perlindungan pada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya. Aku tidak pernah merasa ragu akan sesuatu yang Aku lakukan melebihi keraguan-Ku akan diri seorang mukmin, dimana ia benci kematian dan Aku tidak suka menyakitinya.” (HR. Al Bukhari).

Inilah sifat-sifat Ash-Shiddiq (Orang yang jujur jasmani dan ruhaninya). Ibnu Taimiyyah dalam tulisannya yang berjudul, Ash-Shûfiyyah wal Fuqara’, halaman 8, cetakan Al Manar tahun 1928 M, menyatakan tentang definisi dari suatu kaum: “Mereka juga menamai sufi dengan istilah Shiddiq,” dimana manusia yang paling utama setelah para nabi ialah Ash-Shiddiq.

Seseorang yang menyatukan antara jernihnya ilmu yang ada pada tingkatan paling agung dari sisi penyaksian diri yang menyeluruh; baik dari ilmu yakin dan juga ainul yakin, dengan jernihnya amal pada puncaknya keikhlasan, juga dengan jemihnya ahwal (kondisi jiwa) serta dengan kecintaan illahi, maka sebutlah ia Rabbaniyyîn atau paling tidak Shiddiqîn atau juga sufi. Semua penamaan ini terserah engkau saja, yang terpenting adalah, bahwa ialah sosok (sufi) yang dimaksud walaupun berbeda panggilannya.

Orang-orang yang mengingkari wujud keberadaan ruh, mereka sebenarnya tidak memiliki dalil kuat, baik dalil secara rasio maupun dalil melalui panca indera- yang dapat meyakinkan diri mereka, terlebih orang yang berakal, bahwasanya ruh itu tidak ada. Jika pun mereka tidak bisa mengetahui keberadaan ruh ini dengan panca indera yang mereka miliki, maka masih banyak orang di luaran sana yang mengetahui keberadaannya, sehingga penafian akan keberadaan ruh itu bukanlah hak mereka. Sesuai pengakuan mereka sendiri, bahwa mereka mengaku tidak mengetahui beragam perkara tentang perjalanan ruhani. Maka di saat mereka menghukumi perkara yang sejatinya mereka tidak mengetahui seluk-beluknya, sebenarnya keingkaran mereka ini tidak terbukti secara ilmiah, layaknya tidak masuk akal apabila ada orang yang sakit dan ingin berobat, namun pergi ke tempat orang yang sebenarnya tidak tahu-menahu masalah obat-obatan, sekalipun ia tahu dan yakin bahwa ia bodoh, maka pendapatnya dari sisi ini tidak bisa memberikan suatu manfaat sama sekali.

Oleh karena itu, tidak sama antara orang yang hanya berdalih dengan orang yang pernah melihatnya secara langsung, tanda-tanda ruh dapat diketahui dengan indera, bahkan manusia dapat mengetahui beragam perkara yang sebelumnya belum pernah diketahui dengan menggunakan panca indera.

Bualan orang yang mengatakan, bahwa di bumi ini hanya ada materi, adalah bualan yang tidak berdasarkan alasan yang kuat. Akal pikiranpun sebenarnya tidak memungkiri adanya wujud selain materi, bahkan hingga kini pun, inti dari sebuah materi itu belum dapat diketahui. Maka, adanya tanda-tanda akan ruh menjadi perkara yang dapat diindera.

Apabila ada orang yang mengatakan, bahwa ruh berasal dari materi, yang dapat mengisi bagian kosong, maka ruh pun memiliki kekhususan tersendiri yang berbeda dengan materi yang dapat diketahui dengan penginderaan.

Apabila dikatakan seperti ini walaupun sebenarnya kita tidak berkata ini- bahwa yang dinamakan materi memiliki sisi yang kasar dan sisi yang halus. Materi pada sisi kasar memiliki kekhususan yang sudah umum diketahui, begitupula dengan materi pada puncak kehalusannya, maka itulah ruh yang memiliki beragam kekhususan yang sesuai dengan perkara yang berkaitan dengan sisi ruhani.

Orang-orang yang berkutat pada materi, sekalipun mereka tidak bisa mengetahui tanda-tanda ruh, namun mereka ini sudah ada pada jalur yang benar untuk mengetahui ruh tersebut, bahkan rohaniawan Islamlah yang mengetahui terlebih dahulu dibanding para materialis lainnya mengenai tanda-tanda keberadaan ruh.

Seandainya kita ikuti pendapat mereka, bahwa ruh adalah materi, maka tetap akan bertabrakan dan bersebrangan dengan pandapat yang mereka katakan, bahwa suatu perkara yang wujud, asal muasalnya adalah ketidaktahuan (perkara yang tidak dapat diketahui). Sungguh pengetahuan akan ruh ini tidak dapat diketahui melalui indera seperti yang mereka gembar-gemborkan, akan tetapi hakikat keberadaanya kembali pada sebuah kebenaran yang kau dengar, kau lihat dan kau ketahui, dengan mengesampingkan panca indera.

Maka, sebenarnya ada sebuah ilmu yang tidak terikat dengan materi yang sering mereka gembar-gemborkan namun tanpa dalil.

Oleh karenanya, kesaksian ruh tidak perlu dipertanyakan lagi kepada ahlinya, karena ia merupakan perkara yang harus diyakini dan tidak perlu diragukan lagi. Perumpamaan para materialis layaknya orang buta, bisu dan tuli yang mengingkari bunyi letupan senjata dan ringtone musik bagi orang yang mendengar, begitu juga halnya orang yang melihat dengan kasat mata dan orang yang melihat dengan kaca pembesar. Getaran halus yang hanya dapat diketahui dengan alat pendeteksi khusus, sebelumnya tidak diketahui dan pada akhirnya ia dapat diketahui bersama rahasia-rahasia lainnya yang terselubung. Seseorang yang mengingkari perkara yang belum ia dengar dengan telinganya bahwa itu merupakan perkara yang mungkin saja ada keberadaannya, maka sebenarnya ada kebebalan dalam pola berpikimya.

Orang yang adil tidak akan salah dalam menilai. Bahwa orang-orang yang dapat merasakan keberadaan ruh, adalah para ulama, filosuf, ahli hikmah, penguasa dalam bidangnya, ahli bahasa, ahli fikih, mutakallim (orang-orang yang ahli dalam ilmu kalam), ahli qiro`at, ahli tafsir, yang didalam dirinya banyak kelebihan dan Allah Swt sudah memberikan kesaksian yang tidak diketahui kecuali oleh mereka sendiri.

Bukannya kita berlebihan dalam menyifati mereka sesuai dengan hal-hal yang ada para Nabi As, bahwa keberadaan wujud mereka mendekati wujudnya para Nabi, akan tetapi kekhususan mereka adalah di sini (di alam ruh), mereka telah menempati setiap maqamat agama; dari Islam, Iman dan Ihsan

Mereka inilah orang-orang yang paling mengetahui agamanya Allah Swt, mereka adalah orang-orang pilihan diantara hamba-hamba-Nya.

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI