You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Gambaran Pengajaran Ilahi

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Gambaran Pengajaran Ilahi

Naluri itu menyetarakan orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu, menyetarakan kesenangan dengan ketakutan sehingga keduanya akan selalu ada pada satu kondisi, sebagaimana ada intuisi benar yang terjadi pada manusia; suatu hal yang terjadi tanpa diduga sebelumnya dan ada juga sebagian orang yang selalu percaya akan apa yang ia lihat.

Beragam perkara yang diuraikan Freud dalam tafsiran mimpinya tidaklah semua cocok, terkadang ada mimpi futuristik. dengan secara terperinci- tidak cocok dengan apa yang ditafsirkan oleh Freud, tidak pula seperti penafsiran orang yang berusaha mengakal perkara wujud ini dengan hal yang tidak diketahui. Perkara semacam ini hanya dapat diketahui dengan pembelajaran secara terperinci yang tidak terpaku pada panca indera yang lima. Orang yang ingin menggapai suatu kebenaran hendaknya tidak lagi ragu terlebih bersikap fanatik buta. Tujuan hal ini tidak lain untuk menemukan kebenaran bukan lainnya.

Allah Swt telah memberikan tanda dan argumen kepada hamba-Nya dengan memberikan contoh kecil terkait kenabian Nabi Muhammad Saw yang terdapat pada diri beliau, yaitu berupa kemampuan melihat di dalam mimpi, yang merupakan bentuk ilham Allah Swt, bukan mimpi yang berasal dari syeithan dan percakapan diri sendiri. Sekalipun sang pembohong mau mencoba menguak kebenaran mimpi itu, maka mereka pun tidak akan menemukan jalan untuk itu. Sebab, perkara yang diketahui oleh seseorang tanpa melalui jalur panca indera, maka inilah yang dapat membuka hati yang tertutup. Allah Swt lah yang akan membukakan hati siapa saja yang la kehendaki. Jika ada orang yang telah diberi hidayah oleh-Nya, maka ia sejatinya benar-benar telah mendapat hidayah itu. Contoh dari perkara tersebut adalah hipnotis, ia tidak memiliki keterkaitan dengan panca indera, inilah contoh kecil dari pembelajaran Allah Swt kepada orang-orang yang la pilih dari satu kacamata ilmiah.

Maka jelaslah perbedaan antara keyakinan kita dan keyakinan orang-orang yang kafir terkait kebenaran pembelajaran Allah Swt tanpa melibatkan panca indera yang lima, perkara ini sudah dikuatkan dengan beragam dalil akal, panca indera dan syari’at sendiri. Allah Swt lah yang mengajarkan para Nabi As dan mengutus mereka kepada umatnya.

Perbedaan antara kita dengan murid orang-orang kafir itu adalah, “Apakah proses pembelajaran Allah Swt ini bisa juga terjadi kepada para wali Allah Swt, selain pada perkara yang dikhususkan bagi para Nabi saja, ataukah tidak bisa?.”

Bahkan jalan hakikat yang terbesar antara hamba dan Tuhannya (dalam Islam) itu lebih dekat ditimbang Persia dan India. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَ رْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا ۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
huwallazii kholaqos-samaawaati wal-ardho fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, ya’lamu maa yaliju fil-ardhi wa maa yakhruju min-haa wa maa yangzilu minas-samaaa-i wa maa ya’ruju fiihaa, wa huwa ma’akum aina maa kungtum, wallohu bimaa ta’maluuna bashiir

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 4)

Begitu juga dengan firman Allah,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
wa laqod kholaqnal-ingsaana wa na’lamu maa tuwaswisu bihii nafsuh, wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil-wariid

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf 50: Ayat 16) *dan inilah kedekatan yang suci.

Dari ayat di atas kita telah ketahui bahwa pengajaran Allah Swt itu meliputi pengajaran bagi nabi dan juga pewaris nabi (ulama), dimana sejarah pun tidak memiliki campur tangan di dalam pembelajaran Allah Swt ini. Sebab, kucuran karunia Ilahi tidak bisa dikaitkan dengan waktu dan tempat, ia murni berasal dari sisi keutamaan Allah yang Maha Pengasih. Sebagaimana Allah Swt mampu mengajarkan suatu umat atau juga perorangan, maka la pun tahu siapa lagi hamba-Nya yang ingin Ia berikan pengajaran ini selain mereka (para nabi), dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaaa aatainaahu rohmatam min ‘ingdinaa wa ‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa

“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَّخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
yakhtashshu birohmatihii may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim

“Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 74)

*, yang mana perkara ini (proses pengajaran Ilahi ini) tidak terikat dengan tempat dan juga waktu.

Para umat terdahulu telah banyak merubah akidah, hukum dan akhlak. Dimana ilmu akhlak merupakan ringkasan dari semua agama yang pernah ada, kemudian Rasulullah Saw datang dengan membawa kebenaran yang sangat jelas gambarannya hingga mencapai titik kesempumaan, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَا لدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَاۤ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَا لْمُنْخَنِقَةُ وَا لْمَوْقُوْذَةُ وَا لْمُتَرَدِّيَةُ وَا لنَّطِيْحَةُ وَمَاۤ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ ۗ وَمَا ذُ بِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَ نْ تَسْتَقْسِمُوْا بِا لْاَ زْلَا مِ ۗ ذٰ لِكُمْ فِسْقٌ ۗ اَلْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْـنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَا خْشَوْنِ ۗ اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِ سْلَا مَ دِيْنًا ۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَا نِفٍ لِّاِثْمٍ ۙ فَاِ نَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ‏
hurrimat ‘alaikumul-maitatu wad-damu wa lahmul-khingziiri wa maaa uhilla lighoirillaahi bihii wal-munkhoniqotu wal-mauquuzatu wal-mutaroddiyatu wan-nathiihatu wa maaa akalas-sabu’u illaa maa zakkaitum, wa maa zubiha ‘alan-nushubi wa ang tastaqsimuu bil-azlaam, zaalikum fisq, al-yauma ya-isallaziina kafaruu ming diinikum fa laa takhsyauhum wakhsyauun, al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa rodhiitu lakumul-islaama diinaa, fa manidhthurro fii makhmashotin ghoiro mutajaanifil li-isming fa innalloha ghofuurur rohiim

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 3)

Diantara perihal mendasar bagi orang yang mau mengetahui tentang para sufi, bahwa mereka (sufi) tidak pernah mengharapkan pujian atau penghargaan lantaran kadar keilmuan yang mereka miliki, meskipun beragam rahasia kehidupan dan tirainya telah terbuka bagi mereka (sufi), juga sempurnanya pengamalan mereka, serta kondisi jiwa mereka yang baik. Mereka tidak mempedulikan orang-orang yang tidak suka kepada mereka dari penduduk zaman ini. Perkara yang menunjukkan hal tersebut adalah, bahwa mereka sejatinya tidak mengetahui apa yang di maksud dari sufi itu sendiri. Sedangkan orang yang mengakui diri mereka, sebenarnya dia insaf dan sadar lantaran diri yang mengakui nikmat Allah Swt yang la berikan kepadanya (sufi), sementara mereka (para sufi), mereka itu selalu sibuk dengan Tuhannya.

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI