
Elsubha.com – Pandangan Orientalis Terhadap Islam
Di dalam buku “As-Sunnah wa makanatuha fit- tasyri’ al Islami,” karangan DR. Musthafa As-Siba’i -Ketua prodi Fikih Islami, Universitas Damaskus disebutkan beberapa tipu muslihat orang-orang orientalis; sebagaimana yang beliau utarakan: “Mengenai orientalis, aku pernah membuat pernyataan singkat untuk mereka dalam bukuku ini, sebelum aku banyak berkunjung, berbicara dan berdiskusi dengan mereka di berbagai Universitas Eropa pada tahun 1956 M. Setelah kunjungan dan diskusi itu, Aku semakin yakin dengan apa yang aku tulis- mengenai orientalis dan dampak bahaya yang akan mengancam Turast Islam; baik itu pada sisi syari’at maupun sisi sejarah, hal tersebut disebabkan sikap fanatik hati mereka yang telah digerogoti kedengkian terhadap Islam, bangsa Arab dan kaum muslimin.
Orang yang pertama kali aku temui adalah Prof. Anderson -Ketua prodi Ahwal Syakhsiyyah di dunia Arab- di lembaga kajian ketimuran Universitas London. la alumni Fakultas Teologi Universitas Cambridge. Ia juga salah satu prajurit Inggris yang berada di Mesir pada perang dunia ke-2 (sebagaimana yang beliau paparkan mengenai dirinya sendiri). Beliau belajar bahasa Arab dari beberapa ulama Al Azhar di Universitas Amerika yang berada di Kairo, satu jam setiap minggunya selama satu tahun. la juga belajar bahasa ‘Ammiyah (bahasa keseharian orang Mesir) dari perbaurannya dengan warga Mesir saat melaksanakan tugas sebagai seorang prajurit. la juga mengambil takhashsus berkaitan dengan penelitian keislaman yang sewaktu itu disampaikan oleh Ahmad Amien, DR. Thoha Husain dan Syaikh Ahmad Ibrahim. Dari pembelajaran mengenai bahasa dan keislaman yang mendalam inilah beliau mendapat gelar Profesor. Setelah wajib militer setelah peperangan, ia pun pindah tugas menjadi ketua prodi Ahwal Syakhshiyyah di Universitas London.
Aku tidak akan memberikan contoh sikap fanatiknya yang memusuhi Islam, walaupun Alm. DR. Hamud Gharabah -Direktur Pusat Kebudayaan Islam- telah berbicara banyak padaku sewaktu aku berada di London. Namun mungkin aku cukupkan saja dengan pemaparan perbincanganku dengan Prof. Anderson yang pernah menjatuhkan argumen kandidat doktor lulusan Universitas Al Azhar dalam bidang hukum Islam di Universitas London karena satu sebab: Dia mengajukan usulan-usulan terkait beragam hak wanita dalam Islam dengan memberikan alasan, bahwa Islam memberikan beragam hak-hak wanita secara penuh. Akupun disaat itu tertegun dan bertanya kepada orientalis ini, “Mengapa engkau bisa menjatuhkan dan menggagalkannya untuk menyandang gelar doktor lantaran sebab ini, sementara di Universitas kalian ini mengakui adanya kebebasan berfikir?,” Beliau menjawab, “Karena dia -orang yang ingin menyandang title doktor- berkata: “Islam itu memberikan (hak) kepada wanita seperti ini, Islam menetapkan (hak) untuk wanita seperti itu.” Orientalis itu berkata, “Apakah dia berbicara secara resmi atas nama Islam? Apakah dia seorang Abu Hanifah atau seorang Asy Syafi’i? Sungguh pendapatnya ini tidak memiliki alasan yang kuat menurut para ahli fikih Islam terdahulu. Dia merupakan orang yang tertipu dengan dirinya sendiri, saat dia mengaku paham akan Islam melebihi pemahaman Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i.”
Inilah perkataan seorang orientalis yang masih hidup dan aku tidak tahu sekarang ia masih bekerja di Universitas London atau sudah pensiun.
Akupun berkunjung ke Universitas Edinburgh Skotlandia, disana ada seorang orientalis yang menjadi ketua bidang penelitian keislaman, ia merupakan pastur yang berpakaian sipil, lakob pastur itu aku lihat tertempel di depan pintu rumahnya. Aku bersumpah, ia berakhlak baik dan tutur katanya apik.
Di Universitan Glasgow -Skotlandia-, Ketua kajian kearaban, merupakan seorang pastur yang hidup sebagai ketua misionaris di Yerusalem sekitar dua puluhan tahun, hingga ia lancar berbahasa Arab layaknya penduduk asli setempat, beliau mengenalkan dirinya saat aku menemuinya, namun sebelumnya aku sempat bertemu dengannya dalam konferensi Islam – Kristen yang diadakan di Bhamdoun, Libanon tahun 1954 М.
Di Universitas Oxford, aku temukan bahwa kepala kajian keislaman dan kearaban, merupakan orang Yahudi yang berbicara bahasa arab dengan lamban dan sulit untuk dipahami, ia juga bekerja sebagai intelijen Inggris di Libya pada perang dunia ke-2. Di sanalah ia belajar bahasa ‘Ammiyyah. Dengan kemampuan inilah ia dapat menempati posisi sebagai kepala kajian tersebut.
Ada satu hal yang aku sendiri tidak habis pikir khususnya mengenai metode pembelajaran yang ia gunakan dalam penyampaian materi tafsir ayat-ayat dari Al Qur’an -Tafsir Al Kasysyaf karangan Az-Zamakhsyari yang disampaikan kepada murid-murid orientalis, Demi Allah, ia tidak bisa memahami perkataan singkat yang ada di sebuah koran, juga materi penelitian hadist-hadist yang berasal dari Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, serta beberapa bab fikih dari buku induk madzhab Hanafi dan Hanbali. Aku bertanya kepadanya, “Darimana hasil penelitian ini berasal?.” la menjawab, “Dari buku-buku orientalis, semisal Goldziher, Margoliouth dan Schacht.” Berhati-hatilah engkau dengan beragam karya mereka yang sengaja disisipkan dan dihembuskan untuk memusuhi Islam.
Di Universitas Cambridge, seorang kepala bagian penelitian arab dan keislaman, adalah seorang orientalis kenamaan “Arthur John Arberry,” keahliannya hanya dalam bidang bahasa Arab saja. Ia sempat berkata padaku disela-sela perbincanganku dengannya: Inilah kita orientalis- yang banyak memiliki kesalahan dalam pembahasan mengenai keislaman. Seyogyanya kalian tidak ikut mengkaji berbagai pembahasan ini, kerena kalian seorang muslim Arab- tentu lebih mampu mendalaminya lebih dalam dibandingkan kami.
Di Manchaster Inggris, aku berjumpa dengan Prof. Rolsson yang sedang membandingkan Sunnan Abi Daud dalam bentuk manuskrip, ia juga memiliki beberapa tulisan mengenai sejarah hadits yang didalamnya banyak hal-hal yang sejalan dengan berbagai pendapat orientalis. Aku ingin sekali mengingatkan, bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh orientalis banyak kesalahan dan jauh dari kebenaran. Aku paparkan beberapa pendapat Goldziher dan kusebutkan beragam kesalahan yang ada, baik berupa sejarah maupun keilmuannya. Diantara jawaban sang profesor mengenai sosok Goldziher adalah, “Tidak diragukan lagi para orientalis zaman sekarang lebih banyak membaca khazanah keislaman dibandingkan Goldziher, melihat beberapa karya keislaman yang tidak ada pada zaman Goldziher,” Aku berkata padanya -profesor yang orientalis itu-, “Aku berharap agar hasil penelitian kalian -orientalis- lebih mendekati kebenaran dibandingkan dengan Goldziher, Glasgow dan semisal mereka, sang profesor pun berkata, “Aku juga berharap seperti itu.”
Di Universitas London yang berada di Holland, aku bertemu dengan seorang orientalis Yahudi “Schacht,” ia merupakan pembawa risalah Goldziher yang menyusup ke dalam Islam dan menyamarkan kebenaran. Aku berbicara panjang lebar padanya mengenai kesalahan Goldziher dengan kesengajaannya merubah manuskrip yang disadur dari buku kami -Islam-, awalnya ia membantah akan hal itu, aku beri ia contoh dari buku Goldziher tentang Tarikh Sunnah yang sengaja aku kutipkan dari buku miliknya, tentang bagaimana ia merubah dan menyelewengkan perkataan Zuhri ( ُإِنَّ هَؤُلاَءِ الْأَمَرَاء) menjadi (أَكْرَهُونَا عَلَى كِتَابَةِ) juga (الأَحَادِيثِ) menjadi (عَلَى كِتَابَةِ أَحَادِيثِ) kemudian ia mencoba membuka buku milik Goldziher -kami pada saat itu berada di perpustakaan khusus-, iapun akhirnya berkata, “Engkau benar, Goldziher salah dalam hal ini,” Aku kembali menimpali, “Apakah ini hanya sekedar salah?” ia menyahut seraya berkata, “Kenapa engkau berburuk sangka pada dia?”. Akupun mencoba memaparkan pandangan Az-Zuhri dari Abdul Malik bin Marwan, aku paparkan sejarah yang menafikan perkataan Goldziher -aku tunjukkan hal ini dari buku tersebut.- Seusai diskusi ini, ia berkata, “Ini kesalahan Goldziher, apakah ulama tidak ada yang menyalahinya?,” Aku berkata padanya, “Goldziher merupakan pendiri sekolah ketimuran yang melandaskan hukum Islam berdasarkan fakta sejarah, mengapa ia tidak menggunakan landasannya ini disaat ia berbicara mengenai Az-Zuhr? Bagaimana bisa, ia seenaknya menghukumi bahwa Az-Zuhri membuat hadits palsu mengenai keutamaan masjid Al Aqsa hanya demi mengharap keridhoan Abdul Malik lawan daripada Ibnu Zubair, dimana Az-Zuhri belum pernah bertemu dengan Abdul Malik kecuali setelah tahun ke-tujuh sepeninggal Ibnu Zubair.”
Disinilah Schacht merasa malu lalu menyalami tanganku, nampak di wajahnya rasa marah bercampur kebingungan, sampai disinilah aku akhiri diskusi dengannya dengan berkata, “Contoh-contoh (kesalahan) seperti yang engkau sebutkan, sudah terkenal sejak se-abad yang lalu, kemudian hal ini selalu ditularkan dari satu orientalis ke yang lainnya, inikah kebenaran ilmiah?, sedang kami -kaum muslimin- belum pernah membaca karya-karya ini kecuali setelah pengarangnya wafat. Sekarang, kami minta agar kalian mendengarkan beberapa catatan kami atas berbagai kesalahan yang ada guna kalian perbaiki dalam hidup kalian, sehingga benar-benar menjadi sebuah kebenaran ilmiah.”
Perlu diketahui, bahwa orientalis ini -Schacht- merupakan salah seorang pengajar di Universitas Kairo (yang sebelumnya bernama Fuad Al Awwal), ia menulis buku tentang sejarah hukum islam, semua isinya adalah kebohongan dan penyelewengan (kebenaran) dengan pemaparan yang sealur dengan gurunya -Goldziher.-
Di Universitas Uppsalla -Swedia, aku bertemu dengan seorang orientalis “Nehberg” yang telah mentahqiq buku (A/Intishar-Ibnu Khayyath-) -Seingatku- buku ini pernah dicetak oleh komite penulis dan penerjemah di Kairo Mesir. Antara kami terjadi diskusi panjang seputar pembahasan dan beberapa karya orientalis terhadap Islam dan sejarahnya. Aku menjadikan Goldziher sebagai fokus perbincangan menyangkut orientalis. Aku sebutkan beberapa contoh kesalahan dan penyelewengan Goldziher terhadap kebenaran yang ada. Ia berkata setelah itu, “Goldziher memang memiliki ketenaran ilmiah di abad silam dan menjadi referensi bagi orientalis. Di abad sekarang, dimana berbagai buku keislaman sudah banyak yang dicetak, Goldziher bukan lagi refrensi bagi kami -orientalis-, sebagaimana di abad yang silam.”
Akupun diberi kesempatan dalam rangkaian perjalanan itu untuk berkunjung ke beberapa universitas lainnya selain yang telah aku sebutkan diatas di beberapa ibukota seperti Belgia, Denmark, Norwegia, Finlandia, Jerman, Swiss dan Paris dan aku bertemu dengan para orientalis yang ada ketika itu. Dari perjalanan ini, jelaslah sudah bagiku beberapa fakta-fakta yang ada, yaitu:
1. Seorang orientalis -umumnya adalah seorang pastur, kolonial atau Yahudi, terkecuali beberapa orang saja.
2. Kajian ketimuran di berbagai negara barat tidaklah seperti kolonial. Contohnya seperti -Negara Skotlandia- ia lebih lemah dibandingkan negara koloni lainnya.
3. Orientalis modern yang tidak berada di negara koloni, tidak lagi menggunakan pendapat dan pemikiran Goldziher setelah tujuannya yang keji itu terkuak.
4. Kajian ketimuran secara umum timbulnya dari gereja-. Di berbagai negara kolonial, -orientalisme- berjalan bersama dengan gereja dan departemen luar negeri yang saling membantu satu sama lainnya.
5. Negara-negara kolonial seperti Britania dan Prancis, hingga kini masih gencar dalam kajian ketimuran yang kelak digunakan sebagai alat penghancur Islam dan menodai reputasi orang-orang muslim. Di Prancis kini masih ada dua tokoh orientalis Blesyer dan Masignon. Sekarang mereka menjabat di departemen luar negeri bagian negeri Arab dan kaum muslimin. Di Inggris -seperti yang aku sebutkan, orientalis memiliki tempat yang agung di beberapa Universitas, London, Oxford, Cambridge, Edinburg, Glasgow dan lainnya yang dipandu oleh Yahudi, kolonial Inggris dan misionaris. Mereka inilah orang-orang yang selalu merujuk karya Goldziher, Margoliouth kemudian Schacht serta merupakan referensi utama bagi murid studi ketimuran dari orang-orang barat. Orang Arab dan muslim apabila ingin menyandang gelar doktor disana, mereka tidak akan pernah menyetujui apabila desertasi doktoralnya menyinggung permasalahan kebenaran Islam dan menyingkap kebusukan orientalis. (Dikutip dari buku “As-Sunnah wa makânatuha fit-tasyri’ al Islami,” halaman; 21-27).
